Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Gadis yang Menyembunyikan Pisau
Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Gu Chen membuka mata. Api unggun di hadapannya telah padam, menyisakan abu dan beberapa potong kayu yang menghitam. Udara hutan terasa dingin, sementara kabut tipis menyelimuti pepohonan. Di seberang tempatnya beristirahat, Lin Yue masih tertidur dengan satu tangan memegang belati. Bahkan dalam tidurnya, gadis itu tampak siap menyerang siapa pun yang mendekat.
Gu Chen memperhatikannya beberapa saat sebelum bangkit perlahan. Ia memeriksa kantong pakaiannya, memastikan bidak hitam dan lempengan kayu dari Shen Mo masih berada di tempatnya. Keduanya merupakan satu-satunya petunjuk yang ia miliki tentang masa lalu ayahnya. Tanpa benda-benda itu, ia hanya akan menjadi pemuda lemah yang berkeliaran mencari musuh yang bahkan tidak dipahaminya.
“Berhenti menatapku. Aku tahu kau sudah bangun,” kata Lin Yue tiba-tiba tanpa membuka mata.
Gu Chen mengangkat alis. “Aku sedang memastikan apakah kau masih hidup. Kalau kau mati saat tidur, aku harus menyeret tubuhmu sampai ke kota.”
Lin Yue membuka mata, lalu menatapnya datar. “Kalau aku mati, pastikan kau menguburku dengan benar. Aku tidak ingin mayatku dimakan binatang hanya karena teman seperjalananku terlalu pelit menggali tanah.”
“Kita bukan teman.”
“Benar. Teman biasanya lebih menyenangkan.”
Gu Chen tidak melanjutkan perdebatan. Ia mengambil sepotong roti keras dan memakannya sambil memandang ke arah utara. Berdasarkan petunjuk Shen Mo, Pegunungan Tulang Kelabu masih membutuhkan perjalanan sekitar setengah hari. Namun, ia tidak yakin jalur yang mereka pilih aman. Hutan itu dipenuhi binatang buas, dan suara aneh yang terdengar dari kejauhan sejak subuh membuatnya semakin waspada.
Lin Yue menyelesaikan persiapannya, lalu berdiri.
“Kita harus berangkat sekarang. Setelah matahari mencapai puncak, kabut akan menghilang dan binatang-binatang di sekitar sini mulai bergerak mencari makanan.”
Gu Chen memasukkan sisa rotinya ke dalam kantong. “Kau terdengar seperti seseorang yang sudah berkali-kali hampir dimakan binatang.”
“Dua kali.”
“Dan kau masih menganggap pergi ke tempat berbahaya sebagai ide bagus?”
“Aku tidak pernah bilang hidupku dipenuhi keputusan bagus.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin jauh memasuki hutan, semakin sedikit jejak manusia yang terlihat. Pohon-pohon tua tumbuh rapat, akar-akar besar menonjol dari tanah, dan bebatuan hitam tersebar di antara semak-semak. Sesekali, Gu Chen menemukan bekas cakar pada batang pohon. Beberapa bahkan cukup dalam untuk membuatnya membayangkan ukuran binatang yang meninggalkannya.
Setelah berjalan hampir dua jam, Lin Yue mendadak mengangkat tangan, memberi isyarat agar Gu Chen berhenti.
“Ada sesuatu di depan.”
Gu Chen menurunkan tubuh dan mengamati celah di antara pepohonan. Di sebuah lapangan kecil, seekor serigala berbulu kelabu sedang mengendus bangkai rusa. Tubuh binatang itu lebih besar daripada serigala biasa, dan cahaya samar terlihat di sekitar matanya. Seekor binatang spiritual tingkat rendah, tetapi tetap berbahaya bagi orang yang tidak memiliki kemampuan bertarung.
“Kita memutar,” bisik Gu Chen.
Lin Yue mengangguk. Namun, ketika mereka hendak mundur, ranting kering terinjak di bawah kaki Gu Chen.
Krak!
Serigala itu langsung mengangkat kepala. Mata kuningnya menatap lurus ke arah mereka, lalu mengeluarkan geraman yang membuat udara di sekelilingnya bergetar.
“Lari!” seru Lin Yue.
Mereka berbalik dan berlari di antara pepohonan. Serigala itu mengejar dengan kecepatan mengerikan, menerjang semak-semak dan melompati akar pohon tanpa melambat sedikit pun. Gu Chen tahu ia tidak akan mampu mengalahkannya. Tubuhnya terlalu lemah, dan meridiannya yang rusak membuat energi spiritualnya hampir tidak berguna.
Namun, ia juga tahu bahwa berlari lurus hanya akan membuat mereka kelelahan lebih cepat.
“Lin Yue! Ke arah batu besar di sebelah kiri!”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin dimakan!”
Lin Yue mengumpat, tetapi mengikuti arah yang ditunjuknya. Mereka berbelok tajam melewati batu besar yang menonjol dari tanah. Gu Chen kemudian mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke wajah serigala saat binatang itu melompat mendekat. Tindakan itu tidak melukainya, tetapi cukup membuat serigala kehilangan arah selama sesaat.
Lin Yue memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menembakkan anak panah ke kaki belakang binatang itu. Anak panah menancap, membuat serigala mengaum marah. Namun, luka itu hanya memperlambatnya sedikit.
“Rencanamu bagus,” kata Lin Yue sambil kembali berlari, “tetapi kau lupa satu hal!”
“Apa?”
“Binatang ini masih hidup!”
“Aku juga baru menyadarinya!”
Di depan mereka terbentang sebuah lereng curam yang berakhir di sungai berbatu. Gu Chen melihatnya, lalu segera memahami bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan. Jika terus berlari, serigala itu akan menyusul. Jika melawan, mereka kemungkinan besar akan mati. Satu-satunya kesempatan adalah memanfaatkan medan.
“Lin Yue, lompat ke sungai!”
“Kau sudah gila?”
“Lebih baik basah daripada mati!”
Gu Chen melompat terlebih dahulu. Lin Yue mengikutinya sesaat kemudian, tepat ketika serigala menerjang dari belakang. Binatang itu kehilangan pijakan di lereng dan tergelincir di antara bebatuan, sementara keduanya jatuh ke air yang deras.
Arus menyeret Gu Chen beberapa meter sebelum ia berhasil meraih akar pohon yang menjulur dari tepi sungai. Ia menarik tubuhnya ke daratan dengan napas terengah-engah. Tidak jauh darinya, Lin Yue muncul dari air sambil batuk dan mengumpat.
“Kalau kita selamat dari ini, aku akan memastikan kau menyesali keputusanmu!”
Gu Chen terbaring telentang, memandang langit yang tertutup dedaunan.
“Setidaknya kita tidak dimakan.”
“Kita hampir mati karena melompat ke sungai!”
“Tetapi kata kuncinya adalah hampir.”
Lin Yue mengambil segenggam air dan menyiram wajahnya sendiri, seolah berusaha menahan keinginan untuk melempar Gu Chen kembali ke sungai. Meski begitu, setelah beberapa saat, ia justru tertawa kecil. Gu Chen menoleh dengan heran.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada. Aku hanya baru menyadari bahwa kau jauh lebih menyebalkan daripada yang kukira.”
“Terima kasih. Aku menganggapnya sebagai pujian.”
Mereka beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Menjelang siang, pepohonan mulai menipis dan pemandangan Pegunungan Tulang Kelabu akhirnya terlihat. Deretan gunung kelabu menjulang di kejauhan, dengan kabut gelap menyelimuti puncaknya. Dari tempat mereka berdiri, pegunungan itu tampak seperti tulang raksasa yang tertanam di bumi.
Gu Chen mengeluarkan lempengan kayu pemberian Shen Mo. Ukiran sembilan garis di permukaannya bergetar samar ketika diarahkan ke pegunungan.
“Sepertinya kita berada di tempat yang benar,” katanya.
Lin Yue mengamati lempengan itu, tetapi tidak bertanya dari mana Gu Chen mendapatkannya. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah liontin perak dari balik pakaiannya. Liontin itu berbentuk bulan sabit dengan retakan kecil di tengahnya.
Gu Chen segera menyadari bahwa permukaan liontin tersebut memancarkan cahaya yang sama dengan lempengan kayu.
“Kau juga membawa benda yang bereaksi terhadap tempat ini?”
Lin Yue menggenggam liontinnya dengan cepat. “Ini milik keluargaku.”
“Dan kau tidak merasa perlu memberitahuku sebelumnya?”
“Kau juga tidak memberitahuku apa yang sebenarnya kau bawa.”
Mereka saling menatap dalam diam. Untuk pertama kalinya, Gu Chen yakin bahwa Lin Yue bukan sekadar gadis yang kebetulan memiliki urusan di pegunungan ini. Ia datang dengan tujuan tertentu, dan liontin tersebut mungkin merupakan petunjuk yang sama pentingnya dengan lempengan miliknya.
Sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih jauh, bidak hitam di sakunya kembali memanas. Ia mengeluarkannya dan melihat sebuah pesan muncul.
\[Dua kunci telah memasuki wilayah yang sama.\]
Tulisan berikutnya muncul perlahan.
\[Syarat pembukaan telah terpenuhi.\]
Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Dari balik kabut pegunungan, sebuah suara dentuman terdengar, diikuti munculnya cahaya merah di antara dua tebing. Batu-batu besar bergeser, memperlihatkan celah menuju sebuah bangunan kuno yang tersembunyi selama entah berapa lama.
Lin Yue memandang pemandangan itu dengan wajah pucat.
“Tidak mungkin… reruntuhan itu seharusnya tidak bisa dibuka.”
Gu Chen menoleh kepadanya. “Kau tahu tempat apa ini?”
Lin Yue tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada pintu batu yang perlahan terbuka di kejauhan.
“Itu bukan sekadar reruntuhan,” katanya akhirnya. “Menurut catatan keluargaku, tempat itu adalah makam sebuah peradaban yang dihapus dari sejarah.”
Gu Chen merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia teringat gambar dalam gulungan Shen Mo, tentang kerajaan yang lenyap dan bidak-bidak yang diangkat dari papan.
Pintu batu itu terbuka sepenuhnya. Di baliknya, kegelapan menunggu.
Kemudian, sebuah tulisan besar muncul di permukaan batu, menggunakan karakter kuno yang bahkan Gu Chen tidak mampu membacanya. Namun, entah bagaimana, ketika ia menatap tulisan itu, maknanya langsung muncul di dalam pikirannya.
\[SELAMAT DATANG, BIDAK YANG MENYIMPANG.\]
Gu Chen terdiam.
Tulisan kedua muncul di bawahnya.
\[SANG PEMAIN TELAH MENUNGGU KEDATANGANMU.\]
Untuk pertama kalinya sejak melihat papan raksasa dalam penglihatannya, Gu Chen merasakan sesuatu yang mendekati ketakutan. Bukan karena ia melihat ancaman di hadapannya, melainkan karena tempat itu seolah telah mengetahui kedatangannya jauh sebelum ia memutuskan untuk pergi.
Ia menggenggam bidak hitam di tangannya, lalu menatap pintu batu yang terbuka.
“Lin Yue,” katanya pelan, “sepertinya kita baru saja menemukan masalah yang jauh lebih besar daripada yang kita cari.”
Lin Yue menghunus belatinya.
“Aku tahu.”
Mereka melangkah menuju pintu reruntuhan, tanpa menyadari bahwa jauh di luar jangkauan penglihatan mereka, beberapa sosok sedang memperhatikan pergerakan keduanya. Salah satu sosok itu berdiri dari singgasananya, sementara yang lain mundur ketakutan.
“Reruntuhan itu telah terbuka,” ujar seseorang dengan suara gemetar.
Sosok bertopeng putih menatap papan di hadapannya. Sebuah bidak hitam bergerak menuju kotak yang tidak pernah tercatat dalam permainan.
“Mustahil. Tempat itu seharusnya tidak bisa diakses oleh bidak mana pun.”
Sosok lain menjawab dengan suara pelan.
“Mungkin karena kita salah mengira siapa yang sebenarnya menjadi bidak.”
Untuk sesaat, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Lalu, dari balik topeng putih, terdengar tawa yang sangat pelan.
“Kalau begitu, mari kita lihat apakah dia cukup pintar untuk bertahan hidup.”
Di atas papan raksasa, sebuah retakan baru muncul tepat di bawah bidak Gu Chen.
Permainan itu mulai kehilangan kendali.
Bab 5 selesai.