Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Setelah suara mobil Jovan benar-benar menghilang dari ujung jalan, Serina masih berdiri di balik pintu.
Tatapannya kosong. Entah mengapa, kepergian pria itu justru meninggalkan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Ia masih marah. Sangat marah.
Setiap kali melihat wajah Jovan, ingatannya langsung kembali pada malam ketika hidupnya berubah untuk selamanya. Namun kali ini, Jovan tidak datang untuk membela diri. Tidak datang untuk menyalahkan keadaan. Ia hanya datang membawa sebuah mainan untuk Farel. Serina menundukkan wajahnya. Matanya tertuju pada kotak mobil remote control yang masih berada di tangan Farel.
"Bun..."
Suara kecil itu membuat Serina tersadar.
"Ya, Nak?"
"Om tadi baik, ya?"
Serina terdiam. Pertanyaan sederhana itu terasa begitu sulit untuk dijawab.
"Kenapa Farel bilang begitu?" Farel memandangi mobil mainan tersebut dengan mata berbinar.
"Karena Om kasih Farel mobil." Ia kemudian tersenyum kecil. "Bagus, kan, Bun?"
Serina berusaha tersenyum. "Iya. Bagus."
Farel memeluk kotak mainan itu. "Farel boleh main?"
Serina mengangguk perlahan. "Boleh."
"Terima kasih, Bu!" Farel berlari kecil menuju ruang tengah.
Serina hanya mampu memperhatikannya.Namun beberapa detik kemudian, senyum di wajahnya menghilang. Ia memejamkan matanya. "Riki..." Nama itu keluar lirih dari bibirnya. Air matanya kembali jatuh.
"Kenapa harus seperti ini?" Serina menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar oleh Farel. Di dalam hatinya, ia masih belum mampu menerima kenyataan bahwa suaminya telah pergi. Dan sekarang, pria yang menjadi penyebab kecelakaan itu justru datang ke rumahnya. Serina mengusap air matanya.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan Mas Riki." Tatapannya kembali tertuju kepada Farel. "Tapi aku juga tidak tahu bagaimana kehidupan kami setelah ini."
*
*
Sementara itu, di tempat lain, Darren masih berada di ruang penyelidikan. Beberapa lembar dokumen dan foto rekaman CCTV memenuhi meja. Darren menatap layar komputer dengan serius.Ia kembali memutar rekaman dari malam kecelakaan. Seorang perempuan terlihat mendekati meja tempat Jovan duduk. Perempuan itu membawa nampan minuman. Beberapa detik kemudian, tangannya bergerak cepat memasukkan sesuatu ke dalam gelas Jovan. Darren menghentikan rekaman.
"Zoom."
Petugas di sampingnya memperbesar gambar. Wajah perempuan itu masih belum terlihat jelas. Namun seragam yang dikenakannya terlihat cukup jelas.
"Server klub malam," gumam Darren.
"Iya, Pak."
"Sudah ditemukan?"
"Sedang kami lacak."
Darren mengangguk. Kemudian ia membuka rekaman lain. Kali ini berasal dari area parkir. Seorang pria bertubuh atletis terlihat berjalan mendekati mobil Jovan. Ia memastikan tidak ada orang di sekitar.
Kemudian pria itu berjongkok di dekat bagian depan kendaraan. Darren memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama.
"Putar ulang."
Rekaman pun diputar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Darren menyipitkan mata, "Tunggu." Ia menunjuk layar.
"Berhenti di situ." Petugas menghentikan video.
Darren memperhatikan sebuah kendaraan yang melintas di belakang pria tersebut.
"Perbesar pelat nomornya."
Beberapa detik kemudian, nomor kendaraan mulai terlihat. Darren langsung mengambil ponselnya.
Ia mengirimkan nomor tersebut kepada salah satu anggota tim.
"Telusuri kendaraan ini."
"Siap, Pak."
Beberapa menit berlalu. Ponsel Darren berbunyi.Sebuah laporan masuk.Darren membukanya.
Matanya langsung berubah serius.
"Terdaftar atas nama perusahaan..." Ia membaca kembali data tersebut. "Dan perusahaan itu memiliki hubungan dengan seseorang bernama Gio."
Ruangan mendadak terasa hening. Darren menatap layar.
"Gio..."
Nama itu kembali muncul dalam pikirannya. Seseorang yang selama ini belum pernah disebut Jovan. Seseorang yang secara perlahan mulai muncul di berbagai titik penyelidikan.
Darren berdiri.
"Berarti kita punya hubungan antara orang yang mengutak-atik mobil dengan Gio."
Petugas mengangguk.
"Tapi belum cukup untuk menyimpulkan dia pelakunya, Pak."
"Aku tahu." Darren mengambil jasnya.."Kita tidak akan menangkap seseorang hanya berdasarkan dugaan."
Ia memasukkan dokumen ke dalam map. "Kita cari bukti yang mengikat."
"Siap."
Darren berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti. Pikirannya tiba-tiba teringat Serina. Wajah wanita itu kembali muncul dalam ingatannya. Serina yang dulu ia kenal sebagai gadis sekolah yang selalu membuatnya diam-diam tersenyum. Kini wanita itu telah menjadi seorang ibu. Dan baru saja kehilangan suaminya. Darren menghela napas.
"Serina..."
Ia segera menggelengkan kepalanya. "Bukan waktunya." Baginya, saat ini yang terpenting adalah mengungkap kebenaran. Jika benar ada orang yang sengaja menjebak Jovan, maka orang tersebut harus ditemukan. Bukan hanya demi adiknya.Tetapi juga demi keluarga Riki yang berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
*
*
Di rumah kontrakan, Farel kini duduk di lantai. Kotak mainan telah dibuka. Dengan penuh kegembiraan, ia mencoba menjalankan mobil remote control pemberian Jovan.
"Bun! Lihat!" Mobil kecil itu melaju ke depan..Kemudian berbelok dan menabrak kaki meja. Farel tertawa.
"Hehehe!"
Serina yang sedang membereskan beberapa barang menoleh. Melihat tawa putranya, hatinya terasa sedikit hangat. Sudah beberapa hari terakhir Farel jarang tertawa.
"Pelan-pelan, Nak."
"Farel jago!"
Serina tersenyum tipis. "Iya, Farel jago."
Farel kembali memainkan mobilnya. Kemudian tiba-tiba ia bertanya,
"Bun..."
"Ya?"
"Besok Om datang lagi?"
Gerakan tangan Serina terhenti. Ia menatap putranya.
"Kenapa Farel bertanya begitu?"
"Farel mau bilang terima kasih."
Serina tidak menjawab. Farel memandangi mobil mainan itu.
"Om tadi kelihatan sedih."
Kalimat polos itu membuat Serina terdiam. Anak sekecil Farel ternyata mampu melihat kesedihan di wajah Jovan. Serina kemudian duduk di samping putranya.
"Farel..."
"Iya, Bun?"
"Kalau nanti Om itu datang lagi, jangan takut."
Farel mengangguk. "Farel nggak takut."
Serina mengusap rambut putranya. "Tapi jangan terlalu dekat dulu, ya."
"Kenapa?"
Serina terdiam cukup lama. Karena bagaimana pun, ia belum siap menjelaskan semuanya kepada anak berusia empat tahun.
"Nanti kalau Farel sudah besar, Bunda akan ceritakan semuanya."
Farel mengangguk polos. Kemudian ia kembali memainkan mobilnya. Sementara Serina hanya bisa memandang putranya dengan tatapan penuh kasih.
Di dalam hati, ia berjanji. Apa pun yang terjadi setelah ini, ia akan melindungi Farel.
Namun Serina belum tahu...
Di tempat lain, sebuah penyelidikan sedang membuka satu demi satu rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawanya Riki.
Dan nama Gio mulai muncul sebagai salah satu bagian penting dari teka-teki tersebut. Sementara di balik semua itu, Jesika dan kedua saudaranya masih bersembunyi. Mereka belum menyadari bahwa jejak yang mereka tinggalkan perlahan mulai ditemukan.
Dan ketika Darren berhasil menghubungkan seluruh bukti tersebut, permainan yang mereka mulai untuk menghancurkan Jovan justru akan berbalik mengancam mereka sendiri.
Bersambung...
marcella aku menunggu karma buat kamu yg secara terang terangan membenci jovan, lalu rahasia apa yg kamu simpan pasti akan terbongkar juga.....
untuk serina apa kamu tidak mempunyai sahabat baik selama di sekolah bisa nanti jadi jodoh darren🤣🤣🤣🤣🤣
untuk marcella kenapa kau melihat serina seperti melihat seseorang yg hina apa dia karna miskin dan janda🤔🤔🤔🤔🤔🤔
atau kau mempunyai rahasia besar hingga banyak yg menutupi dengan mencari kesalahan orang lain🤔🤔🤔
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔