Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: SUNGAI DARAH DI LEMBAH KEMATIAN
Seketika kekuatan di tingkat Nirvana memancar keluar dari tubuh Bima Samudra tanpa ditahan lagi.
Untuk menghemat energinya karena jumlah musuh terlalu banyak, ribuan Iblis Ekstratoritorial yang hitam pekat itu, Bima pun menggunakan Wujud Tertinggi nya yang baru ia dapatkan.
Seketika dari kepalanya muncul sepasang tanduk Naga Emas yang indah dan berwibawa, dari punggungnya membentang sepasang Sayap Phoenix Nirvana yang berkobar dengan api keemasan yang suci, dan seluruh tubuhnya diselimuti aura dan Zirah Naga Putih yang maha dahsyat, berkilauan seperti baju perang dewa.
"Ayu Lestari, apa kau siap untuk berpesta...?" kata Bima kepada Roh Pedang Pembalik Langit miliknya yang bersemayam di lautan jiwanya.
"Tentu, Tuan Muda, Ayu sudah siap...!" jawab Ayu Lestari dengan suara yang penuh semangat dan manja.
Seketika Pedang Pembalik Langit pun dikeluarkan. Pedang itu berdengung keras, haus akan darah iblis.
"Wusssshhht..."
Sekali tebasan horizontal dari Bima, ratusan ras Iblis Ekstratoritorial yang berada di garis depan langsung musnah menjadi kabut darah hitam. Tidak ada yang tersisa.
Tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di Lembah Kematian Merapi yang terkejut setengah mati, Bima terus menerjang bolak-balik di tengah kerumunan ribuan Iblis Ekstratoritorial itu seperti dewa kematian yang sedang menari.
Di mana Bima melintas, di situ iblis tumbang seperti padi yang dipanen. Jeritan iblis, ledakan energi, dan kobaran Api Nirvana bercampur menjadi satu. Lokasi pertempuran yang tadinya adalah lembah hijau, seketika menjadi lautan darah hitam pekat.
Orang-orang dari berbagai perguruan di Jawa Tengah dan Jawa Timur sontak kaget tidak percaya dengan kehebatan pemuda yang tidak tahu asal usulnya itu.
Yang mereka pikir pemuda itu hanyalah seorang murid biasa dari Perguruan Anggrek Putih, perguruan kecil dari Desa Ngargoyoso. Tapi setelah melihat kehebatannya yang bisa membelah langit, sungguh tidak mungkin seorang murid biasa bisa sehebat ini. Jenius macam apa ini...? Dewa macam apa ini...? bisik orang-orang di sekitar medan pertempuran dengan wajah pucat.
Sementara di sisi Bima, dia terus menebas tanpa ampun seperti Dewa Perang. Apapun yang ia lewati akan musnah terbakar oleh Api Nirvana dan terbelah oleh Pedang Pembalik Langit.
Tak terasa, satu jam berlalu.
Dalam satu jam itu, Bima sudah membunuh kurang lebih 728.000 iblis. Hampir setengah dari total pasukan iblis yang keluar dari segel Gunung Merapi, ia habisi sendirian. Sebuah angka yang mustahil.
Setelah merasa cukup, Bima pun kembali ke kelompok Perguruan Anggrek Putih. Ia melayang turun dengan sayap indahnya yang masih berkobar, seperti dewa perang yang baru turun dari kahyangan. Semua orang di Perguruan Anggrek Putih, termasuk Pak Wijaya, Bu Lastri, Amelia, dan Intania, terpukau melihatnya. Mereka tidak bisa berkata-kata.
Bima mendarat dengan lembut di depan mereka.
"Paman Wijaya, sepertinya jatah kontribusi Perguruan Anggrek Putih sudah lebih dari cukup. Saya sudah membantai lebih kurang 728.000 Iblis Ekstratoritorial. Itu sudah lebih dari sepuluh kali lipat kontribusi gabungan semua perguruan di sini. Sisanya, biarkan kekuatan-kekuatan lain yang mengurusnya," kata Bima dengan santai sambil melipat sayapnya.
Sontak, semua kekuatan lain dari berbagai kerajaan dan perguruan yang mendengar itu kaget bukan main.
Bagaimana tidak, di posisi mereka, mereka sudah mengalami kerugian yang sangat banyak. Ratusan pendekar mereka terluka, puluhan tewas. Jika pemuda yang menjadi harapan satu-satunya ini pergi meninggalkan medan perang, sudah dipastikan mereka semua akan musnah ditelan ribuan iblis yang tersisa.
"Bug... Bug... Bug..."
Satu persatu, para ketua perguruan, para raja kecil, dan para tetua mulai berlutut di hadapan Bima, meminta agar Bima membantu mereka melawan sisa-sisa iblis yang masih ada sekitar 700.000 lagi.
"Tuan Muda Bima, tolonglah kami...! Tolong bantu kami...!"
Bima menatap mereka dengan tatapan dingin dan kecewa.
"Aku hanya membantu Perguruan Anggrek Putih memberikan kontribusinya, karena mereka sudah sangat baik kepada ku, sudah menganggap ku sebagai keluarga. Sementara kalian, aku tidak kenal sama sekali. Rasanya aku tidak perlu ikut campur urusan kalian. Apalagi salah satu dari kalian tadi, bahkan ingin membunuh ku dan mengganggu teman ku," kata Bima dengan dingin seraya melirik ke arah Raja Barat dari Banten yang sudah berlumuran darah bekas pertempuran dan sedang bersembunyi di belakang pasukannya.
Semua orang di lembah pun serentak melirik ke arah Raja Barat.
Melihat tatapan semua orang yang penuh kebencian tertuju padanya, Raja Barat yang sombong itu pun akhirnya ketakutan dan berlutut di depan Bima agar dia mau membantu dan memaafkannya.
"Anak Muda, maafkan aku... Aku tahu aku salah, cucu ku dan anak ku memang pantas mati. Tolong maafkan Kerajaan Barat..."
Bima menatapnya dengan tatapan tajam.
"Heeehhh, jika aku tadi tidak kuat dan hanya seorang pemuda lemah, apakah kalian dari Kerajaan Barat akan memaafkan ku dengan begitu mudah...?" tanya Bima dengan dingin.
Raja Barat pun bimbang dan terdiam, tidak bisa menjawab.
"JAWAB...!!!!!!" bentak Bima dengan suara yang menggelegar seperti petir, membuat seluruh lembah bergetar.
"Tiiidaaak... Tidak akan... Kami pasti akan membunuh mu..." jawab Raja Barat dengan jujur karena ketakutan.
"Bagus, kau sangat jujur," kata Bima sambil tersenyum sinis. "Jika aku yang lemah, kalian bisa membunuh ku seenaknya. Tapi jika kalian yang lemah, aku harus memaafkan kalian dan membantu kalian... Hahaha..."
"Wusssshhht..."
Dalam sekejap, Bima langsung menebas kepala Raja Barat dengan Pedang Pembalik Langitnya. Seraya berkata dengan dingin,
"Sejak kapan ada hal yang begitu baik dan munafik di dunia ini...? Hukum rimba tetaplah hukum rimba."
Sementara kepala Raja Barat menggelinding jatuh ke tanah, semua orang di lembah kaget tidak percaya akan ketegasan dan keberanian pemuda asing di depan mereka ini. Tidak ada satu pun yang berani protes, karena mereka tahu, Raja Barat memang pantas mendapatkannya.
Setelah membunuh Raja Barat yang menjadi sumber masalah, Bima kembali menatap ke medan pertempuran yang masih dipenuhi ratusan ribu iblis yang mengaum.
Secepat kilat, Bima terbang tinggi ke angkasa, mengelilingi semua kelompok Iblis Ekstratoritorial yang tersisa dan mengepung mereka dengan Api Nirvana keemasan yang membentuk sebuah lingkaran raksasa sebesar Gunung Merapi.
Sontak, tak ada satu pun iblis yang sanggup menahan kobaran dari Api Nirvana legendaris itu. Api itu adalah api penyucian yang membakar kegelapan.
Satu persatu, Iblis Ekstratoritorial itu terbakar menjadi abu hitam, menjerit kesakitan.
Ada satu Raja Iblis Ekstratoritorial yang paling besar, setinggi sepuluh meter, dengan tanduk hitam, yang terus mengamuk dan mencoba menerobos Api Nirvana.
Melihat itu, Bima menghunus Pedang Pembalik Langitnya tinggi-tinggi di angkasa.
"Musnah lah...!"
Lalu menebas Raja Iblis Ekstratoritorial itu dari jarak seratus meter dengan Tebasan Cahaya Nirvana hingga terbelah dua menjadi empat bagian.
Semua pendekar yang melihat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, namun mereka tidak bisa membantah, itulah kenyataan di depan mata mereka. Pemuda dari Gunung Lawu itu telah membantai semua iblis sendirian.
Jeritan pilu dari para iblis perlahan berhenti karena semuanya telah habis terbakar menjadi abu oleh Api Nirvana.
Selang beberapa saat, suasana Lembah Kematian Merapi pun menjadi hening total. Angin bertiup membawa abu-abu hitam beterbangan.
Akhirnya, semua iblis musnah. Perang besar yang ditakuti selama ratusan tahun itu selesai hanya dalam waktu kurang dari dua jam karena satu orang.
Bima melipat sayapnya dan kembali ke kelompoknya. Ia langsung disambut pelukan hangat dari Amelia dan Intania yang berlari menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Bima, kau sungguh hebat...! Apakah kau seorang dewa...? Apakah kau baik-baik saja...? Ada yang terluka...?" tanya Intan dengan panik sambil memeriksa tubuh Bima.
"Aku lebih hebat dari dewa, karena aku bisa menghajar dewa sekalipun jika mereka berani merebut kalian berdua dari ku," jawab Bima sembari terkekeh dengan nada menggoda, mencoba mencairkan suasana tegang.
"Iiiihhh, Bima, kau sungguh genit...!" kata Amelia dan Intan serentak sambil mencubit pinggang Bima bersamaan. Namun tanpa mereka sadari, muka mereka berdua sudah memerah seperti buah tomat karena malu dan bahagia.
Kejar-kejaran kecil pun terjadi antara mereka bertiga di tengah-tengah medan perang yang penuh darah. Semua pendekar yang melihatnya menjadi bingung. Tadi pemuda ini saat membantai para iblis sangat mengerikan seperti Dewa Kematian yang membunuh semua yang di lewatinya tanpa ampun, namun sekarang ia terlihat seperti pemuda biasa yang sedang bermain-main dengan dua gadis cantik.
Setelah semuanya selesai dan medan perang dibersihkan, para petinggi dari berbagai perguruan dan kerajaan itu memutuskan untuk menjamu Bima dan para anggota Perguruan Anggrek Putih ke Kerajaan Benua Tengah, yaitu Kerajaan Mataram Baru di wilayah Klaten, yang dipimpin oleh Raja Sima Ngusada itu sendiri.
"Semua ini tergantung pada Bima," ucap Ketua Perguruan Wijaya kepada para raja.
Bima lalu dipanggil oleh Ketua Perguruan.
"Bima, iya, Paman...?" jawab Bima.
"Mereka semua mengundang mu ke Kerajaan Mataram Baru di Klaten untuk merayakan kemenangan besar ini sebagai pahlawan. Jika Paman boleh menyarankan, ikutlah, Nak. Ini bagus untuk masa depan mu," ucap Pak Wijaya.
"Jika Paman mau saya ikut, saya ikut saja," ucap Bima dengan santai dan patuh.
"Baiklah, sekarang kita semua menuju Kerajaan Mataram Baru...!" seru Raja Mataram Baru.
Semua orang bergegas menuju Kerajaan Mataram Baru, termasuk Bima dan dua wanitanya yang sudah siap dengan naik Phoenix Sekar Lestari yang indah, sehingga itu membuat banyak orang kagum dan iri setengah mati.
Sepanjang jalan di atas langit Jawa Tengah, Bima bersama dua wanitanya terus saja bercanda ria sambil melihat pemandangan sawah dan desa-desa di bawah, yang membuat perjalanan yang seharusnya menegangkan terasa begitu menyenangkan.
Kedua orang tua Amelia dan Intan, Pak Wijaya dan Bu Lastri, yang ikut di atas punggung Phoenix bersama mereka, sangat senang melihat kedua putrinya bahagia bersama Bima. Mereka saling berbisik, "Sepertinya kita akan segera punya menantu yang hebat."
Tak terasa waktu berlalu, Bima dan rombongannya sampai duluan di Kerajaan Mataram Baru karena kecepatan Ratu Phoenix Sekar Lestari melebihi kecepatan kapal terbang dan pedang terbang semua orang.
Sesampainya di Kerajaan Mataram Baru, semua penduduk kota dan prajurit kerajaan gempar melihat kedatangan burung Phoenix raksasa yang sangat megah dan mengerikan itu di atas istana. Mereka pikir semua kultivator ras manusia telah musnah dan benua mereka akan diserang oleh monster.
Dalam ketakutan, semua prajurit mengangkat senjata.
Namun dari atas Phoenix raksasa itu, turunlah beberapa orang yang tak lain adalah Bima bersama anggota Perguruan Anggrek Putih.
Melihat itu, semua orang sontak bisa bernafas lega. Ternyata itu adalah manusia, bukan ras Iblis Ekstratoritorial yang mengerikan, melainkan pahlawan mereka.
Tak lama setelah kedatangan Bima, semua rombongan lain pun hadir, termasuk Raja dari Kerajaan Mataram Baru itu sendiri. Tak lupa, Raja Mataram Baru mengumumkan dengan suara lantang di atas balkon istana bahwa Bima Samudra adalah pahlawan besar yang telah membasmi Iblis Ekstratoritorial dan menyelamatkan seluruh Tanah Jawa.
Untuk merayakan kemenangan ini, Raja Mataram Baru mengundang semua orang untuk berpesta besar selama tiga hari tiga malam di alun-alun kerajaan.
Seketika sorak gembira terdengar di mana-mana. Semua orang sangat antusias dengan undangan dari sang Raja. Selain bisa makan dan minum sepuasnya, pesta ini juga merayakan kemenangan dari Iblis Ekstratoritorial yang selama ini menjadi ketakutan mereka semua.
Akhirnya, Raja Mataram Baru mengajak semua orang masuk untuk beristirahat di dalam istana. Raja pun menyuruh pelayan mengantar semua orang ke tempat istirahatnya masing-masing.
Kecuali Bima, yang diantar ke kamarnya secara pribadi oleh Raja Mataram Baru itu sendiri sebagai tamu kehormatan paling agung.
Kamar itu sangat indah dan megah, ujar Intania yang ikut mengintip.
"Iya, apalagi ada kamu di sini, jadi semakin indah," kata Bima sambil terkekeh menggoda Intan, membuat Intan langsung memukul pelan dada Bima dan berlari keluar kamar dengan wajah merah.
Malam kemenangan di Kerajaan Mataram Baru baru saja dimulai.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?