Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - PEMBURU GELAP TIBA
Tidur Valeria semalam rasanya adalah tidur paling nyenyak yang pernah dia rasakan selama satu dekade terakhir. Nggak ada mimpi buruk tentang dewan tetua, nggak ada bayang-bayang pamannya. Cuma ada detak jantung Kael yang konstan dan hawa hangat dari tubuh pria itu.
Ketika Valeria membuka matanya, hal pertama yang dia sadari adalah kasur di sebelahnya udah kosong.
Ratu mafia itu menguap pelan, meregangkan otot-ototnya yang masih agak kaku. Kaus hitam kebesaran Kael membalut tubuhnya dengan nyaman. Dia menoleh ke arah meja monitor di tengah bunker.
Kael duduk di sana, membelakanginya. Pria raksasa itu udah kembali rapi dengan celana kargo hitam dan kaus lengan pendek yang pas di badan, memperlihatkan lengannya yang berotot dan dililit perban. Dia lagi sibuk ngetik sesuatu di *keyboard*, menatap tajam ke arah deretan layar CCTV yang menampilkan kondisi di luar bengkel tua tempat mereka sembunyi.
"Udah bangun pagi aja," sapa Valeria dengan suara serak khas bangun tidur, menyibakkan selimut lalu berjalan mendekat tanpa alas kaki.
Mendengar suara Valeria, Kael langsung menoleh. Ekspresi wajahnya yang tadi kaku dan dingin seketika melunak. Mata elangnya memindai wajah Valeria, memastikan nggak ada lagi jejak pucat atau sisa air mata seperti semalam.
"Suhu tubuh Anda sudah benar-benar normal, Val," ucap Kael lega, berdiri dari kursinya untuk narik kursi lipat lain buat Valeria. "Bagaimana perasaannya? Luka di betisnya masih berdenyut?"
"Udah mendingan banget. Kamu rawatnya kelewat telaten sih," kekeh Valeria ringan, mendudukkan dirinya di sebelah Kael. Dia melirik ke arah layar monitor. "Lagi ngecek apa?"
"Memastikan perimeter. Saya sedang menyadap frekuensi radio polisi lokal dan saluran komunikasi bawah tanah," jelas Kael kembali menatap layar. "Berita tentang nilai buruan Anda menyebar lebih cepat dari virus. Semua cecunguk di kota ini sekarang lagi berlomba-lomba nyari jejak kita."
Valeria mendengus sinis. Dia menyandarkan dagunya ke telapak tangan. Rasa putus asanya semalam udah menguap habis, berganti dengan realita yang udah dia terima. Dia sadar, nangis darah pun nggak bakal ngembaliin kerajaannya. Satu-satunya cara adalah bertahan hidup dan ngehancurin Surya.
"Biarin aja mereka nyari sampai mampus. Bunker ini nggak bakal bisa dilacak sama kroco-kroco itu, kan?" tanya Valeria santai.
"Tentu," sahut Kael yakin. "Dinding beton ini dilapisi timbal, memblokir semua sinyal dan pemindai panas dari luar. Selama kita tidak keluar—"
*BIP... BIP... BIP...*
Belum sempat Kael nyelesain kalimatnya, sebuah lampu merah kecil di sudut layar utama mendadak berkedip cepat, diiringi suara alarm mekanis yang sangat pelan tapi bikin bulu kuduk merinding.
Kael langsung membeku. Jari-jarinya dengan cepat mengetik deretan *command* di *keyboard*, memperbesar salah satu *feed* kamera CCTV yang tersembunyi di atas tiang listrik karatan di luar bengkel.
Napas Valeria seketika tercekat.
Di layar monitor hitam putih itu, terlihat tiga buah SUV lapis baja warna hitam pekat baru aja berhenti tepat di halaman bengkel rongsokan. Nggak ada pelat nomornya. Nggak ada logo klan.
Pintu-pintu mobil itu terbuka serentak. Dua belas orang pria bertubuh kekar turun dari sana. Mereka bukan preman jalanan atau anak buah mafia biasa. Mereka pakai seragam tempur taktis warna abu-abu gelap, helm *kevlar*, dan kacamata *night vision*. Senapan laras panjang dengan *silencer* (peredam suara) tergenggam erat di tangan mereka.
Di atas kap salah satu mobil, seseorang melepaskan sebuah *drone* berukuran sedang yang langsung terbang mengitari atap bengkel.
"Sial," umpat Kael dengan suara sangat rendah, auranya mendadak berubah gelap dan mematikan.
"Siapa mereka, Kael? Pasukan elit Viper?" tanya Valeria panik, beringsut mendekat ke layar.
Kael menggeleng tajam. Rahangnya mengeras. "Bukan. Viper tidak punya anjing pelacak seprofesional ini. Lihat emblem tengkorak perak di bahu mereka, Val. Itu *Ghost Hounds*."
"Pemburu gelap?" mata Valeria membelalak ngeri.
*Ghost Hounds* adalah legenda urban di dunia bawah tanah. Mereka adalah kelompok tentara bayaran independen spesialis pemburu buronan yang bayarannya sangat gila. Mereka nggak pernah gagal, dan mereka nggak pernah nyisain targetnya hidup-hidup. Fakta bahwa Surya berhasil nyewa mereka cuma dalam hitungan jam ngebuktiin seberapa besar obsesi pamannya buat ngelihat Valeria mati.
"Gimana caranya mereka bisa nemuin kita secepat ini?" desis Valeria, jantungnya kembali berpacu gila. "Kamu bilang tempat ini nggak terlacak!"
Kael terus mengawasi pergerakan dua belas pemburu itu di layar. Dua orang dari mereka sedang memegang sebuah alat berbentuk tablet yang dihubungkan ke antena kecil.
"Mereka melacak jejak termal sisa panas mesin *speedboat* kita di muara sungai, lalu menggunakan *drone* pencari rongga udara bawah tanah," analisis Kael cepat. "Bengkel ini memang dilindungi timbal, tapi ventilasi udara kita tetap harus membuang karbon dioksida ke atas. Mereka menangkap jejak gas itu."
Di layar, komandan *Ghost Hounds* itu mengangkat tangannya, memberi isyarat taktis ke anak buahnya. Pasukan itu langsung menyebar, bergerak tanpa suara mengepung bangunan bengkel. Empat orang berjalan tepat ke arah tumpukan ban bekas tempat pintu baja bunker disembunyikan.
"Mereka udah nemuin pintunya, Kael!" seru Valeria refleks mencengkeram lengan Kael.
Kael menepis tangan Valeria dengan lembut, lalu berdiri. Nggak ada lagi Kael yang gugup dan salah tingkah kayak semalam. Insting monsternya kini mengambil alih sepenuhnya. Sang bayangan sudah mencium bau darah, dan rantainya baru saja dilepas.
Pria raksasa itu berjalan santai ke arah rak senjata. Tapi anehnya, Kael nggak ngambil senapan serbu M4 atau *shotgun* yang berjejer rapi di sana. Dia malah membuka sebuah laci kecil di bagian bawah rak.
Kael mengeluarkan dua gulung plester olahraga tebal (*athletic tape*) warna hitam. Sambil menatap dingin ke arah pintu baja di ujung ruangan, dia mulai melilitkan plester itu ke telapak tangan hingga ke pergelangan tangannya, mengunci buku-buku jarinya layaknya petarung MMA ilegal.
Setelah tangannya terbalut rapat, Kael mengambil sepasang pisau *karambit* melengkung yang bilahnya berwarna hitam pekat, lalu menyarungkannya di sabuk kargonya.
Valeria melongo melihat persiapan itu.
"Kamu gila?! Ngapain kamu malah plesteran tangan?!" bentak Valeria berlari nyamperin Kael. "Di luar sana ada dua belas pembunuh bayaran pakai senapan otomatis, Kael! Ambil senapanmu!"
Kael memutar tubuhnya menghadap Valeria. Dia menyeringai, sebuah senyum miring yang luar biasa buas dan arogan. Mata elangnya berkilat merah karena adrenalin yang mulai membanjiri aliran darahnya.
"Kalau saya menembak pakai senapan laras panjang di ruang terbuka, suaranya akan bergema dan mengundang cecunguk lain datang ke mari, Val," jawab Kael tenang, menggulung lengan kausnya sebatas siku, mengabaikan perban di bahunya yang masih baru. "Pasukan seperti mereka memakai helm dan rompi anti peluru tingkat empat. Peluru biasa hanya akan membuat mereka marah."
"Terus kamu mau ngelawan mereka pakai tangan kosong?!" protes Valeria nggak habis pikir. "Luka jahitmu bisa jebol lagi, Kael!"
"Biarin jebol," sahut Kael mutlak. Tangan besarnya yang kini terbalut plester hitam itu terangkat, menangkup sebelah pipi Valeria dengan sangat lembut, sangat kontras dengan aura membunuhnya. "Saya sudah janji semalam, Nyonya. Kalau ada yang berani membuat Anda menangis, saya akan membuat mereka membayar dengan darah. Mereka ke sini untuk uang dua puluh juta dolar? Akan saya beri mereka tiket VVIP ke neraka."
*GEDUBRAK!*
Suara benturan tumpul dan berat terdengar samar dari arah pintu baja tebal di ujung lorong. Para pemburu di atas sana mulai berusaha menjebol pintu bunker dengan bahan peledak kecil atau alat pembongkar hidrolik.
Waktu mereka habis.
Kael melepaskan tangannya dari wajah Valeria. Pria itu berjalan menuju sebuah panel di dinding samping lemari medis, lalu menarik sebuah tuas merah.
*SREEEK... KLIK!*
Sebuah terali baja setebal lengan orang dewasa tiba-tiba turun dari langit-langit, memisahkan area lorong masuk dengan ruang utama bunker tempat Valeria berada.
Valeria terkejut dan langsung memegang terali baja itu. "Kael! Buka ini! Aku mau ikut keluar!"
Kael yang sudah berada di sisi lorong menuju pintu keluar berbalik menatap Ratunya dari balik jeruji baja.
"Tugas Anda di sini hanya diam dan melihat bagaimana anjing penjaga Anda bekerja, Ratuku," ucap Kael dengan nada yang bikin lutut siapa pun lemas mendengarnya. "Sistem ini hanya bisa dibuka dari dalam. Kalau saya tidak kembali dalam waktu sepuluh menit... jangan pernah buka pintu ini untuk siapa pun."
"Kael, jangan konyol! Kael!" teriak Valeria memukul jeruji baja itu frustrasi.
Tapi Kael tidak lagi menoleh. Pria raksasa itu membalikkan badannya, meretakkan tulang lehernya ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi *krek* yang nyaring.
Pintu baja utama di ujung lorong perlahan-lahan mulai penyok, engselnya dipaksa lepas oleh alat berat dari luar. Suara percikan api las terdengar mendesis keras.
Kael berdiri di ujung lorong yang temaram, menunggu dengan sabar dalam bayangan. Dia menarik napas panjang, menetralkan sirkulasi oksigen di tubuhnya, mengubah mode manusia biasa menjadi predator puncak. Goresan luka dan perih di bahunya diubah menjadi bahan bakar kemarahan yang membara.
*BAM!*
Pintu baja seberat setengah ton itu akhirnya rubuh ke dalam, menciptakan kepulan debu yang tebal dari sisa-sisa reruntuhan beton. Cahaya matahari pagi dari luar menyilaukan mata, menembus masuk ke dalam lorong bunker.
Dari balik kepulan debu itu, empat orang pemburu dengan senapan terhunus melangkah masuk, senter taktis menyala terang mencari target mereka.
"Pintu jebol! *Clear*!" teriak salah satu pemburu dengan suara serak dari balik masker komunikasinya.
Namun, sebelum pria itu sempat mengambil langkah kedua, sebuah tangan raksasa berlilit plester hitam melesat keluar dari dalam kegelapan. Tangan itu mencengkeram laras senapan si pemburu, menariknya dengan kekuatan brutal hingga pria itu terpelanting ke depan.
Kael melangkah keluar dari bayangan. Senyum iblisnya mengembang sempurna.
Sang monster telah lepas rantai.