Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 31
Galang membeku seketika di tempatnya. Sejauh mana Aulia mengetahui hubungannya dengan Belinda? Jangan sampai Aulia meminta cerai darinya dan membuat ulah. Apalagi sampai melaporkan hal ini ke perusahaan tempatnya bekerja.
"Cukup, Aulia! Kita bicara di dalam jangan membuat keributan seperti ini! Kenapa kamu mengganti kunci rumah kita?"
"Rumahku dan Cantika, Mas! Jangan pura-pura amnesia. Kita sama-sama tahu dan bukti semuanya masih tersimpan rapi!'
"Aulia jangan egois, ya! Rumah ini dibeli setelah kalian menikah. Mau kamu bayar DP nya pakai uang pribadi atau bukan, secara hukum ini tetap harta gano gini! Galang punya hak setengah dari rumah ini, dan kamu nggak bisa sewenang-wenang mengusir kami!" Rika, sang adik ipar yang selama ini selalu ikut menikmati uang bulanan dari Galang, ikut menimpali dengan sinis.
Galang yang merasa mendapat pembelaan dari keluarganya kembali menegakkan bahu, mencoba merebut kembali wibawanya yang sempat runtuh.
"Benar kata Rika. Jangan pikir kamu bisa menguasai rumah ini sendirian, Aulia. Aku yang mencicil rumah ini tiap bulan!"
Aulia menggelengkan kepala pelan, menatap mereka dengan rasa iba yang mendalam. Mereka benar-benar tidak tahu dengan siapa mereka sedang berhadapan sekarang.
"Mbak Rika, Mas Galang... kalian mau bicara soal hukum?" Aulia melangkah satu langkah lebih maju, membuat ketiganya refleks mundur.
"Tadi pagi, aku baru saja menyerahkan semua bukti mutasi rekening, kuitansi asli aliran dana DP 70% dari tabungan sebelum nikahku, hingga bukti pemotongan nafkah sepihak yang Mas Galang lakukan, ke tangan pengacara senior."
Mendengar kata 'pengacara senior', rahang Galang seketika mengeras.
"Aulia! Jangan pernah berfikir utuk bercerai dariku! Apa kamu tak kasihan kepada Cantika yang masih membutuhkan peran ayahnya? Jangan sampai kamu mengorbankan cantika karena keegoisan kamu sendiri!" Galang berusaha untuk membuat Aulia menarik semua rencananya, mendengar ucapan Galang seketika Aulia tertawa.
"Peran ayah yang mana maksud kamu, Mas? Ayah yang selalu mengabaikannya? Ayah yang selalu membentak Cantika? Atau Ayah yang selalu mengatakan anaknya cacat dan membuat malu kamu?"
"Aku rasa Cantika tak memerlukan sosok ayah seperti itu! Cantika bisa mendapatkan semua kasih sayangku! Aku harap setelah ini kamu tak mempersulit semua prosesnya, Mas. Bukankah kamu selingkuh dariku karena ingin menikah dengan wanita itu kan? Kamu bosan padaku yang sudah tak pandai lagi berdandan? Apa kamu sadar? Bahkan uang untuk makan saja kamu pangkas, bagaimana aku bisa merawat diriku seperti dulu! Ngaku pinter tapi kok ucapan sama kelakuan gublok!"
Kalimat terakhir Aulia bak tamparan keras yang menggema di udara, membuat suasana di halaman rumah itu makin memanas. Galang melotot tak percaya mendengarnya, sementara Bu Ratna dan Pak Hendra terperanjat kaget. Aulia yang selama ini lembut dan tak pernah berucap kasar, kini melontarkan kata yang sama sekali tak terduga dari mulutnya.
"Kamu... kamu berani mengatai aku gublok?!" desis Galang dengan rahang mengeras, matanya menatap Aulia dengan emosi yang hampir meledak.
"Kenapa? Tersinggung?" cibir Aulia tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ucapanku tidak sebanding dengan perbuatanmu, Mas! Otakmu di mana waktu memangkas uang makan dan uang terapi anak kandungmu sendiri demi membiayai gaya hidup selingkuhanmu? Kamu pikir aku bodoh? Kamu sengaja menekan keuanganku supaya aku compang-camping, lalu kamu jadikan alasan untuk cari wanita lain yang lebih 'cantik' dan 'terawat'! Sungguh licik dan menjijikkan!"
Bu Ratna yang tadinya sempat kaget, kembali membusungkan dada dan menunjuk wajah Aulia dengan jari gemetar.
"Jaga mulutmu, Aulia! Kurang ajar sekali kamu bicara begitu pada suamimu di depan orang tuanya! Laki-laki itu kepala keluarga! Kalau kamu ndak bisa rawat diri, ya jangan salahkan Galang kalau dia cari kesenangan di luar! Istri kok ndak ada bakti-baktinya!"
"Bakti?" Aulia terkekeh sinis, memotong ucapan mantan mertuanya itu.
"Bakti untuk suami yang menyalahgunakan uang tabungan kami dan menelantarkan anaknya? Dengar ya, Bu Ratna... Ibu tidak usah sok suci menasehati saya. Ibu dan Rika juga sama saja! Kalian menikmati uang jatah yang dipotong dari hak anak saya, kan? Kalian semua tanpa terkecuali, satu paket keluarga benalu!"
"Aulia! Cukup!" teriak Pak Hendra dengan wajah memerah padam. "Kamu sudah keterlaluan!"
"Belum, Pak Hendra. Ini baru permulaan," potong Aulia dengan nada dingin yang menusuk hingga ke tulang. Apalagi di sekitar sana tetangga sudah berkerumun.
Bertepatan dengan itu sebuah mobil taksi daring berhenti mendadak di depan pagar rumah. Pintu mobil terbuka, dan sosok Belinda turun dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya yang biasa dipoles riasan tebal kini tampak tegang dan dipenuhi kepanikan. Rupanya, Belinda yang sejak kemarin tidak tenang karena pesan-pesan Galang yang mendadak putus kontak, nekat menyusul ke rumah itu.
"Mas Galang!" panggil Belinda setengah berlari menghampiri kerumunan di depan pagar.
Melihat kedatangan Belinda, semua orang langsung menoleh dengan tatapan menyelidik, sementara Galang semakin panik hingga keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Kehadiran Belinda di waktu yang salah ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa pembelaan yang coba mereka bangun.
Sedangkan Aulia bersandar dengan santai pada daun pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Sebuah senyuman puas terukir di wajahnya. Tamu yang dinanti-nanti akhirnya datang menyerahkan diri.
"Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba," sindir Aulia, suaranya terdengar renyah namun dingin.
"Ternyata gundikmu punya nyali juga untuk datang ke sini, Mas."
"Mbak Aulia, tolong jangan sebut aku begitu!" potong Belinda dengan napas memburu, mencoba membela diri di depan calon mertua dan adik iparnya.
"Aku ke sini cuma mau meluruskan masalah. Mas Galang bilang hubungan kalian sudah lama hambar dan kalian sudah sepakat untuk jalan masing-masing!"
Aulia menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap Galang yang kini membuang muka, tak berani menatap mata istrinya.
"Oh, jadi itu dongeng yang kamu jual padanya, Mas? Hubungan hambar? Atau kamu yang sengaja membuat rumah tangga ini mati rasa demi membenarkan kelakuan bejatmu?"
Bu Ratna, yang awalnya ingin membela anak laki-lakinya, kini justru merasa dongkol karena kehadiran Belinda yang membuat keributan di depan rumah itu semakin menjadi tontonan tetangga.
"Galang! Jadi benar perempuan ini yang membuatmu kelimpungan sejak semalam? Berani sekali dia datang ke rumah ini!"
Belinda yang merasa disudutkan oleh Bu Ratna langsung membela diri.
"Ibu, tolong dengar dulu. Saya tulus sama Mas Galang! Saya tidak tahu kalau urusannya dengan Mbak Aulia belum selesai secara resmi!"
"Cukup! Diam kamu, Belinda!" bentak Galang frustrasi. Situasi ini benar-benar di luar kendalinya. Di satu sisi ada ibunya yang menuntut penjelasan, di sisi lain ada Belinda yang menuntut kepastian, dan di depannya ada Aulia, sang istri yang selama ini ia remehkan kini berdiri tegak memegang kendali penuh atas nasibnya.