Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Di sebuah restoran di area Jakarta, Rena sedang menikmati makan siang bersama Rama, kakak kandungnya yang baru saja menyelesaikan tugas panjang di Singapura. Rama, yang di mata orang awam hanyalah seorang pekerja biasa, sebenarnya adalah seorang polisi intelijen (Intel) berpengalaman. Selama tiga tahun terakhir, Rama menyusup dan berhasil meringkus sindikat perdagangan manusia berskala internasional. Rena sengaja menyembunyikan identitas asli kakaknya dari siapa pun, termasuk Aruni, demi menjaga kerahasiaan dan keselamatan mereka.
Keheningan meja makan terpecah saat ponsel Rena bergetar hebat. Saat melihat notifikasi pesan masuk, mata Rena membelalak sempurna.
"Ya ampun! Aruni!" seru Rena panik hingga berdiri dari kursinya.
"Kenapa, Re? Ada apa dengan Aruni?" tanya Rama sigap, refleks kewaspadaannya langsung menyala.
"Kak, Aruni bilang dia diculik! Dia sempat kirim pesan dan koordinat GPS dari jam tangannya ke HP-ku!" ujar Rena dengan tangan gemetar menunjukkan layar ponselnya.
Naluri kepolisian Rama langsung bekerja cepat. Tanpa membuang detik, ia meraih ponsel adiknya. Jemarinya menari lincah meneliti titik koordinat yang dikirimkan dari smartwatch Aruni.
"Titiknya bergerak cepat menuju arah utara... kawasan pelabuhan," analisis Rama dengan tatapan mata yang mendadak tajam dan dingin. "Re, tetap ikut Kakak. Kita meluncur sekarang!"
*
*
Sementara itu, mobil penjahat melaju semakin jauh hingga berhenti di sebuah gudang tua terbengkalai di kawasan Tanjung Priok. Suasana di sana begitu sepi dan mencekam, dikelilingi tumpukan peti kemas berkarat yang sudah tak terawat.
Aruni dan Bik Sumi diseret masuk ke dalam gudang yang berdebu. Kedua tangan dan kaki mereka diikat erat menggunakan tali tambang tebal di atas kursi kayu. Bik Sumi menangis terisak, sementara Aruni berusaha tetap tenang meski tubuhnya menggigil ketakutan.
Langkah kaki bersepatu kulit mewah terdengar memantul di dinding gudang yang sunyi. Sosok pria paruh baya berjas rapi yakni Paman David muncul dari balik bayangan tumpukan peti kemas, disusul beberapa anak buahnya.
Aruni memicingkan mata, mencoba mengingat raut wajah pria itu. Seketika, memorinya berputar kembali ke malam naas di Hotel Grand Parama. Pria inilah yang malam itu terlihat lalu lalang di area ballroom, seseorang yang jelas berkaitan erat dengan pria yang telah berada di kamar darurat malam itu.
"Hallo, Nona cantik... masih ingat denganku?" sapa David dengan senyum sinis yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia melangkah mendekat, mengamati Aruni dari atas sampai bawah.
"Wah... rupanya kau wanita pelayan itu! Wanita yang memberikan gelas minuman berisi obat kepada Edgar..." ujar David terkekeh puas. "Kau hebat juga ya, berhasil membuat keponakanku masuk dalam jebakan dan kau berhasil tidur dengannya! Tapi sayang... wanita bodoh bernama Desi itu..."
David menggantungkan kalimatnya, lalu memiringkan kepala dengan tatapan sangat dingin.
"...dia sudah aku lenyapkan. Dasar wanita tidak berguna! Berani-beraninya dia menggertak dan mengancam meminta uang lebih padaku!" desis David sengaja menakut-nakuti.
Deg!
Aruni terbelalak, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Kenyataan pahit bahwa Desi yang menjebaknya kini telah tewas dibunuh oleh pria di hadapannya membuat darah di tubuh Aruni membeku seketika.
"K... Kau... kau iblis!" jerit Aruni gemetar, mendekap perutnya yang menjadi saksi bisu dari benih kehidupan di dalam sana.
David tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema dingin di seluruh sudut gudang tua yang sepi itu. Setelah puas tertawa, raut wajahnya mendadak berubah serius dan culas.
"Baiklah Nona, aku tidak mau membuang waktu banyak di sini. Sekarang aku ingin mengajakmu untuk bekerja sama!" ujar David.
Aruni mengerutkan keningnya, menahan rasa takut yang membakar dadanya. "Kerja sama apa, Tuan?"
"Aku ingin kau bilang pada semua orang kalau Edgar Ganendra adalah pria yang impoten dan ia tidak bisa memberikan seorang keturunan. Kau adalah wanita pertama yang berhasil menjebaknya, bukankah begitu, Nona Aruni?" ujar David sembari melangkah maju dan meraih kasar dagu Aruni, memaksanya menatap mata licik itu.
Aruni menghempaskan dagunya dengan memalingkan wajahnya ke samping. Di balik diamnya, ingatan tentang malam kelam itu kembali berputar menghentak kesadarannya.
‘Apanya yang impoten?! Pria itu berkali-kali meluluhlantakkan tubuhku hingga tak berdaya... dan bahkan membuatku hamil saat ini!’ batin Aruni berteriak penyesalan.
"Untuk apa aku melakukan hal itu?" tanya Aruni lantang, berusaha menyembunyikan rasa bersalah dan benih yang dikandungnya.
"Ssstttt... Anak kecil diam saja," bisik David mengibaskan tangannya santai. "Paman akan memberikan kamu uang yang banyak asalkan kau mau bekerja sama denganku. Bagaimana? Kau setuju?"
Bik Sumi yang terikat di samping Aruni hanya bisa menatap cemas, berdoa dalam hati agar nona mudanya diberi keselamatan. Sementara itu, Aruni terdiam sejenak. Meski hatinya membenci kejadian malam itu, nuraninya menolak untuk memfitnah pria yang sebenarnya sama-sama menjadi korban jebakan dengannya. Ia memutar otak, mencari celah agar memiliki waktu untuk meloloskan diri.
"Beri aku waktu... Aku tidak bisa memutuskannya sekarang!" ujar Aruni, mencoba mengulur waktu.
David memicingkan matanya, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Ok, aku tunggu jawabanmu besok pagi. Jangan berani-beraninya kau mengecewakan aku jika kau tidak ingin bernasib sama seperti Desi!" ancam David sengaja menekan.
Aruni menelan ludahnya yang terasa pahit.
Tanpa membuang waktu lagi, David berputar balik dan melangkah pergi meninggalkan gudang bersama beberapa pengawal pribadinya. Namun, sebelum pergi, ia menyiagakan delapan anak buah bertubuh kekar dan bersenjata lengkap untuk menjaga Aruni dan Bik Sumi, membuat penjagaan begitu ketat tanpa ada celah sedikit pun untuk melarikan diri.
Selang satu jam setelah kepergian David, suasana di luar gudang kawasan Tanjung Priok mendadak berubah tegang. Beberapa unit mobil tak bertanda menyusup cepat. Tim kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kompol Rama Nugraha bergerak tak terlihat, mengepung seluruh penjuru area peti kemas.
Melalui saluran radio internal, suara anak buah Rama terdengar memberikan laporan.
"Lapor Komandan, saya sudah berada di pintu belakang. Tim Alfa Satu sudah melakukan pergerakan dari sisi kanan dan kiri, beberapa pelaku di luar sudah berhasil kami ringkus!"
"Bagus. Lakukan pergerakan senyap. Ingat, mereka semua bersenjata api, jangan sampai melukai korban!" tegas Kompol Rama Nugraha menatap tajam ke arah pintu utama gudang.
"Siap, 86 Komandan!" sahut Iptu Raka dari balik earpiece.
Setelah memastikan posisi delapan penjaga di dalam gudang telah terkunci dan situasi terkendali, Rama memberikan aba-aba penyerbuan. Dalam hitungan detik, barisan personel bersenjata laras panjang mendobrak masuk dari berbagai sudut!
DOR!
DOR!
"Angkat tangan semua! Jangan bergerak! Tempat ini sudah kami kepung!" teriak Kompol Rama dengan suara menggelegar, moncong senjata otomatisnya mengarah tepat ke kepala para pelaku.
Para penjaga yang terkejut tak sempat menarik pelatuk senjata mereka karena sudah terkunci sepenuhnya oleh tim kepolisian. Dalam sekejap, delapan orang suruhan David berhasil dilumpuhkan dan diikat di lantai.
Aruni yang mendengar suara tegas itu perlahan mendongak. Sorot mata dan wibawa polisi berbadan tegap itu terasa sangat familiar di ingatannya, ia teringat foto kakak laki-laki yang pernah diperlihatkan sahabatnya itu.
Air mata haru Aruni dan Bik Sumi akhirnya menetes deras. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dada mereka, menyadari bahwa pertolongan Tuhan telah tiba di saat yang tepat.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..