NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-22 Makan Malam

Beberapa menit berlalu, tirai ruang ganti sedikit bergoyang. Suara langkah ragu terdengar. Damian sedang duduk di sofa butik, memainkan ponselnya—tapi sejak tadi, ia sesekali melirik ke arah tirai itu.

Tiba-tiba Amora keluar, masih menunduk dan menarik-narik ujung lengan dress-nya yang pas di tubuh. Warna maroonnya membuat kulit Amora terlihat lebih cerah. Rambutnya ia kuncir asal-asalan, tapi tetap saja ada sesuatu yang… menarik.

Damian mengangkat kepala.

Amora menatapnya, gelisah. “Kependekan ih. Aku kayak mau ke kondangan.”

Damian mematung. Ponsel di tangannya diam-diam terkunci. Matanya menyusuri penampilan Amora dari atas ke bawah. Bukan dengan pandangan menggoda, tapi ada jeda, dan hening. Aneh. Yang pasti pandangan itu berbeda dari beberapa hari yang lalu.

Azka yang duduk di samping Damian langsung bertepuk tangan, “Kakak cantik banget! Serius!”

Amora tersenyum kikuk. “Ah, kamu mah…”

Damian masih terdiam. Tatapannya sulit dibaca, tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya dan berdiri sambil berkata datar, “Pas. Ambil yang itu.”

Amora melongo. “Loh? Serius ini dibeli?”

“Udah dicoba, cocok, ya dibeli.” Damian mengangkat alis. “Atau kamu mau dress seharga dua puluh juta yang itu?” tunjuknya ke arah gaun pesta yang nyaris seperti baju bridesmaid.

Amora langsung gelagapan. “Nggak, nggak. Yang ini aja!”

Azka menatap Damian dengan kagum. “Om Damian kayak lagi makeover Putri Salju yang baru keluar dari dapur.”

Damian melirik Azka sejenak. “Putri Salju biasanya ditemukan di hutan, bukan dapur, Azka.”

Amora bersedekap. “Ya, berarti aku versi ekonomisnya. Putri Salju subsidi.”

Damian nyengir tipis. “Tapi tetep cocok buat makan steak. Yuk, sekarang gantian Azka pilih baju.”

Azka langsung semangat, sementara Amora masih geleng-geleng kepala. Dalam hati, ia masih tak percaya. Si dokter dingin itu ternyata diam-diam perhatian dan… punya selera fashion juga?

*********

Restoran steak yang mereka datangi bukan tempat biasa. Dari luar saja sudah terlihat mewah dengan desain klasik modern dan pencahayaan hangat yang mengundang. Saat pelayan membuka pintu untuk mereka, aroma daging panggang langsung menyapa hidung Amora dan Azka. Perut Azka sampai berbunyi pelan.

“Om, baunya bikin lapar banget,” bisik Azka sambil melirik Damian.

Damian menahan senyum tipis. “Tunggu saja rasanya.”

Mereka duduk di meja dekat jendela. Pemandangan kota di luar mulai berubah warna senja. Amora merasa canggung. Ia berkali-kali mengecek harga di menu dan menahan napas. Satu porsi steak di sana setara gaji hariannya.

Damian yang duduk tenang, sadar dengan ekspresi Amora. Ia menutup menunya. “Pilih saja yang paling kamu suka.”

Amora menelan ludah. “Kayaknya aku pesan air putih aja, kenyang kok.”

Azka langsung protes, “Kak, kamu belum makan dari siang.”

Damian melirik Azka, lalu tatapannya kembali ke Amora. “Jangan bikin malu. Kita tamu, bukan maling.”

Amora menahan tawa dan mencubit lengan Azka pelan. “Azka ini ya… cerewet.”

Pelayan datang, mencatat pesanan. Damian memesan steak wagyu untuk dirinya, dan menyarankan Azka mencoba steak sirloin dengan mashed potato. Untuk Amora, ia menyebutkan satu menu favorit restoran itu tanpa memberi kesempatan Amora menolak.

Beberapa menit kemudian, pesanan mereka akhirnya datang.

“Dagingnya lembut, cocok untuk orang yang mengaku tidak lapar tapi matanya ngiler,” ujar Damian pelan setelah pelayan pergi.

Azka tertawa pelan, sementara Amora menghela napas panjang—pasrah.

Beberapa menit kemudian, makanan datang. Azka langsung menyantap dengan lahap, matanya berbinar.

“Om Damian… ini dagingnya lumer banget di mulut.”

“Memang,” jawab Damian santai sambil menyendok saus ke piringnya.

Amora mencoba potongan pertama steaknya. Ia sempat memejamkan mata. “Waduh… ini baru pertama kali aku makan yang kayak gini.”

Damian mengangguk kecil. “Bagus. Berarti kamu punya standar baru.”

“Terima kasih Om sudah mengajak kita makan malam ditempat yang sangat enak begini. Maaf karena baru pertama kenal tapi aku sudah minta makanan malah sama Om Damian,” ucap Azka dengan tulus.

“Tidak apa-apa Azka. Aku senang melakukannya untukmu. Makan yang banyak,” kata Damian sambil mengusap kepala Azka.

“Saya juga mengucapkan terima kasih yang banyak untuk semuanya, Dok. Maaf juga kalau Azka ngelunjak kesannya. Dia sangat senang saat ada orang menatapnya dan memperlakukannya seperti Anda. Karena selama ini sorot mata yang Azka dapatkan seperti merendahkan.” Kali ini Amora bicara dengan nada serius.

“Aku seorang dokter. Aku paham apa maksudnya dan paham juga tentang Azka,” tukas Damian sambil mengunyah makanannya. Amora mengangguk sambil nyengir.

Untuk pertama kalinya, makan malam mereka terasa seperti… keluarga kecil yang harmonis. Dan mungkin, tanpa sadar, itu mulai menempel di hati Damian.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!