Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Langkah Muchen dan Su Qingxue membawa mereka ke dalam pusat pemasaran Dragon Bay.
Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti kantor agen properti pada umumnya, melainkan menyerupai museum seni kontemporer yang kelewat megah. Langit-langitnya menjulang belasan meter, memamerkan instalasi lampu gantung kristal raksasa yang dirancang meniru rasi bintang di galaksi. Lantai pualam putih yang didatangkan langsung dari tambang terbaik di Italia memantulkan cahaya dengan presisi absolut. Alunan sonata klasik yang mengalun dari speaker tersembunyi menyelimuti ruangan, menciptakan tekanan tak kasat mata yang dirancang khusus untuk mengintimidasi rakyat jelata.
Di jantung ruangan raksasa tersebut, tergelar sebuah maket perumahan yang luar biasa masif dan mendetail. Maket tiga dimensi itu mereplika kontur perbukitan Dragon Bay yang asri; lengkap dengan aliran sungai buatan, miniatur pepohonan maple, dan puluhan vila berdesain Eropa yang menyebar di lereng-lerengnya.
Muchen melangkah masuk dengan tenang, kedua tangannya menggenggam erat jemari Zihan dan Ziyue.
Sebenarnya, kemunculan Dartz Motorz Prombron lapis baja yang memarkirkan diri di lobi luar sudah cukup untuk membuat beberapa staf pemasaran senior menelan ludah. Namun, kaca SUV yang gelap gulita membuat tak ada satu pun agen yang tahu wujud fisik dari sang pemilik monster baja tersebut.
Su Qingxue berjalan berdampingan dengan Muchen. Gestur dan postur berjalannya memancarkan aura elit seorang eksekutif puncak.
"Tuan Jiang," bisik Qingxue dengan nada lembut, menunjuk ke arah maket. "Itu adalah cetak biru keseluruhan kawasan Dragon Bay. Jika Anda berkenan, izinkan saya pergi ke Ruang VIP sebentar untuk memanggil Direktur Wang. Beliau adalah relasi dekat saya dan memiliki otoritas untuk membuka akses ke unit-unit masterpiece yang tidak dipasarkan secara publik. Apakah Anda dan putra-putri Anda keberatan menunggu di sini sebentar?"
"Pergilah," jawab Muchen santai tanpa menoleh. "Kami akan melihat-lihat maket ini dulu."
Qingxue mengangguk takzim. Ia segera memutar tumit stiletto-nya, berjalan cepat menuju koridor khusus staf di sayap kanan gedung.
Kini, hanya tersisa Muchen dan si kembar yang berdiri di depan maket raksasa itu.
Dari kejauhan, belasan pasang mata agen pemasaran berseragam rapi mulai memindai Muchen. Mereka adalah serigala-serigala berbulu domba yang sudah sangat terlatih membedah status sosial dan isi dompet seseorang hanya dari penampilannya dalam hitungan detik.
Melihat kemeja hitam polos yang dikenakan Muchen, dahi para agen itu serempak berkerut meremehkan.
Kemeja itu memang tampak menempel pas di badan dengan potongan kerah yang tajam, tapi... tidak ada satu pun sulaman logo seperti Armani, Hermes, atau Gucci di sana! Para agen berpengetahuan dangkal ini tentu tidak tahu bahwa pakaian yang disiapkan oleh Su Qingxue adalah mahakarya bespoke dari penjahit tangan generasi ketiga di Milan. Pakaian level dewa tidak pernah repot-repot memamerkan logo, karena material dan presisi potongannya itu sendiri adalah logonya.
Namun di mata staf lokal ini, kemeja tanpa merek jelas sama dengan barang obralan dari pasar malam.
Tap tap tap.
Ziyue melepaskan genggaman tangan ayahnya. Gadis kecil itu berlari kecil penuh semangat mendekati pembatas kaca maket yang jernih. Mata bulatnya berbinar-binar memantulkan cahaya lampu kristal. Tangan mungilnya yang menempel di kaca perlahan terangkat, menunjuk lurus ke sebuah miniatur vila raksasa yang bertengger angkuh di titik paling puncak dari perbukitan maket tersebut.
Vila itu sangat mencolok. Lahannya nyaris menyita seperlima dari total perbukitan. Memiliki hamparan taman rumput yang sangat luas, kolam renang tanpa tepi (infinity pool) yang menghadap langsung ke miniatur danau di bawah, serta arsitektur kastil monokrom yang memadukan kaca, baja, dan batu alam.
"Ayah, lihat!" seru Ziyue gembira, menoleh menatap Muchen. "Rumah yang paling atas itu besar sekali! Persis seperti kastil putri di buku dongeng yang sering Ayah bacakan buat Ziyue. Apa kita bisa tinggal di rumah cantik seperti itu, Yah?"
Zihan yang berdiri di sebelah adiknya ikut mengamati dengan saksama. Tangan bocah empat tahun itu bersidekap di depan dada, mengangguk setuju dengan ekspresi sok dewasa yang menggemaskan.
"Posisinya sangat strategis, Ayah," komentar Zihan serius. "Zihan bisa baca buku di taman luas itu dengan tenang. Dan karena letaknya paling tinggi, tidak akan ada tetangga berisik yang bisa mengganggu kita berdua."
Mendengar analisa putranya, senyum hangat merekah di wajah Muchen. Pria itu melangkah maju, berjongkok sedikit, lalu mengelus puncak kepala kedua anaknya secara bergantian.
"Tentu saja bisa," jawab Muchen lembut, matanya memancarkan kepastian absolut. "Kalau Ziyue dan Zihan menyukainya, Ayah akan beli rumah itu untuk kalian hari ini juga."
Namun, tepat setelah kalimat penuh kasih sayang itu terucap...
"Pfftt HAHAHAHA!"
Sebuah tawa sumbang melengking yang sangat menyayat telinga meledak dari arah belakang mereka.
"Membeli Vila Raja? Hei, Anak Muda! Kalau kau berniat membual untuk mencari muka di depan anak-anakmu, setidaknya carilah tempat yang lebih masuk akal! Jangan melawak di Dragon Bay!"
Muchen menoleh perlahan. Matanya yang tadinya hangat seketika berubah sedingin es abadi.
Seorang wanita paruh baya sedang berjalan mendekat. Riasan wajahnya sangat tebal bak adonan kue, dengan kalung dan gelang emas berukuran sebesar rantai anjing yang melingkari leher serta pergelangan tangannya. Ia mengenakan gaun sutra ketat berwarna mencolok yang secara brutal mengekspos timbunan lemak di area perut dan pinggangnya.
Di belakang wanita itu, mengekor seorang agen pemasaran wanita muda berseragam ketat merah menyala. Namanya Liu Mei. Senyum agen itu terlihat sangat menjilat pada si wanita paruh baya, namun langsung berubah menjadi seringai muak saat menatap Muchen.
Wanita gemuk itu adalah Nyonya Ma. Ia merupakan istri dari salah satu direktur dewan direksi di Grup Zhao. Di kalangan sosialita lapis dua Jiangcheng, Nyonya Ma sangat terkenal sebagai representasi sempurna dari Orang Kaya Baru (OKB) yang arogan. Ia sangat hobi menginjak-injak orang kelas bawah semata-mata demi menutupi kompleks inferioritas dari masa lalunya yang melarat.
Melihat ada kesempatan untuk menjilat klien VIP-nya, Liu Mei segera melangkah maju, memosisikan dirinya bak tameng pelindung di depan Nyonya Ma.
Liu Mei menatap Muchen dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot mata jijik.
"Hei, kau!" bentak Liu Mei dengan nada tajam dan merendahkan. "Tolong jauhkan tangan kotor anak-anakmu dari kaca maket pelindung itu! Kaca tempered itu diimpor khusus dari Jerman dan sangat mahal harganya. Kalau sampai meninggalkan noda minyak atau goresan debu, kau tidak akan sanggup melunasinya seumur hidup!"
Mendengar bentakan kasar itu, Ziyue yang terkejut setengah mati langsung memekik pelan. Gadis kecil itu buru-buru memeluk kaki Muchen, menyembunyikan wajahnya di balik paha ayahnya dengan tubuh gemetar.
Melihat adiknya ketakutan, Zihan mengerutkan kening dalam-dalam. Bocah itu tidak mundur seinci pun. Sepasang mata bulatnya menatap tajam ke arah Liu Mei dengan pendar kemarahan sedingin es yang sangat identik dengan ayahnya.
Di sisi lain, Muchen tak bergeming sedikit pun. Atribut Aura Ketenangan Mutlak yang bersemayam di darahnya bekerja otomatis, meredam emosinya agar tidak meledak sporadis. Muchen berdiri tegap, menatap Liu Mei dengan sorot mata sekelam dasar jurang.
"Anak-anakku tidak merusak apa pun," suara Muchen mengalun datar dan berat. "Mereka hanya melihat replika maket dari luar kaca. Inikah standar cara pelayanan Dragon Bay terhadap calon pembeli?"
Liu Mei mendengus sangat keras hingga bahunya terguncang.
"Calon pembeli?! Cih!" Liu Mei meludah ke lantai. "Setiap hari ada puluhan gelandangan halu sepertimu yang datang kemari hanya untuk menumpang selfie atau numpang AC! Coba kau berkaca! Lihat pakaianmu! Tidak ada merek sama sekali! Dan kau masih punya muka membicarakan Vila Raja di hadapan Nyonya Ma yang terhormat?"
Liu Mei menunjuk wanita gemuk di belakangnya dengan bangga. "Asal kau tahu saja, Nyonya Ma ini adalah bagian dari keluarga inti Grup Zhao! Konglomerat raksasa paling berkuasa di Jiangcheng! Beliau datang hari ini untuk memborong Vila Tipe A secara tunai. Kehadiran hama sepertimu di sini hanya mengotori udara bersih yang beliau hirup!"
Nyonya Ma mengibaskan kipas bulu di tangannya dengan gaya sok bangsawan, raut wajahnya dibuat-buat seolah sedang mencium bau kotoran sapi.
"Sudahlah, Liu Mei," potong Nyonya Ma angkuh. "Tenggorokanku kering kalau harus berdebat dengan pengemis. Cepat panggil keamanan dan lempar mereka keluar dari sini. Bau kemiskinan dan kuman dari baju mereka membuat migrainku kambuh. Aku ingin segera meneken dokumen Vila Tipe A hari ini juga."
'Keluarga Zhao lagi?' batin Muchen.
Senyum miring yang sangat mematikan terukir di sudut bibirnya. 'Ternyata anjing-anjing penjaga Zhao Qiming memang berkeliaran di mana-mana. Baguslah. Ini justru mempermudah urusanku untuk memulai pembersihan.'
Muchen menatap Liu Mei yang kini sudah sibuk melepas walkie-talkie dari pinggangnya.
"Sebelum kau memanggil satpammu," potong Muchen.
Suaranya tidak berteriak, bahkan terdengar sangat pelan. Namun, entah kenapa, frekuensi dari suaranya mampu menembus udara ruangan raksasa itu layaknya gema di dalam gua, membuat gerakan tangan Liu Mei terhenti di udara secara refleks.
"Aku punya satu pertanyaan," lanjut Muchen, menatap tepat ke manik mata Liu Mei. "Berapa harga Vila Raja yang ada di puncak bukit itu?"
Liu Mei mengerjap, lalu kembali meledak dalam tawa sinis yang menggelegar. Merasa pria miskin di hadapannya ini benar-benar sudah gila total.
"Kau?! Masih berani bertanya harganya?!" Liu Mei berkacak pinggang. "Dengar baik-baik dan pastikan jantungmu tidak copot ke lantai! Vila Raja adalah properti tunggal paling eksklusif dan paling agung di seluruh daratan Jiangcheng! Harganya? Seratus lima puluh juta Yuan!"
Liu Mei mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap merendahkan. "Dan itu belum selesai! Pembelinya wajib melewati verifikasi aset berlapis dari pemerintah pusat untuk membuktikan bahwa mereka memiliki koneksi politik dan militer yang kuat, bukan sekadar bajingan kaya baru! Menjual ginjalmu, ginjal anak-anakmu, dan organ seluruh keturunanmu pun tidak akan pernah cukup untuk sekadar membayar pajak gerbangnya!"
Mendengar ayahnya terus-terusan direndahkan, Zihan tidak tahan lagi. Tangan mungil bocah itu mengepal kuat di sisi tubuhnya.
"Tutup mulutmu, Wanita Jelek!" desis Zihan tajam. "Ayahku bisa membeli seluruh tempat ini beserta nyawamu kalau dia mau!"
"Anak haram kurang ajar!" Mata Liu Mei melotot lebar. Urat-urat di lehernya bermunculan. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat mendaratkan tamparan keras ke wajah bocah empat tahun itu. "Siapa yang mengajarimu mulut kotor "
BAM!
Bukan suara tamparan fisik yang terdengar, melainkan suara hantaman benda padat yang menghantam meja kaca pualam di samping maket dengan kekuatan mengerikan!
Seluruh aktivitas di dalam ruangan itu mendadak lumpuh. Alunan musik klasik terasa berhenti. Nyonya Ma menjatuhkan kipasnya. Liu Mei tersentak mundur, tangannya yang melayang di udara langsung lemas.
Di atas meja kaca pualam tersebut, tepat di depan wajah Liu Mei, tergeletak sebuah kartu hitam pekat nan misterius yang memantulkan kilau redup dari lambang naga perak yang melingkari bola dunia.
"Seratus lima puluh juta Yuan," suara Muchen mengalun rendah, memancarkan aura seorang kaisar absolut yang baru saja menjatuhkan titah mati. "Aku akan membelinya. Sekarang."
Keheningan mencengkeram ruangan itu selama lima detik penuh, sebelum Liu Mei akhirnya kembali tertawa, kali ini tawanya sedikit gemetar namun tetap penuh cibiran.
"Hah! Hahaha! Kartu mainan apa itu?! Kartu member diskon minimarket?!" bentak Liu Mei histeris. "Kau pikir aku bodoh?! Aku sudah jadi agen di sini selama lima tahun dan melihat ratusan kasta kartu VIP bank! Tidak pernah ada satu pun bank di Jiangcheng yang mengeluarkan kartu hitam norak bergambar naga seperti itu! Satpam! Satpam! Seret orang gila ini keluar sekarang juga!"
Dua orang petugas keamanan bertubuh kekar segera berlari menerobos deretan maket dari arah pintu masuk, wajah mereka memerah penuh amarah sambil mencabut tongkat pemukul dari pinggang mereka.
Namun, sebelum ujung jari kotor petugas keamanan itu sempat menyentuh kain kemeja Muchen...
"BERHENTI!! JAUHKAN TANGAN KOTOR KALIAN DARI TUAN JIANG!!"
Sebuah raungan panik dan putus asa meledak dari arah koridor VIP di sayap kanan.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas custom mahal namun basah kuyup oleh keringat dingin sebesar biji jagung berlari sekuat tenaga menerobos lobi, nyaris tersandung kakinya sendiri hingga sepatu kulitnya tergelincir di lantai pualam. Di belakangnya, Su Qingxue berlari kecil mengikuti dengan wajah pucat pasi yang menegang.
Pria paruh baya itu adalah Direktur Wang, Dewa Pemasaran sekaligus kepala otoritas tertinggi di seluruh kawasan Dragon Bay.
Tanpa memedulikan tatapan kaget para staf, Direktur Wang menerjang maju, menabrak dua petugas keamanannya sendiri hingga terpental. Pria paruh baya itu lalu menancapkan kedua kakinya di depan Muchen, dan membungkuk sembilan puluh derajat penuh hingga punggungnya nyaris rata dengan lantai. Ia sepenuhnya mengabaikan napasnya yang terengah-engah dan jasnya yang berantakan.
"T-Tuan Jiang yang terhormat..." suara Direktur Wang bergetar hebat, dipenuhi teror dan rasa hormat yang absolut. "M-mohon maafkan kelalaian hamba yang sangat fatal ini! Nona Su baru saja memberitahu saya tentang kedatangan Anda. Ini adalah dosa besar saya karena tidak menyambut kehadiran Anda secara langsung di pintu depan!"