hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 12
Emma terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan sang tetua. Ia melirik Damian yang berdiri di sampingnya, kemudian kembali menatap para tetua yang kini memperhatikan mereka.
"Kalau begitu..." Emma menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Emma akan berusaha menjaga ikatan ini."
Sang tetua mengangguk kecil, menunggu Emma melanjutkan perkataannya.
"Tapi Emma punya satu permintaan," ucapnya tiba-tiba.
Damian menoleh. "Permintaan apa lagi?"
Emma langsung menyikut pelan lengan suaminya.
"Diam dulu, Damian! Aku sedang bicara!"
Beberapa vampir yang menyaksikan mereka tampak terkejut. Siapa sangka ada manusia yang berani menyikut pewaris kerajaan vampir di hadapan para tetua?
Emma kembali menghadap sang tetua.
"Emma memang sudah menjadi istri Damian, tapi Emma masih manusia biasa. Emma belum tahu banyak tentang dunia kalian. Jadi, Emma berharap kalian mau memberi Emma kesempatan untuk belajar dan tidak memperlakukan Emma seperti orang yang tidak punya hak untuk memilih."
Suaranya terdengar sedikit bergetar, tetapi Emma tetap berusaha menyampaikan perkataannya sampai selesai.
"Emma akan berusaha menjalankan kewajiban Emma sebagai bagian dari keluarga ini. Tapi Emma juga ingin Damian mengerti perasaan Emma. Emma tidak mau hanya dianggap sebagai seseorang yang dibutuhkan untuk melindungi kaum vampir."
Suasana aula mendadak hening.
Damian menatap Emma dari balik topengnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa di balik sikap ceria dan ocehan gadis itu, ada ketakutan yang selama ini berusaha disembunyikannya.
Sang tetua mengangguk pelan setelah mendengar jawaban Emma. Ia kemudian memberi isyarat kepada seorang pelayan yang berdiri di dekat altar untuk membawa sebuah cangkir berwarna perak
"Permintaanmu akan kami pertimbangkan, Emma. Mulai malam ini, kau bukan lagi orang asing bagi keluarga kerajaan. Kau adalah istri pewaris takhta, dan hakmu akan dihormati sesuai hukum kerajaan."
Tetua itu berdiri di hadapan Damian sambil membawa sebilah pisau kecil yang terbuat dari perak. Cahaya lilin merah di sekeliling ruangan membuat suasana ritual terasa semakin sakral.
Namun, sebelum memulai ritual, tetua itu menatap Damian dengan serius.
“Pangeran Damian, sebelum darah kalian dipersatukan, bukalah topeng yang selama ini menutupi wajahmu.”
Damian terdiam sesaat. Kemudian, tanpa membantah, ia mengangkat tangannya dan perlahan melepaskan topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Emma yang berdiri di sampingnya sontak terdiam.
Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka, sementara pikirannya mendadak kosong.
Astaga …
Di hadapannya kini berdiri seorang pria dengan wajah yang seolah-olah keluar langsung dari halaman manhwa favoritnya. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sepasang mata tajam yang selama ini hanya bisa Emma lihat dari balik topeng kini menatapnya secara langsung.
Rambut hitam Damian sedikit jatuh ke dahinya, membuat penampilannya semakin memukau. Di bawah cahaya lilin, wajahnya terlihat begitu sempurna hingga Emma nyaris lupa bahwa mereka sedang berada di tengah ritual penting.
INI SUAMI GUE?
Emma berkedip beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
Damian mengulurkan tangannya.Tetua itu mengambil tangan Damian dan membuat sayatan kecil di telapak tangannya menggunakan pisau perak. Damian hanya diam tanpa menunjukkan rasa sakit yang berarti.
Darah merah perlahan mengalir dari luka tersebut. Tetua segera menampungnya ke dalam sebuah cangkir perak yang telah disiapkan di atas altar.
Setelah itu, tetua menoleh kepada Emma.
“Sekarang giliranmu, Nyonya Emma.”
Seketika, senyum kecil yang tadi muncul di wajah Emma menghilang.
Ia menatap pisau di tangan tetua, kemudian melirik darah di dalam cangkir. Entah kenapa, melihat semuanya secara langsung terasa jauh lebih menegangkan daripada yang ia bayangkan.
“Harus sekarang?” bisiknya ragu.
“Ya. Darahmu harus dipersatukan dengan darah Pangeran Damian.”
Emma menelan ludah. Jujur saja, ia sama sekali tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Apalagi ia harus meminum darah yang bercampur dengan darah suaminya sendiri.
Damian yang menyadari keraguan itu segera mendekat.
“Emma.”
Perempuan itu mendongak. “Apa?”
“Lihat aku, bukan pisaunya.”
Emma menurut, meskipun wajahnya masih menunjukkan kecemasan.
“Ini cuma bagian dari ritual. Tidak akan terjadi apa-apa padamu,” ujar Damian dengan suara rendah.
“Kau yakin?”
“Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu sedikit menenangkan Emma.
Ia akhirnya mengulurkan tangannya kepada tetua. Setelah membuat sayatan kecil di telapak tangannya, tetua menampung darah Emma ke dalam cangkir perak yang sama. Darah mereka kini bercampur menjadi satu, menandai dimulainya ikatan kuno yang telah lama dijaga oleh keluarga vampir.
Tetua kemudian mengangkat cangkir itu dan menyerahkannya kepada Damian.
“Minumlah darah itu, Pangeran Damian.”
Damian menerima cangkir tersebut, tetapi sebelum meminumnya, ia justru mengulurkannya kepada Emma terlebih dahulu.
“Minum.”
Emma menatap cangkir itu dengan ekspresi tidak percaya.
“HAH? Kenapa aku duluan?!”
“Karena kau yang sejak tadi terlihat ketakutan.”
“Ya jelas aku takut! Aku manusia biasa, Damian. Mana pernah aku minum darah begitu?”
Mendengar ucapan Emma pikir nya Damian akan kesal Namun, Damian sama sekali tidak mempermasalahkannya.Ia malah sedikit menundukkan kepala agar bisa menatap Emma lebih dekat.
“Rasanya tidak seburuk yang kau bayangkan,” katanya.
Emma menyipitkan mata. “Kau serius?”
“Serius. Rasanya manis.”
“Darah kok manis?”
“Coba saja sendiri.”
Ia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan mengambil cangkir dari tangan Damian. Dengan jantung yang berdebar, Emma mendekatkan cangkir itu ke bibirnya.Akhirnya, Emma memejamkan mata dan meneguk sedikit darah dari dalam cangkir tersebut.
Beberapa detik berlalu.
Emma membuka matanya perlahan.
Alih-alih merasakan sesuatu yang menjijikkan seperti bayangannya, ia justru merasakan rasa manis yang lembut di lidahnya Ia menatap cangkir di tangannya dengan bingung.
“Loh?”
Damian menahan senyum. “Kenapa?”
Emma kembali mencicipinya sedikit, kali ini dengan lebih berani.
“Beneran manis!”
“Sudah kubilang.”
“Kenapa darah keluarga kalian rasanya seperti minuman manis, sih? Apa kalian punya resep rahasia atau bagaimana?”
Damian menggeleng pelan, nyaris kehilangan kesabarannya menghadapi pertanyaan istrinya yang selalu muncul di saat tidak tepat.
Setelah merasa cukup, Emma menyerahkan kembali cangkir itu kepada Damian.
“Nih. Sekarang giliranmu.”
Damian menerima cangkir tersebut. Sebelum meminumnya, ia sempat menatap Emma yang masih mengamati wajahnya dengan rasa penasaran.
Damian mendengus pelan, lalu mengangkat cangkir itu ke bibirnya. Tanpa ragu, ia meminum sisa darah yang telah bercampur dengan darahnya sendiri hingga tidak tersisa setetes pun.
Begitu cangkir itu kosong, tetua mengangkat kedua tangannya.
“Dengan darah yang telah dipersatukan, ikatan kuno antara Pangeran Damian dan Nyonya Emma kini resmi dimulai!”
Suara tetua menggema di seluruh aula.
Lilin-lilin merah di sekeliling altar mendadak bergetar, sementara cahaya bulan purnama yang menembus jendela tinggi menyinari tubuh Emma dan Damian. Cahaya keperakan itu perlahan menyelimuti keduany.
Emma terperanjat ketika merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangannya yang terluka.
“Damian … tanganku kenapa?”
Damian segera meraih tangannya, memperhatikan cahaya samar yang muncul di sekitar luka tersebut.
“Tenang. Itu tanda ikatan kita telah terbentuk.”
Emma menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Damian.
Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah suaminya tanpa topeng, tanpa rahasia yang menutupi sebagian dirinya.
Dan entah mengapa, di tengah cahaya bulan yang menyaksikan ritual mereka, Emma justru merasa bahwa malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭