NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Bima tersenyum tipis melihat dinamika ayah dan anak yang sama-sama keras kepala ini.

Sring.

Mata Identifikasi Tingkat Dewa milik Bima mendadak aktif secara otomatis.

[Nama: Surya Atmadja]

[Status: Pendiri Atmadja Group, Konglomerat Generasi Pertama]

[Kelemahan: Memiliki penyakit maag kronis akibat stres pekerjaan, sangat menjunjung tinggi etos kerja mandiri]

Bima membaca informasi sekilas itu lalu mematikan kembali kemampuan sistemnya.

Menghadapi pria tua seperti ini tidak butuh pamer harta, melainkan pamer prinsip hidup.

"Saya saat ini sedang mengajar sebagai dosen pengganti di Universitas Nusantara, Pak Surya," jawab Bima dengan suara mantap.

"Dosen pengganti?" ulang Pak Surya dengan nada yang sangat merendahkan.

"Itu bahkan bukan posisi tetap di universitas."

"Berapa gajimu sebulan? Lima juta? Sepuluh juta?"

"Putriku memakai tas yang harganya ratusan juta untuk pergi ke kantor setiap hari."

"Bagaimana mungkin pria dengan pekerjaan rendahan sepertimu berani mendekati putri dari Keluarga Atmadja?"

Kata-kata Pak Surya itu sangat tajam dan kasar, dirancang khusus untuk menghancurkan harga diri pria mana pun yang mendengarnya.

Nadhira memejamkan matanya rapat-rapat, dia sangat takut Bima akan tersinggung dan pergi meninggalkannya.

Namun Bima justru tertawa pelan mendengar hinaan klise dari ayah Nadhira.

"Pak Surya yang terhormat."

Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya.

"Gaji saya sebagai dosen memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga tas putri Anda."

"Tapi saya bekerja menggunakan otak dan keringat saya sendiri setiap harinya."

Bima melangkah maju satu langkah, memperpendek jaraknya dengan Pak Surya tanpa ada rasa gentar sedikit pun.

"Saya dengar Bapak merintis Atmadja Group dari nol, dari sebuah gudang kecil di pinggiran kota empat puluh tahun yang lalu."

"Saat itu, apakah Bapak juga punya uang miliaran di rekening Bapak?"

Tubuh Pak Surya mendadak menegang mendengar Bima mengungkit sejarah masa lalu perjuangannya.

"Atau apakah mertua Bapak saat itu juga merendahkan Bapak karena Bapak hanya seorang pedagang kecil yang bajunya lusuh?"

Keheningan yang sangat mematikan turun menyelimuti paviliun tersebut.

Nadhira menahan napasnya, tidak percaya Bima berani membalas ucapan ayahnya dengan serangan balik yang begitu telak.

Mata Pak Surya menyipit tajam menatap pemuda di depannya ini.

Kata-kata Bima seolah memukul telak tepat di titik paling rapuh dari harga diri masa lalunya.

Dulu, dia memang sering direndahkan oleh keluarga istrinya karena dia berasal dari keluarga miskin.

Dan sekarang, dia tanpa sadar sedang melakukan hal yang persis sama kepada pemuda yang sedang merintis jalannya sendiri.

'Anak ini... lidahnya setajam pedang dan otaknya sangat cepat membaca situasi,' batin Pak Surya dengan perasaan campur aduk antara marah dan kagum.

'Dia menggunakan masa laluku sebagai perisai untuk melindungi harga dirinya sendiri.'

Pak Surya menghela napas panjang dan melepaskan tekanan aura dominasinya.

Wajahnya yang tadinya sangat keras perlahan sedikit melunak, meski masih terlihat sangat kaku.

"Kamu punya lidah yang sangat tajam untuk ukuran seorang dosen pengganti, Bima."

"Tapi ingat satu hal."

Pak Surya menunjuk lurus ke arah dada Bima dengan jari telunjuknya.

"Kata-kata manis dan keberanian kosong tidak akan bisa memberi makan keluargamu di masa depan."

"Dunia nyata jauh lebih kejam dari sekadar perdebatan teori di dalam ruang kelas kampusmu."

Bima hanya tersenyum tipis merespons ancaman terselubung dari konglomerat tua tersebut.

"Terima kasih atas nasihatnya, Pak Surya."

"Saya jamin, dunia nyata sudah sangat paham dengan cara kerja saya."

Pak Surya mendengus pelan lalu membalikkan badannya untuk pergi.

Namun sebelum dia melangkah keluar dari paviliun, dia menoleh kembali ke arah Nadhira.

"Selesaikan makan siangmu dengan cepat dan kembali ke kantor, Nadhira."

"Dan kamu, Anak Muda."

Pak Surya melirik Bima dari sudut matanya.

"Jangan pernah berpikir untuk mempermainkan perasaan putriku."

"Kalau sampai kamu membuatnya menangis, aku akan menghancurkan hidupmu sampai kamu tidak bisa berdiri lagi di kota ini."

Tap tap tap.

Suara langkah kaki Pak Surya perlahan menjauh meninggalkan area paviliun tersebut.

Begitu ayahnya benar-benar menghilang dari pandangan, Nadhira langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dengan lemas.

Wajahnya tertunduk dalam sambil memijat keningnya yang mendadak terasa pusing.

"Bima... maafkan aku," ucap Nadhira dengan suara parau yang penuh penyesalan.

"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan," jawab Bima santai sambil kembali duduk.

Bima mengambil sendoknya dan melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa barusan.

Nadhira menatap Bima dengan perasaan bersalah yang luar biasa besar.

"Papa memang selalu seperti itu pada setiap pria yang mencoba dekat denganku."

"Dia terlalu protektif dan menilai orang hanya dari status sosial serta pakaian yang mereka kenakan."

"Kalau saja aku memberitahunya bahwa kamu adalah pemilik Hotel Grand Cakrawala, dia pasti tidak akan berani menghinamu seperti tadi."

Bima tertawa pelan mendengar penyesalan dari wanita cantik di depannya ini.

"Jangan pernah lakukan itu, Nadhira."

Bima menghentikan kunyahannya dan menatap mata Nadhira dengan serius.

"Biarkan ayahmu menilaiku sebagai Bima si dosen pengganti yang miskin."

"Itu jauh lebih menyenangkan daripada melihatnya bersikap manis padaku hanya karena aku punya uang triliunan di bank."

Nadhira terdiam mendengar filosofi hidup Bima yang sangat sederhana namun begitu dalam.

Pria ini benar-benar tidak peduli dengan pengakuan dari orang lain selama dia tahu nilai dirinya sendiri.

"Lagipula," ucap Bima tiba-tiba memecah lamunan Nadhira.

"Ayahmu tadi bilang agar aku tidak mempermainkan perasaanmu dan membuatmu menangis."

Bima mencondongkan tubuhnya ke depan dengan senyuman jahil yang sangat khas.

"Memangnya sejak kapan status kita berubah menjadi sepasang kekasih sampai ayahmu harus mengancam calon menantunya seperti itu?"

Wajah Nadhira yang tadinya pucat seketika berubah semerah tomat rebus mendengar godaan terang-terangan dari Bima.

"B-berhenti bicara sembarangan!" omel Nadhira sambil melempar serbet kainnya ke arah wajah Bima.

"Makan saja ikan bakarmu itu sampai habis, dasar pria menyebalkan!"

Bima menangkap serbet itu sambil tertawa lepas melihat reaksi salah tingkah dari mantan bosnya yang super dingin ini.

Insiden kecil dengan ayahnya Nadhira ini ternyata memberikan hiburan tersendiri di tengah jam istirahat siangnya.

Pekerjaan sebagai dosen pengganti di kampus elit sepertinya akan membawa lebih banyak kejutan yang tidak terduga ke dalam kehidupannya.

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!