Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut yang Makin Terjepit
"Apa orang tua kamu tahu tentang ini, Valerie?" tanya Marlina dengan nada menuntut, matanya menatap tajam menantunya yang masih terus mengusap air mata.
"I-iya, Mom... mereka tahu," jawab Valerie lirih sambil menundukkan kepala.
"Lalu bagaimana tanggapan mereka?" sela Bramantyo, suaranya terdengar makin dingin di sepanjang lorong itu.
"Mereka juga marah, Dad," cicit Valerie terbata-bata. "Mama sama Papa bilang... Mas Zeffan terlalu memaksakan kehendak tanpa mikirin kondisi fisik dan mental Valerie setelah melahirkan."
Marlina menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis. "Ooh, jadi orang tuamu menyalahkan anak Mommy? Mereka membela kamu tanpa mau melihat kesalahan kamu sendiri yang menelantarkan suami selama dua tahun?"
"Bukan begitu, Mom..." tangis Valerie pecah lagi. "Mama cuma mau Mas Zeffan bisa lebih sabar dan mengerti—"
"Mengerti apa lagi, Valerie?!" potong Bramantyo tegas, memotong kalimat menantunya tanpa ampun. "Orang tuamu terlalu memanjakan kamu! Kalau dari awal orang tuamu mengajarkan cara menjadi istri yang berbakti, kamu tidak akan membiarkan suamimu liar di luar karena kehausan perhatian!"
"Dad, tolong... jangan bawa-bawa orang tua Valerie..." bisik Valerie serak, memohon dengan dada yang sesak.
"Bramantyo ada benarnya, Valerie," timpal Marlina kembali menekan. "Mommy sangat kecewa. Mommy pikir kamu istri yang sempurna buat Zeffan. Tapi ternyata kamu sendiri yang membuka pintu kehancuran rumah tangga kalian! Jangan salahkan Zeffan kalau nanti dia benar-benar mencari wanita lain yang lebih bisa melayaninya!"
Degh!
Syafiya yang masih menggendong Elvano di sudut lorong mendadak merinding ketakutan. Ucapan Marlina bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepalanya.
Wanita lain itu... aku, Mom. Wanita yang bakal menghancurkan rumah tangga Kak Zeffan itu aku... batin Syafiya menjerit, matanya berkaca-kaca menatap Marlina yang begitu ia hormati.
"Syafiya," panggil Marlina mendadak, menoleh ke arah Syafiya yang berdiri mematung.
"I-iya, Mommy?" sahut Syafiya gagap, refleks mengeratkan pelukannya pada Elvano.
"Bawa Elvano ke kamarmu dulu. Biarkan Valerie menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa menggunakan anaknya sebagai tameng," perintah Marlina datar, tanpa pandangan hangat seperti biasanya.
"Baik, Mom..." jawab Syafiya pelan.
Syafiya membalikkan badan dan melangkah cepat menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, ia sempat melirik Valerie yang kini terduduk di lantai sambil menangis sesenggukan, ditinggal oleh Bramantyo dan Marlina yang berjalan melengos begitu saja.
Rasa bersalah, ketakutan, dan ancaman gelap Zeffan kini benar-benar mencekik leher Syafiya. Rumah Arkananta yang dulunya hangus penuh kasih sayang, kini mendadak terasa bagaikan sangkar besi yang sangat beracun.
**
Saat hari berganti siang, suasana di rumah megah keluarga Arkananta terasa begitu lengang dan menyesakkan. Valerie masih mengurung diri di kamarnya sendiri, sementara Bramantyo dan Marlina tengah pergi menghadiri jamuan makan siang bisnis di luar kota.
Di dalam kamar Syafiya yang sejuk dan temaram, gadis itu tertidur lelap di atas ranjang bersama keponakannya, Elvano, yang mendengkur halus dalam dekapannya.
Cklik.
Suara gagang pintu yang ditekan dari luar nyaris tak terdengar. Zeffan melangkah masuk ke dalam kamar. Namun, tujuannya bukanlah kamar utamanya, melainkan kamar Syafiya.
Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah tanpa suara. Sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah Syafiya yang sedang memejamkan mata, memeluk erat tubuh kecil Elvano dalam tidur lelahnya. Tanpa rasa bersalah, tangan Zeffan terulur, mencolek pelan pipi mulus Syafiya dengan punggung jarinya.
Syafiya tersentak seketika. Kelopak matanya terbuka lebar, napasnya memburu saat mendapati wajah Zeffan berada begitu dekat di atasnya.
"E-eh!" pekik Syafiya tertahan, langsung terduduk kaku sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan panik, ia melirik Elvano yang masih tertidur pulas di sampingnya. "K-Kak Zeffan?! Ngapain Kakak masuk ke kamarku?!"
Zeffan mendudukkan dirinya dengan santai di tepi ranjang, mengabaikan kepanikan yang terpancar jelas di wajah adik angkatnya.
"Kenapa kaget begitu? Ini rumahku, aku bebas masuk ke kamar mana pun," jawab Zeffan tenang, suaranya sengaja direndahkan agar tidak membangunkan keponakannya sendiri.
"Ini kamarku, Kak! Dan di sini ada Elvano! Kalau Kak Valerie atau ART lihat Kakak masuk ke sini bagaimana?!" cecar Syafiya dengan napas memburu, kedua tangannya gemetar hebat. "Keluar, Kak!"
"Valerie sedang menangis di kamarnya, dan para pekerja di lantai bawah sedang istirahat. Tidak ada yang akan melihat," balas Zeffan datar. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak hingga aroma maskulin dan parfum khasnya mengurung Syafiya. "Lagi pula, aku baru pulang dari kantor dan suamimu—eh, kakakmu ini—ingin melihat wanita simpanannya."
"Jangan bicara sembarangan!" bisik Syafiya tajam, matanya mulai memerah menahan air mata kemarahan. "Kakak benar-benar sudah gila! Pagi-pagi Kakak bikin keributan sampai Kak Valerie disalahkan Mommy sama Daddy, sekarang Kakak malah berani masuk ke kamarku?!"
"Mereka menyalahkan Valerie karena dia memang salah," sahut Zeffan tanpa beban, ibu jarinya tiba-tiba terulur menyentuh rahang Syafiya.
Syafiya langsung menepis tangan Zeffan kasar. "Jangan sentuh aku!"
Zeffan terkekeh sinis, kilat matanya berubah semakin gelap dan berbahaya. "Berani melawan rupanya. Kamu lupa ancamanku, Syafiya?"
Nama itu disebut dengan nada penekanan yang membuat sekujur tubuh Syafiya merinding seketika. Ingatannya langsung melayang pada ancaman Zeffan yang siap menghancurkan nama baiknya di depan Marlina dan Bramantyo.
"Kakak jahat..." cicit Syafiya lirih, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Kenapa Kakak harus menyiksa aku begini? Kalau Kakak tidak bahagia sama Kak Valerie, ceraikan dia! Jangan jadikan aku pelampiasan dosa Kakak!"
"Jaga mulutmu, Syafiya," desis Zeffan dingin, mencengkeram dagu gadis itu agak kuat namun terukur. "Rumah tanggaku adalah urusanku. Dan kamu... adalah milikku sekarang. Ingat itu baik-baik."
Zeffan melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri merapikan jasnya dengan santai.
"Ingat pesanku siang tadi. Nanti malam, tunggu aku di ruang kerja," ujar Zeffan sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Syafiya yang terduduk lemas, menangis sesenggukan dalam dekapannya yang gemetar.
lanjut kayaknya bakalan seru ini tetap 💪🫰