Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 09
ANGGOTA KELUARGA BARU
Pintu kamar mandi terbuka beberapa menit kemudian.
Killian melangkah keluar mengenakan bathrobe berwarna putih bersih yang menutupi tubuhnya dari bahu hingga betis, rambutnya masih lembap dan tertata rapi. Ia melirik sekilas ke arah Laura yang berdiri kaku di tepi ranjang, namun tak berkata sepatah kata pun, tak pula berhenti melangkah — seakan keberadaan gadis itu hanyalah bagian tak terpisahkan dari ruangan yang tak layak dibahas.
“Fucker...” umpat pelan Laura langsung membuat pria itu menoleh menatap tajam.
Namun Laura bergegas masuk ke kamar mandi, menutup dan menguncinya dengan tangan yang gemetar.
Ia bersandar pada pintu itu, menarik napas panjang yang tertahan sejak pagi tadi, lalu membiarkan dirinya meluruh perlahan hingga duduk di tepi bak mandi. Jantungnya masih berpacu kencang, bukan hanya karena takut, melainkan karena perasaan campur aduk yang tak dapat ia namakan.
"Tenanglah..." bisiknya pelan kepada pantulan dirinya di cermin yang berkabut. "Kau bukan korban yang tidak berdaya. Kau hanya... menunggu. Menunggu waktu yang tepat."
Kata-kata itu ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri, meski ia tahu betapa tipisnya pertahanan itu dan dia sendirian.
Ia segera berdiri, membuka keran air, dan membiarkan uap hangat menyelimuti tubuhnya, mencoba membasuh bukan sekadar kotoran, melainkan jejak rasa takut yang menempel di setiap inci kulitnya.
Tak lama, ia keluar mengenakan bathrobe serupa, rambutnya terurai basah di punggung. Ia mengintip dari balik daun pintu, berharap ruangan itu telah kosong. Benar — tak ada siapa-siapa. Hanya tersisa aroma wangi kayu cendana yang kuat, mengingatkannya pada kehadiran pria itu.
“Bagus, dia sudah pergi.”
Laura segera bergerak menuju ruang ganti, berniat mengenakan pakaian yang pantas sebelum dipanggil ke meja makan.
Sementara itu, di ruang kerja pribadi yang luas dan diterangi cahaya pagi yang lembut namun dingin, Killian melangkah masuk. Seorang pria yang lebih tua berdiri membelakangi pintu, punggungnya tegak, seakan tak pernah benar-benar beristirahat dari urusan yang menggerakkan seluruh jaringan keluarga itu.
"Kenapa kau memanggilku, Ayah?" tanya Killian datar, kedua tangannya bersilang di belakang punggung — posisi yang selalu ia ambil saat berusaha tampil tenang meski pikirannya penuh perhitungan. "Ada sesuatu?"
Vincenzo berbalik perlahan. Wajahnya penuh kerutan yang tak disebabkan usia semata, melainkan beban kekuasaan yang dipegangnya puluhan tahun. Tatapannya tajam namun tenang, menatap putra angkatnya itu seakan melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar sosok pria berdiri di hadapannya.
"Aku merasa tidak tenang soal kerja sama ini," ucapnya pelan namun tegas. "Keluarga McManaman... ada sesuatu yang tidak pas. Sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman dan perjanjian itu. Aku ingin memastikannya sendiri, Kill."
"Aku yang akan pergi," jawab Killian tanpa ragu. "Aku akan memantau langsung ke Irlandia. Jika itu membuatmu tenang."
Vincenzo mengangguk pelan, namun sorot matanya tak melembut. "Baik. Tapi ingat — kepergianmu harus dirahasiakan. Jangan sampai siapa pun tahu, bahkan mereka yang tinggal di atap yang sama. Sandra, adikku... dia memiliki kepentingan sendiri, dan tak semua kepentingannya sejalan dengan kita. Begitu juga gadis itu — Laura. Tidak peduli seberapa tenang dia tampak, dia tetap darah musuh. Jangan percaya begitu saja."
Killian diam, menunduk sedikit seakan merenungi pesan itu. "Aku mengerti."
Pintu terbuka pelan sebelum percakapan berlanjut lebih jauh. Kedua pria itu menoleh serentak. Zoey berdiri di ambang pintu, tangannya meremas ujung gaun, wajahnya tampak gugup namun berusaha tersenyum tenang.
"Maaf... aku tidak bermaksud mengganggu," ucapnya pelan, melangkah masuk perlahan sambil memegang selembar berkas dokumen tebal. Ia mendekat ke meja kerja Vincenzo. "Ini laporan keuangan cabang utara, Paman."
Vincenzo menyambut dokumen itu, namun tatapannya tetap tajam menembus wanita muda itu. "Ke mana suamimu? Seharusnya Muchus yang menyerahkan ini. Bukan kau."
Zoey tersenyum tipis, tetap tenang meski matanya sesekali melirik ke arah Killian yang berdiri diam menatap lurus ke depan, pandangannya tertuju pada lantai seakan sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
"Muchus sedang mengurus hal lain," jawabnya santai. "Ada kegaduhan semalam di bar dan kasino milik keluarga. Razia polisi datang tiba-tiba. Dia harus memastikan tidak ada jejak yang tertinggal."
Vincenzo meletakkan berkas itu di atas meja kayu gelap, menghela napas pelan yang tak terdengar lelah, melainkan penuh kewaspadaan.
"Begitu..." gumamnya.
Zoey melirik sekilas ke arah Killian, berusaha membaca ekspresi yang tak terbaca itu, lalu kembali menatap pemimpin keluarga itu. "Sarapan sudah siap di ruang makan. Kami akan menunggu."
Dengan itu, ia berbalik dan keluar dari ruangan, langkahnya teratur meski ketegangan masih terlihat dari punggungnya.
Vincenzo menatap pintu yang tertutup itu sejenak, lalu beralih menatap putra angkatnya. "Bagaimana dengan kerjasama keluarga Zoey?”
"Mereka masih menjalankan peran dengan baik. Aku selalu menyuruh Nico memantaunya." jawab Killian singkat. “Dan ada sesuatu yang harus ku urus.”
Hendak melangkah pergi berbalik ke pintu.
"Sebelum kau pergi, ingatlah satu hal, Kill — jangan terlalu dekat dengan gadis itu. Laura McManaman. Karena dia tetap bagian dari mereka. Darah tidak begitu mudah berubah, dan musuh tidak selalu menampakkan wajah yang kau kenal."
Killian mengangguk pelan, tanpa menatap langsung ke mata pria itu. "Aku mengerti."
Ia berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan sosok pria tua yang menatap kepergiannya dengan keraguan yang tak sepenuhnya tersembunyi.
.
.
.
Beberapa menit berlalu. Di ruang makan yang luasnya hampir menyerupai aula, meja panjang terisi orang-orang yang menatap ke pintu masuk dengan berbagai ekspresi — kewaspadaan, penasaran, dan kebencian yang tersamar. Vincenzo duduk di ujung utama, di sebelahnya Alessandra, lalu Muchus dan Zoey di depan Alessandra. Kursi di sebelah Muchus masih kosong — kursi yang seharusnya ditempati Killian.
“Astaga.... Aku harus berkumpul dengan mereka.” gumamnya gugup.
Laura muncul di ambang pintu, pakaiannya rapi namun sederhana, rambutnya sudah tertata. Ia berhenti sejenak, menyadari semua mata tertuju padanya.
Keheningan menyambutnya, membuat jantungnya berdebar kencang, namun ia melangkah maju dengan kepala tegak.
Belum sempat ia menarik kursi, suara Alessandra terdengar tenang namun tajam, menyelinap di antara keheningan itu. "Seseorang membelakangi Vincenzo Marcano — hal yang pertama kali terjadi hari ini, ya?" ucap Sandra seraya menyuap makanannya perlahan, lalu menoleh menatap Laura dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Dan beruntunglah kau pengantin baru. Mungkin belum terbiasa dengan tata krama di sini."
Laura berhenti, menarik napas pelan, lalu menatap wanita itu tanpa menyipitkan mata. "Apakah aku boleh duduk? Jika tidak, aku akan pergi." tanyanya tenang, sederhana, namun tegas.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Semua orang menatapnya — tak menyangka gadis yang tampak lemah itu berani menjawab dengan begitu tenang. Vincenzo mengangguk pelan, isyarat tangan kanannya mengizinkan.
"Duduklah," ucapnya datar.
"Terima kasih," jawab Laura tanpa senyum, menarik kursi dan duduk, menunduk menatap piring di hadapannya.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara peralatan makan yang beradu pelan dengan piring porselen. Laura dapat merasakan sepasang mata menatapnya terus-menerus — bukan ke arah lain, melainkan tepat ke wajahnya.
Ia mengangkat pandangan perlahan dan mendapati Muchus menatapnya dengan senyum licik yang terukir di bibir. Pria itu bersandar pada kursinya, satu tangan bertumpu pada tepi meja, menatapnya seakan ia memiliki sesuatu yang berharga.
"Bagaimana satu malam di kediaman Marcano, Nyonya Killian Marcano?" tanyanya pelan, namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Apakah suamimu memperlakukanmu dengan baik?"
Zoey melirik sekilas ke arah Laura, seakan ingin memperingatkan, namun tak berkata apa-apa. Laura menatap pria itu diam-diam, lalu kembali menunduk menatap makanannya, mengunyah perlahan tanpa menjawab sepatah kata pun.
Keheningan itu adalah jawaban yang lebih keras daripada seruan apa pun.