Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Esoknya...
Samudera Gentala tidak pernah menyangka bahwa bertahun-tahun setelah kehilangan istrinya, ia akan kembali memikirkan rasa sakit yang pernah berusaha ia kubur dalam-dalam. Pagi itu, ia duduk di ruang kerjanya sambil memeriksa berkas pasien, tetapi pikirannya beberapa kali teralih pada kejadian kemarin, ketika ia menemukan Jingga berdiri gemetar di lorong ruang rawat anak.
Ia mengenal Jingga sebagai salah satu perawat di rumah sakit milik keluarganya. Mereka memang tidak pernah berbincang panjang, tetapi Samudera beberapa kali melihat perempuan itu bekerja dengan telaten. Karena itulah, ia cukup terkejut ketika mendapati Jingga mengalami serangan panik hingga kesulitan mengatur napasnya sendiri.
Samudera terus mengingat kejadian itu. Ia teringat kalimat yang diucapkan Jingga setelah wanita itu mulai tenang yang mengatakan merasa gagal menyelamatkan anaknya sendiri.
Samudera mengenal perasaan tersebut. Ia pernah mengucapkan kalimat serupa dalam hati, berulang kali, pada malam ketika istrinya meninggal setelah melahirkan putra mereka.
Saat itu, ia juga seorang dokter yang terbiasa menghadapi keadaan darurat, tetapi pengetahuan dan kemampuannya tidak mampu menghapus kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya tidak akan pernah kembali.
Dua tahun telah berlalu sejak kepergian istrinya. Waktu memang membuat Samudera terbiasa menjalani hari tanpa kehadiran perempuan itu, tetapi tidak pernah benar-benar menghapus kehilangan tersebut.
Ia masih mengingat jelas wajah istrinya sebelum masuk ruang persalinan, senyum kecil yang diberikan kepadanya, serta janji mereka untuk membesarkan anak bersama-sama. Sayangnya, janji itu hanya sempat menjadi harapan. Istrinya meninggal akibat komplikasi persalinan, meninggalkan seorang bayi laki-laki yang bahkan belum sempat merasakan pelukan ibunya.
Putra mereka kini berusia dua tahun, namanya Arka. Anak kecil itu menjadi alasan terbesar Samudera untuk terus menjalani hidup. Ia belajar membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus Arka, meskipun sebagian besar kebutuhan putranya dibantu oleh pengasuh dan keluarganya. Samudera tidak ingin anaknya tumbuh tanpa merasakan kasih sayang hanya karena ia terlalu sibuk bekerja atau masih terjebak dalam kesedihan masa lalu.
Namun, ada malam-malam ketika Arka sudah tertidur dan rumah menjadi begitu sunyi, Samudera masih duduk sendirian memandangi foto mendiang istrinya. Pada saat seperti itu, ia tidak lagi menjadi dokter yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya seorang laki-laki yang merindukan perempuan yang pernah menjadi rumah baginya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
“Dok, berkas pasien yang tadi sudah saya letakkan di meja,” ujar salah seorang perawat.
Samudera mengangguk. “Terima kasih.”
Setelah perawat itu keluar, ia kembali menatap layar komputer. Ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi Jingga. Sebagai dokter, ia tahu batas antara memberikan perhatian dan membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Namun, ia juga tahu bahwa orang yang sedang berduka terkadang membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan tanpa buru-buru menyuruhnya melupakan kesedihan. Ia memahami hal itu karena pernah berada di posisi yang sama.
Menjelang siang, Samudera menyelesaikan pemeriksaan pasien sebelum memutuskan pulang sebentar. Hari itu, ia berjanji kepada Arka akan menjemputnya lebih awal dari tempat penitipan anak.
Ketika tiba di sana, Samudera langsung disambut suara riang putranya.
“Papa!”
Arka berlari kecil menghampirinya dengan langkah yang belum sepenuhnya seimbang. Samudera segera berjongkok dan membuka kedua tangannya. Anak itu langsung memeluk lehernya, membuat lelah yang sejak pagi menumpuk terasa sedikit berkurang.
“Wah, siapa yang hari ini paling pintar?” tanya Samudera sambil mengangkat tubuh kecil itu.
“Arka!” jawab putranya lantang.
Samudera tertawa. “Iya, anak Papa memang pintar.”
Arka kemudian menunjukkan sebuah gambar yang dibuatnya bersama pengasuh. Gambar itu hanya terdiri dari beberapa coretan berwarna, tetapi Samudera memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Ia tahu, kelak akan ada banyak hal yang tidak bisa ia berikan kepada putranya, termasuk kehadiran seorang ibu. Namun, selama ia masih mampu, ia ingin Arka tumbuh dengan perasaan dicintai.
Dalam perjalanan pulang, Arka tertidur di kursi mobil. Samudera beberapa kali melirik wajah putranya melalui kaca spion. Ada kemiripan antara Arka dan mendiang istrinya, terutama bentuk mata dan senyumnya. Setiap kali melihatnya, Samudera merasa seolah sebagian kecil perempuan yang dicintainya masih tinggal bersama mereka.
Ia tidak pernah ingin mencari pengganti istrinya. Bukan karena percaya bahwa dirinya tidak akan mampu mencintai lagi, melainkan karena selama ini ia belum menemukan seseorang yang membuatnya ingin membuka ruang baru dalam hidupnya.
Setelah istrinya meninggal, beberapa orang pernah mencoba mengenalkannya dengan perempuan lain. Keluarganya pun sesekali menyarankan agar ia mulai memikirkan masa depan. Namun, Samudera selalu menolak dengan alasan belum siap.
Ia tidak ingin menjadikan perempuan lain sebagai pelarian dari kesepian. Ia juga tidak ingin seseorang hadir hanya untuk mengisi tempat yang ditinggalkan istrinya.
Jika suatu hari ia kembali mencintai, ia ingin perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa paksaan dan tanpa harus menghapus kenangan yang telah lebih dahulu menjadi bagian hidupnya.
Sore itu, Samudera membawa Arka ke rumah orang tuanya sebelum kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ibunya menyambut mereka dengan senang, lalu segera mengajak Arka bermain di ruang keluarga.
“Kamu kelihatan lelah, Sam,” kata ibunya ketika mereka duduk berdua di teras.
“Pekerjaan sedang banyak, Ma.”
“Bukan hanya karena pekerjaan, kan?”
Samudera tersenyum tipis. Ia tahu ibunya masih mengkhawatirkannya sejak kepergian sang istri. “Aku baik-baik saja.”
“Kamu selalu mengatakan begitu, bahkan ketika sedang tidak baik-baik saja.”
Samudera menunduk sesaat. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir, tetapi ia juga tidak bisa menyangkal bahwa kehilangan itu masih meninggalkan ruang kosong dalam hidupnya.
“Aku hanya belum ingin memulai hubungan baru, Ma. Aku tidak mau terburu-buru.”
“Mama tidak memaksamu. Mama hanya berharap suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang bisa menemanimu. Mama tak mengatakan dia bisa menggantikan mendiang istrimu, tapi Mama ingin dia membuatmu kembali bahagia.”
Samudera tiba-tiba teringat pada Jingga, pada wajah lelah dan mata sembap perempuan itu ketika berusaha menahan tangis. Ia tidak tahu banyak tentang kehidupan rumah tangga Jingga, tetapi dari cara perempuan itu berbicara, ia bisa merasakan bahwa kehilangan yang dialaminya bukan satu-satunya luka yang sedang ia tanggung.
Samudera memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kesedihan. Ada yang memilih diam, ada yang menangis, dan ada pula yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa seharusnya bisa melakukan lebih banyak.
Ia sendiri pernah melewati masa ketika menyalahkan diri terasa lebih mudah daripada menerima kenyataan. Ia terus bertanya apakah ada keputusan yang seharusnya diambil lebih cepat, apakah ada sesuatu yang terlewat, dan apakah hasilnya akan berbeda jika ia melakukan hal lain.
Pada akhirnya, ia belajar bahwa tidak semua kehilangan bisa dicegah, bahkan ketika seseorang telah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Itulah yang ingin ia sampaikan kepada Jingga, meskipun ia tahu perempuan itu membutuhkan waktu untuk memercayainya.
Malam harinya...
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, Samudera menerima pesan dari pengasuh Arka yang mengabarkan bahwa putranya terus menanyakan dirinya. Ia segera pulang dan mendapati Arka masih terjaga, duduk di sofa sambil memeluk boneka kecil kesayangannya.
“Papa pulang!” seru Arka begitu melihatnya.
Samudera mengangkat putranya, lalu mengecup keningnya. “Maaf, ya, Papa pulang agak malam.”
Arka menyentuh pipi ayahnya dengan tangan mungilnya. “Papa sedih?”
Pertanyaan itu membuat mata Samudera berkaca-kaca. Anak itu mungkin belum benar-benar memahami arti kesedihan, tetapi ia bisa mengenali perubahan pada wajah ayahnya.
“Tidak, Sayang. Papa hanya lelah.”
Arka memeluk lehernya. “Arka sayang Papa.”
Samudera memejamkan mata sejenak, merasakan pelukan kecil itu menghangatkan hatinya. Ia teringat pada Jingga dan anaknya yang telah meninggal. Ia tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, tetapi ia bisa memahami betapa hancurnya seseorang ketika kehilangan orang yang paling dicintainya.
Malam itu, Samudera berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengabaikan tanda-tanda kesedihan yang dialami orang lain hanya karena mereka terlihat mampu menjalani hidup seperti biasa.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu