Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. MEJA BUNDAR
Keesokan harinya, ruang tamu megah di kediaman utama klan Gunawan dipenuhi tensi dingin yang luar biasa pekat. Di atas sofa kulit berukir, Nenek Dina duduk mengapit tongkat kayunya dengan angkuh. Di sampingnya, Rizky berdiri tegap dengan balutan jas gelap, memancarkan aura intimidasi yang dominan dan tak tersentuh.
Di hadapan mereka, keluarga cabang dan keluarga Aira berkumpul. Tante Mia, Sinta, Azka, serta Ayah Aira, Tante Sofi, dan Rani duduk berderet dengan raut wajah cemas yang ditutupi topeng kepalsuan. Mereka datang untuk membahas pertunangan Azka dan Aira yang tertunda akibat kekacauan di pesta semalam.
Drt... Drt... Drt...
Tiba-tiba, hampir secara bersamaan, ponsel milik Ayah Aira, Tante Mia, dan Azka bergetar hebat. Notifikasi berita flash news dari portal bisnis utama nasional muncul di layar mereka.
[SKANDAL KLAN GUNAWAN: DUGAAN PENINDASAN KELUARGA CABANG & PERTUNANGAN AZKA DITUNDA, SAHAM DIPREDIKSI ANJLOK!]
"L-Lihat ini!" jerit Tante Mia histeris, menunjuk layar ponselnya yang menampilkan grafik penurunan saham. Wajahnya merah padam penuh amarah. "Berita skandal semalam baru saja bocor ke publik! Saham kita di bursa efek terancam anjlok pagi ini!"
Sinta melotot tajam ke arah Aira yang duduk di ujung sofa dengan gaun putih tuangnya yang anggun. "Ini pasti gara-gara kamu, Aira! Drama sok teraniaya kamu semalam yang memicu spekulasi media!"
"Benar!" Ayah Aira menyambar kasar, menunjuk muka putri kandungnya sendiri tanpa belas kasihan. "Kamu yang tidak tahu diri dan membuat keributan di depan Nenek Dina! Sekarang nama baik keluarga dan bisnis kita terancam hancur gara-gara sikap kamu!"
"Kak Aira selalu saja membawa sial!" cerceh Rani ikut-ikutan menyudutkan, sementara Tante Sofi memanas-manasi dengan helaan napas dramatis.
Pojokan ruang tamu itu mendadak bising oleh tuduhan bertubi-tubi yang dilemparkan kepada Aira. Mereka mengepung dan melimpahkan seluruh kesalahan skandal media itu ke pundaknya.
Namun, bukannya tertekan, gemetar, atau menangis seperti yang mereka harapkan, Aira justru melakukan hal yang tak terduga.
Aira berdiri perlahan, melangkah dengan hela napas pelan yang tampak sangat lelah dan rapuh. Namun bukannya mundur, ia malah berjalan mendekati Rizky. Dengan gestur yang begitu alami, manja, dan penuh perlindungan, Aira menyentuh lengan jas tegap Rizky, lalu menyandarkan sedikit tubuhnya di samping pria itu.
"Paman Rizky... Aira takut," cicit Aira dengan nada suara yang amat lembut, memohon perlindungan, sambil menatap Rizky dengan mata berbinar polos. "Kenapa mereka semua menyalahkan Aira? Padahal Aira hanya diam dan menjadi korban semalam..."
Tubuh Rizky seketika membeku kaku. Sentuhan lembut jemari Aira di lengannya dan aroma harum tubuh wanita itu mengirimkan sengatan asing yang membuat rahang tegas Rizky mengeras. Sepasang mata elangnya berkedip sejenak, tak menyangka Aira akan menggunakan dirinya sebagai benteng di hadapan semua orang.
Aura di sekitar Rizky seketika menggelap, memancarkan tekanan mematikan ke arah keluarga cabang dan ayah Aira yang mendadak bungkam ketakutan.
Aira lalu mendongak menatap Nenek Dina, masih dengan posisi manja berpegangan pada lengan Rizky.
"Nenek... Aira tidak mau berita ini makin liar dan merusak klan Gunawan. Aira punya ide... sebuah solusi yang bisa langsung membungkam media dan menyelamatkan saham. Solusinya, hapus saja seluruh rencana pertunangan ini..."
Aira memberi jeda dan sengaja menggantung kalimatnya. Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Azka dan Rani yang duduk berdampingan langsung berteriak bersamaan dengan napas memburu!
"KAMU GILA, HAH?!" teriak Azka dan Rani membahana, suara mereka bertabrakan memenuhi ruangan.
"Mau ditaruh di mana mukaku kalau kita sampai gagal bertunangan?!" seru Azka dengan mata membelalak murka, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan klan utama.
Melihat kepanikan mereka, Aira justru tersedak tawa tipis yang anggun. Dengan langkah yang amat tenang, Aira melepaskan pegangannya dari lengan Rizky lalu berjalan menghampiri Azka. Rani yang sedang duduk menempel di dekat Azka seketika didorong menjauh oleh Aira tanpa keraguan sedikit pun, membuat Rani terperanjat dan menahan amarah yang membakar dadanya.
Aira membungkuk sedikit, menatap Azka dari jarak dekat. Dengan nada suara yang tak kalah manja namun sarat akan ketegasan yang mematikan, Aira berbisik, "Azka sayang... apakah kau tidak diajarkan untuk mendengarkan orang lain sampai selesai terlebih dahulu? Aku belum selesai berbicara."
Azka menggeram keras, urat lehernya menonjol karena merasa diremehkan secara terang-terangan di hadapan semua orang.
"Kurang ajar kamu, Aira!" bentak Tante Mia dan ayahnya yang tak kalah murka melihat kelakuan Aira.
Aira sama sekali tidak mengacuhkan gertakan mereka. Ia kembali menegakkan tubuhnya dengan anggun, memutar pandangannya menatap sang matriarch klan Gunawan. "Boleh aku melanjutkan berbicara, Nek?"
"Silakan, Aira. Lanjutkan," jawab Nenek Dina tegas, mengusap kepala tongkatnya sambil menatap sinis ke arah Azka dan Rani.
Aira menyunggingkan senyum yang teramat manis, lalu melemparkan skenario yang telah ia rancang dengan sangat rapi.
"Daripada membuang waktu dengan pertunangan ulang yang hanya akan terus digoreng media, solusi terbaiknya adalah menghapus pertunangan dan langsung adakan pernikahan secepatnya."
DEG!
Kata-kata itu mendarat bagaikan petir di tengah ruangan.
Rizky mendadak membeku. Sepasang mata elangnya menajam, menatap Aira dengan kilatan amarah yang mendalam. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi kekecewaan dan rasa hangat beracun yang membakar nadinya. Ia merasa dipermainkan. Baru saja Aira bersandar padanya, meminta perlindungan dengan gestur manja yang membuat dadanya berdesir... lalu tanpa ragu sedikit pun, wanita itu melemparkan dirinya sendiri ke dalam pelukan pria lain secara resmi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rizky memutar tubuhnya kasar. Aura permusuhan dan dominasi yang amat dingin menguar dari tubuh tegapnya saat ia melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, membiarkan pintu ganda berdentam keras di belakangnya.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa panas, sesak, dan cemburu yang begitu asing—sebuah perasaan yang enggan ia akui dan sulit untuk dikenali oleh dirinya sendiri.
Sementara itu, melihat Aira yang begitu tenang, dada Rani sempat terbakar oleh rasa cemburu.
Namun sebelum Rani sempat berteriak, Tante Sofi dengan sigap meremas kuat pergelangan tangan putrinya dan menariknya duduk kembali. Tante Sofi membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu dengan suara yang amat pelan namun sarat akan keserakahan di telinga Rani.
"Dengar baik-baik, Rani! Jangan bodoh!" bisik Tante Sofi cepat. "Jika mereka langsung menikah, itu artinya harta peninggalan ibunya akan otomatis jatuh ke tangan Azka jauh lebih cepat! Kita tidak perlu menunggu masa pertunangan yang berbelit-belit. Begitu surat nikah resmi dan harta berpindah tangan, Azka bisa langsung menceraikan Aira dan kamu bisa mendapatkan semuanya!"
Mendengar bisikan ibunya, binar amarah di mata Rani mendadak pudar, berganti menjadi kilatan keserakahan yang menyala-nyala. Senyum licik perlahan terukir di bibirnya.
Hanya dalam hitungan detik, Rani membenahi posisi duduknya lalu membuka suara dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Wah... setelah dipikir-pikir lagi, ternyata itu ide yang sangat bagus, Kak Aira! Bila langsung menikah, itu akan menjadi bukti nyata bagi publik dan media bahwa klan Gunawan sangat solid. Saham pasti akan langsung melonjak naik!"
Tante Mia dan Azka yang baru menyadari arah keuntungan tersebut ikut menyunggingkan senyum lega terselubung. Rencana mereka untuk menguras harta Aira kini justru dipercepat secara cuma-cuma oleh Aira sendiri!
Aira memperhatikan perubahan raut wajah dan keserakahan mereka dengan senyum dingin. Matanya sempat melirik ke arah pintu ruang tamu tempat Rizky baru saja pergi.
Maafkan aku, Paman Rizky... batin Aira tajam. Tapi perang ini harus dimulai dari dalam sangkar.
Nenek Dina menghentakkan tongkat kayunya
ke lantai dengan keras. BAM!
"Keputusan sudah dibuat!" bentak Nenek Dina berwibawa. "Tidak ada pertunangan! Persiapkan pernikahan Aira dan Azka secepatnya!"
Rencana jahat keluarga cabang kini berada tepat di atas papan catur yang sudah dikendalikan penuh oleh Aira.