Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Cerita Seorang Anak
Setelah memasuki gerbang sekolah, dunia Jun-seok berubah dengan cepat namun tidak menjadi asing. Halaman depan KIYOON International Arts School terbentang luas dan terawat, bukan sekadar ruang bermain, melainkan ruang untuk berekspresi.
Patung-patung modern berdiri di beberapa sudut taman, dinding bangunan dihiasi mural abstrak karya para siswa, dan dari beberapa ruang terbuka terdengar samar alunan piano, gesekan biola, serta ketukan ritmis yang belum sepenuhnya rapi namun terdengar jujur.
Anak-anak seusianya berlalu-lalang dengan kepercayaan diri yang khas. Tidak ada seragam kaku; yang ada hanyalah pakaian rapi nan fungsional, disesuaikan dengan kelas seni masing-masing. Beberapa membawa kanvas kecil, sementara yang lain menyampirkan tas berisi perlengkapan alat musik di bahu mereka. Di tempat ini, bakat bukan sekadar hobi, melainkan bahasa pertama.
“Jun-seok hyung!”
Suara itu datang dari arah kanan. Seorang anak lelaki berambut rapi melambaikan tangan sambil berlari kecil menghampirinya.
“Seon-woo,” jawab Jun-seok, wajahnya seketika mengembang dalam senyum.
Seon-woo berhenti di hadapannya, lalu menepuk bahu Jun-seok ringan.
“Kamu telat sedikit hari ini. Biasanya kamu datang paling pagi,” ucapnya sembari berjalan di samping Jun-seok.
“Aku berangkat bersama Daddy dan Mommy,” jawab Jun-seok jujur.
“Oh. Keren. Jadi Mommy dan Daddy-mu tidak sibuk lagi?” tanyanya, terdengar penasaran.
Jun-seok menggeleng.
“Sepertinya tidak. Kau tahu, aku semalam tidur dengan Mommy karena mimpi buruk,” ucapnya. Seon-woo mengangguk pelan, lalu tersenyum.
“Aku sudah lama tidak tidur dengan Appa dan Eomma. Mereka selalu tidur berdua, sedangkan aku... hanya sendiri,” ucapnya sembari menatap jalan di hadapannya. Ada nada kecewa yang tipis dalam suaranya, meski ia berusaha mengatakannya seperti sesuatu yang biasa.
Jun-seok tertawa kecil sebelum berkata,
“Mommy dan Daddy juga selalu tidur bersama. Aku tidak tahu kenapa mereka harus tidur bersama. Padahal, dulu aku boleh saja tidur dengan mereka. Namun, semenjak sudah sekolah, Daddy bilang aku harus tidur sendiri karena Mommy harus tidur dengannya,” kata Jun-seok serius, tetapi jelas tidak memahami apa pun selain menerima begitu saja penjelasan kedua orang tuanya.
“Bukankah mereka aneh, hyung?” ujar Seon-woo.
“Aneh, tetapi aku tidak mengerti. Mommy dan Daddy bilang aku harus menjadi anak baik. Kalau mau menjadi anak baik, aku harus menurut kepada mereka. Jadi, aku menurut saja,” jawab Jun-seok polos.
Belum sempat Seon-woo menanggapi, sebuah suara menyela dari belakang.
“Itu betul. Appa dan Eomma juga bilang begitu. Katanya, kalau aku tidak menurut, aku nakal,” sela Si-an.
Jun-seok dan Seon-woo menoleh bersamaan. Di belakang mereka, Si-an berjalan bersama Min-kyu dan Yul. Ketiganya adalah putra Kiyoon, Jihwan, dan Jinwoo. Usia mereka hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Jun-seok, tetapi keempat anak itu berada di kelas yang sama.
Si-an menyesuaikan posisi buku sketsanya, memeluknya lebih erat seolah benda itu adalah sesuatu yang paling berharga pagi itu. Ia kemudian berjalan sejajar dengan Jun-seok, langkahnya kecil, tetapi teratur.
“Tapi menurut itu melelahkan. Kemarin aku mau menggambar dinosaurus pakai warna pink, tetapi Eomma bilang dinosaurus tidak pink. Padahal, di kepalaku pink,” sela Si-an dengan wajah serius yang terasa terlalu polos untuk persoalan yang sedang dibicarakannya.
Min-kyu, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Nada bicaranya datar, tetapi kesimpulannya terdengar begitu yakin.
“Eomma-mu salah. Tidak ada yang tahu warna dinosaurus. Mereka sudah punah,” ucapnya.
Yul yang berjalan di sampingnya langsung mengangguk setuju, seolah baru saja mendengar sebuah argumen ilmiah yang tidak terbantahkan.
“Kalau sudah punah, berarti semua warna mungkin. Berarti Si-an boleh mewarnai dinosaurus dengan warna pink,” ucapnya dengan bangga, seolah baru saja memecahkan persoalan terbesar dalam sejarah seni.
Mendengar kesimpulan itu, Seon-woo menoleh cepat kepada mereka. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang nyaris lucu.
“Nah, itu! Lihat, kan, hyung? Jadi orang dewasa itu suka yakin pada hal-hal yang tidak mereka lihat sendiri. Bagaimana mereka bisa bilang jangan mewarnai dinosaurus dengan warna pink, sedangkan mereka sendiri tidak tahu dinosaurus itu seperti apa?” ucap Si-an sembari mengembungkan pipinya, masih tampak kesal dengan larangan yang menurutnya tidak masuk akal.
Jun-seok tertawa kecil, lalu mengangkat bahu.
“Daddy juga begitu. Daddy bilang aku harus makan sayur supaya pintar. Tapi aku tetap pintar meskipun tidak makan brokoli,” ucapnya bangga.
“Itu kebetulan,” sahut Min-kyu tanpa ragu.
“Min-kyu dingin sekali,” gumam Seon-woo sambil meliriknya.
“Biasa... dia ingin terlihat tampan,” ledek Yul.
Kalimat itu langsung membuat keempat anak tersebut tertawa bersamaan. Bahkan Min-kyu yang biasanya datar hanya menghela napas kecil, seolah sudah terlalu sering menjadi sasaran lelucon teman-temannya.
“Tapi itu benar. Appa dan Eomma-ku juga memaksaku makan brokoli, minum susu, dan makan buah. Katanya supaya aku pintar. Tapi... mereka tidak makan brokoli dan minum susu juga, tetap tahu banyak hal. Kenapa, ya?” tanya Jun-seok serius.
Tawa mereka perlahan mereda seketika keempat anak itu saling pandang. Tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Wajah mereka menunjukkan rasa penasaran yang sama, seolah pertanyaan sederhana itu baru saja membuka sebuah teka-teki yang jauh lebih besar daripada yang mampu mereka pecahkan.
“Berarti...” Yul mengernyit, mencoba berpikir keras. “Orang dewasa bohong?”
“Tidak mungkin Appa dan Eomma tidak pernah bohong,” bantah Seon-woo cepat.
“Terus kenapa mereka tahu banyak hal?” Si-an ikut bertanya.
Min-kyu mengangkat bahu kecilnya.
“Mungkin karena mereka sudah tua.”
“Memangnya kalau tua langsung pintar?” Seon-woo menatapnya heran.
Min-kyu langsung terdiam begitu juga dengan Yul, Seon-woo, dan Jun-seok yang terlihat ikut berpikir. Mereka kembali saling pandang dengan ekspresi serius.
“...Tidak tahu,” jawab Min-kyu akhirnya.
Mereka terus berjalan melewati lorong luar menuju gedung kelas utama. Lantai batu yang bersih memantulkan cahaya matahari pagi, sementara angin lembut membawa suara anak-anak yang bercakap-cakap dari kejauhan.
Di sepanjang dinding kanan terpampang karya seni murid-murid tingkat atas; lukisan dengan warna-warna berani, puisi pendek yang ditulis tangan, serta foto-foto hitam putih dengan judul-judul serius yang belum sepenuhnya dipahami anak-anak itu.
Bagi mereka, semuanya hanya terlihat seperti karya orang-orang yang sudah jauh lebih pintar.
Namun, pagi itu mereka tetap berjalan sambil membawa pertanyaan-pertanyaan kecil mereka sendiri—pertanyaan yang bagi orang dewasa mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi empat anak itu terasa seperti misteri yang belum memiliki jawaban.
“Tapi serius, kenapa, ya? Orang tua kita tahu banyak hal, padahal tidak makan brokoli, minum susu juga tidak banyak. Kalian rasa kenapa?” ucapnya lagi.
Ia masih belum puas karena pertanyaannya belum juga mendapatkan jawaban yang menurutnya masuk akal.
“Aku rasa... mereka mungkin punya kekuatan super,” jawab Yul.
Jawaban itu membuat Jun-seok, Min-kyu, dan Seon-woo menoleh serempak.
“Betul juga,” sahut Seon-woo, matanya langsung berbinar seolah baru menemukan jawaban paling masuk akal.
Min-kyu justru menggeleng.
“Kekuatan super itu tidak ada, Seon,” ucapnya datar.
“Lalu kenapa mereka bisa seperti itu? Pasti karena mereka punya kekuatan super. Itu pasti,” kata Seon-woo. Nada bicaranya lebih terdengar seperti sedang menyatakan sebuah fakta daripada mengajukan pertanyaan.
Yul yang mendengar itu langsung mengangguk mantap.
“Aku setuju. Sungguh, hyung. Coba kalian pikirkan. Orang tua kita tahu banyak hal tanpa harus minum susu, makan brokoli, dan sekolah seperti kita. Jadi, jawaban paling masuk akal adalah mereka punya kekuatan super. Kalau tidak, mana mungkin?” tegas Yul, mendukung ucapan Seon-woo.
Jun-seok dan Min-kyu yang mendengarnya hanya menggeleng pelan. Mereka jelas tidak sepenuhnya setuju dengan kesimpulan Yul dan Seon-woo, tetapi di dalam kepala mereka, kemungkinan itu juga terasa sedikit masuk akal.
Bagaimanapun, mereka belum menemukan jawaban yang lebih baik.
Seon-woo berjalan sambil mengernyitkan dahi, masih sibuk memikirkan teorinya sendiri. Sementara Yul tampak puas, seolah persoalan tentang mengapa orang dewasa bisa mengetahui banyak hal tanpa makan brokoli akhirnya telah terpecahkan.
Bagi mereka, kekuatan super terdengar jauh lebih masuk akal daripada kenyataan bahwa menjadi dewasa berarti mengumpulkan pengetahuan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
“Kalian tahu, aku mimpi buruk semalam,” ujar Min-kyu tiba-tiba, masih dengan ekspresi datarnya.
Keempat anak itu menoleh bersamaan. Langkah mereka sempat terhenti di tengah lorong, masing-masing menatap Min-kyu dengan perhatian penuh.
“Mimpi apa? Aku juga mimpi buruk, tahu,” tanya Jun-seok.
“Aku mimpi Appa lupa menjemputku. Aku menunggu sampai sekolah gelap,” jawab Min-kyu jujur.
Seon-woo langsung meringis.
“Itu mimpi yang jelek. Kenapa kalian mimpi hal seperti itu...? Seok hyung juga mimpi buruk,” katanya, membuat ketiga anak lainnya mengangguk pelan.
Min-kyu kemudian melanjutkan dengan suara tenang.
“Tapi Appa-ku tidak lupa dan aku yakin tidak akan lupa. Walaupun Appa dan Eomma juga sibuk, aku yakin dia tidak akan lupa padaku dan Hae-in. Aku yakin karena saat aku bangun, Appa dan Eomma ada di dapur. Jadi, mimpi tidak selalu benar.”
Jun-seok terdiam sejenak. Ia mencerna ucapan Min-kyu dengan dahi sedikit berkerut, sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Mommy juga bilang begitu. Katanya, mimpi itu hanya rasa takut yang lupa jalan pulang,” jawabnya.
Si-an mengerjap beberapa kali.
“Rasa takut bisa tersesat?” tanyanya serius. Matanya membulat, jelas tidak menyangka rasa takut bisa diperlakukan seperti sesuatu yang memiliki jalan pulang.
“Bisa. Makanya kita harus bantu dia pulang. Daddy bilang anak laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,” jawab Jun-seok mantap, seolah baru saja menyampaikan sebuah kesimpulan yang sangat penting.
Seon-woo langsung tersenyum lebar.
“Hyung, kamu pintar,” pujinya.
Yul ikut mengangguk, begitu pula Min-kyu namun, Jun-seok justru menggeleng cepat.
“Aku hanya dengar Mommy dan Daddy bicara,” ucapnya polos.
Min-kyu menatap Jun-seok sekilas, lalu kembali memandang ke depan.
“Mommy-mu terdengar pintar. Tapi aku dengar dari Eomma dan Appa, mereka memang luar biasa. Jadi, aku bangga punya Imo dan Samcheon seperti mereka,” katanya.
Jun-seok tersenyum bangga. Senyum kecil yang muncul di wajahnya terlihat begitu tulus, seolah pujian sederhana itu benar-benar berhasil menghangatkan dadanya.
“Aku berharap bisa jadi seperti mereka saat dewasa.”
Mereka tiba di depan kelas seni terpadu. Pintu kelas masih terbuka, memperlihatkan ruangan yang dipenuhi meja-meja kecil dan rak berisi berbagai perlengkapan seni. Aroma kayu pensil, kertas, dan cat air samar tercium dari dalam.
Beberapa anak sudah duduk di tempat masing-masing, sibuk dengan dunia kecil mereka; ada yang menggambar, ada yang memilih warna, sementara yang lain saling berbisik membicarakan sesuatu yang hanya mereka anggap penting.
“Kalau begitu, kalau mimpi buruk datang lagi, kita suruh dia pulang bersama. Kita ajak orang tua kita juga,” kata Seon-woo sambil berhenti di ambang pintu.
“Iya. Kalau ramai-ramai, aku tidak akan takut. Kalau ada Eomma dan Appa, apalagi ada Imo dan Samcheon, juga kalian semua,” sahut Si-an sambil mengangguk mantap.
Yul mengangkat tasnya, kemudian menepuk-nepuk tali tas yang menggantung di bahunya sebelum berkata,
“Kalau ramai, tidak seram. Iya, kan, hyung?” tanyanya sembari menoleh kepada Jun-seok.
Jun-seok yang melangkah masuk paling terakhir sempat berhenti. Tatapannya beralih ke jendela besar di sisi kelas yang menghadap halaman depan tempat orang tua mereka tadi berdiri sebelum pergi.
Untuk sesaat, bayangan wajah Mommy dan Daddy kembali terlintas di benaknya. Dadanya terasa lebih ringan ia kemudian tersenyum kecil dan melangkah masuk.
“Iya. Kalau ramai, tidak seram,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Bel masuk berbunyi, menggema lembut di seluruh koridor.
Anak-anak segera mengambil tempat masing-masing. Suara kursi yang digeser, percakapan kecil, dan tawa ringan perlahan memenuhi ruangan. Dunia kecil mereka resmi dimulai dengan mimpi, rasa takut, dan logika sederhana yang, entah bagaimana, terasa jauh lebih jujur daripada dunia orang dewasa.
──☾⋆★⋆☾──
Setelah turun dari mobil, langkah Nala tetap tenang saat memasuki gedung ORIONA Entertainment yang berdiri kokoh, disinari matahari pagi yang memantul di dinding kaca berlapis baja. Pantulan cahaya itu membuat lobi tampak bersih, dingin, dan profesional citra yang sengaja dipertahankan oleh perusahaan yang hidup dari citra publik.
Langkahnya terukur. Bahunya tegak. Namun senyum kecil tak berhenti mengembang di sudut bibirnya, terlalu halus untuk disadari orang lain. Pikirannya masih tertinggal beberapa menit lalu kejadian di dalam mobil yang bahkan bagi dirinya sendiri terasa berani. Bukan impulsif, hanya… jujur pada perasaan yang jarang ia beri ruang.
“Pagi, Nala-ssi.”
Sapaan itu datang silih berganti dari staf yang berpapasan dengannya.
“Pagi,” balas Nala singkat, disertai anggukan dan tundukan kecil sebagai respons sopan.
Hari ini jadwalnya padat. Terlalu padat, sebenarnya. Namun ia sudah mengambil keputusan: besok ia akan mengajukan cuti sehari. Bukan untuk liburan, bukan pula urusan darurat melainkan untuk menghadiri presentasi seni Jun-seok.
Nala tidak ingin mengecewakan anaknya lagi. Bukan karena Jun-seok pernah mengeluh namun karena anak itu terlalu jarang meminta.
Setibanya di ruangannya, Nala menutup pintu, meletakkan tas di kursi, lalu duduk di depan meja kerja yang rapi nyaris steril. Satu per satu ia menyalakan perangkat, komputer utama, tablet desain, dan layar kedua yang langsung menampilkan jadwal internal tim penulis.
Sebagai Creative Director sekaligus Head of Internal Writing Team, tanggung jawabnya tidak kecil. Dua peran yang biasanya dipisah, kini ia pegang bersamaan. Satu keputusan keliru saja bisa berdampak pada banyak orang; penulis, trainee, bahkan idol yang akan membawa narasi itu ke publik.
Nala menarik napas pelan sebelum membuka folder proyek. ASTRAE – Comeback Phase Narrative Draft (Revisi 3). Namun belum genap lima menit, pintu diketuk.
“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.
Pintu terbuka, menampakkan Lee Seojun, leader ASTRAE, bersama Yoo-He jin, editor internal ORIONA yang sering menjadi penghubung antara tim kreatif dan manajemen.
“Pagi, Nala-ssi,” sapa Seojun sopan.
“Pagi, Nala-ssi,” tambah He-jin sambil membawa tablet.
“Kalian cepat, ayo duduk,” balas Nala sambil melirik jam.
Mereka duduk berhadapan dengannya, hingga saat itu juga tanpa basa-basi nala langsung berkata.
“Aku sudah baca revisi ketiga,” lanjut Nala langsung ke inti. “Secara narasi, sudah matang. Tapi ada satu hal yang perlu kita luruskan.” Ia memutar layar ke arah mereka.
“Konsep loss and rebirth yang kalian bawa itu kuat. Tapi di track ketiga, liriknya terlalu ingin menjelaskan. ASTRAE bukan grup yang harus menjelaskan perasaan mereka dengan kata-kata gamblang,” lanjut nya yang membuat Seojun mengangguk pelan.
“Kami juga merasa begitu. Tapi takut tidak tersampaikan, sejak permintaan Minjae kemarin kami lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, bagaimana pun kami tak ingin menyinggung,” jelas nya yang membuat nala menggeleng pelan.
“Itu tugas musik dan visual kalian bukan tugas penonton untuk disuapi,” jawab Nala tenang.
“Kalau terlalu literal, jatuhnya klise. Dan jujur saja semuanya tak ingin itu terjadi, karya template taakan pernah bertahan lama, orang butuh yang berbeda dan berani,” ucap He-jin menambahkan.
“Betul, ASTRAE dikenal karena keberanian diamnya. Jangan dirusak,” kata Nala singkat, Seojun tersenyum kecil.
“Baik, Nala-ssi. Kami revisi bagian itu terimakasih sudah memahami bagian diri kami yang lain,” kata nya yang membuat nala mengangguk pelan lalu menutup file nya, sebelum melanjutkan.
“Satu lagi. Untuk short narrative film pembuka album, aku mau kalian terlibat langsung. Bukan cuma akting, tapi penentuan emosi,” tambah nya yang membuat keduanya bereaksi cepat.
“Kapan?” tanya Seojun.
“Hari ini kalau bisa. Besok aku tidak di kantor, kalian boleh bicarakan dengan yang lain, untuk mengatur nya.” Nala menjawab tenang, hal itu membuat He-jin mengangkat alisnya penuh tanya.
“Cuti?” tanya nya serius dan Nala mengangguk singkat.
“Urusan keluarga,” jawab nya singkat tanpa penjelasan tambahan, dan tak ada yang bertanya. Di ORIONA, keputusan Nala jarang diperdebatkan.
“Kalau begitu kami percepat semua hari ini,” kata He-jin sambil berdiri.
“Terima kasih,” balas Nala.
Setelah mereka keluar, ruangan kembali sunyi. Nala menatap layar kosong beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Besok, ia tidak akan duduk di ruangan kaca seperti ini karena besok ia akan duduk di bangku kecil sekolah seni, mendengarkan anaknya berbicara tentang kejujuran dalam karya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, itu terasa lebih penting daripada rapat apa pun.