Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Angin siang bertiup pelan membawa aroma bunga melati dari halaman belakang keluarga Ayodhya.
Lula sedang duduk di tepi kolam ikan koi yang sangat jernih.
Plop! Plop!
Beberapa ikan koi besar berwarna jingga muncul ke permukaan air.
"Anak kecil, kau siapa? Kau bau susu."
Lula tertawa pelan mendengar ucapan seekor ikan koi yang paling besar.
"Namaku Lula, aku baru selesai minum susu tiga gelas besar," jawab Lula di dalam hati.
"Lula sekarang tinggal di sini."
"Oh, pantas saja nyonya besar menyuruh pelayan memotong rumput lebih rapi."
Ikan koi itu mengibaskan ekornya dan menyelam kembali.
Lula merasa sangat bahagia karena semua hewan dan tumbuhan di rumah ini sangat ramah.
Dia tidak perlu lagi mencari makanan di tempat sampah atau tidur kedinginan.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu kaca yang menghubungkan taman dengan ruang tengah.
Lula menoleh dan melihat seorang pemuda tampan memakai kacamata berbingkai tipis.
Pemuda itu memakai kemeja biru muda yang rapi dan menenteng beberapa buku tebal.
Dia adalah Bastian Ayodhya, putra kedua keluarga ini yang sedang menempuh pendidikan dokter.
Bastian menghentikan langkahnya dan memicingkan mata melihat anak kecil di pinggir kolam.
"Sedang apa kau di dekat kolam sendirian?" tanya Bastian dengan nada datar.
"Awas jatuh, airnya cukup dalam untuk menenggelamkan anak balita sepertimu."
Lula segera berdiri dan merapikan gaun piyamanya.
"Lula cuma sedang mengobrol dengan ikan besar, Paman kacamata."
Alis Bastian berkerut mendengar panggilan itu.
Dia meletakkan buku-bukunya di atas meja taman dan berjalan mendekati Lula.
"Paman kacamata? Umurku baru dua puluh satu tahun, jangan panggil aku paman."
Bastian berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Lula.
Mata Bastian yang tajam langsung memindai tubuh Lula dari atas ke bawah.
Naluri medisnya bekerja dengan sangat cepat.
"Berat badanmu berada di bawah batas normal, lingkar lenganmu terlalu kecil."
"Rambutmu juga sedikit kusam, kau pasti kekurangan gizi parah."
Lula hanya mengerjap bingung mendengar kata-kata panjang yang tidak dia mengerti.
"Gizi itu apa? Makanan yang enak ya?" tanya Lula polos.
Bastian menghela nafas panjang.
Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah stetoskop kecil.
"Kemarilah, biar kuperiksa detak jantungmu," perintah Bastian.
Lula maju selangkah tanpa rasa takut karena pria ini mengingatkannya pada dokter baik hati di panti asuhan dulu.
Bastian menempelkan ujung stetoskop ke dada Lula.
Matanya membesar saat mendengar detak jantung anak ini berdetak sangat teratur dan kuat.
"Aneh sekali, secara fisik kau terlihat kurang gizi parah."
"Tapi organ dalammu berfungsi seolah kau adalah atlet yang sangat sehat."
Bastian menatap wajah Lula dengan penuh rasa penasaran.
"Sebenarnya kau ini anak siapa? Kenapa bisa ada di rumahku?"
"Lula ini anak Mama Arini dan Papa Baskoro," jawab Lula dengan senyum bangga.
Bastian hampir menjatuhkan stetoskopnya mendengar jawaban itu.
"Apa kau bilang? Anak Mama dan Papa?" Bastian berdiri dengan cepat dan mengusap wajahnya.
"Ini pasti ulah Papa lagi, sudah kubilang jangan bawa pulang anak anjing liar, sekarang malah bawa anak orang."
Bastian bergumam sendiri dengan raut wajah frustrasi.
"Lula bukan anak anjing liar, Lula anak manusia," protes Lula sambil menggembungkan pipinya.
Bastian menatap Lula dan membetulkan letak kacamatanya.
Brak!
Suara pintu depan yang dibuka dengan sangat kasar menggelegar sampai ke taman belakang.
"Mama! Cakra pulang! Hari ini Cakra mau makan ayam goreng!"
Suara teriakan yang sangat melengking dan berisik terdengar dari dalam rumah.
"Dewa juga mau ayam goreng, tapi jangan ayam murahan yang ada di kantin sekolah!"
Suara anak laki-laki lain yang sedikit lebih berat ikut menimpali.
Bastian memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
"Dua monyet kecil itu sudah pulang rupanya," gumam Bastian kesal.
Dari balik pintu kaca, muncul dua orang remaja laki-laki yang masih memakai seragam sekolah.
Yang satu terlihat sangat ceria dengan rambut sedikit berantakan, itu adalah Cakra putra ketiga keluarga ini.
Sedangkan yang berjalan di belakangnya memiliki wajah yang sangat mirip namun dengan ekspresi ditekuk.
Itu adalah Dewa, si bungsu yang kini berstatus sebagai putra keempat.
Cakra yang sedang melompat-lompat riang tiba-tiba berhenti mendadak saat melihat ke arah taman.
Matanya membelalak lebar melihat seorang anak kecil perempuan sedang berdiri di dekat kolam bersama Bastian.
"Wah! Kak Bastian diam-diam sudah punya anak?!" teriak Cakra dengan heboh.
"Sejak kapan Kakak menikah? Kenapa Cakra tidak diundang?"
Plak!
Dewa memukul bagian belakang kepala Cakra dengan keras.
"Bodoh, Kak Bastian itu mahasiswa kedokteran yang sibuk belajar terus."
"Mana mungkin dia punya waktu membuat anak," omel Dewa dengan wajah garang.
Cakra mengusap kepalanya yang sakit dan meringis kesal.
"Lalu itu anak siapa, Dewa? Jangan-jangan itu anak hantu kolam koi?"
Bastian memutar bola matanya malas melihat kelakuan kedua adiknya.
"Kalian berdua bisakah diam sebentar? Kepalaku pusing mendengar teriakan kalian setiap hari."
Cakra berlari kecil mendekati Lula dan berjongkok di depannya.
Mata Cakra berbinar-binar melihat pipi Lula yang tembem dan matanya yang bulat hitam.
"Hei anak manis, kamu tersesat ya? Siapa namamu?" tanya Cakra dengan nada suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
Lula menatap pemuda berambut berantakan ini dengan bingung.
"Namaku Lula, Kakak berisik sekali seperti burung beo di taman panti asuhan," jawab Lula jujur.
Cakra tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan polos itu.
"Wah, anak ini berani sekali mengejekku."
"Dewa, sini lihat, pipinya empuk sekali seperti mochi!" teriak Cakra sambil mencubit sebelah pipi Lula.
Lula meringis pelan karena cubitan itu sedikit sakit.
"Lepaskan, Kakak bau keringat," ucap Lula sambil mendorong tangan Cakra.
Dewa berjalan mendekat dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.
Dia menatap Lula dari atas ke bawah dengan tatapan tidak suka.
"Dari pakaiannya, dia terlihat seperti anak jalanan yang dimandikan."
"Pasti Mama lagi-lagi sembarangan membawa orang asing masuk ke rumah," tebak Dewa dengan tepat.
Cakra tidak peduli dengan ucapan Dewa, dia malah mengangkat tubuh Lula tinggi-tinggi.
"Wuuu! Pesawat terbang tinggi!" seru Cakra sambil berputar-putar.
Lula menjerit kaget, tapi kemudian dia tertawa keras karena merasa seperti sedang terbang.
"Lagi Kak, terbang yang tinggi!" tawa Lula girang.
"Turunkan dia Cakra, tanganmu kotor habis memegang bola basket tadi!" bentak Dewa panik.
"Nanti bajunya yang bersih itu jadi kotor lagi!"
Cakra menurunkan Lula perlahan dan mencibir ke arah adiknya.
"Halah bilang saja kamu juga mau menggendongnya kan?" goda Cakra.
Wajah Dewa langsung memerah hingga ke telinga.
"Mana ada! Aku tidak suka anak kecil, mereka itu berisik dan merepotkan!" bantah Dewa sambil membuang muka.
"Ada keributan apa ini sore-sore begini?" Suara lembut Arini tiba-tiba terdengar dari arah ruang tengah.
Arini berjalan menghampiri keempat anak-anaknya di taman.