NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

“Kalau kamu terus menatap layar seperti itu, artikelmu tidak akan selesai dengan sendirinya.”

Nadira mengangkat wajah dari laptopnya. Dimas berdiri di samping meja sambil membawa setumpuk berkas, menatapnya dengan ekspresi khas seorang redaktur yang bisa mendeteksi penundaan pekerjaan dari jarak sepuluh meter.

“Aku sedang berpikir.”

“Sudah sejak tadi?”

“Pemikiran berkualitas membutuhkan waktu.”

“Begitu juga kesabaranku. Sayangnya, keduanya punya batas.”

Nadira mendengus pelan, lalu memutar laptopnya agar Dimas bisa melihat draf yang sedang ia kerjakan.

Artikel tentang perkembangan esports dan investasi perusahaan besar sudah hampir selesai. Namun, ada satu bagian yang belum mendapatkan jawaban memuaskan: hubungan antara pendanaan korporasi dan independensi tim profesional.

“Menurutmu, kita perlu mewawancarai pihak Adhitama Global?” tanyanya.

Dimas membaca beberapa paragraf sebelum mengangguk.

“Kalau kamu ingin membahas keterlibatan perusahaan besar, tentu. Tapi pastikan pertanyaannya spesifik. Kita bukan sedang menyelidiki keluarga seseorang.”

“Aku tahu.”

“Bagus. Hubungi bagian humas mereka. Minta pernyataan resmi tentang investasi di industri esports.”

Nadira mencatat instruksi itu.

Ia tidak berniat mencari tahu kehidupan pribadi siapa pun. Namun, ketika nama Adhitama Global terus muncul dalam risetnya, ia merasa perlu memastikan bahwa artikelnya tidak melewatkan informasi penting.

Apalagi setelah percakapannya dengan Raka beberapa malam sebelumnya.

Pernah nggak kamu merasa orang lain sudah menentukan siapa kamu sebelum mereka benar-benar mengenalmu?

Nadira masih mengingat pertanyaan itu.

Raka tidak pernah benar-benar menceritakan masalahnya, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang ia hadapi.

Ia tidak akan memaksanya bercerita.

Namun, ia berharap pria itu tidak terus memikul semuanya sendirian.

Pikiran tersebut membuat Nadira menghela napas.

“Kenapa?” tanya Dimas.

“Tidak apa-apa.”

“Kalau kamu menghela napas seperti itu sekali lagi, aku akan menganggapmu butuh cuti.”

“Kalau begitu, saya sedang menghemat napas.”

Dimas menatapnya datar.

“Kerjakan artikelnya.”

Sebuah undangan konferensi pers dari Adhitama Global tiba di kotak masuk redaksi pada hari yang sama.

Perusahaan itu akan mengumumkan program investasi baru di bidang teknologi digital, termasuk dukungan terhadap pengembangan ekosistem gim kompetitif Indonesia.

Bagi redaksi, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan informasi langsung dari perusahaan yang selama ini lebih banyak dibicarakan melalui laporan bisnis.

Dimas segera menunjuk Nadira untuk menghadirinya.

“Kamu sudah mempelajari latar belakang perusahaannya. Kamu yang paling cocok untuk tugas ini.”

Nadira membaca undangan tersebut.

Acara akan dihadiri jajaran direksi, sejumlah mitra bisnis, dan perwakilan media. Tidak ada nama narasumber yang dicantumkan secara terperinci, hanya keterangan bahwa pihak perusahaan akan memperkenalkan sejumlah tokoh penting.

“Apakah mereka sudah mengonfirmasi siapa yang akan memberikan pernyataan?” tanyanya.

“Belum. Humasnya bilang daftar pembicara akan diumumkan saat acara.”

Nadira mengangguk.

“Baik. Aku akan menyiapkan pertanyaan.”

Ia memasukkan undangan itu ke dalam agenda kerjanya, sama sekali tidak menyadari bahwa acara tersebut akan membawanya selangkah lebih dekat pada rahasia yang selama ini dijaga Raka.

Di markas ASTRAL, latihan berlangsung lebih intens daripada biasanya.

Turnamen nasional semakin dekat, dan setiap anggota tim dituntut mempertahankan konsentrasi. Raka menghabiskan sebagian besar sesi untuk mengevaluasi strategi, memperbaiki komunikasi, dan memastikan setiap pemain memahami perannya.

Namun, perhatiannya sesekali teralihkan oleh ponsel yang tergeletak di samping keyboard.

Bima memperhatikannya selama beberapa menit sebelum akhirnya menyerah pada rasa ingin tahu.

“Lo nunggu pesan dari siapa?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, kenapa setiap ponsel lo bergetar, lo langsung melihatnya?”

Raka melirik layar.

Notifikasi grup tim.

Ia mengembuskan napas.

“Bima, lo mau latihan atau mau jadi penyidik?”

“Bisa dua-duanya. Bakat gue luas.”

“Sayangnya, kemampuan bermain lo belum seluas itu.”

Bima menepuk dada dengan ekspresi tersinggung.

“Serangan pribadi dari kapten sendiri. Gue akan mengingat ini.”

“Silakan. Sekarang fokus.”

Bima akhirnya kembali ke permainan, tetapi senyum jahilnya belum menghilang.

Raka membuka ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari Nadira.

Ia tidak punya alasan untuk menunggunya mengirim pesan.

Mereka bukan pasangan. Bahkan belum bisa disebut teman dekat. Mereka hanya dua orang yang kebetulan sering bertemu karena pekerjaan dan memiliki kebiasaan buruk untuk saling membantah.

Setidaknya, itulah penjelasan yang terus ia berikan kepada dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Nadira.

Nadira: Pertanyaan serius. Kalau seseorang mengajakmu menghadiri acara perusahaan, apa kamu akan datang?

Raka mengernyit.

Raka: Tergantung perusahaannya.

Nadira: Adhitama Global.

Jantung Raka seolah berhenti berdetak selama satu detik.

Ia membaca pesan itu lagi.

Lalu sekali lagi.

Raka: Kenapa?

Nadira: Aku mendapat tugas meliput konferensi pers mereka. Aku sedang mencari tahu siapa saja yang mungkin hadir.

Raka meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengambilnya kembali.

Ia tahu Nadira hanya menjalankan pekerjaannya. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun, kemungkinan perempuan tersebut memasuki dunia yang selama ini ia sembunyikan membuat dadanya terasa sesak.

Raka: Aku tidak tahu siapa yang akan hadir.

Nadira: Kamu pernah menghadiri acara mereka?

Raka menatap layar.

Ia pernah menghadiri lebih banyak acara keluarga daripada yang ingin diingatnya. Gala amal, pertemuan investor, perayaan ulang tahun perusahaan, sampai acara resmi yang mengharuskannya berdiri di samping ayahnya sambil tersenyum untuk kamera.

Tetapi ia tidak pernah membicarakan semua itu dengan Nadira.

Raka: Pernah.

Nadira: Sebagai apa?

Jari Raka berhenti bergerak.

Pertanyaan itu sederhana.

Terlalu sederhana untuk dijawab tanpa membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat.

Raka: Sebagai tamu.

Balasan Nadira datang beberapa detik kemudian.

Nadira: Jawaban yang sangat informatif. Terima kasih atas kontribusimu terhadap dunia jurnalistik.

Raka hampir tertawa, tetapi kegelisahannya belum benar-benar hilang.

Raka: Nadira, kenapa kamu tertarik pada perusahaan itu?

Nadira: Karena mereka berinvestasi di industri yang sedang aku liput. Kenapa? Ada sesuatu yang harus aku ketahui?

Raka membaca pertanyaan tersebut lama-lama.

Ada banyak hal yang harus diketahui Nadira.

Tentang keluarganya. Tentang tekanan yang selama ini ia hadapi. Tentang alasan ia begitu keras mempertahankan kehidupan bersama ASTRAL.

Tetapi bukan melalui pesan singkat, dan bukan ketika ia bahkan belum tahu bagaimana perempuan itu akan bereaksi.

Raka: Tidak ada. Aku cuma bertanya.

Nadira: Baiklah. Semoga rapat direksimu berjalan lancar.

Raka membeku.

Ia langsung mengetik balasan.

Raka: Rapat direksi apa?

Nadira: Aku tidak bilang kamu menghadiri rapat direksi. Aku cuma berharap rapatmu berjalan lancar.

Raka menatap layar, lalu menyadari bahwa ia baru saja menggali lubang untuk dirinya sendiri.

Nadira: Menarik. Kenapa kamu langsung menganggap aku tahu sesuatu?

Raka memejamkan mata.

Perempuan itu terlalu cepat menangkap celah dalam percakapan.

Raka: Karena kamu suka membuat kesimpulan sendiri.

Nadira: Dan kamu suka menghindari pertanyaan.

Raka: Selamat malam, Nadira.

Nadira: Kita bahkan belum selesai bicara.

Raka: Sekarang sudah.

Nadira mengirimkan satu emoji wajah datar sebelum percakapan berhenti.

Raka meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit ruang latihan.

Ia berhasil menghindari satu pertanyaan.

Sayangnya, ia merasa baru saja menimbulkan lima pertanyaan baru.

Malamnya, Nadira kembali membaca percakapan mereka.

Ada sesuatu yang aneh dalam reaksi Raka ketika ia menyebut Adhitama Global. Perubahan itu terlalu cepat untuk dianggap kebetulan, meskipun ia belum memiliki alasan untuk mencurigainya.

Ia membuka kembali dokumen risetnya dan menambahkan satu catatan kecil di bagian bawah halaman.

Konferensi pers Adhitama Global — periksa daftar pembicara dan struktur kepemilikan perusahaan.

Catatan itu murni untuk kepentingan pekerjaannya.

Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan baru dari Raka muncul.

Raka: Kalau kamu datang ke acara itu, jangan membuat kesimpulan sebelum mendengar penjelasan lengkapnya.

Nadira mengerutkan kening.

Ia membalas singkat.

Nadira: Penjelasan tentang apa?

Tidak ada jawaban.

Nadira menunggu beberapa menit sebelum meletakkan ponselnya.

Ia tidak suka ketika seseorang memberikan petunjuk tanpa penjelasan. Namun, ia juga tidak ingin menuduh Raka menyembunyikan sesuatu hanya berdasarkan percakapan yang belum lengkap.

Ada satu prinsip yang selalu ia pegang: pertanyaan yang tepat membutuhkan bukti yang tepat.

Dan jika Raka memang memiliki rahasia, ia tidak akan menemukannya dengan menebak-nebak.

Ia akan menunggu sampai kebenaran itu muncul dengan sendirinya.

Sementara itu, di apartemennya, Raka membaca kembali pesan terakhir yang ia kirimkan.

Ia tahu peringatannya justru bisa membuat Nadira semakin penasaran.

Tetapi ia juga tahu bahwa semakin dekat perempuan itu dengan Adhitama Global, semakin sulit baginya untuk mempertahankan kebohongan yang selama ini ia anggap sebagai perlindungan.

Untuk pertama kalinya, Raka mulai menyadari bahwa menyembunyikan identitasnya bukan hanya tentang menjaga kebebasannya sendiri.

Ia juga sedang mengambil keputusan atas nama seseorang yang belum pernah diberinya kesempatan untuk memilih.

Dan suatu hari nanti, Nadira mungkin akan menuntut jawaban atas hal itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!