Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Jejak Tersembunyi di Singapura
Kemenangan telak Aira di depan dewan komisaris menyebarkan gelombang keheningan yang disegani di seluruh penjuru Aristha Tower. Para pejabat senior yang sebelumnya meragukan kapasitas gadis itu kini bersikap jauh lebih hormat. Di mata mereka, Aira bukan lagi sekadar gadis beruntung yang memikat hati sang CEO, melainkan seorang permaisuri cerdas yang sanggup berdiri sebagai benteng pertahanan perusahaan di saat krisis.
Namun, ketenangan setelah rapat dewan komisaris itu hanya berlangsung singkat.
Sore itu, hujan deras mengguyur ibu kota, menciptakan riak-riak air di sepanjang jendela kaca raksasa ruang kerja Reynand. Lampu-lampu ruangan menyala bernuansa hangat, menciptakan suasana privat di tengah hiruk-pikuk kesibukan lantai eksekutif.
Aira duduk di meja kerjanya, merapikan beberapa salinan dokumen audit terpisah yang diserahkan oleh tim analisis internal. Di seberang ruangan, Reynand berdiri di dekat meja seduh kopi, menuangkan cangkir teh chamomile hangat untuk Aira. Pria itu melepaskan jas mewahnya, menyisakan kemeja putih yang sedikit terlipat di bagian lengan, memancarkan pesona maskulin yang begitu memikat.
Reynand melangkah mendekati Aira, meletakkan cangkir teh hangat itu di samping laptop Aira, lalu menyandarkan tangannya di sandaran kursi tempat Aira duduk.
"Istirahatlah sebentar, Aira," bisik Reynand lembut di dekat telinganya. "Kamu sudah bekerja tanpa henti sejak pagi."
Aira mendongak, menyunggingkan senyum hangat. "Aku hanya ingin memastikan tidak ada celah sekecil apa pun dalam berkas proyek pelabuhan ini, Reynand. Clarissa bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja setelah kekalahannya di depan komisaris."
Reynand membungkuk sedikit, mendaratkan kecupan hangat di pipi Aira yang merona. Lengan kekarnya merengkuh bahu Aira dari belakang, memberikan kehangatan yang amat menenangkan.
"Kamu terlalu pintar, Calon Istriku," ujar Reynand dengan suara baritonnya yang berat. "Dugaanmu tepat. Clarissa memang sedang menyiapkan gerakan baru."
Aira menoleh, memandang manik mata hitam Reynand yang pekat. "Gerakan apa lagi yang sedang ia rencanakan?"
Reynand menegakkan tubuhnya, lalu mengambil sebuah kilas peta digital dari ponselnya dan menunjukkannya pada Aira.
"Tim intelijen internal kita di Singapura baru saja melaporkan bahwa Clarissa secara rahasia mengadakan pertemuan dengan perwakilan konsorsium perbankan Eropa," terang Reynand dengan raut wajah yang mengeras. "Dia mencoba membekukan jalur kredit internasional yang biasa digunakan Aristha Group untuk mendanai pembebasan lahan tahap dua di Singapura."
Aira menahan napas sejenak. "Jika jalur kredit itu dibekukan sepihak sebelum dokumen adendum ditandatangani, kita akan mengalami kemacetan likuiditas proyek dalam dua minggu ke depan..."
"Benar," pangkas Reynand tajam. "Clarissa ingin memaksa kita berlutut dan memohon negosiasi ulang dengan Vancorp. Dia mengincar celah waktu sebelum pengumuman resmi pernikahan kita."
Aira berdiri dari kursinya, menatap Reynand lekat-lekat. Tidak ada raut ketakutan di wajah cantiknya, hanya ada binar tekad yang membara.
"Kalau begitu, kita harus berangkat ke Singapura secara langsung," sahut Aira mantap. "Kita temui jajaran direksi konsorsium bank itu sebelum Clarissa berhasil menghasut mereka dengan dokumen palsunya."
Reynand menatap Aira dengan pendar rasa kagum yang luar biasa. Pria itu melangkah maju, meraih pinggang Aira dan menariknya rapat ke dalam pelukannya. Jemari kokoh Reynand mengelus lembut rambut hitam Aira yang terurai.
"Perjalanan ke Singapura akan penuh dengan jebakan dan intrik dari Clarissa, Aira," bisik Reynand, menatap lurus ke dalam mata Aira dengan raut protektif. "Dia mungkin akan melakukan segala cara untuk menyudutkanmu di sana."
Aira mengulas senyum anggun, menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Reynand yang berdetak stabil. "Selama aku pergi bersama suami dan CEO-ku, aku tidak punya alasan untuk takut pada siapa pun, Reynand."
Mendengar sebutan 'suami' yang diucapkan Aira secara spontan, sudut bibir Reynand terangkat membentuk senyuman tampan yang sangat memikat. Ia menundukkan wajahnya, memagut bibir Aira dalam sebuah ciuman hangat penuh gairah dan kelembutan—sebuah janji tersirat bahwa ia akan mempertaruhkan seluruh harta dan nyawanya untuk melindungi wanita tercintanya di medan pertempuran Singapura mendatang.