Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Setibanya dicafe yang sudah ditentukan Arif. Aku memarkir mobil mewahku — tempatnya tenang, pencahayaan lembut, didominasi nuansa kayu gelap dan lampu gantung yang hangat. Musik instrumen mengalir pelan dari arah dalam, nyaris tertutup suara percakapan tamu yang rendah.
"Klik" Aku mematikan mesin, lalu duduk sejenak di dalam mobil, menatap pantulan di kaca spion. Menata sikap. Menata nada bicara. Menata cara berdiri, cara berjalan, cara menatap.
"Percaya diri. Tenang. Bicara pelan tapi tegas. Jangan terlihat gelisah. Jangan meremas tangan. Tatap matanya saat bicara. Jangan memberi celah untuk ditanya hal yang berbahaya. Akting tanpa celah" gumamku pelan pada diriku sendiri.
Aku keluar dari mobil, melangkah masuk. "Tap..tap..tap" Langkahku mantap, tidak terburu-buru. "Ding" Pintu kafe terbuka, dan suara denting lonceng kecil menyambutnya.
Di sudut ruangan, di meja yang agak terpisah dari yang lain, Arif sudah duduk. Dia mengenakan kemeja berwarna gelap dengan kancing manset yang berkilau samar, minuman di depannya belum tersentuh. Saat melihat Aku mendekat, "Tap" Arif berdiri, menatap dari ujung kepala sampai kaki — bukan dengan rasa hormat, tapi dengan menilai, menyelidiki, seolah sedang memeriksa setiap inci yang terlihat.
"Bapak Roxy?" tanyanya, nada suaranya sopan tapi menunggu konfirmasi.
"Benar. Terima kasih sudah mengundang," jawabKu dengan suara rendah, tenang, terukur.
Arif mengulurkan tangan, jabatannya mantap — tidak lemah, tidak berlebihan. Matanya menatap lurus ke mata Arif, tidak berkedip lebih cepat dari biasanya.
"Mari duduk," kata Arif, memberi isyarat ke kursi di hadapannya.
Kami duduk berhadapan. Pelayan datang menawarkan minuman. "Silahkan Pak, mau pesan apa??" tanya Pelayan itu penuh hormat.
"Air putih hangat saja" jawabku pelan — sederhana, tidak berlebihan, seolah tidak merasa perlu tampil mewah untuk mengesankan siapa pun.
Arif memiringkan kepala sedikit, seolah gerakan kecil itu sudah cukup untuk memulai penilaian.
"Jujur saja, Bapak Roxy. Saat pertama kali melihat Bapak bersama Shella, saya sempat terkejut," buka Arif langsung, tanpa basa-basi.
"Wajah Bapak punya kemiripan dengan seseorang di kantor kami"
"Namanya Maxy, Rekan kerja kami"
"Bukan cuma sekadar mirip sekilas — ada garis rahang, cara memiringkan kepala saat mendengarkan, hal-hal kecil yang tidak sadar dilakukan orang pun hampir sama persis" Lanjut Arif tegas penuh curiga.
"Hmmm" Aku tersenyum tipis, tidak terganggu sedikit pun. "Tak" Aku menyandarkan punggung dikursi, menatap Arif dengan tenang, seolah mendengar hal yang wajar saja.
"Dunia ini luas, Pak Arif. Tapi jumlah wajah yang mungkin terbatas. Banyak orang yang wajahnya mirip tapi tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Saya sendiri sering dibilang mirip orang yang tidak saya kenal," jawabku dengan nada yang santai, meyakinkan.
"Dan soal kebiasaan kecil... manusia itu cenderung meniru gerakan orang yang ada di dekatnya"
"Bisa jadi Bapak melihat kebiasaan yang sama karena sering melihat mereka berinteraksi, bukan karena kami orang yang sama".
"Apakah karena kemiripan itu yang membuat Bapak ingin bertemu saya?" Tanyaku santai.
Arif diam sejenak, menyilangkan tangan di atas meja. "Bukan cuma itu. Saya ingin tahu siapa Bapak sebenarnya. Apa latar belakang Bapak, apa tujuan Bapak mendekati Shella. Bapak muncul tiba-tiba, tidak ada yang tahu dari mana, tidak ada yang kenal siapa Bapak. Itu wajar kalau saya khawatir."
"Saya tidak menyembunyikan siapa saya. Saya Roxy. Saya kenal Shella secara kebetulan, dan kami berteman. Sejauh ini tidak ada tujuan khusus selain pertemanan yang baik," jawabku dengan suara tetap stabil, tidak naik nada.
"Dan kalau boleh saya tanya, kenapa Bapak merasa berhak menanyakan hal-hal pribadi soal Shella kepada saya? Apakah Bapak keluarganya? Atau tunangannya?" Tanyaku dengan nada tegas mengintimidasi.
"Glek" Arif menelan ludah, terdiam, sedikit tertegun. Dia tidak menyangka pertanyaan balik yang langsung dan tenang. "Saya bukan siapa-siapa" jawab Arif mulai panik.
"Taa..Tapi, saya peduli pada Shella.."
"Dan saya melihat Bapak muncul tiba-tiba, tanpa latar belakang yang jelas, tanpa siapa pun yang tahu siapa Bapak sebenarnya. Itu wajar kalau saya khawatir soal siapa yang ada di dekatnya."
"Kekhawatiran Bapak wajar. Tapi bukan berarti Bapak berhak menilai niat orang lain hanya karena Bapak belum mengenalnya," jawabku tenang, tidak tersinggung, tapi tegas.
"Shella adalah orang dewasa. Dia tahu siapa yang dia pilih untuk ada di hidupnya. Dan kalau dia merasa tidak nyaman, saya yakin dia mampu bilang sendiri, tanpa perlu perantara."
Arif mengerutkan kening sedikit. "Bapak bicara seolah-olah sudah mengenal Shella cukup lama, padahal Bapak sendiri bilang kenal secara kebetulan."
"Belum lama. Tapi saya belajar mendengarkan dia. Dan mendengarkan itu lebih penting daripada banyak bicara," jawabku.
"Seringkali orang terlalu sibuk menawarkan solusi, padahal yang dibutuhkan cuma seseorang yang mau duduk dan mendengarkan tanpa menghakimi." Lanjutku pelan.
"Dan Bapak yakin Bapak bisa memberikan apa yang dia butuhkan?" tanya Arif, nada suaranya mulai terdengar menantang.
"Dunia ini bukan cuma soal mendengarkan. Ada kebutuhan nyata, ada masa depan, ada kestabilan. Bapak bisa menawarkan itu?" tanya Arif dengan nada meremehkan.
"Saya tidak menjanjikan hal yang tidak bisa saya tepati. Saya tidak menjanjikan kemewahan, saya tidak menjanjikan posisi, saya tidak menjanjikan dunia di atas piring perak. Saya cuma menjanjikan kehadiran saya, kejujuran saya, dan perhatian saya" Jelasku.
"Kalau itu cukup, bagus. Kalau tidak, saya akan tetap menghormati keputusannya," jawabku tenang, tidak terdengar seperti orang yang sedang memohon atau merasa kurang.
"Dan soal masa depan... tidak ada yang bisa menjaminnya, termasuk Bapak sendiri. Yang bisa dilakukan cuma berusaha sebaik mungkin, dengan apa yang dimiliki." lanjutku penuh percaya diri.
Arif menatapnya lama. Dia mencari tanda-tanda kegelisahan — gerakan tangan yang tidak tenang, pandangan yang melayang, suara yang bergetar. Tapi tidak ada.
Aku duduk dengan tenang, postur tegak, tatapan tetap terjaga, tak terlihat seperti orang yang yakin dengan posisinya.
Tidak merasa perlu membela diri secara berlebihan, tidak merasa kalah atau minder.
Sangat berbeda jauh dengan Maxy yang selalu menunduk sedikit, meremas ujung kemeja, menjawab dengan suara rendah seolah meminta maaf karena sudah menjawab. Perbedaannya sangat jelas, sampai Arif sendiri seolah ragu dengan kecurigaannya sendiri.
"Baiklah," kata Arif akhirnya, seolah mengakui ketegasan itu.
"Mungkin saya terlalu berlebihan, jujur... Saya punya perasaan pada Shella".
"Dan saya berniat mendekatinya dengan serius. Saya sudah mengenalnya lebih lama, saya tahu latar belakangnya, saya tahu lingkungannya. Saya rasa saya punya peluang yang cukup besar." ucap Arif mencoba menekan.
"Peluang bukan ditentukan oleh seberapa lama kenal atau seberapa besar posisi seseorang, Pak Arif"
"Peluang ditentukan oleh seberapa tulus niat seseorang, dan seberapa baik dia memperlakukan orang yang disayanginya," jawabku dengan tenang. "Dan soal perasaan... itu bukan kompetisi yang bisa dimenangkan dengan jabatan atau status. Itu keputusan hati. Dan hati Shella yang berhak memutuskan, bukan kita." Jelasku dengan tenang.
Arif tersenyum tipis, senyum yang sedikit skeptis. "Bapak bicara dengan tenang sekali. Seolah Bapak sudah siap kapan pun."
"Saya siap dengan keputusan apa pun yang diambil Shella. Yang saya minta cuma satu — jangan paksa dia memilih berdasarkan tekanan atau rasa bersalah".
"Biar dia memilih karena memang itu yang hatinya mau," kataku tegas. "Kalau Bapak tulus, Bapak akan mengerti." lanjutku.
"Hmm" Arif mengangguk pelan, lalu menatap ke luar jendela sebentar sebelum kembali menatapku.
"Baiklah. Saya rasa kita sudah cukup bicara malam ini. Saya tidak akan mengganggu Bapak lebih lama. Tapi satu hal terakhir... kalau Bapak menyembunyikan sesuatu, saya sarankan Bapak jujur secepatnya. Sebelum semuanya jadi terlalu rumit." saran Arif seolah dia tahu semuanya.
"Saya tidak menyembunyikan apa-apa, Pak Arif.
"Yang perlu Bapak tahu, saya sudah bilang," jawabku tenang, meski di dalam hatiku tahu betul seberapa besar kebohongan yang sedang aku pikul.
Arif berdiri, "Srak" menyambar tas di kursi sebelahnya.
"Terima kasih sudah datang, Bapak Roxy. Saya harap kita bisa bicara dengan baik ke depannya. Dan saya harap Bapak tidak keberatan kalau saya tetap mendekati Shella. Saya tidak akan mundur cuma karena ada orang lain." ucap Arif menegas.
"Saya juga tidak akan mundur cuma karena Bapak ada," jawabku sambil berdiri, menatap lurus ke mata Arif.
"Tapi kita bisa bersaing dengan cara yang terhormat. Bukan dengan menjatuhkan, bukan dengan memaksa, tapi dengan menunjukkan siapa kita sebenarnya."imbuhku.
Arif diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sampai jumpa, Bapak Roxy."
"Sampai jumpa, Pak Arif."
Arif berjalan menuju pintu keluar. Sesaat sebelum hilang di pintu, dia menoleh sekali lagi, menatap wajahku— masih menyelidik, masih menyimpan keraguan di sudut matanya, tapi tidak lagi dengan kecurigaan yang sama kuatnya seperti saat pertama duduk.
Aku duduk kembali sebentar, menghela napas pelan saat Arif sudah benar-benar pergi. Aku berhasil. Arif pulang dengan kesan: Roxy adalah orang yang berbeda, tegas, percaya diri, berwibawa — tidak ada hubungannya dengan Maxy yang pendiam dan tertutup.
Perbedaan itu yang menyelamatkannya malam ini. Tapi Aku juga tahu, Arif belum menyerah. Dia cuma berubah strategi. Dia akan mengamati lebih teliti, mencari celah yang mungkin terlewat.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Roxy: 26% (Stagnan)
Hubungan dengan Maxy: 26% (Stagnan)
Catatan: Akting sempurna tanpa celah. Arif belum menemukan bukti yang menghubungkan keduanya. Perbedaan karakter terlihat jelas dan meyakinkan. Tapi perhatian Arif belum hilang sepenuhnya — dia hanya mundur untuk mengamati lebih lanjut.
Aku keluar dari kafe, melangkah menuju mobil. Udara malam terasa sejuk di kulit, tapi hatiku terasa berat. Setiap pertemuan seperti ini menambah beban di pundakku. Setiap kali harus jadi Roxy, Aku harus menutup jati dirinya sendiri. Dan setiap kali menjadi Maxy, aku harus menahan diri untuk tidak jujur.
"Broooom" Aku menyalakan mesin, mobil meluncur perlahan meninggalkan area kafe.
Lampu-lampu jalan berkedip di kaca depan, seolah ribuan mata yang mengawasi. Besok pagi jam enam, Aku harus kembali jadi Maxy — pendiam, sederhana, agak minder — di kantor yang sama, di depan orang yang sama, dengan perasaan yang sama beratnya. Dan... Arif akan ada di sana, mengamati, menunggu, mencari.
Pertanyaan Arif tadi malam masih terngiang di telinganya: "Kalau Bapak menyembunyikan sesuatu, saya sarankan Bapak jujur secepatnya."
Kalau saja Arif tahu... kalau saja dia tahu bahwa yang diajak bicara malam ini, dan yang dia pandang rendah di siang hari, adalah orang yang sama. Kalau saja dia tahu bahwa persaingan terberatnya bukan dengan orang lain, tapi dengan diri Maxy sendiri.
Tapi belum waktunya. Belum waktunya untuk jujur. Belum waktunya untuk semuanya berakhir.
Malam masih panjang. Dan Aku masih punya waktu — setidaknya untuk malam ini.