Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Murid Dalam di Lapangan
Tiga hari setelah runtuhan, kampung murid luar masih sunyi. Jenazah Ma Rui sudah dikremasi di lereng belakang pondok pengobatan pada hari kedua, dihadiri tidak lebih dari dua puluh orang. Pengawas berewok berdiri paling depan dengan kepala tertunduk, dan untuk pertama kalinya Jian Chen melihat lelaki itu tidak membawa gulungan bambu.
Pagi hari kedua puluh satu bulan ketiga, ketika lonceng apel berbunyi, ada sesuatu yang berbeda di lapangan. Di samping batu besar tempat pengawas biasa berdiri, tiga orang berjubah putih biru menunggu. Dua di antaranya masih muda dan berdiri setengah langkah di belakang yang ketiga. Yang berdiri paling depan berumur sekitar dua puluh tahun, bertubuh tegak, dengan pedang tipis tergantung di pinggang dan dagu terangkat seperti orang yang selalu merasa diperhatikan.
"Murid dalam," bisik Qiu Bo di samping Jian Chen. "Itu Zhao Feng. Dari klan Zhao. Katanya ayahnya salah satu penyumbang terbesar sekte."
Jian Chen sudah mengenalnya. Ia tidak berkata apa-apa.
Pengawas berewok, yang bernama Lu Gang, naik ke batu dan membuka suara. "Perhatian semua. Aula kontribusi mengirim utusan untuk memeriksa perintah palsu yang memajukan jadwal kelompok ketiga. Siapa pun yang dipanggil harus menjawab dengan jujur."
Zhao Feng melangkah maju. Suaranya jernih dan formal, seperti orang yang terbiasa dikutip. "Namaku Zhao Feng. Aku bertindak atas perintah aula. Aku akan memanggil beberapa orang. Pertama, Lu Gang."
"Hadir," kata Lu Gang.
"Kau menerima perintah itu pagi hari ketujuh belas?"
"Benar."
"Siapa yang membawanya?"
"Seorang murid luar berseragam kurir. Aku tidak mengenal wajahnya. Dia hanya menyerahkan gulungan dan pergi."
"Kau tidak memeriksa?" tanya Zhao Feng.
"Segelnya tampak asli," jawab Lu Gang pelan. "Aku tidak berani menolak segel aula."
Zhao Feng mencatat sesuatu di gulungan kecil yang dipegang muridnya, lalu mengangkat wajah. "Berikutnya. Jian Chen dari pondok tujuh."
Jian Chen melangkah ke depan. Ia merasakan seluruh lapangan menatapnya.
"Kau," kata Zhao Feng. Ia menatap Jian Chen dari atas ke bawah. "Kau murid yang memerintahkan semua orang keluar sebelum lorong itu runtuh."
"Aku hanya berteriak," jawab Jian Chen. "Mereka yang berlari."
"Kau memasang baji besi di tiang tengah sebelum ada tanda apa pun."
"Aku memasangnya karena tiang itu retak. Aku bisa melihat retak itu."
"Pemeriksa aula berkata retak itu tidak berbahaya." Zhao Feng mengangkat satu alis. "Kau meragukan pemeriksa?"
"Pemeriksa bisa salah," kata Jian Chen.
Terdengar desir pelan dari barisan di belakangnya. Zhao Feng tidak berkedip. "Murid luar dua tahun, belum pernah mendapat bimbingan, tahu lebih baik dari pemeriksa sekte. Dan tahu bahwa lorong itu runtuh bukan dari tiang tengah, tetapi dari ujung."
"Aku tidak tahu soal itu. Aku hanya mendengar bunyinya."
"Kau mendengar sesuatu yang tidak didengar orang lain." Zhao Feng melangkah lebih dekat, suaranya merendah sampai hanya Jian Chen dan Lu Gang yang bisa mendengar. "Aku tidak percaya pada firasat. Orang yang selamat dari bencana tanpa kehilangan banyak biasanya sudah tahu apa yang akan terjadi. Pertanyaannya: dari siapa kau tahu?"
"Dari tidak ada siapa pun," jawab Jian Chen.
"Jawaban itu kurang bagus."
"Itu jawaban yang jujur."
Zhao Feng menatapnya sebentar dengan mata yang tajam dan dingin, tetapi ada sesuatu di baliknya yang bukan hanya kecurigaan, melainkan rasa penasaran yang ia sendiri belum mau akui. "Baik," katanya akhirnya. "Aku tidak punya bukti apa pun, jadi aku tidak akan menuduhmu. Tetapi aku akan mengawasimu."
"Silakan," kata Jian Chen.
"Aku tidak butuh izin." Zhao Feng berbalik ke arah muridnya. "Catat. Murid bernama Jian Chen, pondok tujuh, tidak bersalah atas pemalsuan perintah. Tidak ada tindakan hukuman."
"Baik, Kakak Senior," jawab murid yang memegang gulungan.
Sebelum pergi, Zhao Feng menoleh sekali lagi. "Satu hal lagi, Jian Chen."
"Ya?"
"Kalau kau menemukan sesuatu yang berhubungan dengan segel palsu itu, laporkan padaku. Bukan pada pengawas. Pada aku."
"Mengapa?" tanya Jian Chen.
"Karena aku lebih cepat bertindak daripada pengawas." Zhao Feng mengangkat dagunya. "Dan karena aku tidak suka ada orang di sekte ini yang tahu lebih banyak daripada aku."
Ia pergi bersama dua muridnya, melewati barisan yang membelah diam-diam seperti air membuka jalan. Jian Chen memperhatikan punggungnya sambil menahan senyum yang tidak bisa ia jelaskan. Dua puluh tahun lalu, orang itu pernah menjadi rivalnya dan kemudian sekutunya, dan di antara semua kebodohan angkuhnya, ia selalu jujur.
Apel dibubarkan. Qiu Bo menarik lengan bajunya. "Kau tidak takut dia?"
"Sedikit," jawab Jian Chen.
"Tampangmu tidak kelihatan takut."
"Aku jago menyembunyikan itu."
Siang hari, Jian Chen kembali ke pondok pengobatan. Lin Xue sedang menyiapkan ramuan penurun demam untuk dua murid yang selamat dari tambang. Ia mengangkat wajah ketika Jian Chen masuk.
"Kudengar kau dipanggil murid dalam," kata Lin Xue.
"Hanya ditanya-tanya."
"Dan?"
"Aku tidak dihukum. Dia bilang dia akan mengawasiku."
"Itu lebih buruk dari dihukum." Lin Xue menaruh alu. "Murid dalam yang mengawasimu berarti dia tertarik. Dan orang seperti dia tidak berhenti tertarik begitu saja."
"Kau kenal dia?"
"Dia pernah datang ke sini membawa luka tebasan. Dia tidak mengeluh sekali pun." Lin Xue mengangkat bahu. "Tapi dia memarahiku karena jahitannya tidak rapi. Padahal jahitanku rapi."
Jian Chen tertawa kecil. "Memang jahitanmu rapi."
"Kau belum pernah kujahit."
"Aku bisa membayangkannya."
Lin Xue menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi ke ramuannya. Telinganya sedikit merah, tetapi ia tidak berkata apa-apa. "Duduk. Aku periksa nadimu."
Ia duduk. Jari-jari Lin Xue yang dingin menekan nadinya. Di luar jendela, sinar matahari jatuh miring ke dalam pondok, dan bau ramuan memenuhi udara. Sementara Lin Xue memejamkan mata, pikiran Jian Chen melayang ke hal yang sudah lama ia rencanakan.
Akar Embun Perak. Sebatang akar putih tipis di kebun herbal, tersembunyi di celah di bawah batu hitam di sudut utara. Akar itu akan masak pada hari ketiga puluh bulan ketiga, dan satu-satunya orang yang tahu letaknya, di kehidupan ini, hanya dia sendiri. Dengan akar itu, aliran qi-nya bisa menembus dinding bahu yang terus mengganjal, dan ia bisa naik ke tahap tengah Pengumpul Napas tanpa membahayakan intinya.
Empat belas hari sejak ia kembali. Sembilan hari lagi sampai akar itu masak.
"Kau melamun," kata Lin Xue sambil melepaskan tangannya.
"Maaf."
"Nadimu lebih kuat. Itu bagus." Ia menatap Jian Chen. "Tapi tetap, aliranmu putus di bahu. Kalau tidak ada bantuan, kau tidak akan naik tahap dalam waktu dekat."
"Aku tahu."
"Kalau kau punya rencana, jangan pakai cara ceroboh. Aku tidak mau menjahit dadamu."
"Aku akan berhati-hati," jawab Jian Chen. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali, ia merasa janji itu bukan sekadar kata-kata.