NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Sialan, Drilon," gumam Altin, matanya tertuju pada tonjolan di celana adiknya.

"Bukan apa-apa. Aku cuma sempat terbawa suasana tadi. Ayo cari perempuan sialan itu. Begitu kubunuh dia, aku balik lagi ke ruangan itu," sahut Drilon sambil melangkah cepat menyusuri koridor.

"Ketemu," kata saudara ketiga mereka dari ruang terakhir klinik.

Keluarga Meksi adalah lapisan tertinggi mafia Albania. Albania sendiri negara kecil di Semenanjung Balkan, Eropa tenggara, yang terkenal dengan pantai-pantai memukau di Riviera Albania, pegunungan megah, dan sejarah yang kaya.

Mafia Albania, atau kejahatan terorganisasi Albania, adalah gabungan organisasi kriminal berbasis klan keluarga yang pengaruhnya mendunia dalam perdagangan narkotika. Mereka menguasai sebagian besar pasar grosir kokain di Eropa. Meski negaranya bukan yang terkaya, keluarga Meksi berhasil membangun kekayaan, dan mereka membantu serta melindungi siapa pun yang setia pada mereka.

Altin, putra sulung dan calon Don mafia, adalah penerus warisan keluarga. Ia sudah dijodohkan dengan seorang perempuan yang tidak ia kenal.

Besnik, si bungsu, pemuda yang tenang dan pendiam. Sikap itu ia pakai agar tak terluka lagi. Yang ia cari hanyalah cinta, tanpa campur tangan mafia.

Dan yang terakhir, putra tengah, Drilon. Putra kedua sekaligus eksekutor mafia, yang bertugas melakukan "pembersihan".

Ia terpaksa menikahi seorang perempuan yang dibencinya, karena perempuan itu menjebaknya hingga pernikahan tak terelakkan. Ia menikah, tapi bersumpah takkan pernah menyentuh istrinya. Bertahun-tahun berlalu, Drilon tak pernah menyentuh Zara, dan itu mendorong Zara mengambil langkah nekat.

Ia membayar salah satu pelacur yang biasa tidur dengan Drilon, memberi uang dalam jumlah besar sebagai ganti salah satu kondom bekas pakai Drilon.

Ia berhasil, lalu berakhir di sebuah klinik kesuburan untuk bisa hamil anak Drilon. Drilon mengetahuinya, dan sekarang mereka ada di sini.

"Dasar perempuan sialan!" Drilon berusaha menerjang Zara.

"Tenang, Adikku." Altin menahan tubuh adiknya yang sedang murka.

"Aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan. Aku istrimu. Kamu wajib memberiku anak," kata Zara.

"Satu-satunya alasan aku belum menanam peluru di jidatmu adalah kalau ada anakku di perutmu, aku tak mau menanggung dosanya."

"Bawa dia ke benteng," perintah Altin. "Perempuan ini tak boleh keluar rumah tanpa izinku."

"Siap, Don," sahut seorang anak buah.

Ketiganya keluar dari ruangan dengan langkah lebar dan penuh amarah. Menyusuri koridor, Drilon masih mencari perempuan yang tadi dilihatnya terbaring di sana, tapi tak menemukannya lagi. Namun ia tak pernah melupakannya.

#DI RUMAH HARYO DAN RATNA#

SATU TAHUN EMPAT BULAN KEMUDIAN...

"Tendang bolanya, Jagoan," seru Erlangga pada putranya.

"Begini, Papa?" Bimo menendang bola ke arah gawang, lalu berlari merayakannya dengan mencium perut ibunya, tempat adik perempuannya sedang tumbuh.

"Cium adik kecilnya, Jagoan?" tanya Haryo.

"Namanya Alya. Aku yang pilih."

"Bagus," puji Ratna.

"Papa mana?" tanya putri Dimas.

"Dan Ayu mana?" tanya Haryo ketika melihat Dimas masuk dengan ponsel di tangan, selesai dengan satu lagi panggilan yang tidak enak.

"Dia datang minggu ini. Ibunya nggak mau aku yang jemput karena nggak mau ketemu aku, jadi temannya yang akan mengantar."

Saat itu bel pintu berbunyi, dan Dimas pergi membukanya.

"Sang bintang sudah tiba," umumnya sambil tertawa tanpa humor, begitu melihat adiknya, yang sudah mengabari bahwa ia akan pulang.

Nadira masuk, tersenyum, cantik, dengan aura bebas seseorang yang tak terikat pada satu tempat.

Dokter karena panggilan hati, pengelana karena naluri, ia membawa di matanya kisah dari tempat-tempat jauh, budaya yang berbeda, dan hidup yang dijalani tanpa belenggu.

"Aku pulang!" serunya sambil merentangkan tangan.

Ia memeluk ibu, ayah, dan kakak-kakaknya satu per satu.

"Mama kangen sekali," kata Ratna, memegang wajah putrinya.

"Aku juga."

Tapi ada yang berbeda dari Nadira, sebuah binar, sekaligus ketidaksabaran.

"Aku bawa kejutan."

"Nah, mulai deh," gumam Erlangga.

"Memang mulai," timpal Dimas, yang sudah melihat kejutan itu.

"Kalian harus tutup mata," desak Nadira, di antara tawa dan tatapan curiga, dan semua menurut. "Awas, jangan ngintip!" Ia masuk ke ruang tamu, lalu segera kembali. "Boleh buka."

Begitu mata mereka terbuka, waktu seolah berhenti. Nadira berdiri di sana, dan di pelukannya ada seorang bayi.

Sudah cukup besar, sekitar tujuh bulan, dengan pipi bulat, mata penuh rasa ingin tahu, dan rambut halus yang tipis.

Nadira mendekat dan dengan hati-hati meletakkan bayi itu di pangkuan Haryo. Ayahnya menyambutnya secara refleks, tapi tatapannya penuh kaget.

"Nadira..." Haryo memandang bayi itu. "Kamu curi anak ini dari mana?"

Keheningan langsung turun. Ratna menutup mulut dengan tangan, Erlangga membelalak, Sinta mematung. Lalu Nadira tersenyum.

"Bukan, Pa." Ia bersedekap, tenang. "Dia anakku."

"Anakmu?" ulang Ratna, tak percaya.

"Putriku."

Dampaknya menyapu seisi ruangan. Haryo kembali menatap bayi itu, yang kini menggenggam jarinya erat-erat.

"Maksudmu putrimu bagaimana?"

Nadira menarik napas dalam.

"Aku menjalani inseminasi waktu di Albania. Aku sendirian," lanjutnya, lebih lembut. "Dan... aku ingin ada seseorang untuk dicintai."

Ketulusan itu meluruhkan reaksi apa pun yang tadinya hendak muncul. Ratna mendekat pelan-pelan, matanya sudah berkaca-kaca.

"Kamu melahirkan... sendirian?"

"Nggak sendirian, Pierre menemaniku," ralatnya. "Dan sekarang aku punya kalian."

Suasana mulai berubah. Haryo masih menggendong bayi itu, kini lebih hati-hati dan penuh haru. Si kecil menatapnya penasaran, lalu tersenyum, dan itu sudah cukup.

"Cantik sekali..." gumam Haryo.

"Aku tahu," jawab Nadira bangga.

Ratna menyentuh pipi cucunya dengan sayang.

"Namanya siapa?"

"Belum kupilih."

"Dokter, pengelana... dan peragu," goda Dimas.

"Aku sedang menunggu saat yang tepat," jawab Nadira. "Nama yang cocok dengan kisahnya."

Erlangga mendekat, memperhatikan si mungil.

"Berarti aku jadi paman... lagi."

"Dan kali ini bergaya internasional," timpal Rendi.

"Keluarga ini memang nggak pernah melakukan apa pun setengah-setengah," kata Lisa.

"Bagaimana kalau dinamai Bintang? Artinya sama dengan star, dan bisa jadi penuntun untukmu," usul Sinta.

Nadira menatapnya lalu mengangguk.

"Aku suka. Bintang." Bayi itu tersenyum.

Haryo menyerahkan bayi itu kembali dengan hati-hati, masih tersentuh.

"Seharusnya kamu cerita dulu."

"Tapi nanti bukan kejutan lagi," balas Nadira.

Ratna memeluk putrinya, sekaligus melingkupi sang bayi.

"Kamu nggak akan sendirian lagi."

Nadira memejamkan mata sesaat.

"Aku tahu."

"Lalu siapa donornya?" tanya Dimas.

"Pierre."

"Jelas bukan," kata Erlangga sambil menatap keponakannya.

"Simpan itu untuk nanti," potong Haryo.

Dan pada hari Minggu itu, seperti di banyak hari Minggu lainnya, keluarga mereka bertambah lagi, dan seperti biasa dengan cinta yang cukup untuk memulai segalanya dari awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!