Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Hari-hari setelah pertemuan di kafe dekat stasiun berjalan dalam keheningan yang lebih berat bagi Keira.
Kata-kata Amara
“Kamu kayak kehilangan diri kamu sendiri”terus berdengung di dalam kepalanya, berputar-putar bagai rekaman usang yang enggan berhenti. Setiap kali ia menyapu lantai kamar kos, mencuci piring, atau sekadar menatap langit-langit kamar yang kusam, bayangan tentang dirinya yang dulu, perempuan yang punya hobi menggambar, menikmati pameran seni, dan memiliki impian-impian sederhana, mendadak menyeruak ke permukaan.
Namun, dunia nyata Keira tetaplah petak berukuran tiga kali tiga meter itu.
Davin tetap hadir dengan segala perhatian dan rutinitasnya. Lelaki itu tidak tahu apa-apa tentang pertemuannya dengan Amara, dan Keira dengan sengaja memilih untuk merapatkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak ingin ada ketegangan, tidak ingin mendengar helaan napas berat Davin, dan yang paling penting, ia tidak ingin kehilangan rasa aman yang diberikan kekasihnya itu.
Pagi itu, hari Rabu, matahari bersinar cerah menembus jendela kaca buram kos-kosan. Davin sudah berangkat kerja sejak pukul delapan pagi setelah sempat mencium kening Keira dan meninggalkan uang belanja secukupnya di atas meja plastik.
Keira duduk bersila di sudut kamar, merapikan tumpukan buku-buku catatan lama yang sudah lama tidak ia sentuh. Saat ia membalik salah satu buku sketsa bersampul hitam tebal buku yang dulu sering ia bawa ke kampus untuk mencorat-coret bentuk anatomi atau pemandangan arsitektur sesuatu terlepas dari lipatannya dan melayang jatuh ke atas lantai karpet.
Sebuah selebaran kecil berwarna putih gading.
Keira menunduk, lalu memungut selebaran itu. Matanya langsung mengenali logo dan nama yang tertera di bagian atasnya: Galeri Senja Bimantara. Di balik selebaran pameran seni rupa lokal yang dulu pernah ia datangi bersama teman kampusnya itu, terselip kartu nama staf paruh waktu administrasi galeri yang beberapa minggu lalu sempat ia jadikan jalan untuk mengirim pesan singkat pesan yang tidak pernah ia lanjutkan dan akhirnya ia biarkan tenggelam.
Ia menatap kartu nama tersebut cukup lama.
Jemarinya mengusap permukaan kertas yang mulai agak melengkung di bagian ujungnya.
Ingatannya melayang kembali pada hari Minggu ketika ia mengetik pesan ke nomor galeri itu, detik-detik berdebar saat balasan pesan masuk menanyakan kesediaannya untuk wawancara kerja, hingga rasa panik luar biasa ketika Davin tiba-tiba datang dan menatap layar ponselnya.
Kalau saja waktu itu aku tidak takut... batin Keira lirih, sebuah penyesalan tipis yang manis sekaligus menyayat hati menyelinap di dadanya. Kalau saja aku punya keberanian sedikit saja untuk melangkah ke sana, mungkin sekarang hidupku tidak akan sesempit ini.
Ia tidak berniat untuk langsung melamar pekerjaan hari ini. Ia tahu persis risikonya jika Davin sampai tahu ia masih menyimpan kartu nama itu. Namun, memegang selebaran dan kartu tersebut membuat Keira merasa kembali terhubung dengan dunianya yang lama dunia di mana ia punya ketertarikan sendiri, di mana pikirannya tidak terus-menerus dipenuhi pertimbangan tentang apa yang akan membuat Davin senang atau tidak.
Tanpa sadar, di halaman kosong bagian belakang buku sketsanya, Keira membuka tutup pulpen hitam yang tergeletak di dekatnya. Jemarinya mulai bergerak perlahan di atas kertas putih yang kosong.
Ia tidak menggambar wajah Davin. Ia tidak sedang membuat sketsa kamar kos tempatnya dikurung.
Garis-garis tipis itu mulai membentuk siluet sebuah jendela besar dengan cahaya matahari yang menembus tirai tipis, dan di luar jendela itu terbentang garis-garis pepohonan serta siluet kota yang luas. Sebuah gambar sederhana tentang kebebasan yang diam-diam dirindukan oleh tangannya sendiri.
Semakin lama ia menggambar, semakin ia tenggelam dalam keheningan yang menenangkan. Untuk beberapa saat, rasa sesak di dadanya seolah terangkat. Suara bising kendaraan di luar gang, debu jalanan, dan beban mental yang menumpuk selama berminggu-minggu seakan melebur ke dalam setiap goresan tinta di atas kertas.
Pukul sebelas siang, asyiknya Keira terhenti oleh suara derap langkah kaki di koridor luar kos, disusul ketukan pelan di pintu kayunya.
Jantung Keira langsung melompat kaget. Tangannya gemetar refleks menutup buku sketsa hitam itu dengan cepat, menyembunyikan gambar yang baru saja ia buat di balik tumpukan diktat kuliah tebal. Di jam seperti ini, biasanya tidak pernah ada orang yang datang kecuali jika...
Apakah Davin balik lagi karena ada barang yang ketinggalan? pikir Keira panik, buru-buru merapikan kerudungnya dan berdiri menghampiri pintu.
Ia membuka pintu kayu itu sedikit ragu.
Di luar sana, bukan wajah Davin yang ia lihat. Berdiri seorang perempuan paruh baya tetangga sebelah kamar kos, Bu Rina, yang mengenakan daster rumahan sambil memegang piring kecil berisi kue nagasari.
"Eh, Mbak Keira. Maaf ya ganggu siang-siang," sapa Bu Rina ramah dengan senyuman lebar.
"Ini tadi bikin kue tradisional bikinan sendiri di dapur, sengaja saya bawain satu buat dicobain ke sini. Mumpung sepi, kan Mbak Keira jarang banget kelihatan keluar."
Keira yang tadinya diliputi rasa takut langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menyambut piring kecil itu dengan tangan gemetar yang berusaha ia stabilkan.
"Oh... iya, Bu. Terima kasih banyak, repot-repot banget," kata Keira tulus, tersenyum kikuk.
"Sama-sama, Mbak. Sering-seringlah keluar sapa tetangga, jangan di dalam kamar terus kayak orang pingitan," canda Bu Rina ringan tanpa maksud menyindir, sebelum akhirnya pamit kembali ke kamarnya di ujung koridor.
Keira menutup kembali pintu kayu itu, menguncinya dengan dua lapis selot besi, lalu melangkah kembali ke meja plastik. Ia meletakkan piring kecil berisi kue nagasari di sebelah tumpukan bukunya.
Ia menatap buku sketsa bersampul hitam yang kini tertutup rapat di sudut meja. Kejadian kecil kedatangan Bu Rina barusan, ditambah goresan gambar jendela yang baru saja ia buat, meninggalkan sebuah kesadaran kecil di kepala Keira: dunianya memang sempit, tetapi di dalam kepala dan tangannya, masih ada ruang-ruang rahasia yang tidak bisa disentuh atau diatur oleh siapa pun bahkan oleh Davin.
Ia membuka kembali buku sketsa itu perlahan. Menatap gambarnya sendiri dalam diam, lalu menarik napas dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasa mati rasa, Keira merasa ia baru saja menemukan kembali sepotong kecil dari dirinya yang sempat hilang.