NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

To You

"Kenapa lo jadi berubah baik gini sama gue? Apa karena lo mau pergi? Atau karena ada batu di balik udang?"

"Ada udang di balik batu. Nilai Bahasa Indonesia lo berapa, sih?"

"Bercanda, Ra. Gue cuma heran aja karena lo sebaik ini sampai mau ngajakin gue nonton. Berdua doang pula."

"Siapa yang bilang gue baik? Orang gue mau nyuruh lo bayarin tiket filmnya. Sekalian beliin popcorn sama minumannya juga."

Bara hanya bisa memandangi Ara dengan tatapan heran. Ia mengira tugasnya hanyalah menemani Ara, bukan menjadi ATM berjalannya.

Bara bisa melihat Ara yang sedari tadi sibuk memilih bangku untuk tempat mereka menonton. Setelah mendapatkan tempat yang diinginkannya, Ara langsung menyenggol lengan Bara, menyuruhnya segera membayar tiket.

Terpaksa, Bara hanya bisa mendengus kesal sebelum mengeluarkan dompet dan membayar tiket mereka.

"Beliin popcorn sama minumannya sekalian. Gue mau duduk di pojok sana dulu sambil nunggu lo."

Ara memang sengaja ingin mengerjai Bara. Selama ini hanya dirinya yang selalu menjadi korban keisengan cowok itu. Mumpung ada kesempatan, kali ini ia ingin membalaskan dendamnya.

Terlebih, Ara tahu satu hal yang sangat disayangkan dari Bara. Bara takut dengan segala sesuatu yang berbau gaib dan sama sekali tidak bisa menonton film bertema horor.

Ara bahkan sampai bingung mengapa Bara bisa dengan santainya mengiyakan ajakannya untuk menonton film horor.

Ara tertawa senang melihat Bara yang benar-benar menuruti semua perkataannya. Tingkah cowok itu bahkan terlihat sangat lucu ketika kesulitan membawa makanan yang dibelinya. Kedua tangannya sibuk membawa gelas soda, sementara mulutnya harus menggigit ujung kertas pembungkus popcorn agar tidak terjatuh.

Ara yang tidak tega akhirnya mengambil salah satu gelas soda miliknya.

"Ayo, masuk. Tapi yakin lo nggak bakal takut? Film hantu, loh, ini."

"Gue pasrah aja. Gue tahu lo emang mau balas dendam ke gue. Nanti gue tutup mata aja. Gampang."

Film pun mulai diputar. Ara langsung fokus menatap layar bioskop sambil sesekali mengambil popcorn. Sementara itu, Bara masih terlihat tenang. Di awal pemutaran, biasanya memang belum ada sosok menyeramkan yang muncul sehingga ia masih bisa bersantai.

Keduanya pun fokus menonton. Namun, seiring berjalannya film, suara-suara aneh dan backsound yang tiba-tiba menggelegar mulai membuat Bara gusar.

Ia memasang wajah ketakutan sambil melirik Ara yang sama sekali tidak bergeming. Gadis itu bahkan masih asyik mengunyah popcorn seolah tidak terjadi apa-apa.

Beberapa detik kemudian, sesosok hantu tiba-tiba muncul di layar. Bara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ara yang melihatnya tentu saja tidak bisa menahan tawa.

"Ara! Gue takut! Maafin gue, Ra. Gue nggak bakal ngerjain lo lagi."

Bara langsung memeluk lengan Ara sambil menyembunyikan wajahnya. Ara hanya bisa menggeleng sambil sesekali mengelus rambut Bara yang terlihat sedikit berantakan dan beberapa helainya rontok.

"Baru juga beberapa menit kita nonton, masa lo udah takut?"

"Iya, terserah lo mau ngomong apa. Jujur gue emang takut. Nggak dibuat-buat."

"Ya udah, lo tidur aja. Nanti gue bangunin kalau filmnya udah selesai."

Bara hanya mengangguk. Ia berusaha memejamkan mata dengan kedua tangannya yang masih memeluk lengan Ara. Tubuhnya pun perlahan semakin menempel pada gadis itu.

Sepertinya Bara benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya.

Begitu pula Ara. Gadis itu terlalu fokus menonton film hingga tidak menyadari bahwa sejak beberapa saat lalu Bara sudah menjadikan lengannya sebagai tempat berlindung.

Dua jam berlalu. Film yang ditonton Ara akhirnya selesai. Sendirian, tentunya.

Bara sudah terlelap sejak sekitar satu setengah jam yang lalu dengan posisi yang masih sama. Lampu di dalam bioskop kembali dinyalakan, membuat Ara akhirnya menyadari bahwa sedari tadi Bara tidur sambil memeluknya.

Aduh, ini gimana cara banguninnya, astaga.

"Bara, bangun! Filmnya udah selesai."

Ara menghela napas pelan. Bara sama sekali tidak bergerak. Sepertinya cowok itu benar-benar tidur sangat lelap sampai sulit dibangunkan. Ara pun mulai berpikir bagaimana caranya membangunkan Bara.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin nekat melakukannya, mumpung Bara masih tertidur.

Ara menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Bara.

Lumayan, mumpung Bara lagi tidur. Kapan lagi coba aku bisa nyium kamu semudah ini? Astaga, otakku kotor.

Ara buru-buru menjauhkan wajahnya. Namun, Bara masih tidak bangun.

"Bara! Bangun!!! Filmnya udah selesai!"

Karena kecupan tadi ternyata sama sekali tidak memberikan efek apa pun, Ara akhirnya berteriak tepat di telinga Bara.

Bara sontak terlonjak kaget. Ia mendongakkan kepalanya secara refleks, sementara Ara yang berada terlalu dekat dengannya tidak sempat menghindar.

Bibir mereka pun tidak sengaja bertemu. Dunia seakan berhenti berputar. Keduanya hanya diam, saling memandang satu sama lain dengan bibir yang masih saling menempel.

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Sampai beberapa detik kemudian, ketika nyawa Ara rasanya sudah kembali ke raganya, ia buru-buru menjauhkan wajah dan bibirnya. Wajahnya terasa sangat panas.

Bara pun masih diam sambil mengerjap-ngerjapkan mata, seolah otaknya belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.

"My first kiss!"

Ara memegangi bibirnya dengan kedua tangan.

"Bara! First kiss gue!!! Arghhh!!!"

Tanpa menunggu reaksi Bara, Ara langsung berlari keluar dari ruang bioskop.

Bara masih terpaku di tempatnya. Beberapa detik kemudian, barulah ia tersadar dan langsung berlari mengejar Ara.

"Ara! Tungguin gue!"

Bara berusaha mencari Ara di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di gedung bioskop. Ia berharap gadis itu belum pergi terlalu jauh.

Bara bahkan mencoba menelepon Ara. Namun, panggilannya tidak dijawab. Akhirnya, ia duduk di salah satu kursi yang berada di luar bioskop sambil mengacak rambutnya dengan kesal.

Ia merasa sangat bersalah karena tanpa sengaja telah merebut first kiss Ara.

"Bego banget emang gue. Nggak seharusnya gue ngerebut first kiss lo. Gimana cara balikinya, coba?"

"Ya nggak usah dibalikin, lah, bego. Udah terlanjur juga."

Bara sontak menoleh. Ara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

Gadis itu kemudian ikut duduk di samping Bara dengan wajah ditekuk. Bukannya tidak suka dengan kejadian tadi. Ia hanya merasa luar biasa malu karena itu adalah ciuman pertamanya.

"Ara?"

"Hmm."

"Sorry."

"Kok lo malah minta maaf?"

"Ya terus gue harus bilang makasih gitu sama lo?"

"Ya nggak juga."

Ara menghela napas.

"Ya udahlah, lupain aja."

"Serius? Lo nggak marah? Lo nggak dendam sama gue, gitu? Lo nggak bakal mutusin perjanjian dua belas hari itu, kan?"

"Iya, gue nggak marah. Gue baik-baik aja. Bawel banget sih, lo!"

"Nggak usah ngegas gitu juga kali, Ra."

Bara menundukkan kepalanya.

"Gue tahu lo benci sama gue dan cuma mau manfaatin gue sampai lo pergi ke Aussie. Gue sadar diri. Lagian gue juga cuma jadi babu lo."

Astaga, Bara! Aku itu sayang banget sama kamu!

"Apaan sih, lo!"

Ara berusaha menahan emosinya.

"Nggak usah bikin mood gue malah jadi hancur! Mending gue pulang aja kalau kayak gini. Mau gue pesenin taksi buat lo?"

"Nggak usah. Ada yang mau jemput gue sebentar lagi."

Keduanya kembali terdiam. Ara memalingkan wajahnya ke arah lain karena matanya mulai berkaca-kaca. Sementara Bara hanya bisa menunduk sambil menunggu kakaknya datang menjemput.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan gedung bioskop. Bara berdiri.

"Ra, gue udah dijemput. Gue pulang duluan. Sampai ketemu besok."

Sampai ketemu besok mulu, tapi ujung-ujungnya selalu buat kesel.

Ara hanya mengangguk. Ia menatap Bara yang mulai berjalan menjauh, lalu masuk ke dalam mobil.

Setelah memastikan mobil itu benar-benar pergi, air mata Ara akhirnya tidak dapat ditahan lagi.

Ia menangis. Bukan tangisan kecil yang bisa disembunyikan. Tangisannya pecah begitu saja di depan gedung bioskop hingga beberapa orang yang berlalu-lalang menatapnya dengan heran.

Sementara itu, di dalam mobil, Marissa tanpa sengaja melihat Ara melalui kaca spion. Ia menghela napas panjang sebelum menoleh ke arah adiknya.

"Bara, kamu apain lagi si Ara?"

Marissa sudah bisa menduga bahwa Ara menangis gara-gara adiknya.

"Aku nggak jahilin Ara lagi, Kak. Memangnya kenapa?"

"Terus kenapa Ara bisa nangis sampai histeris kayak gitu?"

Marissa menunjuk ke arah kaca spion.

"Kakak sempat lihat tadi. Dia bahkan sampai mukul-mukul dadanya sendiri."

Bara terdiam.

"Pokoknya besok kamu harus minta maaf!"

Marissa menatap adiknya dengan tegas.

"Kakak nggak mau punya adik yang nakal, terus nggak bertanggung jawab."

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!