Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar, namun kehangatannya sama sekali tak mampu mengusir dingin yang membekukan jiwa Gladys.
Saat membuka mata, sisa-sisa rasa teror dari kejadian di jembatan semalam langsung menyergap ingatan: cengkeraman tangan Praduta, bilah pisau di leher pria itu, hingga bisikan mengerikan yang berjanji akan menghancurkan pernikahannya.
Gladys menoleh ke samping. Raka sudah terbangun lebih dulu.
Pria itu menatapnya dengan binar mata yang hangat dan penuh perhatian.
"Selamat pagi, Sayang," bisik Raka lembut. Ia mengulurkan tangan, mengelus helai rambut Gladys dengan kasih sayang yang begitu tulus.
"Tidurmu nyenyak semalam?"
Pertanyaan sederhana itu bagaikan sembilu yang menusuk dada Gladys.
Rasa bersalah menghimpit tangannya hingga terasa sesak.
Di balik kebohongan besar yang baru saja ia perbuat, Gladys harus memaksakan sebuah senyuman tipis, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
"Pagi, Mas. Tidurku, nyenyak kok," sahut Gladys serak, menyembunyikan getaran di suaranya.
Tak berani menatap mata suaminya lebih lama, Gladys segera bangkit dari ranjang dan melangkah terburu-buru menuju kamar mandi.
Di bawah guyuran air dingin, ia membersihkan tubuhnya, berharap rasa takut dan jejak sentuhan Praduta ikut terbilas habis.
Selesai berpakaian, Gladys langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Ia sibuk memotong bahan makanan dan mengaduk masakan di atas kompor, mencoba mengalihkan pikirannya yang terus berputar kacau.
Namun, ketenangan semu itu pecah saat langkah kaki yang berat terdengar mendekati area dapur.
Papa Devandra muncul di ambang pintu. Pria paruh baya itu berdiri tegap dengan kedua tangan terselip di saku celananya, menatap Gladys dengan sorot mata dingin yang sangat menekan.
"Rajin sekali menantu Papa pagi ini," suara Papa Devandra terdengar datar, namun ada nada sindiran yang tajam menyusup di dalamnya.
"Biasanya orang yang bangun dengan sangat sibuk di pagi hari, adalah orang yang semalam tidak bisa tidur tenang."
Tangan Gladys yang sedang memegang pisau dapur mendadak gemetar.
Jantungnya berdegup kencang, memacu adrenalin ketakutan yang luar biasa.
"Apakah Papa melihatku semalam?"
Sebelum Gladys sempat merangkai kata untuk menjawab, langkah kaki lain terdengar mendekat. Raka masuk ke dapur dengan senyum lebar di wajahnya.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Raka langsung berjalan mendekati Gladys dan merengkuh tubuh istrinya dari belakang, mendaratkan kecupan hangat di pelipis Gladys.
"Papa ini ada-ada saja," kekeh Raka santai sambil makin mengeratkan pelukannya di pinggang Gladys.
"Gladys kan memang selalu rajin siapkan sarapan buat kita."
Papa Devandra tidak tersenyum. Tatapannya justru semakin menyudutkan, menatap lurus ke arah Gladys yang makin kesulitan mempertahankan topeng kebohongannya.
"Begitu ya, Raka?" potong Papa Devandra dingin, tidak membiarkan Gladys lolos begitu saja.
"Papa cuma penasaran, Gladys. Urusan penting apa yang membuat seorang istri harus naik taksi sendirian di jam sebelas malam? Kamu keluar rumah semalam, kan?"
Deg!
Darah Gladys seakan berhenti mengalir. Tubuhnya membeku kaku di dalam dekapan Raka. Dekapan suaminya yang hangat mendadak terasa begitu berat.
Raka yang mendengar ucapan ayahnya perlahan mengendurkan pelukannya.
Wajahnya berkerut bingung, menatap Gladys lalu beralih menatap ayahnya.
"Keluar rumah? Semalam? Maksud Papa apa?"
"Tanya saja pada istri tercintamu ini, Raka," sergah Papa Devandra berantai tanpa memberi ruang bernapas.
"Papa melihatnya sendiri dari jendela kamar atas. Gladys berlari tergesa-gesa keluar gerbang dan naik taksi. Ke mana kamu pergi jam segitu, Gladys? Menemui siapa?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu menghantam Gladys tepat di dada.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Otaknya berputar keras mencari alasan, tetapi kebohongan yang coba ia susun mendadak buyar di bawah tatapan curiga Papa Devandra dan keraguan yang mulai membayang di mata Raka.
"A-aku," suara Gladys tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa salah sedikit saja melangkah, rahasia gelapnya dengan Praduta akan terbongkar saat ini juga.
Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membuncah, Gladys mematikan kompor gas dan mencoba mengalihkan pembicaraan secepat mungkin.
Ia memaksakan senyum kaku sambil menata piring-piring di atas meja makan.
"Ayo Pa, Mas. Kita sarapan dulu," potong Gladys cepat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, mencoba memutus interogasi berdarah dingin tersebut.
"Nanti makanannya keburu dingin."
Tangan Raka bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Gladys sebelum wanita itu sempat melangkah menjauh dari meja makan.
Sentuhan itu tidak kasar, tetapi genggamannya begitu kuat dan menuntut, menahan Gladys agar tidak bisa lari dari situasi tersebut.
Wajah Raka yang biasanya lembut kini menyiratkan ketegangan dan keraguan.
Ia menatap lekat-lekat mata istrinya, mencari kebenaran di balik kilat panik yang terpancar di sana.
"Tunggu dulu, Gladys," suara Raka terdengar rendah namun tegas, memecah keheningan dapur.
"Papa bilang beliau melihatmu naik taksi jam sebelas malam semalam. Dan, sekarang kamu malah mengalihkan pembicaraan."
Raka menoleh sekilas ke arah ayahnya, lalu kembali menatap Gladys.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu harus pergi keluar rumah selarut itu tanpa bilang sama aku?"
Atmosfer di meja makan mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Papa Devandra melipat kedua tangannya di dada, membiarkan putranya mengambil alih interogasi, sementara tatapannya tetap menghunjam tajam kepada Gladys.
Napas Gladys tercekat. Jantungnya berdegup kencang seolah mau copot dari rongga dadanya.
Merasa terpojok dan tidak punya jalan keluar lain untuk menutupi pertemuan rahasianya dengan Praduta, sebuah kebohongan darurat mendadak tercetus dari otaknya yang panik.
"A-aku lapar, Mas!" ucap Gladys dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan nada setenang mungkin di tengah badai kepanikannya.
"Semalam aku terbangun karena perutku sakit dan lapar banget. Aku tidak mau membangunkan kamu karena kamu kelihatan capek banget tidur lelap."
Mendengar alasan itu, dahi Raka semakin mengerut.
Papa Devandra mendengus sinis, jelas tidak mempercayai alasan yang terdengar dibuat-buat itu.
"Lapar?" ulang Papa Devandra dingin.
"Jam sebelas malam, hanya untuk cari makanan, kamu harus lari-lari menaiki taksi keluar perumahan? Warung di ujung kompleks saja buka sampai pagi, Gladys."
Gladys tidak punya pilihan lain. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh saku cardigannya dan menarik keluar secarik kertas kecil yang sedikit kusut—struk pembelian makanan yang ia ambil secara asal dari dalam tasnya tadi malam saat ia sempat mampir membeli sesuatu sekadar untuk berjaga-jaga.
"I-ini," Gladys menyodorkan struk tersebut tepat di depan wajah Raka. Suaranya nyaris seperti cicitan.
"Aku, beli ayam geprek di kedai yang agak jauh karena aku pengen banget makanan itu. Aku takut kamu marah kalau aku bangunin tengah malam, makanya aku nekat pergi sendiri."
Raka menatap struk kertas di tangan Gladys, lalu beralih menatap mata istrinya yang berkaca-kaca karena ketakutan yang teramat sangat.
Di satu sisi, logika Raka merasa ada yang ganjil dari penjelasan itu, namun di sisi lain, melihat air mata dan kepanikan di wajah Gladys membuat hatinya melunak.
Raka menarik napas panjang. Melihat kertas struk di tangan Gladys dan mata istrinya yang sudah berkaca-kaca dipenuhi ketakutan, rasa iba dan kasih sayang Raka mengalahkan sisa keraguannya.
Genggaman tangannya di pergelangan Gladys melembut, berganti menjadi elusan hangat yang menenangkan.
"Sudah, Pa." Raka berbalik menatap ayahnya, mengambil posisi pasang badan untuk membela sang istri.
"Gladys cuma lapar dan tidak mau mengganggu tidur Raka. Struknya juga ada, kan? Tidak ada hal aneh yang perlu diperpanjang lagi."
Papa Devandra tidak bergeming. Pria paruh baya itu hanya menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan ketidakpercayaan.
Sorot matanya yang tajam bak belati masih menghunjam lurus ke arah Gladys, seolah sanggup menembus topeng kebohongan menantunya itu.
"Kamu ini terlalu polos, Raka," desis Papa Devandra dingin, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Perasaan seorang ayah tidak pernah salah."
Gladys menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu kering, dan jantungnya masih bertalu-talu dihantam kepanikan.
Ia tahu betul bahaya belum berlalu—Papa Devandra hanya menunda ancamannya.
Demi memutus atmosfer beracun yang mengelilingi meja makan tersebut, Gladys menata piring-piring masakan dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Ia mencoba tersenyum, meski terkesan kaku dan dipaksakan.
"Ayo Pa, Mas. Kita sarapan dulu," sela Gladys dengan nada memohon, berusaha keras mengalihkan perhatian dari topik yang nyaris memusnahkan rumah tangganya pagi ini.
Suasana di meja makan terasa begitu pekat oleh ketegangan.
Papa Devandra memilih duduk tanpa menyentuh makanannya, sementara tatapan matanya yang dingin terus mengawasi setiap gerak-gerik Gladys seolah sedang menguliti rahasia wanita itu hidup-hidup.
Raka sendiri tampak sibuk mengoleskan selai pada rotinya, mencoba mencairkan suasana kaku yang diciptakan sang ayah.
Tiba-tiba, di tengah keheningan yang mencekam itu, suara getaran keras memecah udara.
Bzzzt... bzzzt...
Ponsel Gladys yang tergeletak di atas meja makan bergetar hebat, bergerak-gerik di atas permukaan kayu akibat notifikasi yang masuk bertubi-tubi.
Layar ponsel yang menyala terang menampilkan sebuah pesan teks baru dari nomor asing yang sudah dihafal mati di luar kepala oleh Gladys.
[Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu. Aku tunggu di kafe atau aku langsung ke rumahmu jika kamu menghindariku.]
Jantung Gladys seakan berhenti berdetak. Darahnya mendadak mendingin, dan sekujur tubuhnya kaku seketika.
Ancaman itu nyata—Praduta tidak main-main. Jika Gladys memilih mengabaikannya atau tidak menuruti perintahnya, pria gila itu benar-benar akan nekat melangkah masuk ke halaman rumah ini dan menghancurkan segalanya di depan Raka dan Papa Devandra.
"Ponselmu berdering, Gladys," tegur Papa Devandra datar, suaranya yang berat memotong lamunan penuh teror itu.
Sudut mata pria tua tersebut melirik ke arah layar ponsel Gladys yang masih menyala.
Raka ikut menoleh, menatap istrinya dengan kening berkerut penasaran.
$Siapa pagi-pagi begini yang kirim pesan, Sayang? Penting banget ya?"
Gladys menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat, kering, dan sangat sakit.
Dengan jemari yang gemetar hebat, ia meraba meja dan segera merampas ponselnya, membalikkan layarnya ke bawah agar tidak ada yang bisa membaca pesan mematikan tersebut.
"B-bukan siapa-siapa, Mas." cicit Gladys dengan suara bergetar yang nyaris tak terdengar, berusaha keras menahan air mata ketakutan yang mendesak ingin tumpah.
"Cuma, pesan dari grup arisan yang mau mengajak makan bersama."
Papa Devandra mendengus sinis, memperlihatkan ketidakpercayaan yang begitu nyata di wajahnya.
Sementara Raka hanya mengangguk pelan, meski guratan bingung masih tampak jelas di matanya melihat perubahan drastis pada air muka sang istri.