Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8: BESOKNYA - OPERASI KAMAR 303
Jam 07.00 pagi. Azan subuh sudah lama habis. Matahari Seruyan sudah panas.
Aku tidak tidur sama sekali.biasanya aku adalah orang yang paling takut meninggal kan ibadah,tapi saat ini hatiku terkunci rapat dengan kejadian itu,disaat Tuhan belum memberi keadilan kepadaku,aku akan tetap berdosa dijalan nya untuk membongkar satu persatu orang munafik itu yang sudah menghancurkan mimpi mimpiku!
Di dinding kos pink pudar, 4 nama pakai lipstik merah masih basah, mengkilap kena sinar matahari pagi:
Kyai Rahman
Ustadz Mahmud
H. Suryadi
Kyai Abdullah
Di bawah 4 nama itu, ada tumpukan abu hitam dari kerudung hijau ku yang semalam aku bakar di atas mangkok mie.
Mami Asih bangun duluan. Dia sudah mandi, sudah pakai daster bersih, sudah masak nasi goreng dari sisa nasi semalam. Padahal semalam dia yang paling gemetar.
"Alia, sini makan dulu. Hari ini kamu butuh tenaga. Hari ini kita main di kandang harimau," kata Mami.
"Main gimana, Mi?" tanyaku. Aku masih pakai tanktop hitam yang sama. Bau oud Ustadz Mahmud sudah hilang, ganti bau asap kerudung terbakar.
Mami taruh piring nasi goreng di lantai. Dia buka HP retak nya.
Ada chat baru dari resepsionis Hotel Melati. Foto KTP.
H. SURYADI. Kuala Pembuang. Check-in hari ini jam 14.00. Kamar 303. Pesan 1 LC baru. Minta yang masih perawan desa. Umur 20.
Tanganku yang pegang sendok berhenti.
H. Suryadi. Kepala Dinas Pendidikan. Orang yang tanda tangan beasiswa tahfidz ku 2 tahun lalu. Orang yang ibu ku sujud syukur karena anaknya dapat sekolah gratis di Ponpes Al-Hidayah.
Orang itu sekarang pesan LC perawan desa di kamar 303.
Mami lihat foto KTP itu lama.
"Alia, kamu kenal ibu kamu masih di Kuala Pembuang, kan?
Aku mengangguk.
"Bagus. Itu yang bikin dia ketar-ketir nanti. Karena kamu bukan LC random buat dia. Kamu Laila. Anak asuh beasiswa nya."
Mami ambil sesuatu dari bawah kasur. Kotak kecil hitam.
Di dalamnya: CCTV kancing kedua. Masih baru. Baterai masih penuh. Plus 1 flashdisk kecil warna merah.
"Ini flashdisk isinya 23 foto bukti korban pelecehan Kyai Rahman dan bukti rekaman cctv saat kamu bersama ustad Mahmud dihotel kemaren. Korban 23 orang itu sudah tersimpan di flashdisk ini.
Mami kasih flashdisk itu ke tanganku. Dingin.
"Hari ini, Alia tidak jadi LC. Hari ini Alia jadi wartawati. Kamu masuk kamar 303 jam 14.00 pakai seragam SMA. Seragam putih abu-abu yang masih kamu simpan di tas itu. Kamu bilang kamu Laila. Anak beasiswa Ponpes Al-Hidayah yang dulu dia bantu. Kamu bilang kamu butuh uang buat ibu kamu sakit. Lihat reaksi dia."
"Kalau dia maksa belai gimana, Mi?" tanyaku, jantung ku mulai degup kencang lagi seperti di kamar 203.
"Jangan dilawan. Sama kayak kemarin. Senyum aja. Suruh dia mandi dulu. Tapi kali ini beda. CCTV kancing ini Mami pasang di kancing seragam putih mu. Paling atas. Jadi semua kerekam jelas. Dan flashdisk merah ini, kamu taruh di meja. Bilang ini titipan Kyai Abdullah buat dia."
Aku paham. Ini bukan jebakan syahwat. Ini jebakan psikologi.
Seorang pejabat yang ketahuan pesan LC perawan desa, ternyata LC itu adalah anak beasiswa yang dulu dia bantu, yang dia tahu ibunya masih ngaji. Dan di meja ada bukti 23 foto korban Kyai Rahman yang dia kenal.
Dia pasti panik. Orang panik pasti ngaku. Pasti telepon Kyai Abdullah.
Dan telepon itu akan kerekam CCTV kancing di seragam putih ku.
Jam 13.30. Hotel Melati.
Aku di parkiran belakang lagi. Tapi kali ini tidak pakai tanktop hitam. Aku pakai seragam putih abu-abu SMA yang sudah 2 tahun tidak ku pakai. Rok abu-abu ku panjang sampai mata kaki. Kerudung putih ku pakai lagi, tapi tidak ku pakai seperti Laila dulu. Ku pakai asal, rambut depan kelihatan.
Di saku rok ku, flashdisk merah. Di kancing seragam putih ku yang paling atas, CCTV kancing kedua mengedip merah pelan, tidak kelihatan.
Mami di motor Mio merah, masih nyala.
"Ingat, Alia. Motor Mami nyala terus. Di parkiran belakang. Kalau sudah dapat teleponnya, langsung bilang mau ke kamar mandi, terus lari ke sini. Jangan tengok belakang. Mami tunggu kamu. Selalu."
Aku mengangguk. Air mata ku jatuh, tapi bukan karena takut. Karena untuk pertama kali setelah 2 tahun, aku pakai seragam putih lagi. Seragam Laila.
Aku jalan masuk lewat pintu belakang Hotel Melati. Menuju kamar 303.
Di lobi, resepsionis yang semalam Mami sogok kasih kode: jempol. Artinya H. Suryadi sudah di kamar 303.
Aku naik tangga. Tidak pakai lift. Langkah ku pelan.
Sampai di depan pintu 303. Pintu kayu coklat yang catnya mengelupas.
Aku ketuk. TOK TOK TOK.
Dari dalam, suara berat: "Masuk! Gak dikunci!"
Aku buka pintu.
Di dalam, H. Suryadi duduk di sofa. Baju batik pejabat, peci hitam, perut buncit, jam tangan emas besar. Bau parfum mahal menyengat, beda sama oud Ustadz Mahmud.
Dia lihat aku. Dari atas sampai bawah. Dari kerudung putih ku yang miring sampai rok abu-abu panjang ku.
Senyumnya langsung hilang.
Matanya melotot.
"LAILA?!"
Dia kenal aku.
Dia berdiri. Peci hitamnya hampir jatuh.
"Kamu... kamu kan anak beasiswa Ponpes Al-Hidayah Sukamandang... yang hafizah itu... yang kata Kyai Abdullah gila..."
Aku tidak jawab. Aku tutup pintu pelan. Aku kunci dari dalam.
Aku lihat ke kancing seragam putih ku. Lampu merah kecil itu masih kedip. Merekam.
Aku taruh flashdisk merah di atas meja, di depan dia.
"Pak Haji, ini titipan Kyai Abdullah buat Bapak. Katanya ada 23 foto. Bapak kenal semua, kan?"
Wajah H. Suryadi yang tadinya merah karena kaget, sekarang pucat seperti mayat.
Dia lihat flashdisk merah itu seperti lihat bom.
Di luar, di parkiran belakang, motor Mio merah Mami masih nyala.
Menunggu Alia keluar dari peran Laila lagi.