NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Halaman itu dipenuhi dengan gambar-gambar aneh, mulai dari pola bintang, jaring laba-laba, hingga gambar toren air yang sangat jelek.

Di bawah setiap gambar, terdapat tulisan tangan Tommy yang berantakan.

"Tanggal dua puluh delapan, kucingku mati. Tapi arwahnya datang ke mimpiku dan menyuruhku menggambar bintang kalau sedang ujian."

Nadin membacakan tulisan konyol itu dengan suara bergetar menahan rasa frustrasi.

"Ini lagi ada tulisan lain," tunjuk Kevin ke halaman sebelahnya.

"Hari ini aku mau menebak jumlah kelereng di dalam stoples pakai rumus ukuran sepatu ditambah jumlah lubang hidung."

Nadin menyandarkan tubuhnya ke meja dengan lemas.

Kepalanya terasa sangat pusing melihat isi buku yang lebih mirip catatan orang gila daripada buku orang jenius.

"Jadi... dia bukan jenius yang menyamar?" tanya Kevin menatap Nadin dengan wajah bingung.

"Dia beneran cuma orang aneh yang punya obsesi gila sama klenik dan takhayul?"

Nadin memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Semua teori konspirasi tentang kecerdasan rahasia Tommy yang ia bangun semalaman hancur lebur tanpa sisa.

"Gue ngerasa jadi orang paling bodoh sedunia karena udah curiga sama dia, Vin," ucap Nadin dengan nada sangat lelah.

"Gue kira dia gambar bintang kemarin buat nutupin perhitungan jeniusnya."

"Ternyata dia gambar bintang beneran karena dia percaya sama arwah kucing mati!"

Kevin menepuk pundak Nadin untuk menenangkan gadis itu.

"Udahlah, Din, yang penting sekolah kita udah juara satu," ucap Kevin mencoba bijak.

"Lagian, keberuntungan gila kayak gini gak akan bertahan lama di olimpiade nasional nanti."

"Lo benar, ayo kita kembalikan barang-barangnya sebelum anak-anak balik dari lapangan," putus Nadin pasrah.

Mereka berdua merapikan kembali isi tas Tommy persis seperti semula dan bergegas keluar dari kelas.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi mereka dari balik pohon besar di pinggir lapangan.

Tommy berdiri di sana sambil meminum air mineralnya dengan sangat santai.

Berkat skill Kalkulasi Lintasan Fisik, ia bisa melihat pantulan pergerakan mereka dari kaca jendela kelas lantai dua.

"Kalian terlalu pintar untuk percaya pada keajaiban," batin Tommy sambil tersenyum sinis.

"Tapi kalian juga terlalu logis untuk membantah kegilaan yang sudah terdokumentasi dengan baik."

Buku harian hitam itu sengaja ia buat semalaman penuh khusus untuk menyambut inspeksi dadakan dari Nadin.

Ia tahu Nadin tidak akan berhenti menyelidiki kemenangannya di panggung olimpiade kemarin.

Dengan memberikan "bukti fisik" berupa kegilaan, Nadin akan merasionalisasi semua kebetulan itu sebagai takdir orang bodoh.

Ting!

Suara jernih dari sistem tiba-tiba berbunyi di dalam kepala Tommy.

[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil memanipulasi kecurigaan pihak sekolah menggunakan taktik pengalihan gila yang sempurna.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +2 poin.]

[Poin Sistem bertambah +30 PS.]

[IQ Saat Ini: 131 Kategori: Jenius Menengah]

[Poin Sistem Saat Ini: 150 PS]

Tommy menelan air minumnya saat sensasi dingin itu kembali merasuki otaknya.

Angka seratus tiga puluh satu membuatnya merasa dunianya berjalan semakin lambat.

Kemampuannya untuk merangkai kebohongan berlapis dan membaca situasi kini berada di tingkat yang sangat mengerikan.

"Semuanya sudah beres di sekolah," gumam Tommy pelan sambil berjalan kembali ke tengah lapangan.

"Sekarang aku hanya tinggal menunggu pertunjukan kembang api dari para mafia malam ini."

Pelajaran hari itu berjalan sangat lancar dan membosankan seperti biasa.

Nadin tidak lagi menatap Tommy dengan tatapan menyelidik, melainkan tatapan kasihan seperti melihat orang yang kurang waras.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Tommy langsung bergegas menggendong tasnya.

"Duluan ya, Din, aku harus kasih makan kucing gaibku di rumah," pamit Tommy dengan senyum idiot andalannya.

"Terserah lo aja deh, Tom, asal lo bahagia," jawab Nadin membuang muka dengan malas.

Tommy berjalan keluar dari gerbang sekolah dan langsung menaiki angkutan umum menuju wilayah pelabuhan utara.

Ia tidak berniat pulang ke rumah sekarang.

Ia harus mengawasi langsung hasil dari jebakan digital yang ia buat semalam.

Setelah turun dari angkutan, Tommy berjalan menyusuri gang-gang kumuh pelabuhan yang berbau amis ikan.

Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil yang berada tepat di seberang gudang besar milik geng naga hitam.

"Kopi hitam satu, Bang," pesan Tommy kepada penjaga warung.

Tommy duduk di kursi sudut yang agak gelap, mengawasi gudang itu dari kejauhan.

Hari mulai gelap, dan lampu-lampu jalan di sekitar pelabuhan mulai menyala berkedip-kedip.

Sekitar pukul delapan malam, suara deru mesin beberapa mobil van terdengar memecah keheningan pelabuhan.

Tiga buah mobil van hitam berhenti mendadak tepat di depan pintu gerbang gudang tersebut.

Belasan pria berbadan besar dengan jaket kulit turun dari dalam mobil sambil membawa tongkat pemukul dan senjata tajam.

"Itu mereka," batin Tommy sambil menyesap kopinya dengan santai.

Bos Anton rupanya benar-benar termakan oleh sinyal lokasi palsu yang Tommy buat.

"Dobrak pintunya! Seret si Blank keluar dari sarangnya!" teriak salah satu pimpinan preman itu dengan keras.

Brak! Brak!

Pintu seng gudang itu ditendang hingga jebol oleh beberapa orang preman.

Mereka langsung merangsek masuk ke dalam gudang yang gelap gulita itu.

Namun hanya berselang lima detik setelah mereka masuk, suara teriakan kemarahan meledak dari dalam sana.

"Siapa kalian berani masuk ke wilayah naga hitam?!" teriak sebuah suara parau dari dalam gudang.

"Naga hitam? Bajingan, kita dijebak!" balas suara preman Bos Anton panik.

Bugh! Prak! Prang!

Suara perkelahian massal, bantingan benda keras, dan pecahan kaca langsung terdengar bersahutan dari dalam gudang.

Dua geng kriminal paling berbahaya di kota itu kini saling bantai karena sebuah sinyal palsu dari anak SMA.

Beberapa warga sekitar pelabuhan mulai keluar rumah dengan panik, ada juga yang berlari memanggil polisi.

Tommy meletakkan uang lima ribu rupiah di atas meja warung kopi tersebut.

Ia berdiri dan menepuk debu di celana seragamnya dengan wajah datar tanpa emosi.

"Satu masalah lagi selesai tanpa perlu mengeluarkan setetes keringat pun," gumam Tommy pelan.

Ia berbalik dan berjalan menjauh dari area pelabuhan yang kini berubah menjadi arena pertumpahan darah.

Sementara mafia dan preman itu saling menghancurkan, rahasianya sebagai Blank kembali aman terkubur dalam kegelapan.

Di dalam angkutan umum perjalanan pulang, ponsel Tommy tiba-tiba bergetar menampilkan sebuah pesan baru.

Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.

"Tommy, ini Dito. Besok temui aku di atap sekolah. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan tentang gambar bintangmu."

Tommy membaca pesan itu dan menyipitkan matanya dengan tajam.

"Dito?" batin Tommy merasa ada yang tidak beres.

Anak penakut itu tidak mungkin berani memanggilnya ke atap sekolah jika bukan karena sebuah ancaman yang sangat besar.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!