NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Pagi itu di Waroeng Reyhan, Reyhan sudah duduk di ruang kerjanya sejak jam delapan, menunggu para pelamar yang dijadwalkan datang satu per satu.

Bak cuci piring di dapur sudah kosong tiga hari. Pegawai sebelumnya berhenti mendadak, tumpukan piring menggunung, dan Mbak Sari mulai menegurnya setiap pagi. Warung butuh orang, dan butuh secepatnya.

Dua pelamar sebelumnya sudah datang dan pergi. Yang satu terlambat satu jam. Yang satu mundur begitu melihat dapurnya.

Pelamar ketiga duduk di depannya sekarang.

Pertanyaannya hanya tiga, dan Anindya menjawab yang terakhir terlalu cepat.

"Bisa mulai kapan?"

"Besok, Pak."

"Tahan berdiri lama?"

"Tahan."

"Ada masalah dengan air panas?"

"Tidak."

Laki-laki di balik meja kayu itu menatapnya diam. Mata gelapnya tidak bergerak sedikit pun dari wajah Anindya. Hanya sedetik, tapi cukup untuk membuat jari-jarinya, yang terlipat di bawah meja, saling meremas sampai memutih.

Kulit tangan Anindya memang gampang lepuh. Tapi lowongan tukang cuci piring ini adalah satu-satunya panggilan dari dua belas surat lamaran yang ia sebar dalam dua bulan terakhir. Dan ia sudah belajar satu hal dari masa-masa sulitnya: kejujuran yang tidak dibutuhkan hanya membuat pintu tertutup lebih cepat.

Dua bulan lalu, ia dipecat dari sebuah toko roti kecil lewat pesan singkat, tanpa gaji bulan terakhir yang dibayar penuh, tanpa penjelasan, dan nomornya langsung diblokir. Sejak ibunya berpulang, tidak ada tempat baginya untuk bersandar. Hanya kamar kos di Gang Mawar, dan tabungan yang kian menipis.

"Besok jam tujuh," kata laki-laki itu akhirnya. "Jangan telat."

"Terima kasih banyak, Pak."

Baru ketika kakinya menapak trotoar yang bising, Anindya sadar ia menahan napas sejak tadi.

---

Di ruang kerja yang minim cahaya, Reyhan berdiri di dekat jendela, mengikuti perempuan mungil itu dengan matanya sampai menghilang di belokan gang.

Ia tahu perempuan itu berbohong. Orang yang terbiasa bekerja kasar tidak akan menunjukkan gestur seputus asa itu, kecuali ia tidak punya pilihan lain.

Dan ia mengenal gestur semacam itu. Enam tahun lalu, tangannya sendiri pernah memerah dan mengelupas seperti itu, di bak cuci sebuah warung kecil yang belum mampu menggaji siapa pun selain dirinya.

"Gengsi atau kebutuhan?" gumamnya pada ruangan yang hampa.

Ia mencentang nama Anindya di lembar penerimaan pegawai baru. Latar belakang pegawai bukan urusannya. Tapi senyum lega yang sempat terbit di wajah perempuan itu di trotoar tadi, entah kenapa, enggan hilang dari ingatannya.

"Kita lihat besok," bisiknya. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan."

---

Anindya sampai di depan Warung Reyhan jam enam lewat empat puluh lima, lima belas menit lebih awal dari jam masuknya. Rolling door masih turun sampai lantai. Ia duduk di bangku semen di teras sebelah dan memeluk tasnya di pangkuan.

Tukang bubur dari seberang jalan menyeberang membawa segelas teh hangat dalam plastik. "Karyawan baru, ya, Neng? Hari pertama biasanya kedinginan. Nih, gratis."

"Makasih, Pak."

Hangat dari plastik itu merambat ke jari-jarinya yang dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak dua bulan terakhir, seseorang memberinya sesuatu tanpa meminta apa-apa.

Jam tujuh lewat sepuluh, sebuah motor matic berhenti di depannya. Perempuan di atasnya berjaket jeans, wajahnya seperti baru bangun tidur tapi sudah siap berdebat.

"Anindya? Dari jam berapa di sini?"

"Dari enam empat puluh lima, Mbak. Maaf, saya takut telat."

"Saya nggak nyuruh minta maaf." Perempuan itu membuka helm. "Sari. Besok-besok kalau nyampe pagi, ya nunggu aja. Jangan kepagian, kasihan, masuk angin." Ia membuka gembok. "Hari ini dimaafin."

Dapurnya lebih sempit dari yang Anindya bayangkan, tapi rapi, dengan bak cuci ganda dan keran bengkok yang kelihatannya sudah dipakai sejak warung ini berdiri.

"Aturannya gampang," kata Mbak Sari. "Sisa makanan dibuang, disabun, bilas dua kali. Jangan ada bekas sabun. Bos paling nggak suka piring yang masih licin."

"Siap, Mbak."

"Nggak usah siap-siap. Cuci aja."

Teh Lilis datang jam tujuh dua puluh, dan begitu melihat Anindya, langsung heboh. "Panggil Teh Lilis aja, jangan Mbak. Terus ke bos panggilnya Mas Reyhan ya, jangan Pak. Pernah ada anak baru manggil Pak, besoknya dia nanya ke Mbak Sari, mukanya udah kelihatan tua banget apa gimana."

Anindya terdiam. Kemarin ia memang memanggil laki-laki itu *Pak*, dan laki-laki itu hanya menatapnya tanpa berkomentar. Sekarang ia mengerti arti tatapan itu. Ia tertawa kecil, dan baru sadar bahwa sudah berbulan-bulan ia tidak tertawa di depan orang lain.

---

Air dari keran bengkok itu benar-benar panas.

Tangannya kebas sejak jam delapan, perih sejak jam sembilan. Ia menggosok baskom bumbu, talenan, dan wajan besar sambil menurunkan lengan baju sampai menutupi pergelangan. *Tangan bisa dibiasakan,* katanya pada dirinya sendiri.

Jam sembilan, para laki-laki datang: Dimas dari bagian goreng yang langsung menguap dan berkata, "Kuat-kuatin ya, piring di sini nggak ada habisnya," lalu seorang laki-laki muda berwajah serius yang lewat di belakangnya dan diam-diam menyodorkan lap bersih dari saku celemeknya. "Bayu," katanya pendek, lalu kembali ke dispenser kopi.

Warung dibuka jam sepuluh, dan seolah menunggu aba-aba, piring-piring mulai berdatangan. Sekitar jam sepuluh lewat dua puluh, Teh Lilis mendadak berhenti bergosip, dan Dimas menegakkan punggung. Seseorang baru lewat di koridor menuju ruang kerja: kemeja lengan panjang, langkah tenang, tidak menoleh.

"Itu bos," bisik Teh Lilis tanpa ditanya.

Jam sebelas, seseorang berdiri di belakang Anindya.

"Gelas ini."

Suaranya berat, rendah, dan tidak terdengar marah. Anindya menoleh. Laki-laki yang kemarin duduk di balik meja kayu itu berdiri satu langkah darinya, mengangkat sebuah gelas bening ke arah lampu. Di dasarnya ada garis tipis berbusa yang nyaris tak kelihatan.

"Masih ada sabunnya. Tamu bisa merasa pahit."

"Maaf, Mas. Saya ulang."

Laki-laki itu tidak langsung pergi. Matanya turun sebentar, bukan ke gelas, tapi ke tangan Anindya. Jari-jarinya memerah sampai ke ruas, kulit di ujungnya memutih dan mengelupas. Anindya refleks menggenggam tangannya sendiri, merasa kedapatan melakukan sesuatu yang memalukan.

Hanya sedetik. Setelah itu laki-laki itu mengalihkan pandangan dan berkata, "Lanjutkan."

Lalu ia pergi.

"Nggak marah kok dia," bisik Teh Lilis dari balik pintu. "Itu mah biasa."

"Nggak apa-apa, Teh." Anindya membiarkan air panas membasahi gelas itu lagi. Matanya terasa panas, dan ia tidak yakin itu karena uap. Hari ini ia tidak boleh menangis. Jawaban terlalu cepat yang ia berikan kemarin harus ia bayar dengan kulitnya sendiri, dan ia akan membayarnya sampai lunas.

---

Jam setengah empat, ketika warung mulai sepi, Anindya duduk di bangku plastik di belakang dapur dan membuka telapak tangannya. Ada garis-garis putih di sela jari, dan perih yang makin terasa begitu ia tidak lagi sibuk.

"Nih."

Bayu menyodorkan segelas teh manis hangat tanpa penjelasan. Anindya baru sadar bahwa dari pagi ia belum sempat minum apa pun.

"Makasih, Mas Bayu."

"Bayu aja. Hari pertama emang gitu. Besok lebih parah, lusa baru kebal."

"Beneran?"

"Nggak tahu. Aku bagian minuman."

Anindya tertawa kecil, dan bahunya sedikit mengendur.

Jam empat tepat, ia pamit ke semua orang. Pintu ruang kerja tertutup rapat, dan ia memutuskan tidak mengetuknya. Bos tidak perlu dipamiti oleh tukang cuci piring.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Reyhan berdiri di depan jendela kecil, memperhatikan perempuan itu berjalan keluar, sesekali menggosok telapak tangannya sendiri.

Jadi itu kebohongannya. Bukan kebohongan orang yang ingin menipu. Kebohongan orang yang tidak punya pilihan lain untuk bertahan.

---

Malam itu, selesai menghitung kas dan mengunci semua pintu, Reyhan duduk di dalam mobil yang belum ia nyalakan. Ia membuka aplikasi belanja dan mengetik tiga kata di kolom pencarian. Jarinya berhenti di atas tombol cari.

*Sarung tangan latex.*

Hal-hal seperti ini bukan urusannya. Ia pemilik warung, bukan ayah, bukan kakak, bukan siapa-siapa bagi seorang pegawai yang bahkan belum genap sehari bekerja. Tapi ia masih ingat jari-jari yang memerah itu, dan senyum lega di trotoar kemarin, dari seseorang yang baru saja berbohong demi sesuatu yang lebih penting dari harga dirinya.

Reyhan menghela napas, menghapus tiga kata itu satu per satu, lalu menyalakan mesin mobil. "Besok aja," katanya pada dirinya sendiri, cukup pelan agar tidak ada yang mendengar.

Dan besok, seperti biasa, ia akan menemukan alasan lain untuk menundanya satu hari lagi.

Bersambung ke Bab 2...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!