"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan
Kekalahan telak di ruang rapat lantai 30 Velmore Tower membakar habis sisa kesabaran Julian. Suara pintu kayu jati yang dihantamkan ke dinding bergema keras di sepanjang koridor eksklusif Veyron Tower. Beberapa sekretaris dan staf administrasi mendadak membisu, menundukkan kepala dalam-dalam saat melihat Julian melangkah lebar dengan raut wajah merah padam dan urat-urat leher yang menegang.
"Keluar dari ruangan saya! Semuanya!" bentak Julian saat melangkah masuk ke dalam kantor pribadinya.
Para asisten yang berada di dalam ruangan langsung terburu-buru mengumpulkan dokumen dan melangkah keluar tanpa berani bersuara. Begitu pintu ganda ruangan itu tertutup rapat, kemarahan Julian pecah seketika.
PRANG!
Sebuah patung perunggu dekoratif di sudut meja dihantamkan ke lantai hingga karpet tebal itu ternoda serpihan semen dekorasi. Julian meraup seluruh berkas di meja kerja mahoninya, melemparnya ke udara hingga lembaran kertas putih berhamburan bagaikan salju. Brendi mahal berumur puluhan tahun disiramkan begitu saja ke atas sofa kulit, lalu gelas kristalnya dihantamkan ke dinding kaca hingga retak membingkai.
"ARGHHH!! Dante! Levara!" raung Julian dengan napas memburu, kedua tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Dua cacing tanah itu ... berani-beraninya mereka mempermalukan aku di depan seluruh komisaris!"
Sebagai paman yang selama belasan tahun merasa memegang kendali atas trah dan kekayaan Velmore, perlakuan Dante di rapat pemegang saham tadi adalah penghinaan paling menyakitkan bagi harga dirinya. Pria lumpuh yang selama ini ia remehkan, bersama putri Edlan yang ia anggap tak berdaya, baru saja memotong seluruh akses kekuasaannya hanya dalam hitungan menit.
Ponsel terenkripsi di dalam saku jas Julian mendadak bergetar singkat.
Dertt!
Dertt!
Satu pesan singkat muncul di layar tanpa nama pengirim:
"Waktumu tersisa 48 jam, Julian. Jangan biarkan aku yang turun tangan untuk membereskanmu beserta dua orang itu."
Pesan dingin dari David Veyron bagaikan minyak yang disiramkan ke dalam kobaran api amarah Julian. Rasa takut ditumbalkan oleh sang dalang berpadu dengan dendam kesumat yang meluap-luap. Julian tahu, jika ia tidak bertindak agresif sekarang, nyawanya sendiri yang akan dihabisi oleh jaringan David.
Julian menekan tombol panggilan cepat pada telepon satelitnya.
"Siapkan semua personel tim inti," perintahkan Julian dengan suara rendah yang bergetar menahan murka. "Kumpulkan para eksekutor lapangan malam ini di markas lantai bawah."
"B-baik, Tuan Julian. Apakah kita akan melakukan pergerakan tertutup seperti biasa?" tanya suara di seberang saluran.
"Tidak ada lagi pergerakan tertutup!" potong Julian seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Bawa semua senjata taktis dan unit kendaraan berat. Kita serang rumah aman Velmore!"
.
.
.
.
Sementara itu, di kediaman utama Velmore, malam berangsur makin larut dan dingin. Suasana ruang kerja Dante dipenuhi aroma kopi hitam dan pendar cahaya dari laptop yang menampilkan grafik saham serta pergerakan rekening korporasi.
Levara duduk di sofa panjang, mengamati Dante yang sejak pulang dari rapat tadi tak berhenti memeriksa berkas-berkas pengalihan aset.
"Dante, kamu harus istirahat," ujar Levara pelan seraya berdiri dan mendekati kursi roda Dante. "Dokter sudah bilang, kondisi fisikmu belum pulih sepenuhnya dari ketegangan beberapa hari lalu."
Dante menghentikan ketikan jemarinya di atas papan ketik, lalu mendongak menatap Levara. "Julian tidak akan tinggal diam, Levara. Setelah kekalahannya tadi pagi, dia seperti binatang buas yang terluka dan terpojok."
"Kamu berpikir dia bakal nekat?" tanya Levara, raut cemas samar mulai membayang di matanya.
"Julian tahu nyawanya sedang dipertaruhkan di hadapan pihak Veyron," jawab Dante jujur seraya meraih genggaman tangan Levara. "Seorang paman yang haus kekuasaan dan terdesak adalah kombinasi paling berbahaya. Dia tidak akan memikirkan hukum atau norma lagi."
Belum sempat Levara membalas, pintu ruang kerja terketuk keras. Riko melangkah masuk dengan wajah tegang, memegang radio komunikasi yang terus berbunyi keresahan.
"Tuan Dante! Sistem radar keamanan perimeter luar mendeteksi adanya konvoi empat kendaraan tak dikenal bergerak dari arah timur menuju jalur rumah aman ini!" lapor Riko cepat.
Dante menyipitkan matanya. "Periksa frekuensi komunikasi mereka."
"Sinyal mereka menggunakan enkripsi milik jaringan eksekutor Julian, Tuan. Mereka memotong jalur komunikasi lokal dan bergerak dalam kecepatan tinggi," tambah Riko.
Levara menahan napasnya, meremas jemari Dante lebih erat. "Dia benar-benar datang ...,"
Dante memutar kursi rodanya menghadap Riko, sorot matanya berubah sangat dingin dan penuh wibawa kepemimpinan.
"Riko, aktifkan Protokol Pertahanan Tingkat Satu. Kunci seluruh pintu baja dan tempatkan tim penembak jitu di balkon lantai dua," perintah Dante tanpa nada ragu sedikit pun. "Jangan biarkan satu pun dari mereka melewati gerbang depan."
"Siap, Tuan!" Riko membungkuk cepat lalu bergerak keluar ruangan untuk memimpin pasukan keamanan.
Dante kemudian berpaling menatap Levara. Ia menarik tubuh istrinya merapat, memegang kedua bahunya dengan tatapan yang sangat dalam dan protektif.
"Masuk ke ruang perlindungan bawah tanah sekarang, Levara," tegas Dante.
"Aku nggak mau tinggalkan kamu di sini, Dante!" tolak Levara cepat, menggelengkan kepalanya seraya menatap Dante penuh permohonan. "Kita hadapi ini sama-sama!"
"Dengarkan saya, Levara," bisik Dante lembut namun tak bisa dibantah. "Tugas saya adalah memastikan kamu selamat. Paman saya bersumpah ingin menjatuhkan kita, tapi saya bersumpah demi hidup saya ... dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu."
Dari arah luar gerbang utama kediaman Velmore, suara deru mesin mobil berdaya tinggi dan rentetan tembakan pertama mendadak memecah kesunyian malam, menandakan perang terbuka antara Dante dan sang paman resmi meletus.
.
.
.
.
Dor!
Dor!
Brak!
Rentetan tembakan memecah kesunyian malam di luar gerbang utama kediaman Velmore. Percikan api menyambar kegelapan saat pasukan Riko menahan gempuran penuh dari tim eksekutor Julian. Suara pecahan kaca dan dentuman besi tempa yang dihantam bumper kendaraan berat bergema menakutkan, membuat suasana sekitar kediaman menjadi medan perang terbuka.
Di balik kemudi hitam antipeluru di barisan belakang konvoi, Julian menatap kobaran api dan rentetan peluru dengan mata menyala-nyala. Kedua tangannya mencengkeram erat lingkar kemudi, napasnya memburu penuh dendam.
"Hancurkan barikade gerbang! Bawa Dante dan Levara keluar hidup atau mati!" teriak Julian melalui radio taktisnya kepada para eksekutor di garis depan.
"Tuan Julian, pertahanan mereka terlalu tebal! Mereka menempatkan penembak jitu di balkon lantai dua!" sahut kepala tim eksekutor dari seberang radio di tengah suara bising tembakan.
"Aku tidak peduli! Terus merangsek masuk!" raung Julian gila.
Namun, sebelum barikade gerbang kediaman Velmore benar-benar runtuh, ponsel milik Julian di dashboard mobil mendadak berdering nyaring dengan nada dering khusus. Cahaya merah berkedip dari layarnya, sebuah panggilan dari David Veyron.
Dengan napas tersengal dan kemarahan yang masih membakar dada, Julian menekan tombol pengeras suara.
"Tuan David! Saya sedang mengepung rumah Dante! Sedikit lagi saya bisa memusnahkan mereka berdua dan mengamankan kotak Edlan!" seru Julian cepat, berusaha membuktikan keberhasilannya.
"Mundur, Julian. Sekarang juga," suara David Veyron mengalun sangat dingin, pelan, namun berwibawa mutlak tanpa celah.
Julian tersentak, matanya membelalak tak percaya. "A-apa? Kenapa harus mundur, Tuan David?! Saya tinggal selangkah lagi! Saya bisa menghabisi mereka malam ini juga!"
"Gunakan otakmu, Julian!" bentak David dengan nada rendah yang menusuk hingga ke tulang. "Tindakan bodohmu menyerang kediaman utama Velmore dengan senjata berat di tengah kota justru memancing perhatian kepolisian dan media! Kamu ingin seluruh jaringan kotor kita terbongkar malam ini juga karena aksi gegabahmu?!"
"Tapi isi kotak Edlan itu—"
"Kotak itu ada di tangan Dante yang sekarang memegang kendali penuh atas hukum dan aset Velmore Group," potong David tajam. "Serangan amatirmu ini hanya akan membuat pemerintah membekukan seluruh aset Veyron Tower sebelum kita sempat mengamankan investasi utama!"
Julian meremas kemudinya hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan dan keputusasaan merayapi kepalanya. "Lalu saya harus membiarkan pria lumpuh dan anak Edlan itu menang?!"
"Tarik mundur seluruh pasukanmu dalam waktu tiga puluh detik," perintah David dingin. "Ini bukan lagi sekadar urusanmu secara pribadi, Julian. Aku sendiri yang akan menyusun catur permainan berikutnya. Jika kamu membangkang dan melepaskan satu peluru lagi malam ini ... kamu tahu betul konsekuensinya."
Tuuut!
Sambungan terputus seketika, menyisakan suara deru napas Julian yang kian tidak teratur.
Julian mengepalkan tangannya lalu menghantamkan tinjunya ke arah roda kemudi dengan keras.
TIN!
TIN!
Suara klakson bergema singkat di dalam kabin mobil. Ia tahu persis, melawan perintah David berarti menandatangani surat kematiannya sendiri detik itu juga.
Dengan mulut tergetar menahan malu dan amarah yang meluap-luap, Julian meraih radio taktisnya.
"Semua unit ... tarik mundur! Sekarang!" perintahkan Julian dengan suara parau yang sarat akan kekalahan.
"T-tapi Tuan, gerbang depan sudah berhasil kita jebol sedikit—"
"Aku bilang mundur sekarang juga, sampah!" bentak Julian murka.
Dalam hitungan detik, konvoi kendaraan berat milik Julian mulai berbalik arah dengan manuver tajam. Suara tembakan pelan-pelan mereda, digantikan oleh deru mesin mobil yang melesat pergi meninggalkan pelataran kediaman Velmore yang berasap.
Di dalam rumah aman, Riko perlahan menyarungkan senjatanya seraya menatap layar monitor pengawas. Ia segera berpaling menatap Dante yang masih berdiri tegap di balik barikade pintu utama bersama timnya.
"Tuan Dante ... pasukan Julian mendadak ditarik mundur total. Mereka melarikan diri dari rute barat," lapor Riko heran.
Dante menyipitkan matanya tajam, mengamati pergerakan mobil-mobil musuh yang menjauh di layar monitor. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi roda, lalu menghembuskan napas panjang.
"Julian tidak mungkin mundur atas kemauannya sendiri," gumam Dante rendah, rahangnya mengeras. "Pasti Tuan Veyron yang menghentikannya."
Levara yang baru saja keluar dari ruang perlindungan segera berlari menghampiri Dante. Melihat suaminya selamat tanpa luka sedikit pun, Levara langsung memeluk leher Dante erat-erat.
"Kamu tidak apa-apa, Dante?" bisik Levara cemas.
Dante melingkarkan lengannya di pinggang Levara, mengusap punggung istrinya lembut untuk menenangnkannya. "Saya tidak apa-apa, Levara. Bahaya malam ini sudah lewat."
"Kenapa dia mendadak pergi?" tanya Levara seraya melonggarkan pelukannya.
"Karena Julian hanyalah bidak," jawab Dante seraya menatap lurus ke arah luar gerbang yang berasap. "Dan dalang sejati di belakangnya baru saja mengambil alih papan catur ini secara langsung."
___________________
LIKE SAMA KOMEN bial othol nda kapok crazy up😜
malemgara2 mikirin leva😭😭