NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:57.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkemas

“Astaga! Wanita itu semakin tidak terkendali,” seru Li Anna dengan suara tajam begitu Natalia melewati mereka tanpa menunduk. Ia bahkan tidak memberi hormat sedikit pun. “Andrian! Harusnya kau menceraikan wanita mandul itu!”

Langkah Natalia terhenti sejenak, tapi ia tidak menoleh. Hanya bahunya yang sedikit menegang sebelum akhirnya ia kembali melangkah menuju paviliunnya. Sikap acuh tak acuh itu justru membuat amarah Li Anna semakin memuncak.

Karina mendengus pelan, lalu menatap kakaknya dengan nada memprovokasi. “Kakak, sampai kapan kau membiarkan wanita seperti itu tinggal di sini? Kita sudah tidak membutuhkan dia lagi.” Ia melirik ke arah Lilith, sengaja memperjelas maksudnya. “Pikirkan juga perasaan Kak Lilith. Dia pasti sakit hati melihat wanita itu masih di sini.”

Lilith menunduk sedikit, pura-pura menahan kesedihan. “Aku tidak apa-apa, Karina,” ucapnya lembut, meski bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Selama aku bisa tetap di sisi Kak Andrian, itu sudah cukup.”

“Tidak apa-apa katamu?” Lusi yang sejak tadi diam langsung menyela dengan nada tinggi. Ia melangkah maju, menatap Andrian tajam. “Justru karena kau terlalu baik, wanita itu semakin berani. Lebih baik ceraikan saja! Biarkan dia merasakan hidup sebagai gelandangan di jalan.”

Suasana menjadi tegang seketika. Semua mata kini tertuju pada Li Andrian yang berdiri kaku di tengah-tengah mereka. Tangannya mengepal kuat, urat di pelipisnya terlihat menegang.

Andrian terdiam cukup lama, seolah menahan sesuatu dalam dirinya. Bayangan Natalia tiba-tiba muncul di benaknya tatapan dingin wanita itu, sikapnya yang berubah, dan kemungkinan ia bersama pria lain. Hatinya berdenyut tidak nyaman.

Sebenarnya ia sangat mencintai Natalia sama seperti mencintai Lilith. Tapi, semuanya tertutup begitu tahu Natalia tidak bisa mengandung. Ia adalah pria yang memiliki status jenderal tingkat dua, dan jika tidak memiliki keturunan, tentu akan menjadi bahan tertawaan di depan bangsawan lain.

“Aku .…” suara Andrian terdengar berat, nyaris seperti tertahan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak bisa menceraikannya begitu saja.”

“Apa?!” Li Anna langsung membentak, matanya membesar tak percaya. “Apa kau masih mencintainya?”

Lilith langsung menoleh cepat, sorot matanya tajam menembus wajah Andrian. Sementara Karina mendengus kesal, jelas tidak puas dengan jawaban itu.

Andrian menggeleng cepat, seolah ingin memutus semua dugaan itu. “Bukan itu, Ibu,” katanya tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Tapi perceraian tidak bisa dilakukan sembarangan. Semua harus melalui dekrit Yang Mulia Kaisar.”

Ucapan itu membuat semua orang terdiam. Bahkan Lusi yang tadi paling vokal pun kini mengerutkan kening, mencerna situasi yang lebih rumit dari yang mereka kira.

Tapi hanya sesaat. Li Anna kembali tersenyum dingin, seolah menemukan celah baru. Ia melangkah mendekat ke arah Andrian, suaranya merendah namun penuh tekanan.

“Kalau begitu, buat saja alasan yang tidak bisa dibantah,” ujarnya pelan namun tajam. “Katakan bahwa wanita itu mandul dan berselingkuh.”

Karina langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kelicikan. “Benar, Ibu. Dengan begitu, Kaisar pasti akan mengabulkan perceraian itu.”

Lilith menunduk lagi, namun kali ini senyumnya semakin terlihat.

Andrian kembali terdiam. Kata-kata itu menggema di kepalanya, membuat hatinya semakin kacau. Tuduhan itu terlalu kejam, namun juga terlalu mudah untuk dijadikan jalan keluar.

*

*

Di paviliun mawar milik Natalia, suasana terasa sunyi. Cahaya lampu minyak berpendar, menerangi sosok Natalia yang tengah berdiri di depan meja panjang. Di sekelilingnya, berbagai barang berharga dan pakaian telah tertata rapi, seolah siap untuk dibawa pergi.

Wulan berdiri di samping lemari, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tangannya bergerak cepat, sesekali melirik ke arah majikannya. Wajahnya tampak serius, tetapi tersirat kecemasan yang ia sembunyikan.

“Nona, semuanya sudah saya kumpulkan,” ucap Wulan pelan, memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti di hadapan Natalia. “Tidak ada yang tertinggal.”

Natalia menoleh perlahan, matanya menyapu seluruh ruangan sejenak. Ia mengangguk tipis, ekspresinya tetap tenang tanpa emosi berlebih. “Bagus. Pastikan tidak ada satu pun barang kita yang tertinggal di tempat ini.”

Wulan kembali mengangguk, meski dalam hatinya ada rasa tidak rela. Paviliun ini telah menjadi tempat mereka bertahun-tahun, namun kini harus ditinggalkan begitu saja.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Natalia mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya terlihat ringan, namun dalam sekejap, seluruh barang di ruangan itu menghilang tanpa jejak, seolah ditelan ruang kosong. Paviliun yang tadinya penuh kini tampak lapang dan dingin.

Wulan membelalakkan mata sesaat, meski ia sudah terbiasa dengan kemampuan itu. Ia tetap merasa takjub setiap kali melihatnya. “Ruang dimensi Nona benar-benar luar biasa,” gumamnya lirih.

Natalia hanya tersenyum samar, lalu menurunkan tangannya. “Lebih baik seperti ini. Tidak ada yang bisa menyentuh milik kita,” ujarnya tenang, suaranya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan.

Ia kemudian berjalan menuju tempat tidurnya yang kini tampak sederhana tanpa hiasan berlebihan.

“Kita beristirahat saja malam ini,” lanjut Natalia sambil duduk di tepi ranjang. Ia menatap Wulan sekilas, tatapannya lebih lembut dari sebelumnya. “Besok pagi, kita tinggalkan kediaman keluarga Li.”

Wulan terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap. “Baik, Nona. Ke mana pun Nona pergi, saya akan ikut,” jawabnya penuh keyakinan. Tidak ada keraguan dalam suaranya.

Natalia menghela napas pelan, lalu berbaring perlahan. “Istirahatlah. Besok akan menjadi awal yang baru,” katanya lirih, matanya mulai terpejam.

Wulan membungkuk hormat sebelum mundur beberapa langkah. Ia memadamkan sebagian lampu, menyisakan cahaya redup di sudut ruangan. Setelah itu, ia pun menuju tempat istirahatnya sendiri.

*

Saat tengah malam, koridor kediaman keluarga Li tampak sunyi dan hanya diterangi cahaya bulan yang redup. Bayangan seseorang terlihat bergerak perlahan, langkahnya ringan dan nyaris tanpa suara. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan tak ada satu pun penjaga yang memperhatikannya.

Orang itu berhenti sejenak di tikungan, mengamati keadaan sekitar dengan penuh kewaspadaan. Nafasnya ditahan, matanya menyapu setiap sudut gelap yang berpotensi menyimpan bahaya. Setelah merasa benar-benar aman, ia kembali melangkah menuju paviliun mawar milik Natalia.

Paviliun itu tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada satu pun prajurit yang berjaga di sekitar, membuat suasana terasa lebih sepi dan mencurigakan. Hal itu justru membuat sudut bibir orang tersebut terangkat, seolah menemukan kesempatan yang sudah lama ia nantikan.

“Bagus, ternyata benar, tidak ada penjaga,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan yang ditelan malam. Tangannya perlahan masuk ke dalam lipatan pakaiannya, mengeluarkan sebuah belati kecil yang berkilau terkena cahaya bulan.

Ia mendekat ke pintu paviliun dengan langkah hati-hati. Telinganya ditempelkan sejenak ke permukaan kayu, mencoba memastikan tidak ada suara dari dalam. Setelah yakin keadaan benar-benar hening, ia mulai bergerak.

Dengan cekatan, ujung belati itu diselipkan ke celah pintu. Gerakannya terlatih, perlahan namun pasti, mencungkil pengunci tanpa menimbulkan suara keras. Sesekali ia berhenti, memastikan tak ada yang menyadari tindakannya.

“Sedikit lagi,” bisiknya, nada suaranya dipenuhi antusias tersembunyi. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya, namun tangannya tetap stabil.

Tak butuh waktu lama, terdengar bunyi pelan yang hampir tak terdengar. Pintu paviliun itu pun terbuka sedikit, cukup untuk membuat celah masuk.

Senyum lebar langsung terukir di wajah orang itu. Matanya menyipit penuh kepuasan, seolah apa yang ia rencanakan akhirnya berjalan sesuai harapan.

“Tunggu aku Natalia sayang,” gumamnya lirih sebelum perlahan mendorong pintu dan menyelinap masuk ke dalam kegelapan paviliun.

1
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll
saniscara patriawuha.
enak tuh tongkol di bikin bekasam....
saniscara patriawuha.
gassddd....
zylla
ayo, usir mereka semua. aku suka keributan. 🤣🤣🤣
zylla
kaget kaaan. 🤣🤣🤣
sahabat pena
pangeran kedua sok2 an misterius padahal bucin akut tuh. wkwkwk 🤣🤣🤣
j4v4n3s w0m3n
lapar apa kelaparan pangeran 🤭🤭🤭🤭bikin malu aja😄😄😄
gina altira
senangnyaa triple up
Lyvia
suwun thor crazy upnya, matrehat sehat sllu thor 😄
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Korona ini
Maria Lina
makasih thor ud treeple up. y n bsk gimi lgi ya thor
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sudah kere pun masih tak berpikir
itu siapa punya hak

hadeh dasar ya kko manusia serakah
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Dih ga sadar2 ni manusia
vj'z tri
gak yakin makan hanya sedikit /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ya jelas beda dong kan yaaa
vj'z tri
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ gpp kok horang ganteng juga manusia bisa lapar juga /Facepalm/
vj'z tri
pepet teros kang jangan kasih kendor /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tambah laper juga itu /Facepalm/
Osie
wu reno g usah kepo..org kepo cpt matii🤣🤣🤣
Osie
jiiiaahh sampah merasa tuan muda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!