Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Para remaja yang sejak tadi berkerumun di area parkir kini berhamburan menuju jalanan kosong di kawasan industri. Lampu-lampu sorot kendaraan membentuk garis panjang, membelah kegelapan malam.
“Balapan! Balapan!” seru mereka antusias.
Victor berdiri kaku dengan wajah tegang. Ia berkali-kali melirik Zoey yang sedang mengancingkan tali helm full-face pinjamannya.
Wanita itu tampak sangat tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang mempertaruhkan harga dirinya.
“Kau yakin bisa mengendarai motor itu?” tanya Victor ragu.
Zoey menoleh, suaranya teredam dari balik helm. “Tunggu saja di sini, Victor.”
Di sisi lain, Max menyeringai dari atas motornya.
“Kau masih punya waktu untuk mundur, Nyonya Manis. Aku tidak keberatan langsung menagih taruhannya sekarang!”
Zoey menurunkan visor helmnya. “Sayangnya, aku tidak pernah diajari kata mundur.”
“Jangan menangis kalau kau kalah nanti!” ejek Max seraya memutar tuas gas.
Brummm!
Raungan knalpot motor Max menggema, memekakkan telinga. Beberapa anggota geng Serigala bersiul liar.
“Habisi dia, Bos!”
“Ya, buat dia bertekuk lutut di ranjangmu!”
Seorang remaja maju ke tengah jalan, mengangkat sehelai sapu tangan merah di udara.
“Garis finis ada di tikungan ketiga, dekat pabrik baja tua! Siap?!”
Mesin kedua motor meraung semakin brutal. Zoey memejamkan mata sepersekian detik. Tangannya menggenggam erat setang kemudi. Di tengah bisingnya mesin, sekelebat memori masa lalu bersama ayahnya melintas.
“Dengar, Zoey, balapan bukan sekadar perkara kecepatan. Baca lawanmu. Biarkan dia merasa unggul di awal, lalu serang di saat yang tidak dia duga.”
Sebuah senyum tipis terukir di balik helm.
“Sekarang waktunya.”
Wuuus!
Sapu tangan dijatuhkan. Kedua motor melesat membelah angin malam.
Victor refleks berlari ke pinggir jalan, matanya tak berkedip menatap motor Zoey. Sejak detik pertama, Max langsung memimpin jauh di depan.
“Sudah kubilang,” gumam Victor dengan napas memburu. “Dia tidak akan menang.”
Namun di lintasan, Zoey sama sekali tidak memaksakan mesinnya. Ia menjaga ritme di belakang Max. Ia membiarkan pria itu merasa berada di atas angin.
Max melirik dari kaca spion dan tertawa meremehkan. “Wanita tetaplah wanita. Dasar lemah!”
Memasuki tikungan pertama, keadaan berubah. Zoey menurunkan gigi dan memiringkan motornya. Gerakannya sangat halus dan presisi, tanpa berlebihan. Namun, manuver itu sukses memangkas jarak mereka dengan drastis.
Max mengernyit panik. “Sial, boleh juga.”
Masuk ke tikungan kedua, ban motor Zoey makin menempel di ekor Max. Mata Victor membelalak menatap dari kejauhan.
“Ini tidak mungkin...”
Trek lurus terakhir menuju tikungan ketiga. Max memacu gasnya habis-habisan. Ia mengambil jalur luar untuk mengamankan posisi. Tetapi, Zoey justru menahan gasnya.
Tepat menjelang tikungan terakhir, Zoey menarik napas panjang. Tangannya memutar gas hingga batas maksimal. Dalam satu tarikan bertenaga penuh, Zoey mengambil sisi dalam tikungan yang sangat sempit.
Max tersentak, terlambat menutup jalur. “Apa?! Ini mustahil!”
Dengan keseimbangan sempurna, motor Zoey menyalip mulus.
Victor melangkah maju tanpa sadar, menahan napas melihat teknik menikung sebersih itu.
Beberapa detik kemudian, Zoey melewati garis finis lebih dulu. Ia menghentikan motornya dengan decitan rem yang memukau.
Keheningan menyergap. Seolah semua orang lupa cara bernapas. Lalu...
“Dia menang! Nona ini menang!”
Sorakan pecah dari penonton. Victor terpaku, kakinya lemas. “Dia benar-benar menang?”
Max menghentikan motornya beberapa meter di belakang. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Ia sangat marah.
Namun, ia menarik napas panjang. Sebagai pembalap jalanan, ia masih memegang satu aturan, tidak mengingkari hasil.
Max berjalan mendekati Zoey. “Aku kalah. Tapi aku bukan pengecut, Nona.” Ia menoleh menatap Victor tajam. “Mulai malam ini, kau bebas. Kami tidak akan mengganggumu lagi.”
Victor membeku di tempat. Semudah itu?
Zoey membuka helmnya, membiarkan rambut panjangnya terurai tertiup angin. “Terima kasih sudah menepati janji.”
Max hanya mengangguk singkat, memberi isyarat pada anak buahnya. Tak lama kemudian, deretan motor itu menghilang menembus malam.
Zoey menoleh, namun Victor justru menatapnya dengan raut memerah.
“Kau senang sekarang?!” bentak Victor kasar.
Zoey mengernyit. “Maksudmu?”
“Aku tidak pernah meminta bantuanmu! Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri!” teriak remaja itu. “Apa kau tahu kau hampir celaka di tikungan tadi?!”
Zoey terdiam.
“Kalau kau kalah, apa kau sadar taruhanmu itu?! Kenapa kau harus ikut campur urusanku?!” Victor menggertakkan gigi.
Zoey menatap netra remaja di hadapannya lekat. Di balik luapan kemarahan itu, Zoey bisa melihat dengan jelas. Bukan kebencian. Melainkan rasa cemas dan takut luar biasa yang terlalu gengsi untuk diakui oleh seorang remaja.
Tanpa menunggu balasan, Victor merebut helm dari tangan Zoey dan naik ke motornya.
“Aku tidak butuh diselamatkan.”
Motor itu melesat pergi, meninggalkan Zoey seorang diri di tengah dinginnya malam.
Zoey tidak marah. Ia justru mengukir senyum tipis.
“Bocah keras kepala. Sulit sekali ya rupanya membuatmu sekadar mengatakan terima kasih.”
ini Baru sarapan pagi
belum nanti malam
tiba tiba ribut lgi 🤣🤣🤭🤭
mulai rebutan perhatian zoey
belum nanti victoria