Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Aku Sudah Tahu (Revisi)
“Ras, buka pintunya. Kita belum selesai.”
“Aku belum selesai menangis, Mas.” Suaranya serak dari balik pintu. “Tunggu sebentar.”
Danang tidak menjawab.
Di dalam kamar, Raras duduk di lantai, bersandar pada ranjang dengan lutut terlipat. Ia menekan sarung bantal ke mulut agar isaknya tidak terdengar. Sepuluh menit lagi, katanya pada diri sendiri. Setelah itu, ia akan membuka pintu dengan wajah yang lebih tenang, meski matanya pasti tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
Sebelas menit kemudian, ia memutar kunci.
Matanya bengkak dan hidungnya merah. Danang berdiri di lorong dengan map di tangan. Kemejanya kusut, wajahnya menunjukkan bahwa ia ingin semua ini cepat selesai.
“Masuk.”
“Aku bicara di sini saja.”
“Ini kamarku juga, Mas. Atau sudah bukan?”
Danang masuk, tetapi tidak duduk. Raras duduk di tepi ranjang, jemarinya meremas ujung selimut.
“Matamu bengkak,” kata Danang.
“Itu hasil tiga tahun, Mas. Baru kelihatan malam ini.”
“Mau kuambilkan air?”
“Tidak usah. Mas sudah cukup banyak mengambil hal dariku.”
Danang terdiam sebentar sebelum bertanya, “Pengacara itu. Sejak kapan?”
“Dua bulan.”
“Dua bulan.” Raras mengangguk pelan. “Dua bulan lalu Mas demam. Aku bikin bubur ayam, lalu Mas bilang, enak, Ras. Waktu itu Mas sedang menunggu kabar dari pengacara?”
“Jangan bawa itu ke sini.”
“Lalu harus kubawa ke mana? Ke dapur? Ke ranjang ini?”
“Raras....”
“Pengacaranya siapa? Siapa yang membayar?”
“Aku. Dari gajiku sendiri.”
“Baik. Aku catat.”
“Untuk apa?”
“Supaya nanti jelas siapa membayar apa.” Raras menyeka sudut matanya dengan ibu jari. “Dua bulan itu lama, Mas. Cukup lama untuk menyiapkan semuanya, tapi tidak cukup untuk memberitahuku.”
“Aku sudah bilang, aku nggak tega.”
“Tega menyiapkan semuanya, tapi tidak tega bicara. Itu bukan nggak tega, Mas. Itu pengecut yang dibungkus sopan santun.”
“Aku sudah tahu, Mas.”
Danang berhenti bergerak. “Tahu apa?”
“Dua bulan lalu, mobilmu bau melati. Di dasbor ada struk restoran, dua porsi, jam sembilan malam. Waktu itu Mas bilang makan sendirian.” Raras menunduk menatap selimut. “Wahyu juga pernah bilang Mas sering meninggalkan gudang sebelum jam lima. Aku tidak marah. Aku memilih diam.”
“Kamu tahu, tapi diam saja?”
“Aku menunggu Mas cerita. Tiap malam aku berharap Mas duduk di sebelahku dan bilang, Ras, aku sedang kacau. Aku akan dengarkan, apa pun masalahnya.” Ia menarik napas, tetapi dadanya masih terasa sesak. “Ternyata Mas lebih berani tanda tangan daripada bicara.”
Rahang Danang bergerak. Ia memalingkan wajah ke jendela.
“Kalau kamu tahu, kenapa tidak bilang dari dulu?”
“Karena aku istrimu, bukan penyidikmu.” Suara Raras bergetar di ujung kalimat. “Aku pikir, kalau aku cukup sabar, Mas akan pulang sendiri.”
“Aku nggak pulang karena sabarmu, Ras.”
“Lalu karena apa?”
Danang mengusap tengkuknya. Ia diam cukup lama sampai bunyi detik jam dari ruang tengah terdengar jelas.
“Aku nggak mau bilang aku khilaf. Itu bohong. Tiap malam aku tahu ini salah, tapi tiap malam juga aku tetap memilih pergi ke sana.”
Tenggorokan Raras mengencang. Ia menahan napas sampai dadanya nyeri.
“Kenapa?”
“Sejak kecil, semua orang memanggilku anaknya Pak Surya. Di rumah ini pun begitu, karena tetangga tahu aku anak siapa. Di depan Niken, aku cuma Danang. Tidak ada yang membandingkanku dengan Bapak atau menuntutku jadi seperti dia.” Danang mengembuskan napas. “Buatku, itu sudah cukup.”
“Cukup untuk mengorbankan tiga tahun?”
“Aku tahu harganya.”
“Kalau tahu, kenapa tetap Mas bayar dengan waktuku? Waktuku, Mas. Tiga tahun hidupku.”
Danang menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak tidak yakin. Hanya sedetik. Setelah itu, bahunya kembali tegak.
“Kamu mau aku bilang apa, Ras?”
“Mas ingat malam hujan waktu kontrak pertamamu ditolak? Mas duduk di teras, tidak mau makan, tidak mau bicara. Aku cuma menaruh wedang jahe di sebelah Mas.”
“Aku ingat.”
“Waktu itu Mas bilang aku satu-satunya orang yang tidak memaksa Mas cerita.” Raras tersenyum tipis. Senyum itu terasa lebih menyakitkan daripada tangisnya sendiri. “Sekarang, justru itu yang Mas sebut membuat hubungan kita datar.”
“Itu dulu.”
“Aku tahu itu dulu. Aku cuma ingin Mas mendengar sendiri bagaimana bunyinya sekarang.”
“Ibu bilang kamu pasti mengerti. Kamu selalu mengerti.”
Raras mengangkat wajah. “Ibu sudah tahu soal ini?”
“Sebulan.”
“Sebulan.” Raras menggigit bagian dalam pipinya. “Jadi, waktu Ibu menelepon minggu lalu dan bertanya aku sehat atau tidak, Ibu sudah tahu. Nada suaranya manis sekali.”
“Ibu cuma ingin kamu tidak kaget.”
“Aku tetap kaget, Mas. Bukan karena surat ini. Aku kaget karena ternyata semua orang sudah duduk di meja yang sama, sementara aku disuruh menunggu di dapur.”
“Aku nggak bermaksud begitu.”
“Maksud Mas tidak mengubah akibatnya.”
Raras berdiri dan berjalan ke jendela. Ia berhenti dengan punggung menghadap suaminya. Bibirnya bergerak tanpa suara.
“Gusti, kula nyuwun kiyat (Tuhan, saya mohon diberi kekuatan).”
“Apa?”
“Bukan apa-apa.” Raras berbalik. “Tadi Mas bilang di telepon, Ibu sudah bilang ke dia. Dia itu Niken, atau masih ada orang lain?”
“Bukan malam ini.”
“Kenapa bukan malam ini?”
“Karena kamu sudah cukup hancur.”
“Kamu mau melindungiku, Mas, atau melindungi dirimu sendiri dari tangisku?”
“Ras, tolong. Biarkan satu rahasia kusimpan malam ini.”
“Satu?” Raras tersenyum miring. “Mas, malam ini aku sudah menerima banyak kejutan. Satu rahasia lagi tidak akan membunuhku. Yang menyakitkan itu ketika semua orang berpura-pura tidak ada rahasia.”
“Besok kamu akan tahu.”
“Baik. Besok.”
Danang mendengus pelan. “Kamu tahu apa yang bikin aku capek, Ras? Kamu selalu bisa membaca aku. Rasanya aku tidak punya ruang untuk salah.”
“Ruang untuk salah itu ada, Mas. Kamu cuma memilih memakainya di tempat yang salah.” Raras menunjuk map di tangannya. “Tinggalkan itu. Aku akan membaca setiap halaman. Bukan malam ini. Besok, setelah kepalaku jernih.”
“Itu cuma mengulur waktu.”
“Kalau satu malam saja bisa membuat surat ini batal, berarti suratnya memang rapuh.”
“Kamu mulai pintar menjawab.”
“Aku selalu bisa menjawab. Mas saja yang jarang bertanya.”
“Itu hakku.”
Raras mengernyit. “Apa yang menjadi hak Mas?”
“Aku cuma ingin ini selesai baik-baik.”
“Baik-baik menurut siapa? Mas sudah menandatangani surat, Ibu sudah mengundang, Niken sudah menunggu. Yang belum dimintai pendapat cuma aku.”
“Sekarang aku minta.”
“Sekarang Mas menyodorkan map. Itu bukan meminta pendapat.” Raras mengangkat dagunya sedikit. Suaranya masih bergetar, tetapi matanya menatap lurus. “Aku tidak akan memohon, Mas. Tapi aku juga tidak akan tanda tangan tanpa membaca semuanya hanya supaya Mas bisa tidur tenang malam ini.”
“Kamu berubah.”
“Aku baru ditampar kenyataan jam sebelas malam. Wajar kalau akhirnya aku terbangun.”
“Kamu boleh menyalahkan aku, Ras. Tapi jangan seolah-olah kamu tidak punya andil.”
“Aku punya. Aku terlalu lama percaya tanpa bertanya. Itu andilku, dan aku mengakuinya.” Raras menegakkan punggung. “Sisanya milik Mas. Jangan minta aku ikut memikulnya.”
Danang tidak menjawab. Rahangnya mengeras, tetapi tatapannya jatuh ke lantai.
Akhirnya, ia mengangguk kaku. Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagangnya.
“Besok jam sembilan, Niken datang ke sini.”
Raras tidak bergerak. “Ke rumah ini?”
“Ibu yang minta. Biar semuanya jelas dan tidak ada yang disembunyikan lagi.”
“Ibumu yang minta.” Raras mengulanginya perlahan. “Perempuan yang kamu cintai datang ke rumah istrimu, atas undangan ibumu. Lalu kamu baru menyampaikannya jam sebelas malam, sambil memegang gagang pintu.”
“Aku nggak punya cara yang lebih baik.”
“Itu betul. Mas memang tidak punya.” Raras berhenti sejenak, lalu menghela napas pendek. “Selimut ada di lemari ruang tamu, rak paling atas. Jangan tidur di sofa tanpa selimut. Nanti masuk angin.”
Danang menoleh. “Kamu masih peduli?”
“Kebiasaan, Mas. Aku sedang belajar membuangnya.”
Danang mengatupkan mulut. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tetapi ia tidak segera membukanya.
“Ras.”
“Apa lagi?”
“Jangan lupa makan.”
Raras menatapnya lama. Matanya terasa panas, tetapi kali ini air matanya tidak jatuh.
“Itu kalimatku, Mas.”
Danang keluar. Pintu tertutup tanpa suara.
Raras berdiri sendirian di tengah kamar. Dari balik dinding terdengar langkah suaminya menjauh, disusul bunyi sofa ruang tamu yang berderit. Ia memutar cincin di jari manisnya sekali, dua kali, tetapi tidak melepasnya.
“Belum,” bisiknya. “Ojo wedi, Ras (jangan takut, Ras).”
Ia kembali duduk di tepi ranjang dan menarik map itu ke pangkuannya.
“Besok aku akan menyuguhkan teh,” katanya kepada kamar yang kosong. “Teh yang paling baik. Supaya tidak ada yang bisa bilang aku kurang sopan.”
Jarinya dingin. Ia mengembuskan napas ke telapak tangan, menggosok kedua tangannya, lalu membuka halaman pertama. Tanda tangan Danang masih tegas di sana, miring ke kanan, tanpa sedikit pun keraguan.
“Tiga hari,” gumamnya. “Dan selama itu, tidak sekali pun tanganmu gemetar.”
Ia membalik halaman kedua, lalu membaca pelan, huruf demi huruf, seperti seorang ibu yang memeriksa rapor anaknya yang nakal.
Kalimat pertama membuat napas Raras terhenti.
lanjuut
🙏💪