NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul / Tamat
Popularitas:281.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 5.

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar hotel. Zahira sudah terbangun sejak subuh, semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Berkali-kali ia menatap langit-langit kamar sambil memikirkan kehidupan yang kini harus ia jalani seorang diri.

Ia membuka dompetnya, ada beberapa kartu ATM masih tersimpan rapi. Tabungannya memang cukup untuk bertahan selama beberapa bulan. Namun, Zahira tidak pernah terbiasa hidup tanpa penghasilan. Selama tujuh tahun terakhir, ia memang tidak menerima gaji, tetapi seluruh kemampuannya ia curahkan untuk membangun perusahaan Deris. Sekarang semuanya telah berakhir, dan dia harus memulai lagi dari nol.

Ponselnya bergetar, nama Nina muncul di layar.

"Zahira, aku sudah membeli sarapan untuk kita. Sekitar dua puluh menit lagi aku sampai di hotel. Kali ini kamu jangan menolak, karena aku datang bukan cuma ingin memastikan keadaanmu, tapi juga ingin membicarakan sesuatu yang menurutku sangat penting untuk masa depanmu."

Zahira mengembuskan napas pelan. "Kamu sebenarnya tidak perlu serepot ini, Nina. Aku baik-baik saja. Keadaanku memang sedang berantakan, tapi aku masih bisa mengurus diriku sendiri."

"Aku tahu kamu perempuan yang kuat. Justru karena aku mengenalmu, aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian. Tunggu aku, jangan ke mana-mana."

Sambungan telepon langsung terputus.

Zahira hanya tersenyum kecil, sifat Nina memang tidak pernah berubah.

Dua puluh menit kemudian, bel kamar berbunyi. Begitu pintu dibuka, Nina langsung masuk sambil membawa dua kantong makanan dan kopi hangat. Tanpa mengatakan apa pun, ia memeluk Zahira cukup lama.

"Kamu masih saja mencoba terlihat baik-baik saja, padahal wajahmu sudah menjelaskan kalau semalaman kamu tidak tidur."

"Aku memang sulit tidur."

"Kalau aku berada di posisimu, mungkin semalaman aku sudah mengacak-acak rumah mantan suamiku."

Ucapan itu membuat Zahira tersenyum tipis. "Untung yang bercerai aku, bukan kamu."

"Makanya aku bilang mungkin."

Mereka tertawa pelan, suasana yang sejak semalam terasa berat perlahan mulai mencair. Setelah sarapan selesai, Nina membuka pembicaraan.

"Zahira, aku datang bukan cuma ingin menemanimu. Aku ingin menawarkan sesuatu yang menurutku jauh lebih penting daripada sekadar memberi semangat."

"Apa maksudmu?" Zahira menatap sahabatnya.

"Aku ingin kamu bekerja lagi."

Ucapan sahabatnya itu membuat Zahira terdiam.

Nina melanjutkan, "Selama tujuh tahun kamu memang dikenal sebagai ibu rumah tangga. Tapi aku tahu... kenyataannya jauh lebih dari itu. Kamu mengurus operasional perusahaan Deris, menyusun laporan keuangan, mengatur arus kas, berhubungan dengan vendor, bahkan ikut menyusun strategi bisnis ketika perusahaan mereka hampir bangkrut. Pengalaman seperti itu tidak dimiliki banyak orang."

Zahira menggeleng pelan. "Itu sudah lama sekali, Nina. Dunia kerja berubah sangat cepat, aku sudah tujuh tahun tidak pernah mengirim lamaran pekerjaan."

"Itu bukan alasan." Nina menjawab dengan tegas. "Pengalamanmu jauh lebih berharga... daripada orang yang hanya memiliki ijazah dan teori. Kamu membangun perusahaan dari nol bersama Deris. Kalau perusahaan itu bisa sebesar sekarang, berarti ada kontribusimu di dalamnya."

Zahira tersenyum pahit. "Sayangnya, kontribusi itu tidak pernah diakui."

"Biarkan saja, kamu tidak membutuhkan pengakuan mereka untuk membuktikan kemampuanmu."

Nina menarik napas sebelum melanjutkan. "Perusahaanku sedang membuka lowongan untuk posisi penting, aku ingin kamu ikut seleksi."

"Posisi apa?"

"General Manager Divisi Operasional."

Zahira langsung menggeleng. "Nina, kamu terlalu melebih-lebihkanku. Posisi itu pasti membutuhkan orang yang benar-benar berpengalaman. Aku bahkan belum pernah bekerja di perusahaan lain selain membantu usaha Deris."

"Itulah yang membuatmu berbeda." Nina mencondongkan tubuhnya. "Orang lain mungkin hanya bisa menjalankan perusahaan yang sudah besar, tapi kamu pernah membangun perusahaan dari titik nol. Percayalah, kemampuanmu jauh lebih baik daripada yang kamu kira."

Zahira masih terlihat ragu. "Aku tidak ingin diterima hanya karena kamu bekerja di sana. Aku juga tidak ingin orang lain berpikir kalau aku memanfaatkan hubungan pertemanan."

"Zahira... kamu terlalu mengenalku sebagai teman, tapi belum mengenal atasanku. Di perusahaan kami, rekomendasi hanya bisa membuat seseorang dipanggil wawancara. Setelah itu, semuanya ditentukan oleh kemampuan masing-masing. Kalau kamu tidak memenuhi standar, sekalipun aku memohon, kamu tetap akan ditolak." Nina terkekeh pelan.

"Siapa direktur utama perusahaanmu?" tanya Zahira.

"Namanya, Revan Wiranata," jawab Nina santai.

Zahira langsung terdiam, matanya membulat pelan. "Revan... Wiranata? Jangan bilang, dia Revan yang dulu satu SMA sama kita?"

"Iya, Revan yang itu. Memangnya ada berapa Revan Wiranata yang pernah sekolah sama kita? Ya, dia orangnya." Nina tertawa kecil.

Zahira mengerjapkan mata beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. Ia menggeleng pelan, masih sulit percaya.

"Aku benar-benar nggak nyangka. Terakhir kali aku dengar kabarnya, dia masih kuliah di luar negeri."

"Setelah lulus, dia langsung mengambil alih perusahaan keluarganya. Banyak yang mengira... dia hanya mewarisi jabatan ayahnya. Nyatanya, dia berhasil membawa perusahaan itu berkembang jauh lebih pesat. Sekarang namanya cukup disegani di dunia bisnis."

Zahira masih belum mengalihkan pandangannya. Nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar itu tiba-tiba kembali hadir, membawa kenangan masa SMA yang perlahan muncul satu per satu.

"Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya."

"Kalau soal itu, mungkin dia juga sudah lama tidak mendengar kabarmu."

Zahira tersenyum tipis. "Terakhir kali bertemu dengannya, waktu kelulusan SMA."

"Berarti kamu belum tahu satu rahasia."

"Apa?"

Nina memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik. "Dulu Revan menyukaimu."

"Aku sudah tahu." Zahira tidak terlihat terkejut.

"Kamu tahu?"

"Iya, beberapa minggu setelah kelulusan... kamu sendiri yang memberitahuku."

Nina tertawa malu. "Astaga! Aku sampai lupa.“

“Dia tidak pernah mengatakannya langsung kepadaku, itu memang sifat Revan."

Nina menggeleng pelan. "Dia bukan tipe laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaan. Waktu SMA saja, semua orang tahu dia selalu memperhatikanmu. Hanya kamu yang tidak menyadarinya."

"Itu sudah lama sekali, sekarang hidup kami sudah berbeda." Zahira menghela napas pelan.

"Tentu saja berbeda. Makanya... anggap saja dia sekarang sebagai calon atasanmu. Jangan memikirkan cerita waktu SMA."

"Itu juga yang kupikirkan." Zahira tersenyum tipis. "Aku akan datang sebagai pelamar kerja, tidak lebih."

"Itu bagus." Nina menyerahkan sebuah kartu nama. "Ini alamat kantornya, besok kirim CV-mu. Kalau lolos seleksi administrasi, minggu depan kamu akan dipanggil wawancara."

Zahira menerima kartu itu, kali ini sejak meninggalkan rumah keluarga Adikara, ia merasa memiliki tujuan yang jelas.

"Aku akan mencoba."

"Bukan mencoba." Nina tersenyum penuh keyakinan. "Kamu akan membuktikan kepada semua orang... kalau Zahira Narapati mampu berdiri tanpa nama Deris Adikara."

Zahira menggenggam kartu nama itu lebih erat. "Makasih, Na."

"Kamu tidak perlu berterima kasih, aku hanya membuka pintu. Orang yang akan melangkah masuk adalah dirimu sendiri."

Di dalam hati, Zahira mengucapkan satu janji. Ia tidak akan hidup sebagai wanita yang terus dikenang karena diceraikan. Ia akan menjadi wanita yang dikenang... karena keberhasilannya bangkit.

1
Ardhianna Maniezz
itu baru bos yang keren
Mama Gezkara
kak Zahira suka banget sama warna putih, krem dan hitam ya kak...🤭
Rere💚: Itu aku yg suka, jadi ketempelan karakter Zahira nya deh 🤭
total 1 replies
murni l.toruan
Orang yang terdekat tidak pernah melihat batu yang bersinar. itu yang dialami Zahira. Deris gigit jari dan siap bangkrut
Sisca Raharjo
huhu bikin gregetan 🙄🙄
murni l.toruan
Pelakor tidak ada otak, bodoh n tolol
Punkpunk 234
kuyang sama Kunti klop bngt klo udah niat jahat 😡 dasar pasukan iblizz..😡😡
murni l.toruan
Karma dibayar lunas..sah..sah . terimalah karma keluargamu Deris
murni l.toruan
Baru baca saja aku emosi,
Sazmah Maa
rasakan kau deris
Thewie
masih tidur Lo ya deris.. bangun banguuuun
Thewie
nahhh kan karma datangnya naek jet🤭🤣🤣
Punkpunk 234
wadduhh c Kunti kena gampar.. mantan beud dakh👍😆👍
Punkpunk 234
good job Raa.. cuekkin aja pelakor gila mah👍💪👍
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
ular betina mau dijadikan istri.. lah berlian malah di buang.. selama ini Denis matanya buta sih.. ngga ngeliat yang baik dan perhatian yg mana.. makan tuh pilihan mu Denis.. ❣️
♉ᴶᴬnjiku ᴷᴬᴿena 𝐂𝐢𝐧ᵀᴬ
lah ngapain noleh, kaya ngga laki lain-lain aja, pecundang mah buang aja kelaut biar dimakan ikan hiu.. ngga punya perasaan banget tuh si Deris😎
Eric ardy Yahya
Jalang diam aja , ELU UDAH KALAH YOTAL
Eric ardy Yahya
wah mengulang kejadian Zahira nih , Kurasa Rafka akan jadi orang bodoh kedua
Eric ardy Yahya
SADAR DIRI BU , ANAK ELU BIANG KEROK DAN MENYALAHKAN ZAHIRA ? emang benar-benar otak anda udah Korslet . Zahira wanita berkarir selama 7 tahun , dibandingkan anak elu yang manja yang pakai cara koneksi buat masuk
Dwi Vella
bagus👍👍
Desi Belitong
ada juga ya pelakor gak Tau malu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!