Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Pembantaian di Lumpur Hitam
Atap daun nipah runtuh dalam selimut lidah api merah. Asap tebal memenuhi udara ruangan, membuat mata para pengawal Serigala Hitam perih. Ma Huang melangkah cepat ke depan, tidak menunggu pintu kayu terbakar itu roboh dengan sendirinya.
Ia menghentakkan kaki kanannya ke ubin bambu. Aliran Qi beracun meluncur kencang dari meridian kakinya, menghantam dinding depan pondok hingga papan-papan kayu yang membara itu terlempar ke luar menembus kegelapan malam.
Brak!
Serpihan kayu berapi menyambar lima pembunuh bertopeng besi yang berdiri berjejer di atas lumpur bakau. Dua pembunuh terdepan mencoba menangkis serpihan api dengan pedang panjang mereka, tetapi Ma Huang sudah melesat keluar di balik kepulan asap hitam.
Bilah Pedang Tulang Hitam bergerak lurus mendatar. Dalam satu ayunan cepat, ujung pedang hitam beracun itu merobek leher dua pembunuh terdepan dari kiri ke kanan.
Darah kental menyembur deras menghantam batang-batang pohon bakau. Racun Ular Hijau yang meresap ke dalam sirkulasi darah membuat kedua pembunuh itu roboh seketika ke dalam air lumpur, lidah mereka membengkak kaku menutup jalan napas.
Tiga pembunuh sisanya tersentak mundur dua langkah. Lumpur hitam sebatas lutut membuat pergerakan sepatu besi mereka lambat dan kaku, sementara Ma Huang menjejakkan kakinya dengan mengandalkan tumpuan akar-akar bakau yang terendam di bawah permukaan air asin.
"Tembak dia!" jerit sang komandan pasukan pemburu dari balik pilar pohon bakau raksasa.
Dua pemanah yang berlindung di atas dahan pohon melepaskan anak panah berujung racun secara bersamaan. Syiut tajam desisan besi membelah malam yang riuh oleh suara kobaran api.
Ma Huang tidak memutar badan. Ia memiringkan kepalanya tipis, membiarkan anak panah pertama melintas lima milimeter dari telinga kirinya, lalu mengangkat lengan kiri untuk menangkap anak panah kedua tepat di bagian batang kayunya.
Dengan satu gerakan memutar pergelangan tangan, Ma Huang membalikkan arah anak panah tersebut dan melemparkannya kembali ke atas dahan pohon.
Jleb!
Anak panah itu menembus tenggorokan pemanah pertama di atas dahan. Pembunuh itu terjerembab jatuh dari ketinggian sepuluh kaki, menghantam akar bakau yang tajam hingga dadanya tertembus kayu kaku.
Pemanah kedua di atas dahan mencoba mengisi ulang busurnya, tetapi Ma Huang sudah melompat tinggi. Pijakan kakinya melontarkan tubuhnya melintasi permukaan air lumpur, mendarat tepat di atas dahan kayu tempat pemanah itu berdiri.
Pedang Tulang Hitam meluncur menembus dada pemanah kedua dari depan hingga tembus ke belakang dahan. Ma Huang mencabut pedangnya tanpa sedikit pun menoleh, membiarkan jasad itu terhempas ke bawah menimpa air laut yang pekat.
Di bawah, empat pembunuh bertopeng besi mencoba menyerbu ke arah pintu belakang pondok untuk menghadang Lu Gang dan tiga pengawal Serigala Hitam.
"Jangan biarkan ada yang lolos!" bentak komandan pemburu yang bertubuh jangkung dengan sepasang sabit berkait di kedua tangannya.
Ma Huang meluncur turun dari dahan pohon bakau bagaikan elang menyambar dalam kegelapan. Tumit kanannya menghantam bahu salah satu pembunuh yang sedang membungkuk di atas lumpur.
Krak!
Tulang selangka pembunuh itu hancur berantakan. Ma Huang membenamkan kepala pembunuh itu ke dalam lumpur hitam yang dalam, menahannya selama beberapa detik hingga gerakan kakinya terhenti total.
Dua pembunuh lainnya memutar badan dengan cepat. Pedang-pedang tipis mereka meluncur beruntun mengincar pinggang dan paha Ma Huang dari dua arah yang berseberangan.
Ma Huang menyilangkan Pedang Tulang Hitam secara vertikal untuk menangkis sabetan pertama. Bunga api memercik kencang di antara kegelapan malam, menyinari sisa racun hitam yang membeku di sepanjang bilahnya.
Saat pedang kedua meluncur mengincar pahanya, Ma Huang tidak menarik kakinya mundur. Ia sengaja menggeser lututnya lima senti, membiarkan ujung pedang musuh hanya merobek jubah luar tanpa menyentuh kulitnya.
Pada saat bersamaan, Ma Huang mengepalkan tangan kirinya. Hawa dingin membusukkan dari Jalur Darah Pemakan Bencana terkumpul penuh di permukaan kulit telapak tangannya, membentuk warna kehitaman yang memantulkan cahaya api.
Brak!
Pukulan telapak tangan beracun itu mendarat tepat di tengah dada pembunuh kedua. Pelindung dada besi yang dikenakan pembunuh itu melengkung ambles ke dalam, meremukkan tulang dada dan organ jantungnya menjadi bubur dalam satu kali pukulan keras.
Darah hitam menyembur keluar dari balik topeng besi pembunuh itu saat tubuhnya terlempar lima langkah ke belakang, roboh menimpa akar-akar bakau yang mencuat.
Pembunuh ketiga menggeram parau, mencoba mencabut pisau belati dari pinggangnya untuk serangan jarak dekat. Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam seratus delapan puluh derajat dan membenamkan bilahnya ke leher pembunuh itu hingga menembus ke batang pohon di belakangnya.
Darah menyembur kental membasahi kulit kayu bakau. Ma Huang mencabut pedangnya dengan satu dorongan siku yang dingin, membiarkan tubuh musuhnya terkulai kaku di atas tanah basah.
Kini hanya tersisa komandan pasukan pemburu yang berdiri lima langkah di depan Ma Huang. Pria jangkung itu memegang sepasang sabit berkait yang terikat rantai tipis di pergelangan tangannya. Wajah di balik topeng besinya tampak tegang kaku saat menyaksikan seluruh anak buahnya tewas dalam waktu kurang dari lima menit.
"Kau bukan lagi manusia, Ma Huang," bisik komandan itu dengan suara melengking yang bergetar hebat. "Sekte Pedang Suci tidak akan pernah membiarkan iblis beracun sepertimu berkeliaran di Kota Yunjiang!"
"Jian Yue yang menyeretku keluar dari kubur," kata Ma Huang dengan nada suara datar tanpa emosi. "Dan malam ini kau yang akan membawa pesanku padanya ke neraka."
Komandan itu menghentakkan kakinya ke dalam lumpur, melemparkan sabit berkait di tangan kanannya secara melingkar. Sabit berantai itu berputar cepat membelah udara, membentuk gelombang angin tajam yang mengincar pergelangan kaki Ma Huang.
Ma Huang melompati putaran rantai tersebut. Namun sabit kedua di tangan kiri komandan meluncur naik secara mendatar, mengincar perutnya yang terbuka di udara.
Di tengah udara, Ma Huang memiringkan badannya sejajar dengan permukaan air. Bilah sabit kedua melintas beberapa milimeter di bawah kain jubahnya, hanya memotong tali pengikat pinggangnya.
Sebelum kakinya kembali menjejak tanah, Ma Huang menyalurkan Qi beracun ke sepanjang bilah Pedang Tulang Hitam. Bilah pedang yang berwarna hitam kelam itu mendadak memancarkan bau keasaman yang sangat pekat, melunakkan udara dingin malam di sekitarnya.
Ma Huang menebas rantai besi sabit komandan itu saat rantai tersebut berada di titik renggang.
Cring!
Rantai besi berlapis baja itu putus terbelah dua bagaikan memotong ranting kayu lapuk. Sabit berkait komandan jatuh terbenam ke dalam lumpur hitam.
Komandan itu terbelalak kaget, mencoba menarik mundur tangan kirinya yang masih memegang sisa rantai. Namun Ma Huang sudah mendarat rapat di hadapannya.
Cengkeraman tangan kiri Ma Huang mencengkeram pergelangan tangan komandan itu dengan cengkeraman besi. Hawa dingin beracun merembes seketika menembus sarung tangan besi musuh, membekukan urat darah dan meridian lengannya dalam hitungan detik.
Jeritan melengking pecah dari tenggorokan sang komandan saat kulit lengannya membiru kehitaman dan mengelupas kaku.
"Di mana pimpinan utama Pasukan An Ying menyembunyikan peta saluran Balai Kota?" tanya Ma Huang dingin.
Komandan itu meludah ke tanah, matanya mendelik penuh kebencian. "Kau tidak akan pernah bisa menyusup ke Balai Kota. Pintu pembuangan sudah dikunci dari dalam."
Ma Huang tidak menanyakan pertanyaan itu untuk kedua kalinya.
Jleb!
Pedang Tulang Hitam menembus tepat di bawah dagu komandan tersebut, meluncur naik hingga menembus tempurung kepala bagian atas. Jeritan parau itu terhenti seketika, berganti dengan desisan napas terakhir yang tersumbat cairan darah kental.
Ma Huang memutar pedangnya sebelum mencabutnya kencang. Tubuh jangkung komandan itu roboh perlahan, terbenam ke dalam lumpur hitam Rawa Bakau yang dipenuhi oleh jasad sepuluh anak buahnya.
Ma Huang membungkuk di samping jasad sang komandan. Dengan ujung pedangnya, ia merobek lapisan jubah kulit pria itu untuk menggeledah barang-barang pribadinya.
Di balik lipatan kain dada komandan, terdapat sebuah kotak besi persegi berduri yang dikunci dengan segel lilin berwarna biru gelap. Pada permukaan lilin tersebut, terukir stempel resmi milik Murid Utama Sekte Pedang Suci, Song Chen.
Ma Huang memotong segel lilin itu menggunakan ujung pedang, lalu membuka penutup kotak besi.
Di dalam kotak tersebut terletak selembar instruksi rahasia yang tertulis menggunakan tinta emas dan sebuah lonceng tembaga kecil berukir lambang racun.
Mata merah Ma Huang membaca bait-bait instruksi rahasia itu di bawah pancaran cahaya api pondok nelayan yang mulai padam.
Surat itu tidak berisi perintah untuk membunuh Lu Gang. Surat itu adalah instruksi dari Song Chen kepada Pasukan An Ying untuk memancing Ma Huang keluar dari persembunyiannya ke Rawa Bakau, sementara pasukan utama Sekte Pedang Suci bergerak menyerbu lokasi tersembunyi para pengrajin senjata kuno di pinggiran barat kota.
Lokasi tempat bahan racun utama untuk memulihkan Dantian Ma Huang disimpan oleh pengawal setia ayahnya.
"Tuan Muda!" suara Lu Gang terdengar dari balik semak bakau di belakangnya. Pria tua itu muncul disangga oleh Xiao Feng, matanya menatap sekeliling rawa yang kini bergemerlap oleh darah dan jasad pembunuh.
Ma Huang mengepalkan tangannya kencang, meremas surat instruksi rahasia di genggamannya hingga hancur menjadi serpihan kertas basah.
"Kita tidak bisa menunggu tiga hari lagi untuk bergerak ke Balai Kota," kata Ma Huang dengan nada suara dingin yang membuat para pengawal di belakangnya merinding kaku.
Ia berbalik membelakangi Rawa Bakau yang membara, memandang ke arah garis langit Kota Yunjiang yang gelap di kejauhan.
"Song Chen sudah bergerak menuju Kediaman Pengrajin Barat malam ini," lanjut Ma Huang seraya mengencangkan ikatan jubahnya yang koyak. "Dan dia membawa seluruh persediaan racun pembuka Dantian milik ayahku."