NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes DNA

**

Saat ini Rafa sedang ada di dalam ruangan salah satu temannya yang ada di rumah sakit. Rafa hari ini telah menyerahkan semual hal yang diperlukan untuk proses tes DNA. Dia harus mengetahui secepatnya, siapa Elvan sebenarnya? Apakah memang benar anaknya?

"Gila yah lo gak pernah kelihatan deket sama cewek, tahu-tahunya nyerahin tes DNA!" seru Gilang masih heboh, padahal dari semalam sudah heboh pas diberitahu soal tes DNA ini.

"Berisik lo! Cepetan, gue butuh tahu cepat!" titah Rafa sudah bosan meladeni Gilang, bisa-bisanya teman yang pas SMA-nya gesrek, sekarang sudah menjadi seorang dokter.

"Dikira kaya pas mau ena-ena, lima menit udah crot, sialan! Ini besok paling cepat!" sentak Gilang. "Eh, waktu itu lo berapa menit?"

"Mulut lo mau gue sabet?" tanya Rafa kesal, benar-benar mau dicincang itu si Gilang.

"Lo mau gue suntik mati! Sana baringan!" Gilang mendengus kesal. "Tapi serius lo, gue pikir burung lo gak bisa tegak?"

"Sialan! Urusi saja sama burung lo yang suka main pergi ke berbagai sarang. Kena karma bucin kaya adik ipar gue, baru tahu rasa lo!" sentak Rafa, benar-benar dari zaman SMA berbicara dengan orang itu bisa berpotensi terkena darah tinggi.

"Sorry-sorry ... apa itu bucin? Gak kenal tuh." Gilang mengibaskan tangan santai." Lagian, gue sama si karma udah temenan. Dia setiap pagi jadi langganan bubur ayam gue."

Rafa memijit kening frustrasi, kenapa hidupnya selalu dikelilingi oleh orang-orang bodo seperti itu? Di kantor ada Andre yang suka tebar pesona, sampai mbak kantin dia goda karena lumayan katanya supaya bisa bebas ngutang. Sekarang ada teman dia satu lagi yang kelebihan hormon sex, tapi nasibnya malah jadi dokter kurang akhlak.

"Harusnya sebagai dokter lo tahu, kalau nge-sex sembarangan itu buat penyakit, sialan!"

Gilang menggeleng dramatis. "No ... no ... no karena gue dokter, jadi tahu cara sex yang sehat. Mau gue kasih tahu biar gak kebobolan lagi?"

"Terserah! Gue balik." Rafa berdiri, tapi saat tangannya sudah memegang handle pintu terhenti. "Besok kalau belum beres, gue bakar ruangan ini."

Setelah mengatakan hal itu, kemudian Rafa keluar dari ruangan itu meninggalkan Gilang yang hanya bisa menggeleng dramatis.

"Sikolot itu tidak tahu zamannya anak muda. Gue penasaran juga, cewek sejenis apa yang udah berhasil bikin burung si Rafa itu tegak?" Setelahnya cowok itu tergelak, menertawakan kemalangan temannya itu.

*

Rafa harus segera pulang, ini sudah pukul 7 malam. Tadi untungnya di kantor tidak ada lembur, tapi sayangnya dia harus ke rumah sakit terlebih dahulu.

Tunggu! Tapi kenapa dia harus segera pulang, seolah ada yang menunggu? Bocah itu menang perlahan tanpa sadar sudah bisa merubah pola hidup Rafa secara perlahan.

Seminggu ini, dia sudah bisa merasakan perubahan hidupnya yang lumayan drastis. Biasanya saat pagi dia bangun, setelah itu langsung berangkat ke kantor, lalu pulang ke apartmen kemudian tidur. Tapi sekarang pagi-pagi ada bocah yang harus dia urus dari memandikan, menyiapkan sarapan tak lupa menyuapinya dan juga membuat segelas susu. Setelah itu belum selesai, dia juga harus pergi ke penitipan anak yang ada di lantai satu apartemennya. Sebenarnya, dia juga baru tahu jika ada tempat itu di apartemennya setelah diberitahu satpam apartemen saat melihat dia terlihat bingung waktu itu. Setelah pulang kantor, Rafa juga harus menjemput bocah itu, kembali memandikan dan memberikannya makan. Bahkan, kalau perlu dia juga harus bernyanyi sampai bisa membuat bocah itu tidur. 

Kalau dipikir-pikir, memang padat sekali itu jadwalnya setiap hari.

"Bisa-bisa, gila gue!" teriak Rafa di tengah kemacetan. Lagipula, kenapa juga bisa-bisa jalanan macet saat dia pulang.

Eh dia lupa, jika malam ini malam minggu. Entah kapan terakhir dia merayakan makan minggu seperti anak muda lainnya? Bahkan, dia juga lupa kapan terakhir dekat dengan perempuan. Kebanyakan setiap perempuan yang dekat dengannya selalu mundur, saat dirinya tidak juga memberikan kepastian. Bukan tidak ingin serius, tapi ini malah cara serius dia dalam berhubungan. Dia hanya menganjurkan untuk tidak mau pacaran, kalau sudah cocok bisa lanjut ke pernikahan. Tidak usah membuang waktu dengan hubungan yang sia-sia dan juga dosa. Tapi kebanyakan perempuan juga mundur, saat dia ajak nikah dengan alasan yang belum siap.

Drttt   drttt   drttt

Suara getaran ponsel yang tidak pernah memakai nada dering musik karena katanya berisik itu berbunyi. Rafa kemudian mengangkatnya.

"Iya, hallo Ma."

"Kamu dimana? Kapan datang? Keluarga Alexa udah dari sore, tapi kamu yang bujang tua juga belum datang juga!"

Harus yah, bujang tua itu dibahas? Gue lupa lagi, kalau weekend harus pulang.

"Kayaknya hari ini Rafa izin gak pulang, tadi sore mendadak disuruh bos harus ke luar kota karena ada kerjaan mendadak. Ini Rafa lagi Bandung, Ma," jawab Rafa hati-hati, berharap kebohongannya dipercaya.

"Kamu ini, yah! Kalau udah pulang dari Bandung, cepet pulang ke rumah!"

"Iya Ma, ak--"

"Beneran loh Kak, kalau gak pulang gue bongkar!" Terdengar suara lain, yaitu adiknya

"Bongkar apaan, Xa?"

"Itu Ma, biasalah urusan anak muda kolot."

"Gak macam-macam kan, kamu sama kakak kamu?"

"Gak, Ma." Terdengar tawa canggung dari Alexa.

Rafa hanya menghela napas lelah mendengar obrolan dua wanita tersayangnya itu. Rafa yakin, Alexa pasti akan membahas masalah Elvan. Adiknya itu tidak bisa dibohongi semudah itu.

"Ma, Rafa harus pergi soalnya ada rapat. Aku matiin, yah?"

"Kamu ini malam ming--"

"I love you, Ma." Sebelum kembali mendengar omelan mamanya, Rafa sudah lebih dulu mematikan teleponnya.

"Pa, kok lama?"

Baru juga masuk, tapi teriakan Elvan sudah menggelegar terdengar menyambutnya. Beruntung di sana sudah sepi, tinggal ada beberapa anak dan penjaga karena mungkin sudah pada dijemput.

Terlihat Elvan sudah berlari riang ke arahnya, mengarahkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Sebenarnya Rafa malas, ingin rasanya menjitak kening bocah itu tapi jika melakukannya di sini takut disangka kekerasan nantinya. Jadi, dia memilih menggendong bocah itu, dari pada ada drama lainnya yang kesekian.

"Pa, kok lama?" tanya Elvan lagi dengan suara keras, tapi sekarang suara teriakannya tepat di samping telinga Rafa.

Rafa mendelik kesal. "Gak usah teriak-teriak!"

"Papa ga jawab pertanyaan aku tadi. Kenapa jemput aku lama," rajuk Elvan cemberut.

Rafa rasanya ingin menenggelamkan dirinya di rawa, hidupnya sungguh terlalu banyak drama sekarang. Saat orang lain pengalaman pertamanya adalah membujuk pasangan jika marah, tapi dia yang bahkan belum pernah punya pasangan harus dihadapkan dengan bagaimana caranya membujuk bocah kecil jika sedang marah.

"Ayo, aku udah beli ayam goreng buat kamu malah. Kamu mau makan, kan?" Rafa berusaha mengalihkan amarah bocah itu dengan makanan karena biasanya akan berhasil.

"Mau. Ayo Pa, aku udah lapar. Tadi di sini aku dikasih makan nasi goreng, belum kenyang."

"Dasar perut karung," gumam Rafa tersenyum kecil melihat bocah itu yang mengusap-usap perutnya.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Rafa harus menulikan kembali telinganya karena bocah itu terus saja bernyanyi dengan suara cemprengnya. Dia kembali menyanyikan lagu kemarin yang ada 'kumenangis', tetap konsisten dengan suara cemprengnya.

Sesampainya di apartemen, dia menyiapkan ayam goreng dan nasi untuk Elvan, jadi bocah bisa anteng saat ditinggal mandi.

Setelah selesai mandi kembali melihat Elvan, dia kembali menghela napas berat. Jika dia seorang wanita hamil, mungkin sudah melahirkan karena terlalu sering menghela napas berat.

Di meja makan ada Elvan yang wajahnya penuh dengan nasi dan minyak ayam, serta jangan lupakan nasi dan tulang-tulang ayam berserakan.

"Kamu makan ayam goreng apa mau perang?" tanya Rafa setelah sampai dekat bocah itu yang masih asyik mengemuti tulang ayam.

Rafa melihat kotak ayam goreng yang sudah kosong. Padahal tadi dia beli 10 potong ayam goreng. Benar-benar luar biasa anak gorila ini.

"Ini kamu habisin semua?" Yang ditanya santai tidak peduli sama sekali. Ayam goreng potongan terakhir lebih menarik sepertinya.

Dia jadi tidak yakin ini anaknya, bisa jadi beneran ini anak gorila, kan?

"Kenyang," seru Elvan melemparkan tulang terakhir ke lantai, kemudian mengelus perut buncitnya.

"Yaiyalah kenyang, situ makan ayam sekotak abis semua," balas Rafa kesal.

"Sekarang, mau bobo, Pa," ujar Elvan mengabaikan Omelan Rafa yang masih membersihkan meja makan atas ulah Elvan.

Rafa melirik Elvan sesaat. "Enak aja langsung tidur. Mandi dulu itu kotor, jangan ngotorin tempat tidur."

Elvan cengengesan. "Tapi mandinya mau air hangat terus sama Papa."

Rafa mencoba mengabaikannya, mencoba untuk tetap fokus membersihkan semua kekacauan yang telah dibuat oleh bocah nakal itu. Setelah selesai mencuci piring, akhirnya Rafa menghampiri Elvan yang masih diam tenang duduk di meja makan. Tumben tenang tidak bar-bar. Apa mungkin kesurupan, yah?

Rafa melihat Elvan yang terus menguap. Matanya sudah terlihat sayu menahan kantuk. Melihat itu, dia menjadi tidak tega.

Melihat Rafa yang berjalan menuju ke arahnya, Elvan yang kembali dengan bersemangat merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong.

"Papa! Papa!" seru bocah itu riang, bahkan sudah berdiri di atas kursi sambil meloncat-loncat.

Melihatnya, Rafa tersenyum tipis, entah semua benar atau tidak tapi sekarang dia hanya sedang mencoba untuk menjalaninya.

"Mau terbang kaya Spider-Man!"

Rafa kembali menatapnya malas, karena tidak ingin berdebat dia langsung mengambil bocah itu, membawanya seperti sedang menjinjing sesuatu.

"Wih ... terbang!" seru bocah itu kesenangan.

"Dasar kampret!" Kemudian Rafa terkekeh kecil.

Setelah selesai dengan drama memandikan Elvan yang harus kembali membuatnya berganti baju karena basah. Setelah itu, drama keduanya adalah meminta dipeluk dan dinyanyikan lagu sebelum tidur, setelah itu akhirnya semuanya telah selesai.

Rafa sekarang akhirnya bisa fokus pada laptop untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai. Dia hanya karyawan biasa, bukan pemilik perusahaan yang bisa menunda pekerjaan kapanpun dan bersantai sesuka hati. Hanya karyawan biasa yang selalu senang saat mendapat proyek besar yang mendapatkan banyak keuntungan. Tenang saja terlepas itu, dengan gaji dan tabungannya dia sudah siap untuk bahagia dengan menafkahi sangat cukup cukup sebuah keluarga.

Rafa masih memikirkan kehadiran Elvan yang datang tiba-tiba dihidupnya. Semuanya masih terasa asing, walau perlahan tanpa sadar dia sudah mulai terbiasa. Dia hanya perlu menunggu keputusan besok hasil tes DNA, untuk mengetahui apakah Elvan memang anaknya atau bukan. Walau sebagian dirinya juga yakin, jika bocah itu memang anak kandungnya.

"Dimana wanita itu sekarang? Pekerjaan apa yang dia lakukan, sampai harus menitipkan Elvan kepadanya? Kenapa jika benar-benar wanita saat itu, kenapa tidak datang menemuinya waktu itu? Kenapa baru sekarang?"

Rafa sama sekali tidak mendapatkan maksud wanita itu, bagaimana wanita itu bisa melakukan itu semua? Jika mereka bertemu dan dia benar-benar wanita itu, mungkin Rafa masih bisa mengenalinya. Meski waktu 6 tahun memang bisa merubah siapapun, tapi setidaknya karakteristik utama wajah seseorang tidak akan berubah, bukan? Karena Rafa masih sangat ingat wajah wanita itu.

"Papa ada moster, huwaaa!"

"Papa takut ... huwaaa!"

"Dasar bocah semprul!"

Setelah membereskan laptopnya, Rafa berjalan ke kamar untuk kembali menidurkan bocah merepotkan itu. Apa dia perlu dikasih obat tidur saja, yah? Supaya bocah itu bisa tidur dengan nyenyak santai besok pagi tanpa mengganggunya.

Rafa menggeleng. "Jahat banget gue."

Setelah sampai kamar, Rafa melihat Elvan yang sudah duduk dengan wajah penuh air mata.

"Papa takut monster ... huwaaa!"

Rafa mengelus dadanya. "Sabar, orang ganteng nanti bakal tambah ganteng."

**

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!