Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Pil di Laci
Dia melihat Anala dari jauh, dan untuk sesaat dia tidak mengenalinya.
Perempuan di ujung tanggul itu duduk sendirian di atas beton, kedua lututnya ditekuk, kedua lengannya memeluk lutut. Angin laut sore menarik-narik ujung selendang tipis yang dia sampirkan di bahu. Di depannya, Teluk Jakarta berwarna abu-abu kecokelatan, dengan kapal-kapal tongkang yang diam di kejauhan dan matahari yang tenggelam di balik kabut asap.
Dia tidak sedang menelepon. Tidak sedang membaca. Tidak sedang melakukan apa-apa. Dia hanya duduk dan menatap air, seperti seseorang yang sudah tidak punya tempat lain untuk dituju.
Damar tidak pernah melihatnya seperti itu. Anala yang dia kenal selalu sedang menuju ke suatu tempat.
Dia menyuruh Pak Ujang berhenti di ujung jalan. Dia tidak turun.
Selasa, dua puluh lima November. Anala izin pulang cepat dari kantor siang tadi, dengan alasan sakit kepala. Damar tidak bertanya. Sore harinya, ketika dia membuka aplikasi peta dan melihat titik biru itu di Pantai Indah Kapuk, bukan di Pondok Indah, dia juga tidak bertanya. Dia hanya menyuruh Pak Ujang memutar mobil.
Sepuluh menit kemudian, seorang laki-laki berjalan di sepanjang tanggul ke arah perempuan itu. Kemeja putih. Lengan kanannya diperban dari pergelangan sampai siku.
Arka Ardana.
Dia berhenti di sebelah Anala dan mengatakan sesuatu. Anala menoleh, tapi tidak berdiri. Arka duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat. Mereka berbicara. Dari jarak sejauh ini, Damar tidak bisa mendengar apa-apa. Dia hanya bisa melihat Anala menggeleng sekali, lalu menunduk.
Lalu Arka melepaskan jaketnya.
Dia mengangkatnya dengan tangan kirinya, yang tidak diperban, dan mengulurkannya ke bahu Anala. Gerakan yang pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang sudah lama ingin melakukan hal itu dan baru sekarang berani.
Damar mencengkeram gagang pintu mobil.
Anala menahan jaket itu dengan tangannya sebelum menyentuh bahunya. Dia menggeleng lagi, mengatakan sesuatu, dan mendorong jaket itu kembali ke pangkuan Arka.
Arka tertawa. Dia memakai jaketnya kembali.
Damar melepaskan gagang pintu. Telapak tangannya basah.
"Jalan, Pak," katanya. "Pulang."
***
Anala sampai di Pondok Indah satu jam setelahnya. Mobil yang mengantarnya sedan putih berpelat Jakarta. Arka tidak turun. Dia hanya menunggu sampai Anala melewati gerbang, lalu pergi.
Damar duduk di sofa ruang tengah dengan lampu yang hanya separuh menyala. Di meja kopi di depannya, ada sesuatu yang dia letakkan sejak sore. Ditutup oleh sebuah map.
Anala masuk. Dia melihat Damar dan berhenti sebentar di ambang pintu, lalu tersenyum, seperti biasa. Di tangannya ada sebuah kotak kecil berbungkus kertas biru tua dan pita perak.
"Kamu belum makan?" tanyanya.
"Kamu dari mana?"
"Jalan-jalan." Dia duduk di sebelah Damar, meletakkan kotak itu di pangkuannya. "Ini. Buka."
Damar tidak bergerak.
"Buka," ulang Anala. "Atau aku yang buka."
Dia membukanya sendiri. Di dalamnya, di atas bantalan beludru, sebuah jam tangan. Tali kulit hitam. Bingkai perak tipis. Dan permukaan jam berwarna biru dongker, biru yang sangat gelap sampai hampir hitam, dengan jarum-jarum tipis yang berkilau ketika cahaya lampu menyentuhnya.
"Aku lihat jam tanganmu yang lama retak kacanya," kata Anala. "Sejak Bintan."
Damar menatap jam tangan itu. Lalu menatap perempuan itu.
"Kamu dan Arka," katanya. "Apa?"
Senyum Anala tidak berubah. Tapi matanya berubah. Sedikit. Seperti air yang tiba-tiba lebih dingin.
"Kamu ikut ke PIK."
"Aku tanya."
"Aku tahu kamu tanya." Anala meletakkan kotak jam itu di meja, di sebelah map. "Dia lewat. Dia lihat aku. Dia antar aku pulang. Itu saja."
"Dia lewat. Di tanggul PIK."
"Iya."
"Dan menawarkan jaketnya."
Anala menatapnya lama. Lalu dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Damar.
"Damar," katanya pelan. "Aku cuma mencintai satu orang."
Damar menatap matanya. Dia mencari sesuatu di sana. Kebohongan. Kejujuran. Apa pun. Mata itu menatapnya kembali dengan tenang, dalam, dan tidak memberinya apa-apa.
Satu orang.
Siapa?
Kata itu kembali kepadanya tanpa diundang. Malam setelah pintu merah. Kamar yang gelap, lampu baca yang kecil, dan suara perempuan ini dalam tidurnya. Mas. Lunak dan jauh, ditujukan kepada seseorang yang bukan dia.
Tiga minggu dia tidak bertanya. Tiga minggu dia menyimpan kata itu di dada seperti batu kerikil di dalam sepatu. Dia mengira kalau dia tidak menyentuhnya, kata itu akan hilang sendiri.
Kata itu tidak hilang. Sekarang perempuan ini duduk di sebelahnya dan mengatakan bahwa dia hanya mencintai satu orang, dengan mata yang menatap lurus ke matanya, dan Damar tidak tahu apakah satu orang itu sedang duduk di sofa ini, atau di tanggul PIK dengan lengan diperban, atau di suatu tempat yang tidak pernah dia lihat, dengan nama yang tidak pernah dia dengar.
Dia tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ketidaktahuan itu terasa seperti tangan yang mencekik lehernya.
Anala mencondongkan tubuhnya dan menciumnya.
Damar menahan bahunya dan mendorongnya menjauh.
Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat perempuan itu berhenti dan menatapnya dengan alis berkerut. Untuk pertama kalinya, dia terlihat tidak yakin.
Damar mengangkat map dari meja kopi.
Di bawahnya, sebuah lembaran plastik dan aluminium. Satu strip pil. Dua puluh delapan butir, sebagian sudah keluar dari kantongnya. Merek yang dijual di setiap apotek.
"Laci kedua dari bawah," kata Damar. "Di mejamu. Di kantor. Di bawah map-map arsip rapat tahun lalu."
Anala menatap pil itu. Wajahnya tidak berubah.
"Kamu menggeledah mejaku," katanya.
"Barang di Batam ditahan karena ada yang kasih info. Aku menggeledah semua meja di lantai tiga puluh dua." Dia mengambil strip pil itu. "Aku mencari bocoran. Aku menemukan ini."
Dia melemparnya.
Strip itu jatuh di lantai marmer di dekat kaki Anala, memantul sekali, dan beberapa butir pil yang longgar terlepas dan berhamburan di lantai seperti butiran beras yang tumpah.
"Segitu tidak maunya kamu punya anakku?"
Ruangan itu sunyi.
Anala tidak menunduk untuk melihat pil-pil itu. Dia tidak menangis. Dia tidak berteriak. Dia hanya menatap Damar dengan wajah yang tenang, terlalu tenang, seperti permukaan danau sebelum hujan.
"Kalau anak lahir di luar nikah," katanya pelan, "akta lahirnya cuma nama ibunya."
Damar tidak bergerak.
"Kolom ayahnya kosong. Mau kamu bayar pengacara berapa pun, mau kamu ke pengadilan, mau kamu tes DNA, tetap saja dia lahir sebagai anak seorang perempuan yang tidak menikah. Di sekolah, di kartu keluarga, di formulir mana pun, seumur hidupnya." Suaranya tetap datar. "Kamu mau anakmu begitu?"
"Kamu tidak pernah tanya aku."
"Untuk apa?" Anala berdiri. "Kamu sendiri yang bilang. Dua kali. Kamu tidak menikah. Dengan siapa pun. Jangan minta itu lagi." Dia menatapnya dari atas. "Aku tidak minta lagi. Aku cuma tidak mau ada anak yang membayar untuk kalimat itu."
Damar merasakan sesuatu di dalam dadanya berhenti.
Dia ingin mengatakan sesuatu. Bahwa dia akan mengurus semuanya. Bahwa nama Hadiwijaya cukup kuat untuk menutup kolom yang kosong itu. Bahwa tidak akan ada orang yang berani.
Tapi dia tahu itu bohong. Dia tahu, karena dia sendiri pernah menjadi anak yang ditinggalkan oleh nama itu, di ruang bawah tanah, selama lima belas hari.
Dan perempuan ini benar. Dia sendiri yang mengatakannya. Di ruang kerjanya, di rumah ini. Aku tidak menikah. Seperti tembok yang dia bangun sendiri, batu demi batu, dan sekarang dia menabraknya dengan wajahnya.
Tapi dia juga tahu ada sesuatu yang lain. Sesuatu di balik ketenangan perempuan itu, di balik alasan yang terlalu rapi dan terlalu benar. Alasan itu benar. Tapi bukan seluruhnya.
Satu orang.
Dia berdiri. Dia mengambil kunci mobil dari meja konsol di dekat pintu. Jam tangan biru dongker itu masih di atas meja kopi. Dia tidak menyentuhnya.
"Damar."
Dia berjalan ke pintu.
"Damar, kamu mau ke mana?"
Dia berhenti di ambang pintu. Dia tidak berbalik. Di belakangnya, dia bisa merasakan perempuan itu berdiri di tengah ruangan, di antara pil-pil yang berhamburan di lantai marmer.
"Kalau suatu hari," katanya, "kamu minta dinikahi lagi..."
Dia diam. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
"Jangan harap aku mau."
Pintu tertutup di belakangnya.
***
Malam itu, dia tidur di sofa ruang kerjanya di lantai tiga puluh dua.
Dia tidak benar-benar tidur. Dia berbaring dengan jas sebagai selimut dan menatap lampu-lampu Sudirman di balik jendela kaca, dan setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat butiran-butiran kecil berwarna putih di atas lantai marmer.
Pukul dua pagi, ponselnya bergetar sekali.
Bi Iyah.
Pak, obatnya sudah Bibi kumpulin. Bibi taruh lagi di laci kamar Ibu. Ibu nggak nangis, Pak. Ibu cuma duduk di sofa sampai jam satu, terus naik ke atas. Jam tangannya Bibi simpan di meja kerja Bapak.
Damar membaca pesan itu tiga kali.
Lalu dia meletakkan ponselnya terbalik di dadanya, dan menatap langit-langit sampai pagi.