"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
"Arin! Cepat keluar kamu!"
Arin buru-buru mematikan kran, dia tidak jadi berwudhu, Arin buru-buru membuka pintu.
"Ada apa mas?"
Aga melemparkan sebuah tespek yang masih terbungkus rapi ke arah Arin.
"Apa maksud kamu beli ini ha? Kamu mau ibu maksa aku sentuh kamu!"
"ini bukan ....."
"Bukan apa? kamu sudah saya beri tahu sejak awal kan? Pernikahan ini hanya demi ibu, kenapa kamu tidak mengerti!"
Aga melempar tespek itu ke lantai dengan keras, Aku sampai memejamkan mata. amarah Aga begitu meluap-luap membuatku tidak berani berbicara apapun.
Hati yang masih menganga penuh luka, kini bak di beri air garam. Dia sama sekali tidak menghargai diriku sebagai istrinya sama sekali. Bisakah dia bertanya dengan nada pelan? kenapa dia tidak memberiku kesempatan untuk bicara?
"Maaf mas"
Jawabku singkat, menjelaskan juga percuma, aku bergegas kembali ke kamar mandi, aku mandi sambil menahan tangis. Rasanya dada ini seperti di desak batu besar, rasanya begitu sesak hingga membuat ku sulit bernafas.
Ku ambil air wudhu agar hati ini tenang, aku keluar dari kamar mandi, Mas Aga langsung masuk bergantian dengan ku. Aku mengambil al Qur'an kecil ku yang ku simpan di belakang buku-buku Mas Aga. Jika dia tahu dia pasti marah, karena aku menaruh barangku di tempatnya, tapi ini al Qur'an, aku tidak mungkin menaruh nya di dalam koper kecil ku.
Aku ambil buku besar yang ada sofa, ku pakai mukena ku, aku mulai membaca Alqur'an dengan suara lirih, Mas Aga tidak suka aku berisik di kamarnya, jadi aku selalu memakai buku besar ini untuk menutupi al Qur'an kecil yang ku baca.
Hanya dengan ini aku menenangkan diri, hanya dengan membacanya hati ini bisa tenang.
Sambil menunggu adzan Maghrib, aku terus membaca Al Qur'an.
Ku lirik Mas Aga yang sudah rapi keluar dari kamar mandi. Dia mengambil ponsel yang aku lihat tadi.
Ku lihat dia tersenyum begitu lebar saat membaca pesan di ponsel itu, hati ini kembali nyeri melihat nama Bidadari di kontak ponsel itu. Hatiku kembali tak tenang. Mas Aga sengaja keluar ke teras kamar dan menutup pintu saat dia menelfon bidadari nya.
Hati mas Aga sudah terisi wanita lain, apa aku masih bisa masuk ke sana? Apa itu mungkin? Lalu untuk apa aku jadi istrinya? Dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini.
Hatiku semakin pilu, tidak tahu sampai kapan semua ini akan berakhir.
****
"Di mana pakaian dalamku?"
Mas Aga bertanya dengan begitu kesal, dia menatap ku nyalang saat melihat lemari kecil yang biasa terisi pakaian dalamnya berganti dengan baju ku. Sebelum nya, meski aku yang selalu mengurus semua pakaiannya, tapi aku tidak pernah mengotak-atik barang-barang miliknya. Aku segera menunjukkan di mana tempat dalaman itu.
Kemarin Ibu masuk ke kamar kami, Ibu melihat koper kecil milik ku yang sedikit terbuka, Ibu bisa melihat ada beberapa baju ku ada di sana.
"Lo itu koper kamu kan Rin? kenapa bajunya nggak di masukin ke lemari?" Tanya ibu membuat aku gelagapan, pasalnya mas Aga tidak pernah mengizinkan baju ku bercampur dengan bajunya, dia tidak memberiku ruang di lemari bajunya sama sekali. Jadi koper itu aku gunakan untuk lemari ku, sebagian masih di kamar toko kue, tiap Minggu aku selalu mengganti isinya saat ibu sedang keluar.
Hari ini aku benar-benar terkejut saat ibu tiba-tiba masuk ke kamar ini, aku bingung ingin menjawab apa.
"Kog ngalamun lagi Rin? Ada masalah ya?"
"eee tidak Bu, Lemari Mas Aga kurang besar, jadi sebagian baju Arin tidak bisa masuk, jadi Arin pakai itu aja"
Mendengar itu ibu langsung memeluk ku, dia langsung mengajak ku ke Mall.
"Kenapa tidak bilang? Harusnya dari awal kamu bilang sayang. Aga benar-benar tidak peka pada istri, Ayo ke Mall sekarang. Maaf ya ibu tidak mengecek dari awal, jadi kamu harus mengalah begini"
Aku merasa lega karena ibu percaya dengan ucapan ku, kamipun ke mall membeli lemari dan beberapa baju untuk ku. Ibu juga membelikan baju beberapa baju dinas malam, agar aku bisa lebih menggoda mas Aga. Aku menerimanya dengan hati hancur. Entah Mas Aga akan marah atau tidak jika melihat baju ini nantinya.
Memiliki mertua yang perhatian pada menantunya benar-benar suatu keberuntungan. Jika saja sikap mas Aga sama seperti ini, aku pasti sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia.
"Kembalikan barang-barang ku ke tempat semula!"
Ucapan Mas Aga cukup keras, seperti biasa dia sama sekali tidak melihat ku yang hampir menangis karena bentakan nya. Tidak bisakah dia berkata dengan nada lebih rendah? Kenapa selalu membentak seperti aku ini adalah musuhnya? Aku ini istrinya yang sah. Tidak bisakah dia menghargai ku sedikit saja. Aku sudah melakukan banyak hal untuknya, mengurusnya, mengurus rumahnya, bahkan mengurus Ibunya. Tidakkah dia bisa menghargai itu dengan sedikit bersikap halus padaku? Aku juga manusia biasa yang punya hati.
"Aku...."
"Cepat pindah!"
Aku akhirnya mengagguk pasrah, seperti biasa dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan jika semua ini kemauan Ibunya.
Aku mengeluarkan semua bajuku yang ada di lemari kecilnya dan memindahkan pakaian dalamnya kembali ke sana. Aku memindahkan ini karena aku ingin dia yang menempati lemari baru pembelian ibunya, aku tidak menyangka dia justru marah karena ini.
Untung saja baju dinas malam itu aku simpan di kamar toko kue, kalau sampai mas Aga melihatnya, pasti dia akan semakin murka. Aku tidak tahu apa aku berani memakainya di depan mas Aga. Melihat sikapnya saja aku sudah melempem dan Ciut hati, yang ada bukannya dia tergoda, dia mungkin akan mengeluarkan aku dari kamarnya ini, mengunci ku di luar, di teras kamar yang begitu dingin.
Saat aku memindahkan barang-barangnya ke tempat semula, aku melihat ada panggilan telfon di ponselnya, dia lagi-lagi langsung ke teras kamar kami, mengunci pintu dari luar.
Aku kembali menangis, setiap ingat nama Bidadari di ponsel itu, hati ku selalu resah dan takut. Aku tidak punya apapun yang bisa dia banggakan, aku bukanlah penghafal Al-Quran, bukan pula gadis berjilbab seperti wanita yang dia idamkan, apa suatu saat nanti dia mau memilihku? Bahkan setelah apa yang aku korbankan, dia sama sekali tidak pernah melihatku. Dia selalu menganggap ku tidak ada.
Aku tidak boleh terus menerus begini, aku harus melangkah maju, jika tidak bisa ku miliki makan aku akan mundur. Sepertinya aku harus menemui Bidadari itu. Dia harus tahu kalau Mas Aga sudah punya istri, aku tidak mau hidupku sia-sia begini.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...