Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main ke panti 2
Di dalam ruangan dengan nuansa modern yang didesain untuk kantor, Sekar dan Mitha duduk bersama mengobrol tentang banyak hal. Perkembangan panti asuhan, perjalanan hidup Santana, dan rencana yang akan mereka buat untuk panti asuhan ke depannya agar anak-anak yang ada di panti ini bisa hidup dengan baik.
Ada sekitar 200an anak di panti asuhan ini, dari berbahagi usia bahkan ada yang baru lahir sudah dititipkan ke panti asuhan. Mereka anak-anak yang kurang beruntung karena dibebankan masalah orang tua mereka sendiri. Padahal seharusnya, mereka diperlakukan dengan baik karena Anak adalah bentuk kasih sayang tertinggi Sang Pencipta untuk umatnya.
Sangat disayangkan, mereka yang seharusnya tumbuh diberkahi kasih sayang dari orang tua harus merasakan pahitnya hidup seperti sekarang. Meski ada beberapa yang beruntung karena diadopsi, contohnya saja Santana. Tapi tetap saja, mereka pasti nantinya akan tahu bahwa mereka pernah dititipkan ke panti.
" Saya sangat bersyukur, bu Mi.. Banyak orang-orang yang mau mendukung dan membantu kami dalam memberikan yang terbaik semua-muanya untuk anak-anak yang tinggal disini. " ujar Sekar benar sangat bersyukur.
" Kalau saja tidak ada perpanjangan tangan Tuhan melalui para donatur, saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak nantinya. "
Bu Mi tersenyum haru, " Pasti berat ya, mbak.. " Sekar mengangguk.
" Dulu berat, bu. Belum ada donatur dan ibu harus merogoh koceknya sendiri untuk menghidupi anak-anak. Bahkan terkadang ibu terpaksa makan makanan sisa kami saat itu. Sampai akhirnya tiba dimana seseorang wanita baik hati yang menawarkan diri mau menjadu donatur panti. " wajah Sekar sumringah sekali saat menceritakan wanita ini.
" Saya ingat, bu. Saat itu saya baru lulus SMA. Ibu ini datang membawa banyak sekali mainan dan peralatan sekolah. Bahan makanan, minuman, pakaian dan masih banyak lagi. Dua truk datang bersamanya, memberikan harapan baru untuk kami semua. "
" Panti mulai dibangun seperti sekarang ini, kami yang ada disini tak lagi kekurangan makanan bahkan saya di kuliahkan dengan harapan bisa membantu bu panti mengurus panti ini untuk kedepannya.. "
" Terberkati orang yang baik ya, mbak.. " ujat bu Mi yang benar bisa merasakan ketulusan si penolong hanya dari cara Sekar menceritakan padanya.
Wajah Sekar berubah sendu, meski masih ada senyum tipis, " Beliau akhirnya meninggal bu, tepat setelah panti ini selesai dibangun, tepat setelah putrinya sembuh dari depresi, Ibu itu berpulang. Seolah hidup terakhirnya dia baktikan untuk panti dan putrinya.. " air mata menetes membasahi pipi Sekar.
Selalu melow, setiap kali menceritakan tentang wanita yang menjadi awal dari semua kebahagiaan anak-anak panti ini. Beliau bagian pahlawan yang selalu dikenang dan diceritakan ke semua anak panti agar mereka semua tetap mengingat kebaikan hati penolong mereka.
Doa untuk mendiang tak pernah putus. Disetiap peringatan kematian ibu itu, selalu ada doa dari semua anak panti untuk mengantarkan beliau agar bisa meraih surganya.
" Itu... fotonya.. Ibu yang baik hati, yang terus kami kenang selamanya. " Sekar menunjuk sebuah pigura tepat di belakang Bu Mitha.
Betapa terkejutnya bu Mitha saat melihat siapa orang yang ada di foto itu. Mitha mengenalnya, tidak terlalu dekat tapi mereka selalu bertemu saat ada acara di sekolah anak-anak mereka.
Dia...
Wanita cantik yang tersenyum difoto itu..
Dia...
Mama Senjana...
' Jadi... Jadi dialah yang membangun panti asuhan menjadi seperti ini.. ' ibu Mitha terpegun.
" Beliau selalu mengatakan jika apa yang dia lakukan anggap saja sebagai penebusan dosa atas kenikmatan yang dia rasakan selama ini. Tapi untuk lebih jelasnya, hanya ibu panti yang tahu. Dan rahasia itu ibu panti bawa sampai berpulang.. "
" Penebusan dosa? " Sekar mengangguk.
" Tunggu mbak Sekar... Tolong jawab dengan jujur, apakah donatur yang akan datang yang tadi anda katakan adalah..... Senjana Radiyaksa? " tanya bu Mitha.
" Benar bu.. Setelah ibunya meninggal, mbak Senja yang menjadi donatur tetep panti ini. Beliau akan selalu datang di tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya, yang mana kebetulan jatuh di tanggal ini. " jawab Sekar sama sekali tidak ada kecurigaan.
Dalam pikirannya bu Mitha mencoba memaknai tanggal dan bulan ini. Tapi tidak menemukan jika ada yang khusus dari tanggal dan bulan ini.
Senyum terbit dari bibirnya, rencananya tepat sasaran. Meski yang memberinya bocoran tidak mengatakan pasti tanggalnya karena menurutnya bisa saja besok atau lusa, tapi bu Mi melakukan perjudian dengan takdir dan ternyata takdir pun memihak padanya.
' Apa yang sudah digariskan tidak akan pernah tertukar. Meskipun jalan yang harus dilalui sangat berat, tapi mereka akan tetap kembali bersama. '
*******
Tamu kehormatan yang dinanti kedatangannya oleh Sekar dan diam-diam oleh bu Mi akhirnya datang juga. Kedatangannya bahkan disambut hampir semua anak panti yang bersorak senang begitu melihay Senjana turun dari mobilnya.
Berbondong-bondong anak-anak lari demi bisa memeluk Senjana. Saking antusiasnya, terlihat dari posisi bu Mitha, Senjana hampir terjengkang ke belakang kalau saja tidak ada seorang wanita yang membantunya.
" Yang di belakang mbak Senja itu mbak Miduri, bu.. Lalu pria yang berdiri di sisi mobil yang lain adalah mas Jamal, suami mbak Miduri. " terang Sekar yang secara tidak langsung menjawab teka-teki dalam benak bu Mi.
" Mbak... "
" Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya bisa membaca jika kesayangan anda kemari bukan hanya ingin mengunjungi kami, tapi juga karena kedatangan mbak Senja... " bu Mitha terkesiap. Apakah niatnya terbaca dengan jelas.
Sorak sorai kedatangan Senjana masih berlangsung, dari posisi Senjana akhirnya bisa bertatap kembali dengan bu Mitha setelah sebelumnya Senjana bahkan tidak melihat sekitar karena anak-anak yang berdesakan ingin menyambutnya.
Perasaan Senjana berubah tidak tenang saat melihat bu Mitha. Tapi diyakinkannya bahwa semuanya akan baik, Senjana pun menghampiri bu Mitha dan Sekar.
" Apa kabar Sekar? Apa kabar bu Mi? " Senjana peluk satu per satu lalu cipika cipiki ala wanita.
" Baik, Sen.. " jawab keduanya kompak.
" Kompak bener? Kek paduan suara. " komen Senjana yang mengundang tawa dua wanita di depannya.
" Banyak bener sih bawaan mu, Sen.. Apa aja sih? " Sekar menatap jengah. Senjana selalu membawa barang-barang setoko saat berkunjung.
" Pesenan anak-anak tahun lalu mbak.. Kasian kalau nggak dibawain. " jawab Senjana yang sangat senang bisa mengabulkan semua keinginan anak-anak disini.
" Jangan dimanjain, ah. "
Senjana hanya tersenyum menanggapi protes dari Sekar. Biarlah, toh tidak tiap hari. Uang Senjana juga masih sisa banyak kalau cuma untuk membelikan apa yang anak-anak inginkan. Anak-anak sendiri juga tahu diri, tidak meminta barang yang harganya mahal.
" Wadidaw.. Apa-apaan itu? " Welly yang tadi mencari Rendi terkejut melihat dua truk besar datang menurunkan barang.
" Orang mau pindahan kah? Kok dituruninnya ke sini sih? " herannya yang semakin mendekat lalu menemui sang mama berdiri bersama seseorang yang dia kenal.
Otak pintarnya langsung menyimpulkan semua hal, dan dia pun akhirnya mengerti akal-akalan mamanya mengajaknya pergi ke panti ini.
" Ooohhhhh.. Mama main rahasia-rahasiaan nih dari gue.. Tapi tunggu... Kalau mereka ketemu sekarang yang ada mereka pasti diem-dieman trus besoknya Senjana ngilang lagi... "
" Tidak bisa.. tidak bisa... Gue harus kasih momen spektakuler biar nggak pada kabur.. Tapi apa ya.... "
Kepala Welly melihat ke arah Senjana, lalu ke arah Santana. Terus begitu sampai beberapa kali dan dia pun akhirnya memiliki rencana spektakuler untuk mempertemukan dua cinta paling mumet kalau menurutnya.