Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Halaman itu dipenuhi dengan gambar-gambar aneh, mulai dari pola bintang, jaring laba-laba, hingga gambar toren air yang sangat jelek.
Di bawah setiap gambar, terdapat tulisan tangan Tommy yang berantakan.
"Tanggal dua puluh delapan, kucingku mati. Tapi arwahnya datang ke mimpiku dan menyuruhku menggambar bintang kalau sedang ujian."
Nadin membacakan tulisan konyol itu dengan suara bergetar menahan rasa frustrasi.
"Ini lagi ada tulisan lain," tunjuk Kevin ke halaman sebelahnya.
"Hari ini aku mau menebak jumlah kelereng di dalam stoples pakai rumus ukuran sepatu ditambah jumlah lubang hidung."
Nadin menyandarkan tubuhnya ke meja dengan lemas.
Kepalanya terasa sangat pusing melihat isi buku yang lebih mirip catatan orang gila daripada buku orang jenius.
"Jadi... dia bukan jenius yang menyamar?" tanya Kevin menatap Nadin dengan wajah bingung.
"Dia beneran cuma orang aneh yang punya obsesi gila sama klenik dan takhayul?"
Nadin memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Semua teori konspirasi tentang kecerdasan rahasia Tommy yang ia bangun semalaman hancur lebur tanpa sisa.
"Gue ngerasa jadi orang paling bodoh sedunia karena udah curiga sama dia, Vin," ucap Nadin dengan nada sangat lelah.
"Gue kira dia gambar bintang kemarin buat nutupin perhitungan jeniusnya."
"Ternyata dia gambar bintang beneran karena dia percaya sama arwah kucing mati!"
Kevin menepuk pundak Nadin untuk menenangkan gadis itu.
"Udahlah, Din, yang penting sekolah kita udah juara satu," ucap Kevin mencoba bijak.
"Lagian, keberuntungan gila kayak gini gak akan bertahan lama di olimpiade nasional nanti."
"Lo benar, ayo kita kembalikan barang-barangnya sebelum anak-anak balik dari lapangan," putus Nadin pasrah.
Mereka berdua merapikan kembali isi tas Tommy persis seperti semula dan bergegas keluar dari kelas.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi mereka dari balik pohon besar di pinggir lapangan.
Tommy berdiri di sana sambil meminum air mineralnya dengan sangat santai.
Berkat skill Kalkulasi Lintasan Fisik, ia bisa melihat pantulan pergerakan mereka dari kaca jendela kelas lantai dua.
"Kalian terlalu pintar untuk percaya pada keajaiban," batin Tommy sambil tersenyum sinis.
"Tapi kalian juga terlalu logis untuk membantah kegilaan yang sudah terdokumentasi dengan baik."
Buku harian hitam itu sengaja ia buat semalaman penuh khusus untuk menyambut inspeksi dadakan dari Nadin.
Ia tahu Nadin tidak akan berhenti menyelidiki kemenangannya di panggung olimpiade kemarin.
Dengan memberikan "bukti fisik" berupa kegilaan, Nadin akan merasionalisasi semua kebetulan itu sebagai takdir orang bodoh.
Ting!
Suara jernih dari sistem tiba-tiba berbunyi di dalam kepala Tommy.
[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memanipulasi kecurigaan pihak sekolah menggunakan taktik pengalihan gila yang sempurna.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +30 PS.]
[IQ Saat Ini: 131 Kategori: Jenius Menengah]
[Poin Sistem Saat Ini: 150 PS]
Tommy menelan air minumnya saat sensasi dingin itu kembali merasuki otaknya.
Angka seratus tiga puluh satu membuatnya merasa dunianya berjalan semakin lambat.
Kemampuannya untuk merangkai kebohongan berlapis dan membaca situasi kini berada di tingkat yang sangat mengerikan.
"Semuanya sudah beres di sekolah," gumam Tommy pelan sambil berjalan kembali ke tengah lapangan.
"Sekarang aku hanya tinggal menunggu pertunjukan kembang api dari para mafia malam ini."
Pelajaran hari itu berjalan sangat lancar dan membosankan seperti biasa.
Nadin tidak lagi menatap Tommy dengan tatapan menyelidik, melainkan tatapan kasihan seperti melihat orang yang kurang waras.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Tommy langsung bergegas menggendong tasnya.
"Duluan ya, Din, aku harus kasih makan kucing gaibku di rumah," pamit Tommy dengan senyum idiot andalannya.
"Terserah lo aja deh, Tom, asal lo bahagia," jawab Nadin membuang muka dengan malas.
Tommy berjalan keluar dari gerbang sekolah dan langsung menaiki angkutan umum menuju wilayah pelabuhan utara.
Ia tidak berniat pulang ke rumah sekarang.
Ia harus mengawasi langsung hasil dari jebakan digital yang ia buat semalam.
Setelah turun dari angkutan, Tommy berjalan menyusuri gang-gang kumuh pelabuhan yang berbau amis ikan.
Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil yang berada tepat di seberang gudang besar milik geng naga hitam.
"Kopi hitam satu, Bang," pesan Tommy kepada penjaga warung.
Tommy duduk di kursi sudut yang agak gelap, mengawasi gudang itu dari kejauhan.
Hari mulai gelap, dan lampu-lampu jalan di sekitar pelabuhan mulai menyala berkedip-kedip.
Sekitar pukul delapan malam, suara deru mesin beberapa mobil van terdengar memecah keheningan pelabuhan.
Tiga buah mobil van hitam berhenti mendadak tepat di depan pintu gerbang gudang tersebut.
Belasan pria berbadan besar dengan jaket kulit turun dari dalam mobil sambil membawa tongkat pemukul dan senjata tajam.
"Itu mereka," batin Tommy sambil menyesap kopinya dengan santai.
Bos Anton rupanya benar-benar termakan oleh sinyal lokasi palsu yang Tommy buat.
"Dobrak pintunya! Seret si Blank keluar dari sarangnya!" teriak salah satu pimpinan preman itu dengan keras.
Brak! Brak!
Pintu seng gudang itu ditendang hingga jebol oleh beberapa orang preman.
Mereka langsung merangsek masuk ke dalam gudang yang gelap gulita itu.
Namun hanya berselang lima detik setelah mereka masuk, suara teriakan kemarahan meledak dari dalam sana.
"Siapa kalian berani masuk ke wilayah naga hitam?!" teriak sebuah suara parau dari dalam gudang.
"Naga hitam? Bajingan, kita dijebak!" balas suara preman Bos Anton panik.
Bugh! Prak! Prang!
Suara perkelahian massal, bantingan benda keras, dan pecahan kaca langsung terdengar bersahutan dari dalam gudang.
Dua geng kriminal paling berbahaya di kota itu kini saling bantai karena sebuah sinyal palsu dari anak SMA.
Beberapa warga sekitar pelabuhan mulai keluar rumah dengan panik, ada juga yang berlari memanggil polisi.
Tommy meletakkan uang lima ribu rupiah di atas meja warung kopi tersebut.
Ia berdiri dan menepuk debu di celana seragamnya dengan wajah datar tanpa emosi.
"Satu masalah lagi selesai tanpa perlu mengeluarkan setetes keringat pun," gumam Tommy pelan.
Ia berbalik dan berjalan menjauh dari area pelabuhan yang kini berubah menjadi arena pertumpahan darah.
Sementara mafia dan preman itu saling menghancurkan, rahasianya sebagai Blank kembali aman terkubur dalam kegelapan.
Di dalam angkutan umum perjalanan pulang, ponsel Tommy tiba-tiba bergetar menampilkan sebuah pesan baru.
Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.
"Tommy, ini Dito. Besok temui aku di atap sekolah. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan tentang gambar bintangmu."
Tommy membaca pesan itu dan menyipitkan matanya dengan tajam.
"Dito?" batin Tommy merasa ada yang tidak beres.
Anak penakut itu tidak mungkin berani memanggilnya ke atap sekolah jika bukan karena sebuah ancaman yang sangat besar.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇