Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10 21+
...[🚧 🔞AREA DEWASA ONLY 🚧]`...
Lampu-lampu gantung kristal di dalam penthouse mewah milik Diedrick Ashford hanya menyisakan pendar remang yang samar.
Di luar, hujan New York menghantam dinding kaca raksasa dengan irama yang kelam, seolah sengaja membungkus tempat itu dari seluruh bising dan busuknya dunia luar.
Namun, di dalam kamar utama yang beraroma kayu cendana dan peluh, udara terasa membakar, penuh oleh helaan napas yang memburu, desahan tertahan, dan racauan liar dua jiwa yang telah terlalu lama memendam gairah serta keputusasaan.
Taksi malam tadi tidak membawa mereka ke tempat lain selain penthouse ini. Pengaruh obat perangsang yang membakar darah Diedrick dan sengatan alkohol yang melumpuhkan benteng pertahanan Rex menyeret mereka melewati ambang pintu tanpa kebohongan lagi.
Di atas ranjang ukuran king-size bertutup sprei sutra kelabu, Diedrick menindih tubuh ramping Rex.
Jemari tangannya yang kekar mengunci pergelangan tangan wanita itu di atas kepala, sementara bibirnya menyerang, mengunci, dan menyesap bibir Rex dengan intensitas yang hampir meremukkan.
"Demi Tuhan... aku tidak bisa hidup tanpamu, Bellerina..." bisik Diedrick di sela-sela ciuman panas mereka yang menderu, suaranya parau, pecah, dan gemetar oleh godaan obat serta luapan cinta murni yang tak pernah padam.
"Empat tahun aku membusuk dalam neraka... demi Tuhan, aku tidak pernah bisa tanpamu..."
Pengaruh alkohol di dalam kepala Rex membuat seluruh topeng dingin yang ia bangun selama empat tahun runtuh tanpa sisa.
Rasa sakit, cemburu, dan kepedihan yang menyumbat dadanya mendadak tumpah menjadi tangis yang pecah di tengah pasrahnya tubuh wanita itu.
Rex menumpahkan segala isi hatinya yang paling jujur, sesuatu yang selama ini ia kunci di sudut tergelap jiwanya.
"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu..." tangis Rex pecah, jemari tangannya terlepas dari cengkeraman Diedrick dan langsung mencengkeram erat bahu tegap pria itu, menariknya semakin rapat.
"Aku merindukanmu, Diedrick... Aku benar-benar merindukanmu! Aku tidak pernah bisa tanpa dirimu!"
Diedrick membeku sejenak, dadanya naik-turun menahan gemuruh emosi yang menghantam ulu hatinya. Air mata Rex yang hangat membasahi pipinya sendiri.
"Lalu kenapa kau pergi, Bellerina?!" jerit Diedrick lirih dengan keputusasaan yang begitu dalam, menatap lurus ke dalam mata redup wanita di bawahnya.
"Kenapa kau tinggalkan aku?! Kalaupun kau hamil anaknya waktu itu... demi Tuhan, aku siap mengakuinya sebagai anakku! Anakmu adalah anakku! Aku siap membesarkannya bersamamu, Bellerina! Demi Tuhan, aku menyesal... aku sangat menyesal tidak mengeluarkan kata-kata itu sore itu! Tolong kembali padaku... tinggallah bersamaku. Kumohon, honey..."
Suara Diedrick pecah di akhir kalimatnya.
Pria yang ditakuti dan dipuja di New York itu kini berlutut secara emosional di atas tubuh wanita yang dicintainya, memohon dengan air mata yang menetes membasahi wajah porselen Rex.
Rex menggelengkan kepalanya dalam tangis yang kian histeris. Ia tidak bisa memberitahukan kebenaran kejam di balik pengorbanannya malam ini, namun sentuhan Diedrick yang merengkuhnya dengan segenap jiwa membuat seluruh benteng ketahanannya hancur total.
Diedrick menundukkan kepalanya, menyapu helai-helai rambut pendek Rex yang tersebar kaku di atas bantal sutra.
Jemarinya yang gemetar membelai lembut garis rahang dan leher jenjang Rex yang terekspos.
"Rambut pendek ini sungguh cantik..." bisik Diedrick parau, mengusap leher Rex dengan bibirnya yang hangat.
"Aku sangat menyukainya... Tapi aku lebih merindukan rambut panjangmu yang dulu sering ku usap saat kau tertidur... Aku mencintaimu, Rexana Ballerina Nycekerh. Sangat... sangat mencintaimu."
Penyatuan panas malam itu menjadi tak terelakkan lagi.
Tak ada lagi dendam, tak ada lagi tuduhan, yang tersisa hanyalah dua manusia yang saling menguraikan luka dalam balutan dosa dan kepasrahan murni.
Diedrick bergerak menelusuri setiap inci kulit porselen Rex dengan bibir dan nafasnya yang membakar. Ia memanjakan dan memuaskan Rex terlebih dahulu, memberikan kenikm*tan mendalam hingga des*han dan bisikan pasrah meluncur tiada henti dari bibir merah wanita itu.
Rex meremas sprei kelabu, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi hangat yang hanya bisa diberikan oleh Diedrick.
Setelah membawa Rex ke puncak kenikmatan pertamanya, Diedrick menegakkan tubuhnya. Pria itu menatap Rex dengan sorot mata menggelap dipenuhi dahaga murni yang menuntut pelepasan dari racun obat di darahnya.
"Maaf kalau aku sedikit kasar kali ini, Bellerina..." bisik Diedrick dengan suara serak yang memikat, mengusap paha mulus Rex dengan ketegasan yang dominan.
"Tapi aku tidak bisa lagi menahannya. Aku sangat merindukanmu."
Diedrick memposisikan tubuhnya, berniat menyatu secara utuh.
Namun, saat ia mulai mendorong tubuhnya masuk, Diedrick mengernyitkan dahinya dalam-dalam.
Dahinya berkerut ketat, rasa sesak dan hambatan kaku menghalangi gerakannya. Diedrick merasa sedikit kesulitan, sebuah reaksi yang sama sekali tidak ia duga.
Kenapa rasanya begitu sempit dan kaku?
Diedrick berdecih pelan.
Penasaran dan dipenuhi kebingungan yang membakar, ia merendahkan tubuhnya, menunduk dan mengecup bagian s*nsitif itu lembut untuk memastikan kembali apa yang sedang terjadi.
Hambatan ini... rasa kaku dan tertutup ini bukanlah ciri tubuh wanita yang sering disentuh atau pernah melahirkan seorang anak.
"Kenapa sesulit ini?" tanya Diedrick heran sembari mengernyitkan dahinya tajam, matanya menatap wajah Rex yang meringis menahan getaran kepedihan dan kepasrahan.
Dan dengan pelan, di antara napasnya yang terengah-engah dan selaput air mata di pelupuk matanya, Rex berbisik lirih, suaranya jujur dan menyayat hati.
"Sudah empat tahun berlalu...Hanya Dirimu!"
Deg.
Tubuh Diedrick membeku seketika di atas tubuh Rex.
Udara di dalam kamar itu rasanya berhenti mengalir. Kalimat singkat itu menghantam kesadaran Diedrick bagaikan petir di tengah malam yang tenang.
"Apa maksudmu?" tanya Diedrick dengan suara bergetar, sejujurnya tidak percaya pada apa yang baru saja ditangkap oleh inderanya.
Namun, dorongan fisik akibat obat racun di dalam tubuhnya tak lagi bisa ditahan. Dengan gerakan pelan namun pasti, Diedrick mendorong tubuhnya masuk kembali secara penuh.
Jleb.
Pen*trasi yang dalam dan rapat itu membuat Rex memejamkan mata erat-erat dengan desahan tertahan, sementara Diedrick terengah-engah hebat, merasakan kehangatan yang benar-benar utuh—kehangatan yang terawat dan tidak pernah disentuh oleh siapa pun selama bertahun-tahun.
Mata Diedrick membelalak lebar, badai kebingungan dan rasa syok yang luar biasa menghantam dadanya.
"Apa benar... hanya aku?" bisik Diedrick dengan suara yang hampir runtuh, menatap wajah Rex yang terpejam dalam tangis.
"Arthur...?"
Rex membuka matanya yang basah, menatap lurus ke dalam pupil mata Diedrick yang bergetar.
Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.
Deg.
Rasa bersalah, kekagetan yang melumpuhkan, dan kenyataan dahsyat meledak bersamaan di dalam kepala Diedrick.
Empat tahun... empat tahun ia membenci wanita ini, mengira Rex telah disentuh, ditiduri, dan dihamili oleh Arthur Bond atau pria lain.
Namun kebenaran di bawah tubuhnya malam ini membuktikan bahwa tidak ada pria lain. Hanya ada dirinya. Dulu, dan detik ini.
"Ballerina..." gumam Diedrick parau, air matanya menetes jatuh tepat di atas pipi Rexana, menyadari betapa besarnya kebohongan dan rahasia berdarah yang telah disimpan wanita itu sendirian di dalam neraka pernikahannya.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya