Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Cekrek cekrek cekrek!
Cahaya kilat dari kamera menyilaukan mata silih berganti memenuhi halaman depan SMA Garuda Kelam yang tadinya sepi.
Puluhan wartawan dari berbagai media lokal Kota Arunika saling berdesakan membawa mikrofon di tangan mereka.
"Pak Husen, apa rahasia Anda mengubah kelas bermasalah menjadi Juara Umum tingkat kota dalam waktu sesingkat ini?"
Seorang wartawan wanita menyodorkan alat perekam suaranya tepat ke depan wajah guru muda tersebut.
Husen tersenyum tenang dan menolak pujian itu dengan lambaian tangan yang sangat sopan.
"Saya tidak memiliki rahasia sihir apa pun, Mbak."
"Rahasia sebenarnya ada pada tekad murid-murid saya yang menolak untuk terus diinjak-injak oleh stigma buruk masyarakat."
Husen menunjuk ke arah Bara, Nisa, dan Rico yang berdiri tidak jauh di belakangnya memakai medali emas.
"Mereka adalah bukti nyata bahwa tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanyalah sistem pendidikan yang gagal memahami mereka."
Para wartawan langsung mengangguk kagum dan segera mencatat setiap kata bijak yang keluar dari mulut Husen itu.
"Lalu bagaimana tanggapan Pak Haris mengenai masa depan sekolah ini setelah kemenangan besar tersebut?"
Wartawan lain mengalihkan mikrofonnya ke arah kepala sekolah yang masih terlihat menghapus air mata harunya.
Pak Haris berdeham pelan untuk menjernihkan suaranya yang serak akibat terlalu banyak menangis bahagia sejak kemarin sore.
Ehem.
"Pemerintah kota baru saja menghubungi saya pagi ini secara langsung melalui sambungan telepon resmi."
"Izin operasional SMA Garuda Kelam tidak jadi dicabut dan kami mendapat kucuran dana hibah penuh untuk perbaikan fasilitas."
Suara tepuk tangan meriah langsung meledak dari para murid dan guru-guru lain yang ikut menonton wawancara tersebut.
Prok prok prok!
Siska dan siswi-siswi kelas XI-7 lainnya saling berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan di pinggir lapangan.
"Kita nggak jadi pindah sekolah teman-teman, kita bakal punya gedung baru yang bagus!"
Siska berteriak antusias dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan murni tanpa riasan kosmetik tebal lagi.
Bara menyandarkan punggungnya ke tiang bendera sambil memandangi teman-temannya dengan senyum yang sangat lepas.
"Gila bener, seminggu yang lalu kita cuma preman sekolah yang nunggu waktu buat dibuang ke jalanan."
"Sekarang kita malah jadi artis dadakan yang masuk halaman depan koran pagi ini."
Rico menggigit sepotong roti isi daging yang dibagikan panitia syukuran sekolah dengan sangat lahap.
Nyam nyam.
"Iya Bos, ini semua gara-gara Pak Husen yang nekat banget ngajarin kita pakai cara gila."
"Gue sampai sekarang masih nggak percaya tangan gue bisa pegang medali emas asli kayak gini."
Nisa membetulkan letak kacamatanya perlahan lalu melangkah mendekati kedua teman laki-lakinya itu.
"Jangan terlalu cepat berpuas diri hanya dengan piala tingkat kota, Rico."
"Ilmu yang kita miliki saat ini masih sangat dangkal jika dibandingkan dengan peserta tingkat provinsi bulan depan."
Bara tertawa pelan mendengar ucapan Nisa yang selalu terdengar ketus namun sebenarnya sangat peduli pada mereka.
"Lu emang nggak pernah bisa diajak santai sehari aja ya, Nisa?"
"Kasih kita waktu buat napas sebentar kenapa, otak gue rasanya masih berasap habis debat kemarin."
Nisa mendengus pelan dan membuang muka menyembunyikan senyum tipis yang mendadak muncul di bibirnya.
"Aku hanya tidak ingin medali emasku ditarik kembali karena kalian bertindak bodoh di lomba selanjutnya."
"Kalau kalian mau istirahat, silakan saja pergi tidur di kelas sampai puas."
Husen yang baru saja selesai meladeni sesi wawancara akhirnya berjalan menghampiri ketiga murid andalannya.
Tap tap tap.
Efek dari Aura Mengajar milik Husen yang kini sudah mencapai Level 2 membuat suasana di sekitar mereka langsung terasa sangat hangat.
"Kalian boleh merayakan hari ini dengan makan sepuasnya sampai sore nanti."
"Tapi Nisa benar, setelah ini musuh yang akan kita hadapi memiliki sumber daya yang jauh lebih mengerikan dari sekadar Akademi Cakrawala."
Bara menegakkan punggungnya kembali saat mendengar nama sekolah elite yang sangat dia benci itu disebut.
"Maksud Bapak, si Reno masih belum kapok juga setelah kita permalukan habis-habisan kemarin?"
Husen mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya.
"Reno mungkin sudah hancur mentalnya dan tidak berani lagi muncul di hadapan kita secara langsung."
"Tapi orang-orang dewasa di belakangnya, para petinggi yayasan yang melindungi sekolah itu, tidak akan tinggal diam melihat panggung mereka direbut."
Husen menatap ke arah langit biru Kota Arunika dengan firasat yang sangat kuat mengenai datangnya badai besar.
"Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih kotor untuk menghancurkan reputasi kita dari dalam."
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit mewah yang terletak di pusat kawasan bisnis kota.
Prang!
Sebuah asbak kaca tebal hancur menghantam dinding ruangan direktur utama yang sangat luas dan ber-AC dingin.
"Bagaimana kamu bisa membiarkan sekolah rongsokan itu mempermalukan nama besar yayasan kita di depan wali kota, Wijaya?!"
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal berteriak marah sambil menggebrak meja kerjanya.
Dia adalah Pak Surya, ketua dewan pembina Yayasan Pendidikan Arunika yang membawahi puluhan sekolah elite.
Kepala Sekolah Wijaya yang dulu memecat Husen kini berdiri gemetar di depan meja besar tersebut sambil menundukkan kepala.
"Maafkan saya, Pak Surya, saya benar-benar tidak menyangka Husen Alkhafi bisa melakukan keajaiban seperti itu."
"Dia berhasil mencetak murid juara hanya dari sekumpulan anak buangan jalanan dalam waktu kurang dari satu bulan."
Pak Surya menyalakan sebatang cerutu impornya dengan gerakan tangan yang sangat kasar menahan luapan emosi.