NovelToon NovelToon
Kembali Ke Meja Yang Sama

Kembali Ke Meja Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minggu Depan

Alya duduk terpaku memegang ponselnya lama setelah panggilan itu berakhir, layar sudah gelap sejak beberapa menit lalu tapi ia masih menatapnya seolah ada jawaban yang bisa muncul dari sana. *Minggu depan.* Dua kata itu terasa seperti hitungan mundur yang tiba-tiba dipaksakan ke dalam hidupnya, mengubah sesuatu yang seharusnya menjadi keputusan hati—keputusan yang paling personal yang bisa dimiliki seseorang—menjadi semacam ultimatum bisnis dengan tenggat waktu yang jelas, seolah hatinya bisa diperlakukan seperti kontrak kerja sama perusahaan.

Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya yang samar diterangi lampu jalan dari luar jendela. Pikirannya berputar tanpa henti—antara kemarahan pada kedua orang tua yang terus-menerus memperlakukan hidup anak-anak mereka seperti transaksi, ketakutan bahwa waktu yang ia minta untuk berpikir jernih justru direnggut paksa oleh tenggat yang tidak pernah ia setujui, dan di bawah semua itu, sesuatu yang lebih menakutkan lagi: harapan kecil yang mulai tumbuh diam-diam, yang ia sendiri belum siap untuk akui.

Ia tidak bisa tidur malam itu. Berkali-kali ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan, mengetik sesuatu untuk Raka, lalu menghapusnya lagi sebelum sempat terkirim. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia marah? Bahwa ia takut? Bahwa di tengah semua kekacauan ini, ada bagian dari dirinya yang diam-diam berharap semua ini akan berakhir dengan cara yang selama delapan tahun ini tidak pernah berani ia bayangkan?

Ia akhirnya tertidur menjelang subuh, dengan mata bengkak dan pikiran yang masih belum menemukan jawaban.

---

Keesokan paginya di kantor, suasana terasa berbeda—atau mungkin hanya perasaannya saja yang membuat semuanya terasa lebih berat. Alya berjalan ke mejanya dengan kepala yang masih pening, langkahnya lebih lambat dari biasanya, dan begitu ia duduk, Nadia langsung mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.

"Kamu kelihatan kayak abis begadang mikirin sesuatu yang berat banget," kata Nadia, duduk di kursi sebelah, matanya memindai wajah Alya dengan teliti seperti seorang detektif. "Semuanya oke?"

"Nggak begitu," jawab Alya jujur, terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja seperti yang biasa ia lakukan. "Ada... urusan keluarga yang rumit banget."

Nadia mengangguk pengertian, tidak mendesak lebih jauh meski rasa penasarannya jelas belum terpuaskan, matanya menyiratkan bahwa ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di balik jawaban singkat Alya. "Kalau butuh cerita, atau butuh ditemenin makan siang sambil ngomel-ngomel, aku di sini," katanya, menepuk pelan bahu Alya sebelum kembali ke mejanya sendiri.

Alya tersenyum kecil, berterima kasih dalam hati atas kehadiran temannya yang tidak memaksa, meski ia belum siap membagikan seluruh kekacauan yang sedang ia hadapi—perjanjian ganda, tenggat waktu yang tiba-tiba, dan perasaan yang terus berkecamuk setiap kali nama Raka muncul di kepalanya.

Sepanjang pagi, Alya mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan, membuka draf konten kampanye yang seharusnya sudah ia selesaikan sejak dua hari lalu. Tapi setiap kali ia mulai fokus, pikirannya kembali melayang—ke pertemuan di hotel, ke pengakuan Sarah di kafe, ke kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya di telepon. Semuanya terasa saling terkait, membentuk jaring yang semakin rumit setiap harinya, dan Alya merasa dirinya terjebak di tengah-tengahnya tanpa tahu arah mana yang harus ia ambil.

---

Siang itu, di sela-sela rapat kecil dengan tim desain, ponsel Alya bergetar di sakunya. Pesan dari Raka: *Bisa ketemu sepulang kerja? Bukan buat bahas proyek.*

Alya menatap layar itu lama sebelum akhirnya membalas dengan satu kata singkat: *Bisa.*

Sepanjang sisa hari kerja, ia tidak bisa benar-benar fokus. Setiap kali jarum jam bergerak lebih dekat ke waktu pulang, jantungnya berdebar semakin kencang, dipenuhi campuran rasa cemas dan sesuatu yang mirip dengan harapan yang ia coba tekan sekuat tenaga. Ketika jam kerja akhirnya berakhir, ia merapikan mejanya lebih cepat dari biasanya, berpamitan singkat pada Nadia, lalu berjalan keluar gedung menuju tempat yang telah mereka sepakati—sebuah taman kecil di dekat gedung kantor, tempat yang jauh lebih netral dibanding ruang rapat penuh tekanan kerja atau kafe yang sudah menyimpan terlalu banyak kenangan berat dari pertemuannya dengan Sarah.

Raka sudah menunggu di sana ketika Alya tiba, duduk sendirian di salah satu bangku taman yang menghadap kolam kecil, tampak lebih lelah dari biasanya—kantung matanya terlihat jelas, dan bahunya sedikit membungkuk, seperti seseorang yang memikul beban yang jauh lebih berat dari sekadar pekerjaan kantor. Ketika melihat Alya mendekat, ia berdiri, memberi ruang di bangku itu untuknya duduk, sikap kecil yang selalu ia lakukan sejak dulu, sesuatu yang tidak pernah berubah meski delapan tahun telah berlalu.

"Aku udah mikir semalaman," kata Raka begitu Alya duduk, tanpa basa-basi, seolah kalimat itu sudah ia siapkan berkali-kali dalam kepalanya sepanjang malam. "Dan aku udah putusin apa yang bakal aku bilang ke orang tua aku minggu depan."

Jantung Alya berdebar kencang, tangannya mengepal pelan di atas pangkuan. "Apa?"

"Aku bakal bilang," kata Raka, menatap Alya lurus-lurus, matanya penuh keteguhan yang jarang Alya lihat sejak mereka bertemu kembali, "bahwa aku nggak akan milih siapa pun berdasarkan perjanjian bisnis. Aku bakal bilang kalau aku dan Sarah nggak akan pernah lebih dari rekan kerja, dan itu bukan salah dia—dia perempuan baik yang layak dapat orang yang benar-benar bisa mencintainya sepenuh hati. Itu murni karena hati aku memang bukan buat dia."

Alya menahan napas, tidak berani memotong, menunggu kalimat berikutnya dengan jantung yang berdegup semakin cepat.

"Terus," lanjut Raka, suaranya mulai bergetar, tangannya sedikit gemetar di atas lututnya sendiri, "aku bakal bilang bahwa kalau memang ada orang yang aku mau perjuangkan, itu harus jadi pilihan aku sendiri—bukan karena disuruh, bukan karena diatur sejak kita masih remaja tanpa sepengetahuan kita. Dan kalau kamu, Alya, memang belum siap atau memang udah nggak ada perasaan lagi ke aku, aku akan terima itu dengan lapang dada. Aku nggak akan maksa apa pun lagi ke kamu, kayak yang orang tua kita lakuin selama ini tanpa pernah nanya perasaan kita yang sebenarnya."

Alya menatap Raka, matanya mulai berkaca-kaca, dadanya sesak oleh emosi yang sulit ia jelaskan. "Kenapa kamu ngomong kayak gini ke aku sekarang? Bukannya ke orang tua kamu dulu?"

"Karena aku pikir kamu berhak tau lebih dulu," jawab Raka, suaranya melembut. "Sebelum aku ngomong apa pun ke siapa pun minggu depan, aku pengen kamu tau bahwa apa pun keputusan aku, itu bukan buat menekan kamu untuk memutuskan sesuatu yang belum kamu siap. Aku cuma... aku capek nyembunyiin hal yang sebenarnya udah jelas dari dulu, dari delapan tahun lalu bahkan, jauh sebelum semua kekacauan perjanjian ini muncul lagi ke permukaan."

"Hal apa?" tanya Alya, meski hatinya sudah menduga jawabannya, meski ia hampir tidak berani mendengarnya diucapkan dengan lantang.

Raka menghela napas panjang, matanya penuh emosi yang selama ini ia tahan rapat-rapat, seolah kata-kata berikutnya adalah sesuatu yang telah ia kubur selama delapan tahun dan baru sekarang berani ia gali kembali. "Bahwa aku masih cinta sama kamu, Alya. Dari dulu, sampai sekarang. Nggak pernah benar-benar berhenti, meskipun aku yang milih pergi delapan tahun lalu, meskipun aku yang bikin kamu kesakitan selama ini tanpa penjelasan apa pun. Aku nggak berharap kamu langsung bilang hal yang sama, aku tau ini terlalu tiba-tiba dan terlalu banyak yang harus kamu proses. Aku cuma pengen kamu tau, apa pun keputusan aku minggu depan soal perjanjian itu, itu murni karena aku akhirnya berani jujur sama diri aku sendiri—bukan buat maksa kamu balik ke aku."

Air mata yang sejak tadi Alya tahan akhirnya jatuh perlahan di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena beban delapan tahun yang selama ini menggantung tanpa penjelasan di antara mereka akhirnya diucapkan dengan jelas, tanpa lagi ada yang disembunyikan, tanpa lagi ada rahasia yang mengintai di balik setiap percakapan mereka.

"Raka," katanya pelan, suaranya bergetar, hampir tidak percaya pada apa yang akan ia ucapkan sendiri, "aku juga nggak pernah benar-benar berhenti."

Raka menatap Alya, matanya melebar, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar, seolah kalimat itu terlalu indah untuk menjadi nyata setelah delapan tahun penuh luka. "Kamu—"

"Tapi," potong Alya cepat, sebelum harapan itu tumbuh terlalu besar dan terlalu cepat, sebelum ia sendiri terlalu larut dalam momen yang masih dipenuhi ketidakpastian, "aku masih takut, Raka. Aku takut kalau kita coba lagi, terus semua ini—perjanjian, orang tua kita yang terus ikut campur, tenggat waktu yang tiba-tiba muncul kayak sekarang—bakal ngerusak semuanya lagi, kayak dulu. Aku nggak yakin aku sanggup ngerasain sakit yang sama dua kali."

"Aku ngerti," jawab Raka, mengangguk pelan, meski ada cahaya kecil harapan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya di matanya. "Aku nggak akan maksa kamu buat langsung yakin sekarang juga. Tapi aku janji satu hal—apa pun yang terjadi minggu depan, apa pun keputusan orang tua kita, aku nggak akan pernah lagi bikin keputusan besar soal kita tanpa ngomong ke kamu dulu. Nggak akan pernah lagi."

Mereka duduk berdampingan dalam diam untuk beberapa saat, angin sore berembus pelan di antara mereka, membawa ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sejak pertemuan pertama mereka kembali dua minggu lalu—ketenangan yang rapuh, tapi terasa jujur untuk pertama kalinya.

Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponsel Raka bergetar di sakunya, dan ketika ia melihat layarnya, wajahnya mendadak pucat, jari-jarinya sedikit gemetar memegang layar yang menyala terang di tengah temaram sore itu.

"Ada apa?" tanya Alya, cemas melihat perubahan ekspresi Raka yang begitu drastis dalam sekejap.

"Ayahku," jawab Raka, suaranya tegang, matanya masih terpaku pada layar ponsel. "Katanya rapat sama keluarga Sarah dimajuin. Bukan minggu depan." Ia menatap Alya, napasnya memburu, seolah tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergeser. "Besok pagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!