NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.

‎Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, tepat saat pergantian jadwal *shift* para pengawal di area belakang mansion. Dalam kegelapan kamar, Ruby mengikat tali sepatunya dengan tangan yang gemetar hebat. Dadanya bergemuruh, bukan hanya karena takut pada pekatnya malam, tapi juga memikirkan nasib pelayan tua yang mempertaruhkan keselamatan demi membantunya.

‎Langkah kaki Ruby sangat pelan saat menuruni tangga service menuju area dapur. Di sana, Bi Sumi sudah menunggu dalam bayang-bayang dengan wajah pucat pasi.

‎"Non... jantung Bibi rasanya mau copot," bisik Bi Sumi serak, menyerahkan sebuah kunci besi kecil yang diambilnya dari dinding.

"Pengawal di area luar lagi jalan ke pos depan buat ganti *shift*. Non punya waktu nggak sampai lima menit."

‎Ruby meremas jemari Bi Sumi yang dingin. "Bi, makasih banyak. Kalau terjadi apa-apa setelah ini, Bibi bilang aja Ruby yang curi kuncinya. Jangan sampai Kavano tahu Bibi bantuin Ruby."

‎"Nggak usah mikirin Bibi, Non! Ayo cepat pergi!" desak Bi Sumi dengan mata berkaca-kaca.

‎Dengan napas tertahan, Ruby memutar kunci pada engsel pintu belakang. *KLIK.* Suara denting besi itu terdengar bagai dentuman keras di telinganya. Perlahan, ia mendorong pintu dan menyelinap keluar menembus dinginnya udara malam menuju area taman belakang yang mengarah ke pagar samping.

‎Baru saja langkah kaki Ruby menginjak rumput basah, mendadak lampu tembak berdaya tinggi di sekeliling taman menyala serentak, menerangi seluruh area dengan cahaya putih menyilaukan.

‎"Mau ke mana , hah?!"

‎Suara berat dan dingin itu menggelegar dari arah teras atas. Ruby membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir saat ia menoleh dan mendapati Kavano berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada dengan senyum iblis yang sangat mengerikan. Di sampingnya, beberapa pengawal bertubuh tegap sudah mengepung setiap sudut jalan keluar.

‎"K-kavano..." cicit Ruby, langkahnya mundur berantakan hingga ia terjatuh ke rumput.

‎"Dasar ceroboh." Kavano berjalan menuruni tangga perlahan, tiap langkahnya terdengar bagai vonis mati. "Kamu pikir Aku nggak tahu pergerakan kamu selama dua hari ini? kamu pikir Aku bodoh?!"

‎"Jangan mendekat!" jerit Ruby histeris, mencoba bangkit dan berlari, tapi dua pengawal langsung mencengkeram kedua lengannya dengan kasar.

‎"Lepasin! Lepasin!" teriak Ruby menendang-nendang udara.

‎Kavano melangkah makin dekat, matanya menyalang merah dikuasai amarah yang meluap-luap. Tanpa memberi ampun, satu pukulan keras mendarat di wajah Ruby.

‎*Brak!*

‎Ruby tersungkur ke tanah. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya. Belum sempat ia bernapas, Kavano mencengkeram rambutnya, menjambaknya ke atas hingga kepala Ruby mendongak paksa.

‎"Berani kabur?!" bentak Kavano murka, menghempaskan kepala Ruby ke dinding tembok pembatas. *BUK!*

‎"Aaghh!" jerit Ruby kesakitan luar biasa. Pandangannya langsung kabur dan berbayang.

‎Kavano memukul, menendang, dan menyeret tubuh Ruby di atas tanah berkerikil tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Gesekan kasar merobek kulit lengan dan kakinya, meninggalkan luka goresan panjang yang bercucuran darah segar. Tak puas sampai di sana, Kavano membenturkan wajah Ruby ke lantai marmer teras berkali-kali sampai jeritan gadis itu perlahan berubah menjadi rintihan halus yang tak jelas.

‎Wajah cantik itu kini hampir tak berupa dan bengkak, penuh lebam kebiruan, dan berlumuran darah yang mengalir dari pelipis serta hidungnya.

‎Di sudut pintu dapur yang terkuak sedikit, Bi Sumi terduduk di lantai sambil membekap mulutnya sendiri. Air matanya mengalir deras tanpa henti, tubuhnya bergetar hebat menyaksikan penderitaan mengerikan yang dialami Ruby.

‎"Ya Tuhan... Non Ruby... maafin Bibi..." rintih Bi Sumi dalam tangisnya yang tanpa suara. "Harusnya Bibi nggak kasih tahu... harusnya Bibi nggak bantu... ini semua salah Bibi..."

‎"Tolong... Ka-vano... ampun..." bisik Ruby sangat lirih di antara kesadarannya yang kian menipis. Sekujur tubuhnya terasa patah dan hancur, rasa sakit menyerangnya dari setiap sudut kulit dan tulang.

‎Kavano menghentikan aksinya, berdiri menjulang di atas tubuh Ruby yang tergeletak tak berdaya bagai bangkai di atas genangan darahnya sendiri. Pria itu menatapnya tanpa penyesalan, hanya ada kepuasan kejam di matanya.

‎"Ini akibatnya kalau mencoba main-main dengan ku" bisik Kavano dingin tepat di samping telinga Ruby yang bersimbah darah. "kamu tidak akan pernah bisa keluar dari sini."

‎Tubuh Ruby yang bersimbah darah dibiarkan tergeletak kaku di lantai dingin kamar yang dikunci rapat dari luar. Tanpa pengobatan, tanpa selimut, gadis itu terbaring tak sadarkan diri dalam kondisi kritis. Amarah Kavano telah mengubur sisa kemanusiaannya; ia sengaja membiarkan "mainannya" membusuk dalam penderitaan sebagai hukuman atas keberaniannya mencoba kabur.

‎Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti tepat di pelataran depan mansion. Kavano yang sedang berada di ruang tengah langsung berdiri tegap. Wajahnya yang biasa dingin mendadak dihiasi senyum kebanggaan yang sangat jarang terlihat.

‎Sosok yang baru saja tiba adalah pria berpengaruh yang amat disanjung dan dihormati Kavano. seorang konglomerat tersohor penguasa imperium bisnis sekaligus figur yang sangat ditakuti di dunia bawah tanah.

‎Pintu depan terbuka. Pria itu melangkah masuk dengan setelan jas hitam elegan, didampingi tangan kanannya yang berjalan tegap di sampingnya. Aura penekanan dan dominasi yang dibawanya seketika memenuhi seluruh ruangan.

‎"Sebuah kehormatan besar Anda berkenan hadir di kediaman saya," sambut Kavano dengan nada sangat sopan, membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk penghormatan.

"Suatu kebanggaan luar biasa, Tuan."

‎Pria itu menghentikan langkahnya, menatap Kavano dengan iris mata yang amat dingin dan sukar ditebak. "Saya sedang berada di area ini untuk meninjau beberapa properti, lalu teringat kabar pernikahanmu."

‎"Ah, iya," jawab Kavano dengan terkekeh bangga, merasa posisinya makin terpandang di mata pria tersebut. "Terima kasih atas perhatian Anda. Suatu kehormatan jika Anda mau meluangkan waktu sejenak di sini."

‎"Di mana istrimu?" tanya pria itu datar, menyapu pandangan ke sekeliling hall mansion yang megah namun terasa mencekam. "Frans memberitahu saya bahwa pernikahanmu baru saja digelar. Saya ingin melihat wanita yang berhasil menjadi pendamping seorang Kavano Benedict."

‎Ekspresi Kavano sedikit kaku untuk sepersekian detik, namun ia dengan cepat menguasai diri. "Dia... sedang agak kurang sehat, Tuan. Masih istirahat di kamar."

‎"Begitu?" Pria itu menaikkan satu alisnya, menatap Kavano dengan sorot mata tajam yang seolah sanggup menguliti setiap kebohongan. "Justru karena dia sedang sakit, tidak ada salahnya saya menyapa sekadar memastikan kondisinya. Lagipula, saya membawakan sedikit hadiah pernikahan untuk kalian."

‎Tangan kanan pria itu melangkah maju satu langkah, membawa sebuah kotak beludru hitam di tangannya.

‎Kavano mulai merasa sudut-sudut keningnya dingin. Ia tidak mungkin menolak permintaan sosok yang amat ia hormati dan takuti ini tanpa terkesan lancang. Dengan senyum paksanya, Kavano terpaksa mengangguk.

‎"Tentu, Tuan. Mari, saya antarkan langsung ke kamarnya," ujar Kavano penuh kehati-hatian, tanpa menyadari bahwa langkah kaki yang dipandunya menuju kamar atas adalah awal dari terkuaknya kebusukan yang telah ia sembunyikan.

‎Frans memang dengan sengaja merahasiakan transaksi kotor pelunasan utang lima puluh miliar tersebut di depan bosnya. Sebagai asisten yang licik namun rapi, ia hanya melaporkan bahwa Kavano telah melangsungkan pernikahan resmi demi menjaga nama baik dan citra keluarga di mata sosok penguasa tertinggi itu.

‎Langkah kaki Kavano yang mantap terdengar bergaung di sepanjang koridor lantai dua, memandu sang tamu terhormat beserta tangan kanannya. Namun, saat tinggal beberapa langkah lagi dari pintu kamar Ruby, Kavano mendadak menghentikan langkahnya. Otaknya memutar alibi dengan cepat, ia tidak boleh membiarkan sosok di sampingnya ini melihat wanita yang babak belur berlumuran darah di dalam sana.

‎"Tuan, mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar Kavano sambil memutar tubuhnya, memasang raut wajah penuh penyesalan yang sangat halus. "Saya baru ingat, kondisi istri saya sedang sangat sensitif dan ditangani dokter khusus secara intensif. Saya khawatir kehadiran kita justru akan mengganggu waktu istirahatnya yang sangat krusial."

‎Pria berjas hitam itu menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menatap Kavano selama beberapa detik, menciptakan keheningan yang sangat menegangkan.

‎"Begitu?" sahut pria itu datar. Ia lalu memberi isyarat pelan pada tangan kanannya. "Kalau begitu, letakkan hadiahnya di meja koridor ini. Kita tidak perlu mengganggunya."

‎Kavano bernapas lega di dalam hati. "Terima kasih banyak atas pengertian Anda, Tuan. Mari, kita lanjutkan berbincang di ruang tamu bawah."

‎Di sudut lorong dekat tangga service, Bi Sumi memperhatikan pergerakan mereka dari balik pilar. Melihat seluruh pengawal dan perhatian Kavano teralih sepenuhnya untuk mengawal tamu agung itu kembali ke lantai dasar, Bi Sumi tahu ini adalah satu-satunya kesempatan emas yang dikirimkan Tuhan.

‎Dengan tangan yang gemetar hebat, Bi Sumi berlari kecil menghampiri pintu kamar Ruby. Ia mengeluarkan kunci cadangan yang sengaja ia sembunyikan di dalam saku celemeknya, lalu memutarnya dengan cepat.

*KLIK.*

‎Pintu terbuka. Bau amis darah langsung menyengat hidung Bi Sumi. Hatinya hancur mendapati Ruby tergeletak kaku di lantai dingin dengan wajah yang memar parah dan pakaian yang robek bersimbah darah.

‎"Non... Non Ruby! Bangun, Non!" bisik Bi Sumi histeris tanpa suara, berlutut dan menepuk pelan pipi Ruby yang bengkak.

‎Mata Ruby yang bengkak terkuak sedikit. "B-bi..."

‎"Dengarkan Bibi, Non! Tuan Kavano lagi di bawah sama tamunya. Semua pengawal lagi jaga di depan!" desak Bi Sumi dengan air mata bercucuran. "Ini kesempatan terakhir Non. Mobil tamu itu terparkir di pintu samping dekat bagasi luar. Non harus sembunyi di dalam bagasi belakang mobil itu!"

‎Ruby mengumpulkan sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya yang hancur. "Tapi... Bi... tubuh Ruby..."

‎"Harus kuat, Non! Ayo!" Bi Sumi merangkul tubuh ringkuh Ruby, memapahnya berdiri.

‎Setiap pijakan kaki terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum. Di sepanjang lorong belakang hingga menuruni tangga darurat, tubuh Ruby sesekali ambruk karena pandangannya yang kabur dan kakinya yang gemetar hebat. Namun Bi Sumi dengan sigap menahan tubuh.Gadis itu, terus menyemangatinya lewat bisikan doa.

‎"Dikit lagi, Non... dikit lagi..."

‎Mereka berhasil menyelinap keluar menuju area parkir samping. Salah satu mobil sedan mewah hitam milik rombongan tamu tersebut tampak sedikit terbuka di bagian bagasi belakang, sepertinya baru saja digunakan tangan kanannya untuk mengambil dokumen.

‎Dengan sisa napas dan benturan rasa sakit yang luar biasa di sekujur badannya, Ruby merangkak naik ke dalam bagasi mobil yang gelap itu. Tubuhnya yang penuh lebam dan goresan darah meringkuk pasrah di antara tumpukan barang.

‎"Selamatin diri Non Ruby... jangan pernah kembali lagi ke sini," bisik Bi Sumi penuh haru sebelum menutup pintu bagasi perlahan hingga terkunci rapat.

‎Obrolan di ruang tamu bawah tak berlangsung lama. Pria itu hanya menyampaikan beberapa poin penting terkait ekspansi bisnis properti sebelum akhirnya berdiri dan merapikan jasnya.

Kavano mengantarnya hingga ke pintu depan dengan sikap penuh penghormatan, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam bagasi mobil mewah yang perlahan bergerak meninggalkan halaman mansionnya, ada tubuh Ruby yang kritis dan bersimbah darah.

Di dalam kegelapan bagasi mobil milik sang penguasa misterius itu, Ruby memejamkan mata dalam kepasrahan total. Deru mesin mobil yang mulai menyala di luar menandakan roda nasibnya kini telah berputar menuju ketidakpastian yang baru.

‎Begitu deru mesin mobil tamu agungnya menghilang di balik gerbang utama, senyum ramah di wajah Kavano luntur seketika. Raut wajahnya kembali dingin dan bengis. Pria itu memutar badan, melangkah lebar menuju lantai dua untuk mengecek "mainan" yang sengaja ia kurung.

‎*Srett!*

‎Kavano membuka pintu kamar dengan kasar. Namun, pandangannya justru disambut oleh lantai yang kosong. Hanya ada genangan darah mengering yang ditinggalkan Ruby. Gadis itu tidak ada di mana pun.

‎"Bangsat!" murka Kavano, suaranya menggelegar memenuhi seluruh koridor.

‎Ia menggeledah kamar mandi, membalikkan kasur, hingga melempar lemari kecil ke dinding. Kosong. Ruby benar-benar lenyap. Dengan luka separah itu, tidak mungkin Ruby bisa membuka pintu yang terkunci dari luar dan lolos begitu saja tanpa bantuan orang dalam.

‎Mata Kavano menyipit tajam. Otaknya langsung tertuju pada satu nama.

‎"BI SUMI!" teriak Kavano murka, langkah kakinya berdentum keras saat menuruni tangga menuju dapur.

‎Di dapur, Bi Sumi berdiri menunduk dengan tubuh gemetar hebat. Ia sudah tahu hari ini akan tiba, dan ia telah bersiap menerima takdirnya demi keselamatan Ruby.

‎Kavano menyambar kerah celemek Bi Sumi, menarik pelayan tua itu hingga terangkat dan menghempaskannya ke lantai marmer dengan kasar.

‎"Di mana dia?!" bentak Kavano, matanya memerah dikuasai amarah yang membakar. "Kamu yang buka pintunya, kan?! kami yang ngebantu cewek brengsek itu kabur?!"

‎Bi Sumi terbatuk, memegangi dadanya yang kesakitan, namun ia menggeleng kuat-kuat dengan air mata menetes. "S-saya nggak tahu, Tuan... saya nggak tahu..."

‎"Bohong!" sergah Kavano gila. Ia menendang kursi di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. "Nggak ada orang lain di rumah ini yang berani bantuin dia selain kamu!"

‎Kavano mencengkeram rambut Bi Sumi, memaksanya mendongak. "Kamu pikir karena sudah tua, Saya bakal kasihan?! Kamu sudah berani main-main sama saya, Bi!"

‎Kavano menyeret pelayan tua itu menuju ruang bawah tanah yang gelap dan dingin. Jeritan dan rintihan ampun dari Bi Sumi menggema di koridor mansion, namun hati Kavano sudah sepenuhnya tertutup oleh rasa murka dan harga diri yang terinjak-injak. Di tempat terisolasi itu, Bi Sumi harus membayar mahal keberaniannya, menerima siksaan dan hukuman kejam dari Kavano karena telah menerbangkan burung dalam sangkarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!