Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: MALAM PERTAMA DI PENTHOUSE VION
Penthouse lantai sembilan puluh sembilan di Gedung Vion Tower terbungkus sunyi.
Jam dinding nunjukin pukul sebelas malam. Seluruh Jakarta berkelap-kelip di bawah sana kayak lautan bintang yang tumpah. Tapi di dalam hunian seluas seribu meter persegi itu, cuma kedengaran deru halus AC dan napas dua orang yang mulai tidak beraturan.
Alesha berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa setinggi sepuluh meter. Setelan jas kerjanya masih melekat, tapi jas luar sudah ia tanggalkan. Rambut panjangnya yang tadi diikat rapi kini tergerai berantakan karena angin dari ventilasi. Di genggamannya, ia masih erat pegang kotak beludru biru berisi cincin berlian lima karat yang diberikan Vion di lobi tadi.
Dari belakang, pintu kamar mandi berderit terbuka.
Vion melangkah keluar.
Ia hanya pakai handuk putih yang melilit di pinggang rampingnya. Bulir-bulir air masih netes dari rambut basahnya, ngalir lewat bahu bidang, dada kekar penuh bekas luka tipis, sampai hilang di balik lilitan handuk. Aroma sabun mahal dan wangi maskulin khas tubuhnya langsung memenuhi ruangan.
Alesha menangkap pantulan Vion lewat kaca jendela, napasnya seketika tertahan. Jantungnya bergemuruh kencang sampai ia bisa dengar sendiri.
"Kenapa kamu lamar aku di lobi tadi?" tanya Alesha dengan suara yang diusahakan lurus, tanpa balik badan. "Itu tidak ada dalam kontrak kita, Tuan Vion. Perjanjian kita hanya mewajibkan nikah untuk bungkam Dewan Direksi."
Vion bergeming. Ia merapat perlahan, tanpa suara di atas karpet wol tebal. Semakin dekat ia melangkah, semakin pekat aroma maskulin itu.
Pria itu berhenti tepat di belakang Alesha. Jarak mereka cuma lima senti, Alesha bahkan bisa merasakan uap panas dari tubuh Vion habis mandi.
"Karena aku tidak suka ada pria lain yang ngira kamu masih milik Rian," bisik Vion tepat di dekat telinga Alesha. Nadanya rendah, berat, dan serak.
Alesha bergidik. Bulu kuduknya meremang seketika.
Tangan Vion yang besar dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggang rampingnya dari belakang, menarik tubuh Alesha pelan sampai punggung wanita itu bersandar sempurna di dada bidang Vion yang masih basah.
"Vion..." panggil Alesha dengan suara bergetar. Ia niat lepas, tapi sekujur tubuhnya mendadak lemas.
"Cincin itu," lanjut Vion, sementara dagunya kini bersandar di bahu Alesha, mengamati pantulan mereka berdua di kaca jendela. Siluet pria bertelanjang dada dan wanita yang mendekap dalam rangkulannya. "Kamu belum jawab lamaran ku, Ratuku."
Alesha menatap bayangan mereka di kaca. Mereka tampak seperti sepasang pengantin sungguhan, bukan sekadar relasi bisnis di atas kertas.
"Aku... aku butuh waktu, Vion. Ini terlalu cepat. Kemarin aku baru ditinggal di altar, dan hari ini..."
"Ambil waktu sebanyak yang kamu mau," potong Vion lembut. Salah satu tangannya terangkat, menyibakkan rambut Alesha ke sisi bahu untuk mengekspos leher jenjang wanita itu yang harum. "Tapi malam ini, kamu tidur di kamar utama. Denganku. Pasal tujuh dalam kontrak mewajibkan kita tampil sebagai pasangan nyata di depan media. Dan pemburu berita di luar sana masih ngawasi kita pakai drone."
Alesha melirik ke luar jendela. Benar. Di kejauhan, tampak titik cahaya merah kecil berkedip-kedip di udara. Drone milik pewarta. Semenjak heboh Presdir Mahardika bersimpuh di kaki Alesha sore tadi, semua media buru potret eksklusif Nyonya Vion yang baru.
"Biarkan mereka lihat," bisik Vion.
Sebelum Alesha sempat protes, tubuhnya mendadak terangkat ke udara.
Vion membungkuk dan menggendongnya bridal style. Satu lengan menopang lutut, lengan lain menyangga punggung. Gerakannya begitu mudah, seolah bobot Alesha tidak ada apa-apanya.
"Vion! Turunin aku! Apa yang kamu lakuin!"
Vion bergeming. Ia menatap Alesha dengan sorot mata dalam dan gelap, tatapan yang sanggup meruntuhkan kesadaran siapa pun.
Ia bawa Alesha melintasi ruang tamu luas, melewati kolam renang indoor, menuju kamar utama di ujung koridor penthouse.
Kamar utama itu jauh lebih luas dari rumah Alesha dulu. Ranjang king size dengan seprai hitam kelam terhampar di tengah ruangan, berhadapan langsung dengan dinding kaca yang menyuguhkan panorama malam Jakarta.
Vion merebahkan tubuh Alesha di atas kasur dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu benda rapuh dari porselen.
Alesha berbaring di atas seprai hitam, rambutnya menyebar luas, napas memburu. Gaun kerjanya sedikit tersingkap, mengekspos betis mulusnya.
Vion berdiri di sisi ranjang, mengawasi Alesha dari atas. Tetesan air dari ujung rambutnya jatuh membasahi seprai. Pandangannya turun dari wajah Alesha yang memerah, bergeser ke bibirnya yang sedikit terbuka, menelusuri lehernya, sebelum kembali menatap manik matanya.
"Kamu terlihat sangat cantik saat gugup seperti ini, Alesha," bisik Vion.
Ia bertumpu dengan satu lutut di atas kasur, permukaan ranjang sedikit berderit. Tangannya terulur meraih pergelangan tangan Alesha yang masih mencengkeram kotak cincin.
Dengan gerakan yang sangat telaten, Vion buka kotak beludru itu. Berlian biru lima karat di dalamnya memantulkan kilau di bawah temaram lampu kamar.
"Boleh?" tanya Vion minta persetujuan.
Alesha tidak jawab. Ia hanya balas tatapan pria itu yang kini dalam jarak sangat dekat. Sepasang mata hitam yang dikenal kejam bagi orang lain, tapi begitu hangat saat menatapnya.
Vion ambil cincin itu dan menyematkannya perlahan ke jari manis Alesha yang lentik.
Pas. Sempurna. Ukurannya seakan diciptakan khusus untuk jari wanita itu.
"Ini bukan cincin dari kontrak kita, Alesha," bisik Vion, suaranya begitu dekat sampai embusan napasnya menggelitik bibir Alesha. "Ini cincin milik istriku. Satu-satunya Nyonya Vion."
Alesha menunduk menatap cincin berkilau di jarinya, lalu mendongak mendapati wajah Vion yang hanya berjarak lima senti. Detak jantungnya bergemuruh hebat, seakan mau keluar dari rongga dada.
Di luar jendela, drone berita merapat semakin dekat, lampu merahnya berkedip merekam bayangan dua insan di atas ranjang lewat dinding kaca.
Di dalam kamar, Vion mulai merendahkan wajahnya. Semakin dekat. Semakin mendekati bibir Alesha yang bergetar.
Apakah ini akan jadi ciuman pertama mereka? Apakah malam pertama dari pernikahan kontrak ini akan berubah jadi nyata?
Alesha memejamkan kelopak matanya.
Tapi tepat detik krusial itu, ponsel Vion di nakas samping tempat tidur berdering nyaring.
Nama yang menyala di layar: DEWAN DIREKSI KONSORSIUM VION.
Vion menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras seketika.
Alesha membuka mata, napasnya masih terengah.
Vion menatap layar ponselnya, lalu kembali memandangi bibir Alesha yang hanya terpaut satu senti darinya.
"Jawab dulu panggilan itu," bisik Alesha lirih.
Vion mendengus pelan, menahan kesal yang kentara. Ia meraih ponsel dengan satu tangan, sementara tangan lain tetap menggenggam jemari Alesha yang berhias cincin berlian.
"Halo," jawab Vion dengan nada dingin yang langsung berubah kembali jadi sosok CEO berdarah dingin.
Dari seberang sambungan, suara panik terdengar melengking.
"Tuan Vion! Pihak Grup Mahardika... mereka laporkan Anda ke OJK atas dugaan akuisisi ilegal! Nilai saham kita merosot tujuh persen!"
Malam pertama mereka pun terganggu.
Dan babak perang yang baru kembali dimulai.