SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Perampokan dokumen?
BAB 9: "PERAMPOKAN DOKUMEN DAN JEBAKAN PELABUHAN"
Malam pertempuran di Pelabuhan Tua akhirnya tiba. Angin laut membentak keras, membawa aroma garam dan besi berkarat yang menyengat. Lampu-lampu merkuri yang remang menyinari tumpukan kontainer tua, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mencekam.
Di dalam sebuah kontainer kosong yang disulap jadi pusat komando sementara, Aira berdiri mengelilingi meja kayu panjang bersama Langit, Kenzo, dan Galang. Di atas meja, tergelar peta navigasi area pelabuhan lengkap dengan rute patroli geng Krava.
"Valerie nggak cuma nyewa Krava buat habisi gue," ujar Aira sambil menunjuk satu titik merah di dermaga tiga. Tangannya memegang pulpen, menggambar lingkaran imajiner di atas peta.
"Dia manfaatin konflik ini buat nyolong dokumen kepemilikan aset keluarga Shena yang dititipin di brankas yayasan sekolah. Ibu tiri gue udah kerja sama sama dia dari awal."
Galang menatap layar laptopnya yang dipenuhi baris kode hijau. "Gue udah meretas CCTV area yayasan dan pelabuhan. Bener kata Aira. Ada dua pergerakan sejajar. Tim utama Krava nunggu di dermaga utama buat nyerang Langit, sementara anak buah bayaran Valerie bergerak ke brankas yayasan jam sepuluh malam ini."
Kenzo bersiul pelan, menatap Aira dengan rasa takjub yang makin menjadi-jadi. "Gila... lu dapet info valid begini dari mana, Ra? Lu masang mata-mata di rumah Valerie?"
Aira cuma menyeringai tipis. Dia nggak mungkin bilang kalau dia tahu semua ini dari ingatan alur novel yang dibacanya sebelum kesetrum. Di alur asli, jebakan ini berhasil 100% karena Aira Shena yang dulu cuma bisa nangis pas dituduh mencuri dokumen keluarganya sendiri. Tapi sekarang? Alur cerita itu bakal dia acak-acak sampai tak berbekas.
"Gue punya cara sendiri buat tahu kebusukan benalu kayak dia," balas Aira santai. Dia memalingkan wajahnya menatap Langit yang sejak tadi diam memperhatikan setiap detail wajahnya. "Kanebo, rencana kita jalan sesuai skenario. Lu bawa setengah pasukan Averus ke dermaga utama. Pancing perhatian ketua Krava biar dia mikir lu masuk ke jebakan mereka."
"Terus lu gimana?" suara Langit rendah, matanya mengunci pandangan Aira. Ada kilatan protektif yang tegas di sana. "Lu gak bakal menyusup sendirian ke area brankas, kan?"
"Siapa bilang sendirian?" Aira menepuk bahu Kenzo. "Gue bawa Kenzo sama lima budak Averus yang paling jago berantem. Kita bakal cegat orang-orangnya Valerie di gedung yayasan, ambil balik dokumennya, terus ratakan mereka sebelum sempat napas."
Langit melangkah mendekati Aira, mengabaikan keberadaan Kenzo dan Galang yang langsung pura-pura sibuk membolak-balik peta. Langit memegang pergelangan tangan Aira, menarik cewek itu sedikit mendekat padanya.
"Gue gak suka lu jauh dari jangkauan gue di situasi kayak gini," bisik Langit, nada suaranya ketat oleh kecemasan yang tertahan.
Aira menaikkan sebelah alisnya, lalu menarik pergelangan tangannya pelan. "Tenang aja, Bos. Otak gue lebih tajam dari pisau lipat yang lu punya. Lagian..." Aira menyenggol dada Langit dengan siku tangannya sambil tersenyum mengejek. "...lu fokus aja bantai Krava. Jangan sampai lu yang malah repot ditolongin sama gue nanti."
Langit menatap Aira selama beberapa detik sebelum sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
"Kalau gue bisa beresin Krava dalam 20 menit, lu utang ciuman satu lagi ke gue."
"Mata lu soak!" bentak Aira dengan muka yang mendadak memerah. "Nggak ada utang-utangan, Anjir!"
"Gue anggap itu setuju," balas Langit santai, lalu berbalik menatap seluruh petinggi Averus.
"Semua bergerak sesuai instruksi Aira. Siapa pun yang berani ngacauin taktik malam ini, gue potong haknya di Averus!"
"SIAP, BOS!" sahut Kenzo dan Galang serentak.
Jam menunjukkan pukul 22.15 WIB.
Di area gedung yayasan sekolah yang sepi dan gelap, lima pria berjaket hitam dengan selemut penutup muka berhasil membobol pintu belakang gedung rektorat. Mereka bergerak cepat menuju ruang brankas utama tempat dokumen-dokumen penting disimpan.
"Cepat! Nona Valerie minta dokumen ini sudah ada di tangannya sebelum tengah malam!" bisik pimpinan penyusup itu sambil mengotak-atik kunci kombinasi brankas dengan alat peretas portabel.
BIP! BIP! KLIKS.
Pintu brankas besi tebal itu terbuka. Pimpinan penyusup tersenyum puas, melangkah masuk dan mengambil amplop cokelat tebal bersegel resmi yang berisi surat kepemilikan aset bernilai puluhan miliar milik keluarga besar Shena.
"Kerja bagus, Om-om amatir."
Sebuah suara cewek yang santai bergema di koridor gedung yang sepi, membuat kelima penyusup itu kaget setengah mati. Mereka refleks berbalik dan mengarahkan senter ke ujung koridor.
Aira berdiri di sana. Seragam sekolahnya sudah berganti dengan jaket kulit hitam ketat, celana kargo senada, dan sepatu boots. Dia menyenderkan badannya ke pilar bangunan sambil memainkan pemantik api di tangannya. Di belakang Aira, Kenzo dan lima anggota elit Averus berdiri memegang pemukul kasti besi.
"Lu... cewek yang dibilang Nona Valerie?!" seru pimpinan penyusup panik. "Kenapa lu bisa ada di sini?!"
"Gue? Gue cuma lagi menjemput barang milik keluarga gue yang mau dicuri sama benalu," kata Aira dingin. Dia menyalakan pemantik apinya, memperlihatkan pantulan api kecil di matanya yang tajam dan tajam. "Serahin dokumen itu baik-baik, atau malam ini kalian keluar dari sini pake ambulans."
"JANGAN BANYAK BACOT! HAJAR DIA!" teriak pimpinan penyusup.
Dua penyusup mengacungkan pisau lipat dan melompat menerjang Aira. Tapi sebelum mereka sempat menyentuh ujung pakaian Aira, Kenzo sudah bergerak cepat menyapu kaki salah satu penyerang hingga jatuh terjerembab, disusul dengan pukulan telak dari anggota Averus lainnya.
Aira sendiri bergerak sangat cepat bak bayangan. Dia menghindari tebasan pisau penyerang kedua dengan memiringkan badannya sejajar tembok, meraih pergelangan tangan musuh, memutarnya 180 derajat hingga berbunyi KREK!
"AGHHH!" Penyerang itu menjerit histeris saat pisaunya terlepas. Tanpa memberi ampun, Aira melayangkan front kick tepat di dada penyerang hingga terlempar menabrak pintu kaca hingga hancur berkeping-keping.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga menit, empat penyusup sudah tergeletak tidak berdaya di lantai koridor dengan luka-luka memar yang parah.
Pimpinan penyusup yang tersisa gemetaran hebat. Dia mencoba kabur membawa amplop cokelat itu, tapi Aira berlari kencang, melompat memantul dari dinding koridor, dan mendaratkan tendangan memutar tepat di leher pimpinan penyusup itu!
DUAK!
Pria itu langsung pingsan seketika. Amplop cokelat tebal itu melayang di udara dan ditangkap dengan mulus oleh Aira menggunakan tangan kirinya.
Aira mendarat di lantai dengan sempurna. Dia membuka amplop itu sekilas, memastikan integritas dokumen di dalamnya.
"Resmi. Hak milik keluarga gue kembali," gumam Aira puas.
"Ra! Parah, Ra!" Kenzo berlari mendekat dengan wajah panik sambil memegang walkie-talkie.
"Galang baru kasih laporan dari pelabuhan!"
Aira mengernyitkan alisnya. "Kenapa? Langit kalah?"
"Nggak! Langit bantai Krava sampai rata! Tapi..." Kenzo menelan ludah kasar. "Valerie main licik.
Dia tahu Langit ada di dermaga tiga, jadi dia nyuruh sisa anggota Krava jebak Langit di dalam gudang bahan bakar yang udah dipasang bom waktu! Gudangnya dikunci dari luar!"
BANGSAT!
Dada Aira mendadak bergemuruh hebat. Rasa panik yang tak pernah dia rasakan sebelumnya mendadak menyerang seluruh aliran darahnya.
Tanpa berpikir panjang, Aira melemparkan dokumen bernilai miliaran itu ke dada Kenzo.
"Amankan dokumen ini!" teriak Aira sambil berlari kencang menuju motor Sport milik Kenzo yang terparkir di halaman.
"Lu mau ke mana, Ra?!" teriak Kenzo cemas.
Aira melompat naik ke atas motor, memasang helmnya dengan gerakan kilat, lalu menggebar gas hingga raungan mesin motor memekakkan telinga.
"Gue mau jemput si Kanebo Kering itu! Dia gak boleh mati sebelum bayar utang kalimatnya ke gue!"
VROOOMMM!
Motor yang dikendarai Aira melesat membelah kegelapan malam dengan kecepatan penuh menuju pelabuhan tua.
see you next bab 10
jangan lupa like dan komen jika sula cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?