Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Malam Penentuan
Bab 19 — Malam Penentuan
Satu jam berlalu sejak Sari pergi membawa pesan, dan setiap detiknya terasa seperti siksaan bagi Rania yang duduk mematung di sudut kamarnya, sisir kayu masih tergenggam erat di tangan.
"Sistem," bisiknya untuk kesekian kali, "ada tanda-tanda Sari udah sampai?"
[Tidak dapat memastikan. Jangkauan deteksi sistem terbatas pada radius dekat Host.]
Rania menghela napas, mencoba menenangkan jantungnya yang terus berdegup kencang. Lampu lilin di kamarnya bergoyang pelan, bayangannya menari aneh di dinding, membuat setiap sudut ruangan terasa lebih mengancam dari biasanya.
Kemudian, suara ketukan pelan terdengar di pintu.
Rania membeku. Terlalu cepat untuk Sari kembali. Terlalu pelan untuk pengawal biasa.
"Siapa?" suaranya nyaris berbisik.
Tidak ada jawaban. Hanya ketukan kedua, lebih pelan dari yang pertama.
Rania mendekat perlahan, menggenggam sisir kayunya lebih erat, lalu membuka pintu sedikitcukup untuk mengintip.
Mukti berdiri di sana, wajahnya tenang seperti biasa, namun matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dingin.
"Wening," katanya lembut, seperti tidak ada yang berubah. "Boleh aku masuk? Ada yang ingin kubicarakan."
Rania merasakan setiap otot di tubuhnya menegang. Ia harus memilih dengan cepat menolak dan membuatnya curiga, atau membiarkannya masuk dan menghadapi bahaya secara langsung.
"Sekarang udah malem banget, Pangeran," katanya, mencoba terdengar senormal mungkin meski suaranya sedikit gemetar.
"Aku tahu," Mukti tersenyum tipis, senyum yang kini terasa sangat berbeda dari yang pernah Rania lihat sebelumnya. "Tapi ini penting. Soal pengawal yang melihatmu di dekat gudang tadi malam."
Rania menelan ludah. Dia memang sudah tahu.
"Aku... cuma jalan-jalan," ulangnya, mencoba mempertahankan kebohongan yang sama.
"Wening," Mukti mendekat selangkah, suaranya masih lembut namun kini terdengar seperti ancaman terselubung. "Kita berdua tahu itu bukan kebenarannya."
Rania mundur selangkah, tangannya yang memegang sisir kayu bersembunyi di balik lipatan kainnya.
"Pangeran," katanya, mencoba membeli waktu, "apa maksud semua ini?"
Mukti menatapnya lama, lalu menghela napas panjang gestur yang dulu selalu membuat Rania yakin akan ketulusannya, kini hanya terasa seperti bagian dari sandiwara yang sangat terlatih.
"Aku sebenarnya tidak ingin sampai ke titik ini," katanya pelan. "Kau membuatku berharap, Wening. Berharap bahwa mungkin aku bisa punya sekutu, seseorang yang mengerti beban yang sudah kutanggung sendirian selama bertahun-tahun."
"Beban apa?" Rania mencoba memancing, meski dalam hati sudah tahu jawabannya.
"Keluarga kita," Mukti tertawa pelan, tawa yang terdengar pahit, "selalu menuntut kesempurnaan. Selalu membandingkanku dengan ekspektasi yang mustahil. Saat aku menemukan cara untuk mengumpulkan sumber daya sendiri—untuk membuktikan diriku berharga dengan caraku sendiri—itu seharusnya menjadi rahasiaku sendirian selamanya."
"Penggelapan kapal itu," Rania berkata pelan, "itu caramu?"
Mukti tidak membantah. Ia hanya menatap Rania dengan ekspresi yang campur aduk antara penyesalan dan ketetapan hati yang mengerikan.
"Nyonya Ratih membantuku menjalankannya," katanya. "Dia butuh uang untuk alasannya sendiri, aku butuh untuk alasanku. Simbiosis yang sempurna, sampai kapal itu tenggelam karena badai yang tidak pernah kami rencanakan."
"Orang-orang mati karena itu," suara Rania bergetar, campuran amarah dan ngeri. "Keluarga Ki Sura. Sepupu Aryasatya."
"Aku tahu," Mukti menatapnya, dan untuk sesaat ada sesuatu yang terlihat seperti penyesalan tulus di matanya. "Aku tidak pernah bermaksud ada yang terluka."
"Tapi kau biarin Cilangkap dituduh buat nutupin jejakmu."
"Aku tidak punya pilihan lain saat itu," Mukti mendekat lagi, dan kali ini Rania mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. "Dan sekarang, aku juga tidak punya pilihan lain selain ini."
Rania merasakan jantungnya berhenti sejenak. "Mukti..."
"Wening yang asli tidak pernah tahu apa pun soal ini," lanjut Mukti, suaranya kini lebih dingin, "sampai dia mulai menggali arsip lama, menemukan petunjuk yang seharusnya sudah lama terkubur. Aku terpaksa bertindak sebelum dia bisa membuktikan apa pun."
"Jadi kau yang racunin dia."
"Aku memberinya pilihan untuk berhenti menyelidiki," Mukti berkata, seolah itu membuat tindakannya lebih bisa dimaafkan. "Dia tidak mendengarkan."
Rania merasakan amarah membakar di dadanya, mengalahkan rasa takut untuk sesaat. "Dan sekarang kau mau ngelakuin hal yang sama ke aku?"
Mukti menatapnya lama, dan dalam diam itu, Rania bisa melihat pertarungan batin yang sesungguhnya sedang terjadi di balik mata pria itu.
"Aku tidak ingin," katanya akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan. "Tapi kau sudah tahu terlalu banyak, Wening. Dan kedekatanmu dengan Aryasatya membuat semuanya lebih berbahaya untukku."
Ia mengeluarkan botol kecil dari balik jubahnya, cairan gelap di dalamnya berkilau mengerikan di bawah cahaya lilin.
"Aku janji ini akan cepat," katanya, suaranya kini benar-benar dingin, semua kelembutan yang pernah ia tunjukkan selama ini menguap sepenuhnya.
Rania merasakan punggungnya mentok ke dinding, tidak ada lagi ruang untuk mundur. Tangannya mengepal erat sisir kayu, satu-satunya senjata yang ia punya melawan seorang pangeran yang kini menunjukkan wajah aslinya.
"Kau nggak akan lolos dari ini," katanya, mencoba terdengar berani meski suaranya bergetar. "Aryasatya udah tahu semuanya. Sari udah bawa pesan ke dia."
Untuk sesaat, keraguan muncul di mata Mukti. Namun itu segera digantikan oleh ketetapan hati yang lebih mengerikan.
"Kalau begitu," katanya, melangkah lebih dekat, "aku harus bergerak lebih cepat dari yang kuduga."
Rania mengangkat sisir kayunya, bersiap untuk apa pun yang akan terjadi, jantungnya berdegup liar menghitung setiap detik yang tersisa sebelum bantuan—jika memang akan datang—benar-benar tiba.
Di luar jendela kamarnya, suara derap kuda yang bergerak cepat mulai terdengar samar dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat.
Namun Mukti sudah berada tepat di depannya sekarang, botol kecil itu terbuka, cairan gelapnya siap dituangkan.
"Maafkan aku, Wening," bisiknya, "tapi ini demi bertahan hidup."