NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBAT DI DALAM MOBIL

Pintu mobil hitam mengkilap itu menutup dengan suara bam yang berat dan mematikan, mengisolasi Vania dari suara bising jalanan Jakarta dan hiruk-pikuk restoran Italia. Interior mobil itu berbau kulit asli, cologne maskulin, dan aura posesif yang begitu pekat hingga Vania hampir tersedak. Jendela mobil yang dilapisi film gelap tingkat tinggi membuat cahaya dari luar hanya masuk sebagai garis-garis samar, menciptakan pencahayaan dramatis yang sangat cocok untuk adegan konfrontasi intens.

Kevin tidak langsung menyalakan mesin. Dia duduk di kursi pengemudi, kedua tangannya mencengkeram setir kulit dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menoleh perlahan, menatap Vania yang sedang sibuk merapikan tali tas Hermes-nya dengan wajah datar.

"Jelaskan," desis Kevin, suaranya rendah dan bergetar di dalam kabin yang sempit. "Jelaskan mengapa kau begitu bersemangat membantu musuh-musuhku. Mengapa kau mengatur jadwal Raka, mengapa kau memberinya panduan, dan mengapa kau tersenyum melihat mereka berdua makan malam bersama. Kau bahkan rela mengatur lighting sinematik hanya untuk memastikan mereka bahagia. Apa permainanmu, Vania?"

Vania menghela napas panjang. Dia menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat spion tengah.

Ini dia. Adegan 'Debat di Dalam Mobil dengan Jendela Film Gelap'. Biasanya di sinetron, ini adalah momen di mana villain menculik heroine dan memaksanya mengakui cinta. Tapi di sini? Aku hanya ingin tahu kapan aku bisa makan malam dengan tenang tanpa diinterogasi oleh pria yang cemburu pada saingan bisnisnya.

"Kevin, dengar," ucap Vania, memilih kata-katanya dengan hati-hati agar tidak terlalu terdengar seperti penonton sinetron. "Ini bukan tentang permainan. Ini tentang optimasi lingkungan. Bayangkan mansion ini sebagai sebuah ekosistem yang rapuh. Raka dan Larasati adalah spesies kunci. Jika hubungan mereka hancur, akan terjadi ledakan drama, perebutan warisan, dan kekacauan yang pada akhirnya akan menghancurkan stabilitas rumah tangga. Dan jika stabilitas rumah tangga hancur, aku akan terseret ke dalamnya sebagai kambing hitam. Jadi, aku hanya memastikan ekosistem ini tetap seimbang agar aku bisa tidur nyenyak. Ini matematika dasar, Kevin. Bukan sihir, bukan konspirasi."

Kevin menatapnya. Matanya menyipit, penuh dengan ketidakpercayaan dan amarah yang tertahan. Dia tidak mengerti istilah "ekosistem" atau "matematika dasar" dalam konteks ini. Baginya, penjelasan itu terlalu dingin, terlalu logis, dan sama sekali tidak masuk akal.

"Kau berbohong," ucap Kevin pelan, suaranya bergema di dalam mobil. "Kau pikir aku bodoh, Vania? Kau pikir aku lupa siapa dirimu sebelum kau tinggal di mansion ini?"

Vania terdiam. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Kau ingat siapa dirimu?" lanjut Kevin, suaranya meninggi sedikit, dipenuhi dengan emosi yang kompleks. "Kau hanyalah keponakan jauh Pak Darmawan yang yatim piatu. Orang tuamu mati meninggalkan utang, dan Pak Darmawan membawamu tinggal di mansion itu hanya karena dia butuh pion untuk dinikahkan dengan mitra bisnisnya demi mengamankan saham. Kau tidak punya apa-apa. Kau tidak punya uang, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya siapa-siapa."

Kevin mencondongkan tubuhnya ke arah Vania, tatapannya tajam dan menusuk. "Dan ketika kau melihatku, kau menjadi terobsesi. Kau clinging padaku. Kau bilang aku adalah satu-satunya pria yang bisa memberimu masa depan. Kau mengejarku ke mana-mana, Vania. Kau rela berdiri di bawah hujan, rela dipermalukan di depan umum, rela dihina oleh keluargamu sendiri, hanya untuk mendapatkan perhatianku. Kau terobsesi padaku!"

Vania menatap Kevin. Di dalam hatinya, dia merasakannya. Ah, ini dia. Origin story Vania yang asli. Tropes 'Yatim Piatu yang Dimanfaatkan Keluarga Besar'. Dan sekarang, Kevin menggunakannya sebagai senjata untuk membuktikan bahwa Vania seharusnya tetap mencintainya.

"Kau ingat itu, kan?" desis Kevin, suaranya sedikit serak, menunjukkan luka yang dia coba sembunyikan di balik amarah. "Kau terobsesi padaku. Lalu tiba-tiba, kau berhenti. Kau beralih ke Raka. Dan sekarang, kau malah membantu Raka dan Larasati. Kau pikir kau bisa begitu saja membuang obsesimu padaku seperti sampah? Kau pikir aku akan menerima perubahan drastis ini begitu saja?"

Vania menatap pria di depannya. Dia melihatnya. Bukan sebagai antagonis utama yang kejam, tapi sebagai pria yang egonya terluka karena mainannya tiba-tiba berhenti memperhatikannya. Kevin tidak sadar bahwa dia cemburu. Dia pikir dia marah karena Vania berubah, tapi sebenarnya, dia marah karena Vania tidak lagi memujanya.

"Kevin," ucap Vania pelan, suaranya melunak sedikit, tapi tetap tegas. "Aku tidak membuang obsesiku. Aku hanya menyadari bahwa obsesi itu tidak sehat. Itu toxic. Dan aku memilih untuk berhenti."

"Tidak!" bantah Kevin cepat, mengepalkan tangannya di atas setir. "Kau tidak bisa berhenti begitu saja! Kau... kau seharusnya tetap mengejarku! Aku lebih menarik dari Raka, Vania! Aku lebih kaya, lebih kuat, lebih berkuasa, dan secara fisik, aku jauh lebih sempurna dari pria lemah itu! Mengapa kau memilih dia? Mengapa kau tidak memilih aku?!"

Hening.

Vania menatap Kevin. Pria itu baru saja mengakui, dengan suara yang sedikit bergetar, bahwa dia lebih menarik dari Raka. Ini adalah momen di mana *Male Lead* sinetron biasanya akan tertawa meremehkan atau villain akan tertawa sinis. Tapi Vania? Vania hanya menatapnya dengan tatapan seorang dokter yang sedang mendiagnosis pasien yang sulit.

Vania menatap Kevin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia menatap mantel bulu tebalnya yang masih dia pakai di dalam mobil, rambutnya yang sedikit lepek karena keringat, rahangnya yang mengeras, dan matanya yang penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan menjadi arogansi.

"Secara objektif," ucap Vania datar, suaranya bergema jelas di dalam kabin yang sunyi, "iya. Kau jauh lebih menarik dari Raka. Wajahmu simetris, bahu kamu bidang, dan jawline kamu bisa memotong kaca. Tidak ada yang bisa menyangkal fakta visual itu."

Wajah Kevin sedikit terang, sebuah kilatan kemenangan muncul di matanya. "Lalu... lalu mengapa..."

"Tapi," potong Vania cepat, menatap lurus ke dalam matanya, "secara mental, Tuan Kevin, Anda perlu observasi psikiater rutin. Mungkin setiap hari. Atau minimal dua kali sehari. Regulasi emosional Anda setara dengan balita yang sedang tantrum karena tidak dibelikan es krim. Dan kemampuan Anda dalam menyelesaikan konflik masih berkisar pada menculik, mengancam, dan membakar gedung. Raka mungkin membosankan, tapi dia waras. Dan aku, Tuan Kevin, sangat menghargai kewarasan."

Wajah Kevin memerah padam. Mulutnya terbuka, lalu menutup kembali. Otaknya yang terbiasa meruntuhkan perusahaan pesaing dalam semalam, baru saja dihancurkan oleh sebuah kalimat yang diucapkan dengan nada setenang membaca daftar belanjaan.

Dia menatap Vania. Tatapan itu berubah. Amarahnya tidak hilang, tapi ada sesuatu yang lain yang bercampur di dalamnya. Sesuatu yang gelap, posesif, dan sangat berbahaya. Dia tidak menerima penjelasan itu. Dia tidak menerima fakta bahwa Vania lebih memilih "kewarasan" Raka daripada "kekayaan dan ketampanannya".

Perlahan, Kevin melepaskan setir. Dia membuka sabuk pengamannya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Vania. Jarak di antara mereka menyusut drastis. Aroma cologne mahalnya yang bercampur dengan panas tubuh dan amarah memenuhi indera penciuman Vania.

Vania menelan ludah. Instingnya berteriak untuk mundur, tapi pintu mobil terkunci, dan Kevin terlalu dekat.

"Kau bilang aku gila," bisik Kevin, suaranya serak dan bergetar tepat di dekat telinga Vania. Napasnya yang hangat menerpa kulit leher Vania, membuat bulu kuduknya meremang. "Kau bilang aku butuh psikiater. Kau bilang kau hanya ingin ketenangan dan kewarasan."

Kevin mengangkat tangannya, jari-jarinya yang panjang dan kuat menyentuh rahang Vania dengan lembut namun mencengkeram, memaksa Vania untuk menatap matanya. Mata Kevin gelap, dalam, dan penuh dengan tantangan yang mengerikan.

"Lalu buktikan aku gila, Vania," desis Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Buktikan bahwa ketenanganmu itu nyata. Coba lari dariku. Coba cari kewarasanmu di tempat lain. Aku ingin melihat seberapa cepat 'ekosistem' rapuhmu hancur saat aku mengejarmu."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!