Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 28
Desir angin di antara kerapatan daun pakis mendadak mati total. Sebelum Ruan Xi'er sempat melompat ke dahan yang lebih tinggi untuk mengambil posisi, sepasang mata merah darah Babi Hutan Berduri di dalam kubangan itu berkilat liar. Penciuman tajam binatang buas berdarah murni tersebut rupanya sanggup menangkap hawa ancaman asing yang menyusup di antara aroma belerang rawa.
Grrr... GROAARRR!
Raungan nyaring yang sarat akan dominasi buas meledak, menggetarkan permukaan air keruh hingga memercikkan buih-buih lumpur hitam. Tanpa ada jeda sedikit pun untuk berpikir, Babi Hutan Berduri itu tidak memilih untuk melarikan diri. Tubuh raksasanya yang dilapisi kerak lumpur setebal perisai batu mendadak melesat maju bagai meriam menggelinding, menghancurkan barikade akar bakau di hadapannya!
Rintangan akar raksasa sebesar paha manusia patah berkeping-keping diterjang moncong kerasnya. Dalam hitungan detik, binatang buas seberat empat ratus katian itu sudah menyeruduk lurus ke arah rumpun pakis tempat ketiganya bersembunyi.
"Cepat sekali!" seru Xi'er terperanjat, refleks menepuk dahan pohon untuk melompat menghindar ke udara.
Kecepatan serudukan itu benar-benar di luar dugaan. Udara di sekitar semak-semak seketika terdorong oleh angin kencang berbau kapur busuk yang memetik daun-daun pakis hingga berterbangan.
Di tengah situasi kritis di mana rencana penyergapan awal patah mendadak, Shen Jue sama sekali tidak menunjukkan kepanikan di wajahnya. Matanya yang gelap memantulkan bayangan taring putih raksasa yang kian membesar di depannya dengan ketenangan yang gila.
"Gongsun, sekarang!" perintah Shen Jue dengan suara jernih yang memotong gaung raungan musuh. "Tahan taring kirinya, jangan mundur satu tindakan pun!"
Mendengar seruan tegas Shen Jue, insting Gongsun Zhi bertindak melampaui rasa takutnya. Alih-alih melompat mundur untuk menyelamatkan diri, pemuda tegap itu justru melangkah maju satu tindakan penuh, mengentakkan kaki kirinya mendalam ke dalam tanah rawa yang licin.
Sreeet... Thuk!
Gongsun Zhi membenamkan pangkal Tombak Besi Hitam-nya ke sela-sela akar batu di bawah tanah, mengunci posisi tombaknya membentuk sudut empat puluh lima derajat. Seluruh otot di lengan, dada, dan punggungnya menegang keras, memompa energi spiritual cokelat tanah untuk melapisi batang besi tombaknya.
"Tahan!" teriak Gongsun Zhi dengan urat-urat leher yang menonjol tebal.
DUAAAARRR!
Benturan dahsyat antara massa monster empat ratus katian dengan Tombak Besi Hitam meledak hebat di udara Rawa Barat. Gelombang tekanan fisik yang tercipta meretakkan tanah basah di sekitar kaki Gongsun Zhi, menyemburkan lumpur hitam sejauh tiga meter ke udara.
Lantai rawa bergetar keras. Batang Tombak Besi Hitam melengkung tajam menahan bobot dorongan yang luar biasa, namun pangkal tombak yang terunci di akar batu serta pijakan kokoh Gongsun Zhi berhasil menghentikan laju serudukan Babi Hutan Berduri secara mendadak!
Ujung taring kiri Babi Hutan Berduri tersangkut sempurna pada celah silang antara mata tombak dan batang besi milik Gongsun Zhi.
"Ghh...!" Gongsun Zhi menggeram tertahan, kedua telapak tangannya berdarah tipis akibat gesekan keras batang tombak, namun matanya memancarkan keteguhan luar biasa. Ia tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Babi Hutan Berduri yang kebingungan karena serudukannya terhenti mendadak mulai mengamuk liar. Kepala raksasanya mengibas-ibas kasar ke kiri dan ke kanan, mencoba melempar Gongsun Zhi beserta tombaknya ke udara. Deretan duri tulang di sepanjang punggungnya bergetar keras, memancarkan bunyi gemertak mengancam.
"Xi'er, mata kirinya!" seru Shen Jue cepat dari bawah bayangan semak.
"Biar aku urus!" sahut Xi'er dari atas udara.
Tubuh lentur Xi'er meluncur turun bagai kilatan cahaya perak di antara remang kabut. Mengaktifkan kekuatan Musang Bayangan Perak-nya secara penuh, pendar cahaya perak membungkus jemari tangannya, mengubah kuku-kukunya menjadi cakar tajam yang sanggup mengoyak besi.
Sswwwt!
Xi'er mendarat tepat di atas tengkorak lebar Babi Hutan Berduri, lalu menyabetkan cakar peraknya tanpa ragu ke arah mata kiri binatang buas tersebut.
CRAAASH!
Darah segar berwarna merah pekat memuncrat tinggi membasahi lumpur. Raungan kesakitan yang teramat melengking meledak dari mulut Babi Hutan Berduri saat sabetan cakar Xi'er menghancurkan bola mata kirinya hingga buta total.
GROAARRRGH!
Rasa sakit yang luar biasa membuat binatang buas itu hilang kendali. Ia menghempaskan kepalanya ke samping kanan dengan gila-gilaan, memaksa Gongsun Zhi melepaskan cengkeraman tombaknya agar tidak ikut terlempar menghantam dinding batu.
Babi Hutan Berduri itu berdiri limbung di tengah kubangan lumpur, darah segar mengalir deras dari kelopak matanya yang hancur. Karena pandangan sebelah kirinya kini gelap gulita, fokus utamanya yang tersisa hanyalah amarah membara untuk menghancurkan apa pun yang berdiri di sekitarnya.
"Awas, Gongsun!" seru Xi'er sambil melompat kembali ke dahan atas untuk mengambil jarak.
Babi Hutan Berduri itu memutar tubuhnya yang berat secara liar, mengibaskan ekor berduri dan taring kanannya ke arah Gongsun Zhi yang sedang mencoba memulihkan pijakannya di atas tanah basah.
Namun, sebelum taring kanan yang mematikan itu sempat menyentuh jubah Gongsun Zhi, sesosok bayangan abu-abu menyusup cepat tanpa suara melalui celah buta di sebelah kiri binatang buas tersebut.
Itu adalah Shen Jue.
Langkah kakinya menapak permukaan lumpur hitam tanpa menyisakan desiran air sedikit pun. Rambut dan kerudung linen abu-abunya tertiup angin dingin saat ia merendahkan tubuhnya sangat tipis dengan tanah rawa, menyusup tepat di bawah kibasan taring musuh.
Di tangan kanan Shen Jue, belati kecil berkarat sepanjang satu jengkal telah tergenggam erat. Tidak ada pendar cahaya spiritual yang mencolok pada mata logam tua itu, namun aura dingin murni yang bersembunyi di balik ketebalan karatnya mendadak bergetar halus seirama dengan denyut nadi Shen Jue.
Mata gelap Shen Jue terkunci lurus pada satu titik di tubuh musuh—lipatan kulit lunak di balik bahu depan kiri Babi Hutan Berduri yang kini terbuka lebar akibat gerakan mengibas kepalanya yang terlalu memaksa.
Celah lunak itu berdenyut tipis, memperlihatkan alur pembuluh darah utama yang terhubung langsung ke organ jantung sang binatang buas.
"Selesai," pungkasi Shen Jue dalam batinnya dengan kedinginan absolut.