Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 012 - Mengikat Pemburu
Cengkeraman kuku Luo Biao menembus daging pergelangan kaki kiri Gu Yuan yang melepuh, menimbulkan rasa perih yang membakar hingga ke tulang keringnya. Darah segar seketika merembes keluar dari celah jemari pria itu.
Namun di wajah Gu Yuan tidak tampak sedikit pun kepanikan. Rasa sakit yang ia alami dalam simulasi kematian cermin perunggu berulang kali telah melatih ambang toleransi rasa sakitnya jauh melampaui batas manusia biasa.
Alih-alih mencoba menarik kakinya yang tertahan, Gu Yuan justru mencondongkan seluruh bobot tubuhnya ke depan. Tangan kirinya mencengkeram sebongkah batu kali seukuran kepalan tangan yang terendam lumpur di lantai parit. Dengan gerakan ayunan pendek yang mematikan dan tumpuan tenaga raga yang dingin, ia menghantamkan batu kali tersebut lurus ke arah rahang kiri Luo Biao.
Brak!
Suara hantaman batu dengan tulang rahang bergema tumpul di dinding lorong. Tulang pipi Luo Biao retak seketika, beberapa butir gigi depannya yang kuning tanggal dan menyembur keluar bersama darah kental. Matanya yang merah mendadak berputar ke atas, dan kekuatan pada jemari tangannya yang mencengkeram pergelangan kaki Gu Yuan seketika mengendur lemas.
Luo Biao jatuh terjerembap tak sadarkan diri di atas lantai batu kapur yang basah.
Gu Yuan segera menarik kakinya yang berdarah. Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun untuk memeriksa lukanya, ia mencengkeram kerah jubah Luo Biao dan menyeret tubuh jangkung yang terkulai itu masuk ke dalam bilik kosong nomor sepuluh di ujung barat.
Di dalam bilik yang berbau busuk tersebut, tergantung rantai besi tebal bekas tahanan sebelumnya yang dipasang pada pasak batu dinding. Gu Yuan melilitkan rantai besi itu ke leher, kedua lengan, dan kaki Luo Biao, lalu menguncinya rapat menggunakan gembok silinder master yang ia rampas tadi. Ia menyobek kain lap kotor dari lantai, lalu menyumpalkannya ke dalam mulut Luo Biao yang berdarah agar pria itu tidak bisa berteriak seandainya ia tersadar lebih awal.
Setelah memastikan sang pengawas terikat seperti babi potong, Gu Yuan melucuti jubah abu-abu pengawas yang dikenakan Luo Biao. Dari sabuk kulit tebal pria itu, Gu Yuan mengambil sebuah kantong kain bersulam lambang daun giok yang berisi dua belas keping perak murni dan selembar peta patroli lembah yang digambar tangan di atas kain sutra kasar.
Peta itu memuat detail penting yang selama ini dirahasiakan dari para murid luar: posisi menara panah, jadwal pergantian jaga gerbang barat, dan titik tuju jalan setapak rahasia yang melintasi tebing air terjun menuju balai belakang balai obat.
Xiao Wu yang berdiri gemetar di ambang pintu bilik menatap seluruh tindakan Gu Yuan dengan mata membelalak penuh kengerian yang bercampur rasa takjub. Ketegasan, kecepatan, dan ketenangan Gu Yuan saat melumpuhkan seorang murid senior lapis kesembilan tanpa keraguan sedikit pun memperlihatkan ketenangan seorang algojo yang terbiasa melintasi tumpukan mayat perang.
“Kakak… Kakak Gu…” bisik Xiao Wu sambil menjatuhkan lututnya ke lantai batu, tangannya terangkat memohon dengan suara tersedu-sedu. “Tolong bawa aku bersamamu… Kalau aku tertinggal di sini, Tetua Mo pasti akan mengulitiku hidup-hidup saat ritual dimulai nanti malam… Aku mohon, aku bisa membawakan perbekalanmu, aku tidak akan merepotkan…”
Gu Yuan menoleh, tatapan matanya datar dan sedingin batu es jurang.
“Aku bukan pengawal pribadimu,” jawab Gu Yuan pendek. Suaranya tegas tanpa ruang tawar-menawar. “Jika kau mengikutiku, langkah kakimu yang pincang hanya akan menarik perhatian para pemanah gerbang atas. Kita berdua akan mati dalam waktu sepuluh tarikan napas.”
Xiao Wu tersentak, wajahnya yang pucat pasi menjadi semakin pasi mendengar penolakan yang begitu dingin.
Gu Yuan melepaskan dua anak kunci kuningan dari cincin tembaga di tangannya, lalu melemparkannya ke pangkuan Xiao Wu bersama sepotong dendeng kering yang ia temukan di saku Luo Biao.
“Dua kunci ini untuk membuka jeruji bilik sembilan tahanan lainnya,” kata Gu Yuan sambil menunjuk ke arah kegelapan lorong pembuangan air limbah di sebelah barat. “Tunggu sampai lonceng pergantian jaga tengah hari berbunyi sekali lagi. Buka pintu mereka, lalu bawa mereka merayap keluar lewat saluran air limbah utama di ujung barat. Juru masak dapur sudah terbius racun daun pahit di bilik atas, jadi saluran parit belakang tidak akan dijaga sampai senja. Jika kalian berpencar ke arah hutan bambu selatan, separuh dari kalian mungkin punya peluang untuk selamat.”
Xiao Wu menatap dua anak kunci kuningan di tangannya, air matanya menetes membasahi keping logam dingin tersebut. Ia menyadari bahwa Gu Yuan tidak berniat menjadi pahlawan pelindung, namun instruksi taktis dan kunci yang ditinggalkannya adalah satu-satunya jalan hidup yang paling masuk akal bagi mereka semua.
“Terima kasih… Kakak Gu… terima kasih…” bisik Xiao Wu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai tanah.
Gu Yuan tidak menjawab lagi. Ia segera menanggalkan jubah abu-abu murid luar miliknya yang kotor dan compang-camping, lalu mengenakan jubah abu-abu pengawas milik Luo Biao yang bersih dengan sulaman daun giok di kerah. Jubah itu sedikit longgar di pundaknya, namun cukup untuk menyamarkan identitasnya di bawah cahaya temaram. Ia mengambil topi jerami bambu bertepi lebar milik Luo Biao dan mengenakannya rendah-rendah hingga menutupi separuh wajah dan pelipisnya.
Tepat saat Gu Yuan selesai mengikat sabuk kulit pengawas di pinggangnya, suara gema langkah kaki bersepatu bot terdengar membahana dari arah tangga batu di ujung timur lorong.
Kali ini bukan hanya satu orang. Suara derak pelindung dada logam, gemerincing sarung pedang, dan langkah kaki teratur dari sedikitnya lima orang pengawal bersenjata berat terdengar berderap cepat menuruni undakan batu aula utama menuju lorong bilik tahanan.