Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kamu bohong padaku
Ayden tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang panjang dan tegas mendadak bergerak memutar ke depan tubuh Aisyah.
Tanpa peringatan, lengan tegap Ayden melingkar kuat di pinggang Aisyah, membalikkan tubuh wanita itu secara paksa hingga mereka berhadapan rapat. Cengkeraman lengan Ayden di pinggang dan punggung bawah Aisyah memadat secara masif—sebuah dekap kekuasaan yang terkunci kaku, menekan tubuh Aisyah hingga melekat rapat pada dada bidangnya.
"Aww... Ayden! Lepaskan... ini sakit!" meringis Aisyah, jemarinya mencoba mendorong dada tegap Ayden yang keras bagaikan dinding batu.
Pelukan itu tidak menyajikan kehangatan seorang suami yang ingin menenangkan istrinya yang ketakutan. Kali ini, sentuhan dan lingkar lengan Ayden terasa murni seperti cengkeraman seekor predator puncak yang sedang mengunci mangsanya agar tidak bisa mengepakkan sayap atau melangkah mundur walau satu milimeter pun.
"Sakit?" bisik Ayden dengan nada datar yang teramat mengerikan di depan bibir Aisyah. Pria itu sedikit mempererat himpitan lengannya, menikmati kepasrahan dan ketakutan yang terpancar dari mata istrinya. "Kenapa kamu selalu merasa sakit saat aku memelukmu, Aisyah? Bukankah ini tugas seorang suami? Memeluk istrinya erat-erat agar ia tidak pernah bisa pergi?"
"Kamu memelukku seperti sedang mengunciku di dalam penjara, Ayden!" tangis Aisyah pecah, napasnya tersengal-sengal karena tekanan di perut dan pinggangnya. "Siapa orang bernama 'F' itu?! Kenapa kalian membahas kebangkrutan keluarga Rahardja?!"
Ayden mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Aisyah yang dingin dan berkeringat pucat. Pendar mata hitamnya yang disinari remang malam memancarkan aura kegelapan murni—sebuah porsi dendam lama yang kini tak lagi diusahakan untuk disembunyikan secara utuh.
"Dengar baik-baik, Aisyah," ujar Ayden dengan intonasi pelan, berbisik namun menusuk tepat ke dalam relung batin Aisyah. "F adalah orang dari masa laluku. Masa lalu yang tidak perlu kamu campuri jika kamu ingin tetap hidup tenang di dalam rumah ini."
"Tapi ini tentang Papaku! Tentang kehidupanku!" jerit Aisyah lirih, dadanya naik turun.
"Hidupmu yang dulu sudah mati di hari orang tuamu dimakamkan, Aisyah!" potong Ayden tegas, suaranya rendah namun bergetar oleh dominasi mutlak. "Hidupmu yang sekarang adalah apa yang kuberikan padamu. Rumah ini, pakaian ini, nama belakang yang kamu sandang saat ini... semuanya adalah milikku. Termasuk ragamu yang sedang berada dalam pelukanku malam ini."
"Kamu bohong padaku selama ini..." picit Aisyah pasrah, merasa seluruh kehangatan dan cinta manis yang ditunjukkan Ayden sejak hari pernikahan mereka di tepi pantai hanyalah racun manis yang disajikan secara telaten. "Pernikahan ini... semua janji manismu... hanyalah sandiwara, kan?"
Ayden mengusap air mata di pipi Aisyah menggunakan ibu jarinya yang dingin. Sentuhan itu terasa begitu lembut, namun kelembutan itu terasa amat menyiksa bagi batin Aisyah yang hancur.
"Apakah itu penting sekarang?" tanya Ayden pelan dengan senyuman tipis yang menyayat hati. "Kamu sudah menjadi istriku, Aisyah. Cincin platina itu sudah melingkar di jarimu, dan sumpahmu di bawah langit senja waktu itu sudah mengikat jiwamu padaku. Kamu tidak akan pernah bisa lari. Ke mana pun kamu pergi, aku akan selalu menemukannya dan membawamu kembali ke pelukan ini."
Aisyah memejamkan matanya erat-erat, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi lengan tegap Ayden yang terus mengunci pinggangnya tanpa ampun. Ketakutan yang amat sangat merayap naik, membekukan seluruh saraf kewarasannya.
Di dalam kamar tidur utama yang gelap dan dingin itu, di bawah cengkeraman lengan tegap pria yang dipanggilnya suami, Aisyah merenungi nasibnya dalam kesunyian pekat. Bau alkohol tipis dari napas Ayden dan bisikan dingin yang mendominasi malam itu menjadi bukti nyata bahwa sangkar emas ini telah mengunci pintunya rapat-rapat.
Dan malam itu, saat Ayden terus memeluknya erat dalam kesunyian hingga menjelang pagi—pelukan yang tak lagi menyalurkan kehangatan cinta, melainkan demonstrasi kepemilikan yang beracun.
***
Sinar matahari pagi yang pucat berjuang menembus kabut tipis di atas halaman belakang kediaman penthouse. Sisa-sisa embun malam masih menggantung kaku di helai-helai daun, memantulkan pendar dingin yang tak tersentuh kehangatan. Keheningan pagi itu terasa bagaikan selimut basah—berat, menekan, dan menyimpan aroma tanah yang dingin.
Aisyah berdiri kaku di tengah hamparan taman. Gaun katun longgar berwarna putih polos yang dikenakannya melambai pelan ditiup angin sepoi-sepoi. Di bawah matanya yang pucat, lingkaran hitam samar membayang tegas—saksi bisu atas malam paling mengerikan dalam hidupnya. Sepanjang sisa malam tadi, ia tak berani memejamkan mata walau sedetik pun, terjebak di dalam cengkeraman lengan Ayden yang mengunci tubuhnya bagai rantai besi hingga fajar menyingsing.
Di hadapannya, berjejer rapi semak-semak mawar putih yang mekar sempurna. Bunga-bunga itu tampak anggun, namun duri-duri tajam yang bersembunyi di balik tangkainya seolah menjadi peringatan tak kasat mata.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Aisyah mengambil sepasang gunting taman berbahan besi tebal dari atas meja kayu luar ruangan. Ia membungkuk perlahan, memotong helai-helai daun kecokelatan dan kelopak bunga yang mulai layu di bagian bawah batang.
"Sedang merawat mawar-mawar itu, Bu Aisyah?"
Suara parau yang ramah memecah keheningan. Seorang pria tua berkulit legam dan bertopi caping lusuh melangkah mendekat seraya memanggul ember kecil berisi pupuk organik. Pak Karto, tukang kebun paruh baya yang telah bertahun-tahun merawat area hijau di properti milik keluarga Ayden, tersenyum tulus.
Aisyah menegakkan tubuhnya, mengusap peluh tipis di keningnya dengan punggung tangan. "Ah, Pak Karto. Pagi, Pak. Iya, saya hanya sedang melamun daripada terus duduk melamun di dalam kamar. Bunga-bunga ini cantik sekali, ya?"
Pak Karto meletakkan embernya di atas rumput basah, lalu memandangi deretan mawar putih tersebut dengan pandangan mata yang dipenuhi kerinduan dan kepedihan lama.
"Bunga-bunga mawar putih ini memang istimewa, Bu," tutur Pak Karto pelan, tangannya yang keriput mengelus kelopak bunga dengan sangat lembut. "Pak Ayden sendiri yang meminta agar tanamannya tidak pernah boleh diganti atau dimatikan. Dulu, saya sampai harus mendatangkan bibit unggulnya langsung dari luar kota."
Aisyah menghentikan jemarinya yang hendak memotong tangkai mawar, menatap pria tua itu penuh tanya. "Kenapa Ayden begitu menjaga bunga mawar putih ini, Pak? Apakah Ayden sangat menyukai mawar?"
Pak Karto menggelengkan kepala perlahan, menyunggingkan senyuman tipis yang terasa begitu pahit. "Bukan Pak Ayden yang menyukainya, Bu. Mawar putih ini... adalah bunga kesukaan almarhumah Ibu beliau."
Jantung Aisyah berdesir halus. "Mendiang Ibu Ayden?"
"Benar, Bu," sahut Pak Karto, suaranya merendah hingga menyerupai bisikan nostalgia yang pilu. "Dulu, waktu Pak Ayden masih sangat kecil, almarhumah Ibunya selalu menghabiskan waktu berjam-jam duduk di taman bunga seperti ini. Nyonya Besar adalah wanita yang sangat lembut, Bu... anggun, penuh kasih sayang, persis seperti Ibu Aisyah."