NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: SORE DI RUMAH NYONYA FANG

Undangan itu datang tanpa sampul merah dan tanpa stempel, hanya selembar kertas kuning yang dilipat dua dan diantar seorang pelayan tua dengan napas tersengal. Nyonya Fang, janda seorang mantan pengawas istana yang tinggal tiga lorong dari kediaman Shen, mengundang "anak Nyonya Lin yang baru pulang" untuk menikmati teh krisan di serambinya. Tulisannya besar dan agak miring, seperti ditulis orang yang tidak sabar menunggu tintanya kering.

"Beliau tidak pernah mengundang siapa pun dengan sopan santun resmi," kata Yucheng sambil membaca ulang kertas itu. "Kalau ditolak, ia akan datang sendiri dengan tongkatnya. Ibu sedang pusing sejak pagi, jadi kau pergi bersama Bibi Qin saja. Aku antar sampai gerbang."

"Kakak tidak ikut?"

"Nyonya Fang bilang 'anak Nyonya Lin', bukan 'anak-anak Nyonya Lin'." Yucheng tersenyum. "Aku sudah cukup lama menjadi bahan ceramahnya. Sekarang giliranmu."

———

Rumah Nyonya Fang kecil dibanding rumah Marquis Lu, dan tidak berusaha tampak lain. Halamannya sempit, ditumbuhi pot-pot krisan berbagai warna yang diatur tanpa hitungan, dan di sudutnya ada kandang burung kosong yang pintunya dibiarkan terbuka. Seorang pelayan menuntun mereka ke serambi belakang, tempat seorang perempuan tua bertubuh mungil duduk bersila di atas bantalan, selimut tipis menutupi lututnya.

"Kemarilah. Jangan berdiri di situ seperti tamu."

Ruyin memberi hormat. Nyonya Fang menatapnya lama dari kepala sampai ujung sepatu, dengan mata yang keruh di pinggir tetapi tajam di tengah.

"Kau kurus. Tapi matanya tidak berubah," katanya akhirnya. "Duduk. Qin, kau juga, jangan jadi tiang."

Bibi Qin membungkuk dan duduk di ujung tikar, lebih jauh dari yang diharuskan sopan santun.

Teh krisan disajikan dalam cawan tipis, dengan kelopak kuning yang mengambang pelan. Ruyin menunggu uapnya reda sambil mendengarkan Nyonya Fang menggerutu tentang tabib yang melarangnya makan manisan, tentang menantunya yang terlalu rajin merapikan barang, dan tentang cucu laki-lakinya yang gemar membolos dari akademi.

Ruyin menikmatinya. Nyonya Fang berbicara seperti orang yang tidak punya waktu untuk menyimpan rahasia. Untuk pertama kali sejak pulang, tak ada satu pun kalimat yang terasa disusun lebih dulu.

———

"Kau masih membaca?" tanya Nyonya Fang tiba-tiba.

"Membaca, Nyonya?"

"Dulu kau datang setiap sepuluh hari, membawa gulungan surat dari anakku di perbatasan. Mataku sudah buruk sejak itu, kau tahu. Kau duduk di sana." Ia menunjuk dengan dagu ke sebuah bangku rendah di bawah jendela. "Membacakannya keras-keras, kata demi kata, sambil menirukan suara anakku yang berat itu. Aku sampai menangis tertawa."

Ruyin memandang bangku itu. Kayunya gelap dan licin oleh tahun-tahun pemakaian.

"Aku membacakan surat untuk Nyonya?"

"Bukan hanya membaca. Kau juga yang menulis balasannya. Aku mengucapkan, kau menulis. Kadang aku bilang 'tulis bahwa ibu baik-baik saja', tapi kau menambahkan sendiri bahwa ibu sedang marah pada tukang kebun supaya anakku tidak khawatir terlalu jauh." Nyonya Fang terkekeh. "Tulisanmu waktu itu sudah rapi. Anak sekecil itu."

Ruyin tersenyum, dan merasa senyumnya sedikit kaku. Dalam cerita ibunya, ia anak yang berlari di lorong sampai alas kakinya habis. Dalam cerita Nyonya Fang, ia anak yang duduk di bangku rendah setiap sepuluh hari, membaca surat orang lain dengan sabar.

Tidak ada yang bertentangan. Anak bisa saja melakukan keduanya. Namun sesuatu dalam urutan hari-hari itu terasa seperti rumah yang ditinggali dua keluarga yang tidak pernah saling bertemu di tangga.

"Aku tidak ingat, Nyonya. Maafkan aku."

"Tidak apa-apa. Kau memang sakit." Nyonya Fang melambaikan tangan, lalu menyesap tehnya. "Anakku sampai sekarang masih menanyakan kabarmu setiap kali menulis. 'Apakah anak kecil yang pandai menulis itu sudah sembuh?' Aku bilang aku tidak tahu, keluargamu tidak menjawab apa-apa."

Bibi Qin mengubah letak lututnya di tikar. Hanya itu.

———

Mereka berbincang sampai matahari turun ke atas atap tetangga. Nyonya Fang bercerita tentang lorong yang berubah: penjual tahu yang meninggal, anak-anak yang kini menjadi ayah, dan seorang penjilid buku bernama Pan yang dulu setiap musim gugur dipanggil ke rumah-rumah besar di Distrik Timur untuk memperbaiki kitab dan gulungan keluarga.

"Penjilid Pan, yang rambutnya selalu bau lem? Kau pasti ingat. Dia sering duduk di serambi rumah Shen, dan kau suka sekali memperhatikan tangannya." Ia mengerutkan dahi. "Entah ke mana ia sekarang. Aku mencarinya tahun lalu untuk memperbaiki kitab doa suamiku, tapi kiosnya di Gang Wutong sudah kosong. Orang bilang ia pindah. Aneh, tukang yang begitu tekun tidak pamit kepada pelanggan lamanya."

Ruyin mengangguk dan menyesap tehnya. Nama itu tidak membangunkan apa pun. Ia hanya menyimpannya seperti ia menyimpan nama-nama lain, tanpa tahu di rak mana nama itu akan berguna.

———

Menjelang senja, Nyonya Fang menyuruh pelayannya membungkus sekotak kue kacang untuk dibawa pulang, lalu menarik tangan Ruyin ketika gadis itu hendak berpamitan. Jemarinya kering dan hangat.

"Satu hal lagi, Nak. Kau pulang tanpa banyak orang tahu, tapi Chang'an tidak pernah benar-benar tidak tahu." Suaranya merendah, bukan karena rahasia, tetapi seperti orang yang mengeluh tentang cuaca. "Minggu ini sudah dua kali ada yang bertanya kepadaku apakah Nona Shen sudah mulai keluar rumah. Seorang pelayan dari Kediaman Marquis Lu, dan satu lagi kasim muda dari Istana Timur."

"Istana Timur?"

"Aku tidak tahu urusan mereka. Aku hanya bilang aku tidak tahu." Nyonya Fang menepuk punggung tangannya. "Pergilah. Jangan lupa mampir lagi sebelum aku mati."

———

Mereka berjalan kembali melewati lorong yang mulai remang. Lampu-lampu kecil dinyalakan di depan pintu rumah-rumah, dan dari dapur terdengar bunyi wajan beradu. Bibi Qin berjalan setengah langkah di belakang Ruyin dengan kotak kue di tangan, diam seperti biasa.

Di mulut lorong, kereta keluarga Shen menunggu bersama sais yang menguap lebar. Ruyin sudah menaiki pijakan ketika ia menoleh tanpa tahu mengapa.

Di seberang jalan, di bawah pohon willow yang daunnya sudah menipis, berhenti sebuah kereta kecil berwarna gelap tanpa lambang. Tirai jendelanya tertutup rapat. Seorang pengendara duduk di bangku depan dengan wajah menunduk, tak bergerak, seperti orang yang sudah lama menunggu tanpa ingin terlihat menunggu.

Ketika kereta Shen mulai berjalan, tirai kereta itu bergeser sedikit, hanya selebar jari. Lalu menutup kembali.

Bibi Qin, yang duduk di seberang, tidak menoleh ke luar. Ia hanya memeluk kotak kue di pangkuannya lebih erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!