NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Di sudut ruangan, Arlan menutup laptopnya. Aura dingin yang biasanya ia pancarkan saat sedang marah, kini bercampur dengan sesuatu yang lain. Ia berdiri, melangkah mendekati kanvas, dan menatap lukisan itu.

Gunung es bertopi kuning. Payung merah muda. Bebek menggigil.

"Terapi selesai, Julian," ucap Arlan, suaranya terdengar sangat datar, tapi matanya menatap Julian dengan tatapan posesif yang jelas. "Terima kasih atas waktumu. Tapi aku rasa Karin butuh istirahat."

Julian menatap Arlan, lalu menatap Karin yang sedang tersenyum lebar sambil memegang kuas. Psikiater itu tersenyum tipis, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Baiklah, Arlan. Kau memang selalu posesif. Tapi kau harus mengakui, istrimu ini adalah pasien paling... unik yang pernah kutemui. Pikirannya seperti labirin yang tidak memiliki pintu keluar, tapi penuh dengan kejutan."

"Dia bukan pasienmu," balas Arlan tajam, melangkah ke samping Karin dan secara natural menarik kursi istrinya sedikit menjauh dari Julian. "Dia istriku."

Julian tertawa kecil, membereskan peralatan seninya. "Tentu saja. Sampai besok, Arlan. Dan sampai jumpa lagi, Karin. Aku bawa cokelat besok."

Setelah mobil Julian pergi, Arlan masih berdiri di samping Karin, menatap lukisan bebek kedinginan itu.

"Kau benar-benar melukisku sebagai es batu?" tanya Arlan pelan, meski tidak ada nada marah di suaranya.

Karin mendongak, menatap Arlan. Ia melihat ada kilatan lembut di mata pria itu. "Tapi aku gambar Kak Arlan pakai topi kuning, Kan. Terus Kak Arlan payungin aku. Berarti Kak Arlan nggak dingin-dingin amat, kan?"

Arlan menatap wajah polos istrinya. Perlahan, ia mengulurkan tangannya, mengelus puncak kepala Karin dengan lembut.

"Besok," ucap Arlan pelan, suaranya terdengar sangat serak, "aku akan menyuruh pelayan menaikkan suhu AC di kamarmu menjadi 22 derajat. Supaya bebekku tidak masuk angin."

Jantung Karin berdetak begitu kencang hingga ia takut Arlan bisa mendengarnya. Gawat. Gawat. CEO dingin ini mulai menggunakan kata bebekku! Ini di luar skrip! Sistem, tolong, aku butuh panduan untuk menghadapi suami yang mulai baper!

***

Tiga hari setelah insiden lukisan bebek kedinginan, suhu AC di kamar utama resmi dinaikkan dari 16 derajat menjadi 22 derajat sesuai janji Arlan. Bagi Karin, ini adalah kemenangan kecil. Ia bisa tidur tanpa perlu memakai jaket tebal dan syal rajutan di dalam kamar.

Namun, malam itu, hujan badai mengguyur Jakarta. Petir menyambar-nyambar, dan angin kencang membuat jendela-jendela besar kediaman Dirgantara bergetar.

Karin sedang asyik membaca komik di tempat tidur saat terdengar suara benda jatuh yang keras dari arah ruang kerja Arlan di lantai bawah.

Brak!

Karin langsung duduk tegak. Itu suara meja kaca? batinnya. Ia segera melompat dari kasur, mengenakan sandal bulunya, dan berlari menuruni tangga.

Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Karin mengintip ke dalam, dan napasnya tercekat.

Arlan tergeletak di lantai, tepat di samping mejanya yang berantakan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi rambutnya yang biasanya rapi, dan napasnya terdengar berat serta tersengal.

Karin langsung berlari menghampirinya. Ia menyentuh kening Arlan. Panas! Ini bukan panas biasa, ini seperti kompor menyala!

Gawat! otak Karin berteriak. Dalam novel, Arlan memang pernah jatuh sakit di bab lima belas karena kelelahan ekstrem dan hujan-hujanan, yang berujung pada pneumonia. Tapi ini baru bab tiga belas! Apakah karena ia mengubah plot dengan membuat Arlan tertawa dan tidak stres berat, sehingga timeline penyakitnya maju?.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!